Istanbul Escape (part 1)

Tags

, , , , , ,

Hai, hallo! Assalamualaikum…

Nyaris setahun vakum tidak bercerita dan menulis di sini. Kali ini meminjamkan “mata dan rasa” kepada kalian tentang perjalanan ke Istanbul, napak tilas jejak kejayaan Islam di Eropa.

****

Sejak diberitahu bahwa saya berhasil mendapatkan beasiswa dari NFP untuk program short course di Centre for Development Innovation, Wageningen University, saya mulai mereka-reka, kira-kira kemana perjalanan saya menjelajah bumi Allah dengan biaya yang amat tipis ini: masuk Eropa dengan mengandalkan biaya dari sponsor (yang kali ini tanpa living allowance alias tidak ada uang saku, hanya tiket pesawat indonesia-belanda, hotel dan makan 3 kali sehari, serta insurance), lalu menyisihkan uang tabungan saya yang tidak kunjung bertambah untuk menjelajah di sela-sela jadwal belajar, dan kartu kredit sebagai dana cadangan di saat sudah sangat kepepet hihi😀 Sebut saja ini traveling bergenre kere kere hore (#kerekerehore).

Sebagai bocoran budget perjalanan saya 3 minggu kemarin saya hanya berbekal 280 euro (untuk transportasi dan jajan), yang memang super ngepassss sekali untuk biaya 3 minggu hihi😀 Sebagai gambaran: tiket kereta dari amsterdam ke Ede-wageningen sekitar 16 euro (pp 32 e), rotterdam-ede-wageningen sekitar 19 euro (pp 38 e), lalu bis dari ede-wageningen ke desa wageningen sekitar 1,5 euro. Untuk biaya laundry saya berhasil ngirit karena nyuci di wastafel dengan detergen yang dibawa dari indonesia (dan baju saya selama 3 minggu itu benar-benar tidak kenal setrikaan. record tiga minggu pake baju kusyut wkwkwkwk😀 ). Nah untuk jajan big meal seperti menu lunch bisa habis 4,6 euro (ini harga kleine/kecil kapsalon, yang 6 tahun lalu waktu saya masih jadi warga rotterdam harganya cuma 3,5 euro), untuk minum kalau lagi kaya raya silahkan beli air mineral botolan di supermarket, saya sih kalau air minum mending ambil dari kran toilet hihi. Nah toilet di belanda as you know masih belum gratis alias bayar kecuali di bandara schipol (di centraal station Rotterdam, toiletnya juga harus bayar). Ini seharusnya saya tulis di tulisan lain tentang kehidupan saya di Wageningen kemaren yaa? Owkay, mari lanjut ke cerita tentang Istanbul Escape ini🙂

Sebelum berangkat ke Belanda, saya sempat menguhubungi beberapa teman yang akan menjadi teman seperjalanan nantinya. Salah satunya mba Nana. Mba nana ini yang memberi ide untuk mengunjungi Istanbul-Turki. Saya langsung iya! Karena selama setahun dulu tinggal di Belanda (2010-2011) saya sempat mengunjungi beberapa kota di beberapa negara Eropa seperti France, Austria, Czech, Hungary, German, dan Belgium. Plus, Istanbul yang terletak di dua benua (bagian barat kota Istanbul terletak di benua Eropa sementara bagian timur kota ini ada di benua Asia) merupakan bukti bahwa Islam pernah berjaya di benua Eropa. Selain tanah suci, patut rasanya Istanbul ada dalam traveling list kita yang beragama Islam. So, Istanbul ? Sure!

Ticket sudah kami beli online dengan kartu kredit sebelum berangkat ke Belanda. Pertimbagannya agar limit kartu kredit bisa full selama kami berada jauh dari tanah air hehe. Kami menggunakan maskapai KLM. Mahal ? Tidak juga😉 Salah satu tips berhemat agar bisa traveling walau pun #kerekerehore adalah: membeli tiket, booking hotel dan menyusun itinerary dari jauh-jauh hari. Kebetulan sekali saat kami memesan tiket online untuk istanbul escape, KLM sedang ada program promo ticket. Jadinya dengan uang sekitar 2,2 juta IDR kami sudah punya ticket pp amsterdam-istanbul (plus insurance). Sebenarnya bisa lebih irit, karena di hari berikut nya untuk flight jam 5 subuh, harga ticket pesawat KLM dari istanbul ke amsterdamnya malah 0 (nol rupiah!!). Saya bolak-balik mengklik tanggal dan harga tiket penerbangan tersebut dan sampai saya yakin harganya betul-betul nol rupiah hahaha😀

Oiya, sedikit info untuk kalian yang belum berkesempatan bertualang ke negara-negara lain dengan tiket murah meriah… Tiket-tiket penerbagan tersebut murah salah satunya karena tidak ada fasilitas free bagasi selain bagasi cabin yang hanya maksimum 8kg dan hanya boleh two pieces (satu tas asesories isi kamera atau lapie, dan satu ransel or koper kecil ukuran kabin). Jadi kalau teman atau saudara kalian pulang traveling tapi tidak bawa oleh-oleh, harap maklum saja hihi😀 Apa sih yang bisa muat dalam satu backpack yang dibatasi beratnya hanya 8kg saja? Baju buat dua hari, kamera SLR (canonku aja udah nyaris 2kg sendiri), gadget n charger, toiletries, botol minum dan payung saja sudah berapa kilo sendiri tuwh ? Plus waktu yang sangat terbatas sayang sekali rasanya kalau hanya habis untuk urusan cari oleh-oleh *maaf tega*😉

Untuk hotel kami menggunakan jaringan AirBnB (aplikasi airbnb bisa didownload di appstore). Ada beberapa pilihan, bisa pakai jaringan hostelworld (waktu spring break 2011 ke czech-hungary-austria, saya menggunakan jaringan hostelworld untuk nyari hostel murah ala backpackeran). Sempat ingin menggunakan pilihan couchsurfing karena saya juga gabung di couch surfing tapi belum pernah jadi host tamu mana pun walau pun sudah ada beberapa yang mengontak saya tapi jadi ragu sendiri untuk mengiyakan haha😀 Eh seriusan, saya batal ngulik couch surfing karena dengar dari teman bahwa beberapa waktu lalu sempat ada kejadian tamu yang menginap di  salah satu courch surfer malah diperk*sa sama host nya sendiri. Ihhh naudzubillah, serem! Langsung coret deh couch surfing dari opsi cari budget hotel.

Mirip dengan hostelworld, di AirBnB kita juga bisa baca review, facilities dan rating penginapan yang ditawarkan (termasuk rating keamanannya juga). Akhirnya pilihan jatuh pada Otantik Guest house. Harga yang ditawarkan muraaaah banget ! Btw, saya mau greeting dulu Yusuf, si pemilik Otantik Guesthouse *switch bahasa into english*: Hi, Yusuf! if you read this, please use google transtlate because i wrote this both in bahasa & english🙂

I was not so sure when choosing this Otantik Guesthouse. But then, looking at the price (nice and warm private room for two with bathroom, tv, heater, and breakfast, only costs for  around 200k IDR per person) , facilities, photos, and fast response from Yusuf-the owner when i texted him through airBnB, we finally booked it ! FYI, unless you are brave enough to stay in mix room/dormitory or owkay to not have a private bathroom inside your bedroom, it is considerably important for girls travelers to choose private room with bathroom though it may cost you more or sometimes over pricey for a backpacker’s budget. And since we were traveling only two of us, me and mbak nana, we choose to book private bedroom with bathroom. And we did made a good choice🙂 Yusuf was very helpful. He replied to my messages fast (if you use AirBnb application on your smartphone, it is possible to talk to the host and ask questions before you pay for your hotel reservation). He also allowed us for early check in, like very early at 01.00 am ! He charged us 15 USD (per room) instead of charged us full price as technically we stayed at his hotel for 2 nites 2 days  and breakfast for 2 days. He also provided us information for taxy fare from ataturk airport to his hotel. The room & and bathroom were clean as it is shown on the AirBnB. The hotel was quite new, Yusuf told us that he opened the hotel two months ago or so. Hmm.. that explains why there was only one review available from the visitor🙂 Will continue about the Otantik Guest house later..

FYI, pesawat yang kami tumpangi ke belanda dan pulang ke Indonesia adalah pesawat milik maskapai Tuskish Airline, jadi dalam 3 minggu kemarin saya 3 kali berada di Istanbul-Turki karena transitnya di Istanbul hehee😀 Which was good karena bisa menjadi semacam persiapan untuk Istanbul escape kami waktu itu.

Minggu pertama shortcourse dilewati dengan jadwal belajar yang sangat padat, ditambah lagi dengan adaptasi dan struggling dengan suhu yang feels nya masih minus sekian celcius, jetlag, bahasa Inggris yang berantakan, dan belanda yang lagi epidemik flu jadinya nyaris satu kelas tertular flu, batuk pilek. Termasuk saya niy, minggu pertama saya bahkan ngga ada suara karena radang tenggorokan yang lumayan parah. Padahal saya sudah menaruh handuk basah (plus menjejali railing gorden dengan cucian hihi) di atas heater agar udara kamar tidak terlalu kering, tetapi tetap saja bangun tidur tenggorokan dan hidung berasa diiris-iris sampai mimisan. Padahal ini kali kedua saya di belanda, dulu waktu pertama datang ke belanda pas musim gugur tahun 2010, dan seingat saya, tidak sulit beradaptasi waktu itu. Mungkin karena suhu di musim gugur relatif lebih hangat ketimbang suhu di penghujung musim dingin. plus, dulu itu waktu datang kami masih punya 2-3 hari untuk beristirahat dan pulih dari jetlag 6jam beda zona waktu sebelum berkutat dengan jadwal kuliah.

Maka sudah bisa dibayangkan saya sangat menantikan weekend dan istanbul escape itu🙂

Finally, Jumat 11 Maret 2016 seperti yang tertera di tiket pesawat KLM ! Alih-alih jadwal hari Jumat itu bisa lebih santai ternyata tidak! Kelas baru selesai jam 5 sore, dan masih harus diskusi untuk evaluasi program selama seminggu itu, padahal penerbangan kami dijadwalkan jam 8.30 malam dari amsterdam. Akhirnya kami nekat meminta izin kepada ketua kelas untuk tidak ikut diskusi evaluasi program which is a big NO untuk program belajar yang sifatnya participatory. Sedikit muka tembok aja saat bilang “we’re really sorry, we cant join the discussion. we have to catch our flight”.

Meluncurlah kami dengan setengah berlari mengejar bus 84 (atau 88) dari stasiun bus wageningen (lima menit jalan kaki kalau tungkai kakinya panjang kayak orang belanda hehee). Nah, wageningen ini semacam desa begitulah, tidak punya jalur kereta sendiri. Jadi untuk keluar kota, kami harus naik bus dulu ke Ede-wageningen, semacam kota kecil (atau malah kecamatan yak hihihi) karena stasiun terdekat ada di Ede-wageningen (wageningen ini dibacanya agak-agak lebay gitu: hhvvaaakkhheeningen hihi).

Okie dokie! Dan petualanganpun dimulaaaai  ! B-)

Bus dari wageningen ke Ede-wageningen dipenuhi para mahasiswa Wageningen Universiteit yang ingin pulang kota, semua masih berjacket tebal ala musim dingin, koper-koper mungil dan backpack nampak berjejer dalam tentengan dan punggung mereka. Sepertinya tidak ada yang tinggal selama weekend di desa wageningen. Sesampai di stasiun bus ede-wageningen yang terintegrasi dengan stasiun kereta ede-wageningen, kami segera berlari ke peron dan mendapati ternyata tidak ada direct train ke bandara schipol – amsterdam!

Satu-satunya kereta yang lewat sore itu adalah kereta biru ValleiLijn, kereta lambat yang cuma punya dua-tiga rangkaian gerbong. Kereta lucu yang kecepatannya tidak lucu ketika kamu harus berlomba dengan waktu mengejar penerbangan. Terpaksalah kami ikut naik bersama mahasiswa lainnya ke kereta jalur pedesaan itu. Kereta ini diooperasikan oleh perusahaan yang berbeda dengan perusahaan kereta cepat intercity (valleilijn satu perusahaan dengan bus connexion) jadi untuk tap in & tap out ov chipkaart juga jangan sampai salah mesin scan yang berakibat didenda petugas seperti kejadian waktu pertama kali kami datang di wageningen hehe😀

Suasana di dalam gerbong kereta terasa ala-ala piknik🙂 kursi di gerbong disetting melingkar oval dengan dua meja di tengah-tengah gerbong. Mahasiswa-mahasiswa tampak santai mengobrol dengan teman-temannya dan pacar tentu saja. View sendu dari jendela gerbong memperlihatkan suasana pedesaan di sore hari yang dingin dan kelabu, plot-plot lahan pertanian dan rumah-rumah pedesaan yang kotak-kotak. Kereta berhenti di beberapa stasiun, terlihat beberapa mahasiswa yang dijemput orangtuanya di stasiun lalu serentak melambaikan tangan kepada pacarnya yang masih melanjutkan perjalanan ke stasiun berikutnya.

Akhirnya kereta valleilijn sampai di stasiun akhir di kota amersfort. Kami bergegas turun dari kereta, berlarian ke peron berikutnya dimana kereta cepat intercity sudah menunggu untuk membawa kami dari amersfort langsung ke bandara schipol amsterdam. Finally kereta cepat hehehe😀

Sampai di bandara Schipol belum bisa berleha-leha, kami langsung berlarian menuju security check in di lantai 2. Selesai diperiksa semua barang bawaan dan passport control yang lama antrinya (ada dua line passport control: untuk passport negara-negara European Union dan Non european Union), kembali berlari ke lantai 1 karena gate untuk penerbangan kami berada di lantai 1. Apesnya gatenya terletak di ujung duniaaaaa, ehhh di gate tiga puluhan sekian sekian ! alhasil kami kembali berlari, bahkan saat di conveyor belt (eh cb yg untuk barang yak ? hihi) pun masih tetap berlari hahaha😀 Kebayang kan bagaimana rusuhnya berlarian dengan ransel berisi perlengkapan traveling selama dua hari, badan yang masih demam dan flu dan belum beristirahat sejak di kelas tadi pagi, bahkan mandi sore, ganti baju dan makan malam pun tidak haha😀

08.15  malam kami berhasil sampai di gate padahal jadwal take off nya 08.30, pfyuuuhhh! Semua penumpang lain sudah duduk rapi di pesawat, saya langsung menempati tempat dudukku, memasang seat belt dan langsung terkulai, panas badan semakin tinggi, demam karena flu dan kecapekan. Alih-alih terbang on time, penerbangan kami terpaksa delay karena masalah bagasi. Penerbangan jarak dekat dengan waktu tempuh 3 jam 50 menit (kira-kira segitu kalau tidak salah ingat) ini nyaris seperti suasana penerbangan di saat musim mudik lebaran hihi😀 hampir semua penumpang membawa koper kecil dan ditaruh di kabin karena tidak ada yang mau berlama-lama menunggu bagasi keluar dari perut pesawat, sampai-sampai sebagian penumpang lagi tidak kebagian ruang kabin dan beberapa bagasi pun kemudian harus diturunkan dari pesawat digabung dengan bagasi lainnya. Penumpang di depanku sempat agak nyolot karena penumpang di sebelahnya menyimpan jacket dan tas kecil di ruang cabin pesawat. She said something like “this is only for cabin bagage, dont store your jacket and handbags here”, si mas turki yang diomelin lalu bergegas mengambil jacket dan tas tangannya.

Selebihnya setelah makan sandwich ayam yang dibagikan oleh pramugari, aku kembali tertidur pulas, terbangun ketika bapak-bapak di sampingku mau ke toilet, lalu tertidur lagi walaupun tetanggaku berisik ngobrol entah pakai bahasa apa. sampai-sampai aku melewatkan snack yang dibagikan berikutnya hehehe😀 Tepar, nyaris kalah oleh demam…

Pesawat kami landing di istanbul dini hari, karena sudah pernah transit di Istanbul, sedikit banyak kami sudah kenal dengan bandaranya. Seperti misalnya: dimana mescit (mesjid dalam bahasa turki), dimana almayeri (tempat wudhu) dan bahwa air kran di turki tidak drinkable seperti tap water di belanda (btw, saya pernah ke jepang jadi pernah mencicipi juga minum air kran di jepang (kyoto) selama sebulan. dan benar air kran di belanda is the best! tidak berbau dan tidak berasa!). Urusan pertama begitu kami landing di Istanbul adallah mencari mesin ATM !

Oiya, karena hotel dan tiket pesawat pp sudah kami bayar saat masih berada di Indonesia, jadi saat datang ke Istanbul kami sama sekali tidak membawa local currency alias turkish lira. Sempat baca di beberapa artikel kalau nilai tukar di money changer bandara ataturk agak bikin bangkrut, kami memutuskan untuk mengambil uang tunai dalam bentuk lira di mesin atm yang ada di bandara saja. Kartu ATM nya berlogo mastercard di mesin ATM yangberlogo mastercard juga. Waktu itu saya mengambil 400 lira (dan masih sisa 100 lira hehe).

FYI, begini perhitungan transaksi ambil uang tunai di ATM mastercard di Turki dengan menggunakan kartu ATM bank lokal Indonesia (kartu ATM saya CIMB Niaga).

ambil tunai 400 lira, 1 TL = 4.626,0587 IDR. (empat ribu enam ratus dua puluh enam koma sekian rupiah)

transaction fee : 5,5 % dari jumlah uang yang diambil

jadi nilai 400 TL = 1.850.423,48 IDR

transaksi fee = 101.773,291 IDR

jadi ngambil 400 lira kena charge 101.773 rupiah dehhh :-p sehingga  total yang didebit dari uang tabungan sebesar 1.962.196,77 IDR

Perhitungan sepertinya berlaku sama kalau kalian narik uang tunai Euro di mesin ATM eropa pake kartu ATM Indonesia: transaction fee 5,5 %!

Selesai dengan uang lira, kami bergegas keluar dari bandara mencari taksi. Seperti petunjuk Yusuf dalam chattingan di airBnB, ongkos taksi dari ataturk havalimani (havalimani=airport) maksimum 50 lira. Berbekal petunjuk itu kami mulai mengeluarkan jurus tawar menawar ala emak-emak deh😀 Petama kami menuju barisan taksi persis di pintu kedatangan bandara, dan tidak ada yang mau mengantar kami dengan harga 50 lira hihi😀 akhirnya kami memutuskan menyebrang sedikit ke median jalan di depan terminal kedatangan dan berhasil deal dengan salah satu supir taksi yang setuju dibayar 50 lira. Si supir taksi tidak bisa bahasa inggris jadilah ngomongnya campur-campur. Indikatornya begitu dia ngomong “hamdallah, hamdallah, syukron!” berarti dia setuju dibayar dengan harga 50 lira😀 Oiyaa, taksi-taksi di istanbul warnanya kuning semua.

Meluncurlah kami di dini hari itu menuju daerah fatih, ke Otantik Guest house. Satu lagi yang saya ingat tentang prosedur supir taksi di istanbul adalah: mereka akan menelpon pihak hotel, memberi tahu kalau akan mengantar tamu ke hotel yang dituju (kami sempat dua kali memakai jasa taksi di istanbul). Jadi jangan lupa simpan nomor telpon hotel dan alamat yang kalian tuju di istanbul nanti yaaaa !

Sampai di hotel, si supir taksi cakep mulai membuat ulah :-p Tadinya sudah deal dengan harga 50 lira, ehh sampai di depan hotel dia minta dibayar 60 lira!! “no, mommy ! 60 lira!, dijawab mba nana dengan “no, 50 lira! we have agreed on 50 lira!” eh si supir nyebelin kekeuh minta 60 lira, dijawab lagi sama mba nana “you are not a good muslim ! haram ! it was 50 lira!” akhirnya 50 lira diberikan kepada supir yg tadinya cakep tapi jadinya nyebelin itu hihihi😀

Di depan hotel kami sudah ditunggu oleh seorang bapak tua yang kemudian ternyata adalah ayahnya yusuf. laki-laki tua yang baik dan ramah, sayangnya beliau tidak bisa berbahasa inggris. Segera setelah kunci kamar diberikan, kami tumbang kecapekan dan bangun kesiangan hahaha😀

*****

Pagi pertama di kota Istanbul ditandai dengan bangun kesiangan. Sebenarnya sudah pada bangun dari jam 6 pagi, tetapi karena badan remek diajakin belajar dari pagi jumat dan lanjut lari-larian non stop commuting wageningen-edewageningen-amersfort-amsterdam-istanbul dalam 24 jam, berbi lelah juga tepar tak berdaya😀

IMG_1911.JPG

Karena guesthousenya ada di lingkungan pemukiman penduduk lokal, maka dari jendela kamar viewnya ya ala-ala sinetron turki😉

Akhirnya baru sekitar jam 9an kami turun ke lantai bawah minta sarapan. Oiya, cafe di hotelnya Yusuf ini sebenarnya lebih mirip “lapau” alias warung tempat nongki-nongki penduduk setempat, jadi tidak seperti cafe-cafe di Bandung atau Rotterdam misalnya. Di cafe sudah ada ayahnya Yusuf dan satu pegawai lainnya yang masih muda menghidangkan sarapan. Kaget juga melihat porsi sarapan ala turki: senampan irisan roti turki yang krispi kulitnya tapi lembut dan empuk bagian dalamnya, irisan tomat merah segar, irisan timun, buah zaitun, telur rebus, beberapa irisan keju, selai coklat dan selai buah, satu bungkus kecil madu untuk olesan roti/campuran teh dan tentu saja teh turki.

Cafe kecil itu dihias dengan warna-warni terang khas turki dipadu warna hangat kayu ramin, ada kilim (woven rug nya turki) yang ditempatkan di beberapa sisi cafe dan hotel (termasuk di kamar kami), kursi dan meja makannya dengan kaki yang lebih pendek daripada kursi dan meja makan kita di Indonesia.

12783662_10208818177273201_5521702057196541296_o

breakfast ala turki di Otantik guesthouse

Di saat kami sedang menikmati sarapan, pegawai guest house menyampaikan permintaan maaf dari yusuf karena dia baru bisa ke guest house agak siangan dan meminta kami untuk menyampaikan langsung kepada pegawainya jika membutuhkan sesuatu. Spontan saya jawab “we need istanbul map. do you have it ?”.

Traveling tanpa map alias peta memang agak menyulitkan, apalagi jika kota yang dikunjungi miskin street signage dalam bentuk peta atau pun petunjuk arah. Sayangnya karena hotel yang mereka kelola relatif baru, mereka belum menyediakan peta spot-spot touristic di hotel. Sebenarnya saya sempet memprint dari google map tapi resolusnya alakadar sekali hehe..

Lagi-lagi saya salut dengan hospitality  staff dan pemilik Otantik guest house ini. Selesai sarapan, saya butuh ke toilet. Di dekat pintu masuk cafe saya melihat ada toilet, langsunglah saya mengarah ke sana. Ternyata ayahnya yusuf melihat dan langsung melarang saya menggunakan toilet cafe (saya sempat melihat ke dalam toilet, ternyata closet nya closet jongkok mirip closet jongkok di jepang yang panjang-panjang itu). Beliau lalu meminta saya untuk menggunakan toilet di kantornya saja. Mungkin menurut beliau, anak perempuan jangan menggunakan toilet cafe yang notabene pengunjungnya adalah bapak-bapak jhihihi😀 Daann.. toilet di kantornya lebih modern, sama dengan toilet di kamar mandi kamar kami hehe… lalu saya menghampiri staff nya yusuf yang berkutat dengan komputer dan google translate  karena bahasa inggris nya tidak fasih🙂 ternyata dia sedang menandai tempat-tempat touristic dari google map yang baru saja dia print untuk kami. Dan guess what ? Yusuf si pemilik hotel cepat tanggap juga lohh.. malamnya sewaktu kami kembali ke hotel dan meminta bantuannya untuk cek in penerbangan kami ke belanda, saya melihat di meja kerjanya sudah ada beberapa bundel peta baru yang masih dalam bungkusan plastik🙂

Berbekal petunjuk arah dan peta yang diprint oleh staff hotel, kami siap melanjutkan perjalanan menjelajah tempat-tempat berserjarah di istanbul. Oiya, karena semenjak dari Indonesia saya sudah googling tentang kilim dan ingin sekali membeli untuk dekorasi rumah mungil saya, lalu pas di guest house melihat banyak sekali kilim warna warni, iseng saya bertanya kepada ayahnya yusuf berapa harga dan dimana membeli kilim-kilim itu. “where should i buy it? at grand bazaar?” beliau langsung menjawab jangan membeli kilim di grand bazar karena harganya jauuuuuh lebih mahal ! “belinya di daerah dekat sini saja. harganya sekitar 20 lira” lanjut beliau. “seriously ? 20 lira for that big kilim ?” tanya saya sambil menunjuk kilim yang seukuran karpet ruang baca saya di rumah. Beliau pun mengangguk sambil kemudian mengantar kami menyebrang jalan utama agar kami dapat melanjutkan perjalanan kami hari itu.

Kontur istanbul ternyata seperti kota Bukittinggi yang berbukit-bukit dengan bonus laut (selat bosphorus, laut marmara dan laut hitam) di salah satu sisi nya. Jalanan dari hotel ke pusat tourist attraction harus melewati semacam winkelen centrum aliast pusat perdagangan, dan  ternyata menanjak haha😀 Ampun deh, ternyata lari-larian mengejar bis, lanjut mengejar pesawat semalam baru pemanasan saja ! Beberapa kali saya meminta mbak nana untuk berhenti sejenak karena nafas sudah tersengal-sengal diajak menanjaki jalanan kota istanbul. Di saat membalik badan itulah saya melihat lautan ! Jadi kalau saya jatuh menggelinding, nyampe nya kecebur langsung masuk laut kali yaaa hehehe😀

Tujuan kami hari pertama itu adalah Hagia Sophia, Mesjid Biru, dan grand bazzar tentunya. Berbekal peta yang diprintkan oleh staff nya Yusuf, kami mencari dimana lokasi yang ingin kami tuju tersebut. Jalannya mulai datar, kami mulai menikmati perjalanan hari itu. Saya mulai mengamati jalur tram, riuhnya jalanan di kota Istanbul, toko-toko di sepanjang jalan, wajah-wajah bangsa  Turki yang rupawan, sampai bangunan seperti bekas cerobong asap yang terletak di tengahtengah jalanan, entah dulunya bekas bangunan apa. Kami pun berhenti di beberapa tempat untuk mengambil foto sebelum akhirnya kami sampai di daerah yang kami cari.

IMG_1955.JPG

tulip di fatih square yang mulai bermekaran

Kami sampai di sebuah square yang di kelilingi beberapa bangunan megah berarsitektur turki, bunga-bunga tulip terlihat mulai bermekaran, suhu di Turki memang menghangat lebih dulu daripada di Belanda, walau pun hampir semua orang masih bercoat tebal. Saya memandang ke sekitar, tourist yang ramai, warung-warung gerobak kecil milik street vendor menjajakan aneka penganan khas turki: chestnut panggang, roti turki, es krim dan juga jagung rebus! Oiya, di sini saya melihat banyak anjing liar besar-besar sebesar beruang ! Saya pikir di Istanbul dan turki hanya banyak kucing liar yang gendut-gendut, ternyata anjing liar nya juga banyak dan bongsor-bongsor hihihi😀

IMG_1944.JPG

di salah satu pojokan fatih belediyesi

Kami berusaha mencari mobil van yang menjual museum card tetapi tidak berhasil menemukannya. Sebenarnya museum card ini bisa dibeli online, tetapi waktu itu beberapa kali ngecek web nya sama mbak nana yang ada berbi jadi pusing karena bolak-balik masuk ke halaman berbahasa turki :-p Akhirnya kami putuskan untuk membeli museum card on the spot saja.

Alih-alih menemukan mobil van yang menjual museum card seperti petunjuk dari beberapa laporan traveler yang kami baca sebelum berangkat ke turki, kami malah dicegat oleh dua anak perempuan cantik yang berjilbab santun. Namanya Rumaisha dan Zaida. Mereka meminta kesediaan kami untuk diwawancara untuk bahan tugas sekolahnya. Haha baiklaaah, artis dari Indonesia yaaa😀 wawancara berlangsung beberapa menit, topiknya tentang penggunaan teknologi dalam pan sehari-hari dan diakhiri dengan foto selfie karena katanya mereka harus punya bukti interviewee nya😀

IMG_1983.JPG

coba tebak di belakang saya itu bangunan apa ?😉

Kami kemudian berjalan ke salah satu sudut square itu, menemukan antrian panjang untuk masuk ke Hagia Sophia. Salah satu guide local meghampiri kami dan menawarkan tiket masuk ke hagia sophia berikut tour darinya. Tapi harga yang ditawarkan mahal sekaliiii untuk traveler #kerekerehore seperti kami😀 Akhirnya kami nekat mengikuti antrian panjang tersebut. Dan ternyata tidak teralu lama juga, paling 7menit. Nah di dalam area halaman Hagia Sophia barisan antrian dipecah menjadi beberapa, satu untuk antrian mesin museum card, satu (atau dua yak?) untuk antrian pembelian tiket manual (iniiii yang ngatrinya panjang beudh!). Di sinilah kesaktian kartu kredit mulai dibuktikan😉

FYI, dulu waktu saya tinggal setahun di Rotterdam, saya punya ATM bank lokal (ING), yang bener-bener membantu sekali untuk transaksi online urusan ticketing dan hotel setiap kali traveling, termasuk untuk tarik tunai di luar negara belanda hihi (inget banget dulu sempat beberapa kali membobol atm waktu di Budapest gara-gara laper mata lihat kalocsa :-p ). Waktu sebulan di jepang, karena tidak traveling ke negara lain, hanya beberapa kota di jepang saja, kartu kreedit dan atm bank lokal tidak terlalu dibutuhkan, apalagi allowance nya 2 kali lipat allowance saya waktu di rotterdam dulu (itu pun udah ga bayar housing, listrik, gas dan internet lagi..) jadi uang tunai dari sponsor sudah jauh lebih dari cukup. Tapi allowance di jepang besar karena sumbernya pinjaman negara *cmiiw* (ayo lohh bayar utang negara dengan mengabdi sebaik-baiknya pada masyarakat dengan penuh dedikasi!), beda dengan allowance sponsor belanda yang bisa dibilang uang sedekah pemerintah sana hehehe, makanya agak ngirit, sponsor yang sekarang malah lebih ngirit lagi ga kira-kira hahaha😀 yah tidak ada uang saku sama sekali gitu deh😉 Makanya kartu kredit di perjalanan kali ini sangat amat membantu, ethh tetapi di desa wageningen, tidak ada toko yang bersedia menerima transaksi dengan kartu kredit wkwkwkwkwk😀 saking ndesanyaaaa😉

IMG_1985.JPG

antri buat beli ticket masuk hagia sophia dan bule di depan saya tinggi-tinggi semua, tenggelem deh

Owkay balik lagi ke cerita antrian tiket museum. Di kiri antrian yang panjang itu ada mesin atm yang menjual museum card: kartu electronic yang bisa digunakan untuk masuk beberapa museum di Turki dan berlaku beberapa hari (3 atau lima hari deh kalau tidak salah). Nah kartu ini cuma bisa dibeli dengan menggunakan kartu kredit! tetapi tidak semua transaksi berhasil juga hehehe.. Kartu kredit mbak nana direject, akhirnya pakai kartu kredit ku untuk membeli dua museum card. Nah kalau sudah pegang museum card, bisa langsung masuk deh ke hagia sophia!

Eng ing eng.. ternyata pengamanan untuk masuk ke Hagia Sophia lumayan ketat juga. Semua barang dan orangnya harus discan dulu. Yah wajar siy, bangunan Hagia Sophia adalah bangunan penuh nilai sejarah dan kaya akan desain, jadi perlu dilindungi dari tangan-tangan orang yang tidak bertanggungjawab seperti para penebar terror misalnya.

 

IMG_1989.JPG

Nah tepat setelah kami melewati mesin scan dan masuk ke halaman dalam Hagia Sophia, adzan zuhur pun berkumandang. Masya Allah… luar biasa sekali rasanya mendengarkan adzan yang dikumandangkan dengan pengeras suara di daratan benua Eropa !! sama harunya ketika 5 tahun lalu berkesempatan shalat di Paris Le grand Mosque padahal subuhnya shalat dalam diam bahkan tanpa gerakan di dalam metro karena takut bakal kenapa-kenapa karena ketahuan shalat di dalam public transportnya kota paris!

Kami memutuskan untuk berkeliling di dalam Hagia Sophia sebelum ke mesjid biru untuk shalat. Luar biasa bangunan ini. Dulu Hagia Sophia adalah gereja sebelum kemudian menjadi mesjid.

IMG_2106.JPG

 

Hagia Sophia, artinya the holy wisdom, merupakan gereja termegah dan terbesar yang dibangun pada masa East Roman Empire. Pada saat itu namanya masih Megale Ekklesia atau big church, baru setelah abad kelima namanya berganti menjadi hagia sophia. Pembangunan bangunan semegah Hagia Sophia memakan waktu yang lumayan lama, saya langsung membandingkan dengan proyek-proyek kami yang dalam satu tahun anggaran saja sudah bikin pusing kepala berbi dengan masa pembangunan hagia sophia yang terbagi dalam beberapa periode dan dalam beberapa kepemimpinan pula. Gereja pertama didirikan oleh Konstantinos pada tahun 360M dan kemudian gereja kedua dibangun pada masa kepemimpinan Theodosis II pada tahun 415 M. Saya langsung membayangkan rumitnya kontrak multi years, dilatasi bangunannya dan manajemen konstruksinya seperti apa rumitnya hahah😀

IMG_2018.JPG

di dalam hagia sophia

Oiya, strukturnya yang tampak seperti sekarang didesain oleh dua arsitek kenamaan pada masa itu (pada masa kepemimpinan Justiniano, 527-565M), yaitu Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles). Nih om-om dua lulusan sekolah arsitektur mana yaaa? By the way, material yangdigunakan untuk membangun hagia sophia didatangkan dari banyak negara. Untuk Kolom dan pualamnya didatangkan dari beberapa kota kuno di sekitar wilayah Anatolia, syiria. Pualam putih didatangkan dari Pulau Marmara, batu porphyry hijau didatangkan dari pulau Egriboz (porphyry sejenis batuan dari magma yang sangat panas, biasa digunakan untuk pavement jaman dulu *cmiiw), lalu pualam pink dari Afyon dan pualam Kuning dari Afrika Utara.

Baru kemudian di masa kepemimpinan Fatih Sultan Mehmed’s (1451-1481) Hagia Sophia direnovasi menjadi mesjid sampai sekarang dengan tambahan minarets yang didesain oleh Mimar Sinan. Kendatipun bangunan utama dihias dengan beberapa kaligrafi besar, dekorasi ala gereja nya masih tampak jelas di beberapa bagian mesjid seperti lukisan yesus kristus di langit-langit di antara dua kaligrafi besar bertuliskan Allah dan Muhammad. Pun di lantai dua, terdapat beberapa lukisan dan kaligrafi romawi kuno yang (mungkin) menceritakan tokok-tokoh kristen pada jaman dulu (hihi maaph saya kan ga bisa baca tulisan romawi kuno)

IMG_2022.JPG

lihat ada lukisan tokoh-tokoh kristen di antara tulisan Allah dan Muhammad

 IMG_2026.JPG

Desain dan ukuran bangunan yang megah benar-benar membuat saya terkagum-kagum dengan kemampuan para ahli sipil dan arsitek jaman dulu itu. Penasaran dengan alat bantu yang mereka gunakan dalam pembangunan, alat bantu yang mereka gunakan untuk mengangkut lempengan-lempengan masif pualam yang berat dan kubahnya yang setinggi 56 meter itu ? Zaman dimana belum ada alat berat seperti Tower Crane, seperti apa coba scafolding (perancah) yang mereka gunakan untuk bisa melukis di langit-langit kubah yang super tinggi itu.

IMG_2066Oiya, satu lagi yang unik tentang struktur bangunan Hagia Sophia, di beberapa portal struktur yang bahian finishingnya rusak karena gempa, saya bisa melihat sepertinya tidak ada besi  yang digunakan pada sambungan balok dan kolom, yang saya lihat adalah tumpukan bata yang disusun sedemikian rupa agar saling mengunci. lalu tangga untuk ke lantai 2: tidak ada tangga ! memang ada beberapa undakan yang membedakan level lantai, tetapi bukan sebagai akses untuk ke lantai 2. nah, uniknya desain Hagia Sophia, lantai 1 dan lantai 2 dihubungkan oleh sebuah lorong dengan lantai lempengan batu (semacam batu porphyry tadi itu loh) yang menanjak hingga sampai ke lantai 2.

Di lantai dua terdapat beberapa jendela yang dibiarkan terbuka. Sssttt, view dari masing-masing jendela ini bagussss dan berbeda-beda lohh ! Sayangnya niy jendela-jendela sangat tinggi buat saya yang tingginya se-dian sastro doang ini :-p Jadi saya harus memanjat di relief dinding dan lalu berjinjit untuk melihat keluar jendela, itu pun badan saya cuma bisa nongol sedagu saja di jendela besar itu haha😀 Di salah satu jendela saya melihat kubah-kubah dari mesjid biru ditimpa kemilau cahaya matahari, Dari jendela yang lain saya melihat laut biru! Indah sekali, anggap saja itu laut bosphorus, karena saya buta arah entah jendela itu menghadap ke utara, selatan, barat atau bahkan tenggara🙂

IMG_2090.JPG

besok-besok kalau ke sini lagi bawa jojodok yaaa *jojodok:bangku kecil hihihi*

(belum) Puas berkeliling hagia sophia dan mengagumi karya arstitektur berabad lalu itu, kami harus segera pindah itinerary ke mesjid biru atau mesjid Sultan Ahmet karena mbak nana harus segera shalat zuhur. Saya sendiri agak-agak apes :-p Dari Indonesia sudah diniatkan untuk bisa shalat di sini, ehh beberapa hari sebelum ke sini sayanya malah dapet :-p Insha allah nanti kesampaian shalat di mesjid biru yaaa..

Nah, nantikan lanjutan cerita ini dimana saya dan mbak nana nyasar menjelang magrib, panik, lalu bingung cari arah ke hotel, ada cerita juga tentang perjalanan ke topkapi palace dan dibantu perempuan turki ke stasiun metro…

 

To be continued😉

 

First Experience: ASEAN Mayor Forum, Makassar & Celebes !

Tags

, , ,

“I am sorry i cant be with you in Semarang  this time. I have to prepare some material for a business trip to Makassar. I never been to Makassar!” kalimat itu saya kirimkan ke chat group line saya-Kittima-Mbak vivi, ketika kami membahas rencana mini reunion kami di Semarang sekaligus bertepatan dengan business trip Kitti (my sister from Thailand) di kota itu dan house warming rumah baru nya mbak Vivi. Tetapi saya terpaksa tidak bisa ikut karena harus bertugas ke Makassar.

Indonesia itu luas, kepulauan yang dipisah lautan maha luas, ngga seperti Belanda yang super petite, kemana-mana super gampang dan cepat. Maka dari itu saya sebagai orang Indonesia asli tulen (mama minang papa melayu jambi) ini agak susah untuk mengeksplor semua wilayah negara tercinta ini: butuh biaya dan waktu🙂

Dibandingkan mama saya yang anak pensiunan tentara, mama lebih banyak ikut keliling wilayah Indonesia (at least pulau sumatra hihihi). Saya sendiri Sumatra Barat aja ngga khatam (ke Pasaman aja baru sekalinya kemaren pas adik saya nikah sama orang minang Pasaman, ke Bayang Pesisir Selatan tempat asal nenek buyut saya saja saya belum pernah :-p ), apalagi ke provinsi Jambi tempat asalnya papa.

Pulau Jawa pun saya cuma pernah ke kota-kabupaten yang tetanggaan sama Sukabumi saja, tetanggaan sama Yogyakarta karena saya kuliah di Yogya, owh sekali pernah ke surabaya itu pun transit doang di bandara😀 Apalagi saya cuma PNSD yang bisa dibilang minim sekali kesempatan untuk perjalanan dinas lintas provinsi apalagi lintas pulau, berbeda dengan teman-teman yang jadi PNS di kementerian, pekerjaan kami cukuplah mengurusi masyarakat di sekitar kami langsung🙂 Untuk Keluar negeri, saya lebih memilih cari beasiswa: belajar sambil jalan-jalan😀

Nahh, jadi paham kan kenapa saya sangat sangat excited waktu menerima disposisi dari bapak Walikota langsung untuk ikut hadir mendampingi beliau di acara… jreng jrengggg… ASEAN MAYORS FORUM ! dan di MAKASSAR pula !! Owh mine ! Engga tau mimpi apa kok bisa dapat kesempatan menghadiri event internasional dan sekaligus bisa berkunjung ke Pulau Sulawesi !

Semangat 45 saya mempersiapkan bahan-bahan untuk diskusi panel yang termasuk dalam run down acara ASEAN MAYOR FORUM, termasuk semangat 45 ngeributin penjahit saya untuk bisa menyelesaikan beberapa baju kurang dari seminggu sebelum saya berangkat ke Makassar haha😀

Singkat kata, akhirnya saya benar-benar berkunjung ke pulau Sulawesi, ke Makassar (dan saya baru ngeh Makassar dulu bernama Ujung Pandang *zonkkkk*, dulu saya pikir Makassar dan Ujung Pandang adalah dua kota yang berbeda *zonkkkk lagi* baru ngeh setelah lihat tag koper saya di bandara yang dikasih label UPG hhihihi). Selama penerbangan saya ngga bisa tidur karena pingin lihat bentuk garis pantai pulau jawa yang saya tinggalkan sekaligus bentuk garis pantai saat tiba di pulau Sulawesi.

Mata saya mulai menangkap keberadaan pulau-pulau kecil setelah hampir dua jam penerbangan itu. Saya penasaran dengan bentuk pulau sulawesi aslinya seperti apa. Beruntungnya saya dapat window seat jadi saya bisa melihat perubahan kontur alam dari lautan kemudian pantai lalu perbukitan (bukit kapur dan cadas) yang ternyata merupakan sumber bahan galian pasir, jurang-jurang terjal, tebing-tebing kecil yang super indah, kemudian pemandangan pun berganti dengan dataran landai penuh dengan petak-petak sawah yang sedang dipanen, Voilaaa ! itu daerah Maros, sang penghasil beras terbesar di Sulawesi. Kemudian akhirnya landing di bandara Sultan Hasanudin, Makassar🙂 Finally !

Baru pertama ini ngerasain dijemput sama LO acara-acara resmi kenegaraan :D

Baru pertama ini ngerasain dijemput sama LO acara-acara resmi kenegaraan😀

Udara panas Makassar segera menyapa kami begitu turun dari pesawat (35 celcius, compare to sukabumi which averagely is only 22-26 celcius hihi, jadi iyahhh.. panas boo!). Nahh dari bandara standar protokoler acara-acara internasional pun dimulai. And i was quite new for this! Belum pernah kan ikut event-event resmi internasional begini🙂 Rombongan kami dijemput oleh LO dari Pemerintah Kota Makassar, destinasi pertama ke Novotel karena Bapak Walikota disediakan penginapan di Novotel oleh panitia sementara delegasi lainnya menginap di hotel Four Points by Sheraton di tempat dilaksanakannya acara ASEAN Mayor Forum.

Ehh, btw, hotelnya baru jadi, jadinya mata si kuli bangunan ini langsung menangkap pekerjaan finishing yang belum selesai di sana sini hihihi😀 Noda cat yang masih belepotan di pilar-pilar bangunan, sealant di tempered glass kamar mandi yang ngga rapi, saluran air buangan kamar mandi yang alirannya membalik sampai mendorong floor drain kamar mandi, exhaust fan di restoran yang masih berplastik, termasuk lift yang tetiba bocor jadi terpaksa pindah pake lift west wing yang agak jauh dari kamar😀

Malamnya late dinner di resto Lae-lae (ngga sempet mandi n ganti baju hihi), sepertinya resto ini asalnya warung di teras rumah deh.. tapi rame banget yang makan di sini. kesan pertama sih seafood di sini enak, tapi lebih enak lagi di resto lainnya ternyata hehe😀 Kelaperan, jadi aja menghabiskan banyak makanan😀 Nahh balik ke hotel ngelurusin kaki, istirahat dan bersiap untuk acara besoknya.

C360_2015-09-07-20-20-39-257Nahhh akhirnya hari pertama bertugas sebagai delegasi pun dimulai🙂 Dari pagi bareng Yenni udah kasak kusuk bersiap, termasuk kompakan pake lipstick warna super red yang lagi ngehits itu hahaha😀 Excited sekali pagi itu🙂

Inside the ballroom

Inside the ballroom

Acara pembukaan berlangsung seru, sedianya event ini akan dibuka oleh RI1 tetapi ternyata beliau batal hadir. Panggung ditata dengan dominasi warna merah, uniknya kursi di panggung diganti dengan beberapa buah becak sebagai usaha pemerintah Makassar memasukkan unsur lokal ke dalam acara internasional. Ohiyaaa, unik lagi dari acara pembukaan, ternyata ketua RW (Rukun Warga) se kota Makassar juga turut diundang loh!! Bentuk penghargaan terhadap lini paling depan dan paling riweuh ketika ada permasalahan dalam masyarakat ini patut diapresiasi yaaa. Dan ada rasa haru sekaligus bangga ketika seluruh peserta (kecuali warga negara asing yaaa hehee) bersama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Btw, lagu kebangsaan kita super keren yakkkk! *proud*

20150908_090956

Bareng Yeni, sebelum pembukaan acara ASEAN Mayor Forum

Nah, sesi kedua setelah acara pembukaan yang membuat kebat kebit ngga bisa nafas hihi😀

Jadi sesi kedua ini berisikan diskusi panel dengan moderator ibu Erna Witoelar (sesi 1) dan bapak Dino Pati Djalal (sesi 2). Saya yang bertugas mendampingi bapak Walikota ikut duduk di jajaran kursi untuk para walikota, barisan ketiga (di barisan pertama ada bapak Bima Arya walikota Bogor, pingin minta foto bareng tapi ga berani hahaha). Di sebelah kanan saya kursinya bertuliskan Walikota Padang, ketika kursi tersebut ditempati oleh bapak-bapak paruh baya, saya ingin sekali menyapa tetapi takut salah orang hihi😀 Akhirnya saya keluarkan hp, membuka opera mini dan mulai googling “walikota Padang”. Maapkeuunn, tetapi saya bener-bener ngga tau siapa walikota dan wakil walikota Padang, kota kelahiran saya :-p Ehh hasil googling image di hp saya kok beda yaa dengan wajah si bapak yang duduk di kursi walikota Padang di sebelah saya? Akhirnya saya bertanya langsung kepada Bapak Walikota saya, Bapak bilang itu Wakil Walikota Padang yang mewakili Walikotanya. Owhh oke🙂

Saya beranikan diri menyapa si bapak wakil walikota Padang, switch ke bahasa Minang tentunya hihi😀 oke, ngobrol-ngobrol. Saya ditanya alamat rumah ortu di Padang, sudah berapa lama kerja di Sukabumi, kenapa bisa bekerja di Sukabumi bukannya di Padang. Saya juga bertanya balik ke bapak Wako (beliau basic nya juga kerja di PU), dan menyampaikan pesan sponsor keluhan mama saya dan warga masyarakat di sekitar rumah mama saya tentunya: kenapa sepertinya belum ada normalisasi lingkungan di sepanjang sungai batang kuranji, terutama rumah-rumah yang terkena banjir bandang 3 tahun lalu. Saya cerita sekarang sungainya pindah persis berada di belakang dapur mama saya, dan setiap kali hujan mama saya langsung trauma dengan kejadian banjir bandang waktu Ramadhan 2012 lalu. Kesempatan banget kaan sayah hihi😀 Mama sayang, keluhanmu selama 3 tahun ini sudah tersampaikan langsung kepada bapak wakil walikota Padang😉

Ikutan pake red lipen yg lg ngehieitzzz :-p

Ikutan pake red lipen yg lg ngehieitzzz :-p

Seperti sudah saya ceritakan di atas bahwa sebelum berangkat ke Makassar saya sudah memerpsiapkan beberapa bahan paparan dan sekaligus mempersiapkan beberapa pertanyaan untuk sesi diskusi panel untuk Bapak Walikota. Nah ketika ibu Erna Witoelar membuka sesi tanya jawab, Bapak mengizinkan saya untuk ikut bertanya pada panelis yang terdiri dari directr general for ASEAN cooperation, deputy infrastructure kemen PU, ibu walikota Seberang Perai Malaysia.

Duwhh, tangan mulai dingin n gemetaran ketika ibu Erna mempersilahkan saya mengajukan pertanyaan, apalagi begitu nyadar muka saya ada di dua big screen yang dipasang di kiri dan kanan panggung. My heart skipped a beat, i got trembling, my english was suddenly being so pre basic student when the cameras were on me hahaha😀 *demam panggung* Pertanyaan saya waktu itu adalah bagaimana regulasi dari pemerintah pusat untuk memproteksi tenaga kerja kita terutama tenaga kerja konstruksi (maksud saya adalah level kuli bangunan/ tukang, mewakili level bawah dunia konstruksi niy saya, sesama kuli bangunan kan harus saling mendengarkan dan saling mendukung yakkk) jika kemudian ASEAN Cooperation ini kemudian benar-benar diberlakukan karena bidang arsitektur dan konstruksi termasuk ke dalam 8 bidang kerja sama itu nanti. Ehh ternyata jawaban narasumbernya agak-agak bikin kecewa karena nantinya yang mendapat privileges dari kerja sama ini baru pada level top manager/top engineers nya saja, jadi mereka nanti yang bisa kerja bebas di negara-negara ASEAN mana pun.

Well, tetapi ada benarnya juga sih, mengingat tenaga kerja buruh/kuli bangunan di negara kita mayoritas tidak bisa berbahasa asing. Padahal pekerjaan konstruksi adalah pekerjaan yang penuh resiko keselamatan baik itu pada saat pelaksanaan maupun pasca bangunan selesai dibangun. Maka dari itu bener banget kalau tenaga kerja konstruksi yang bekerja di luar negeri mau tidak mau harus bisa berbahasa asing minimal bahasa inggris atau bahasa ibu negara yang dituju karena pekerja konstruksi harus paham dengan istilah-istilah konstruksi, mereka harus bisa membaca gambar kerja. Nah salah satu kriteria untuk bisa ikut dalam joint cooperation in ASEAN Community adalah : able to communicate in foreign language.

Ohiya saya mau cerita kalau para moderator ini pun kadang-kadang juga lupa kosakata bahasa inggris🙂 Misalnya pak Dino Pati Djalal, sebagai moderator kadang beliau juga spontan bertanya balik kepada panelis yang lain tentang istilah-istilah teknis tertentu “ini bahasa inggrisnya apa ya?” hahaha😀 Di forum hari kedua pun juga sama. Ibu walikota Banda Aceh memberikan paparan dalam bahasa Inggris tetapi untuk sesi tanya jawab beliau meminta dalam bahasa Indonesia saja🙂 Pun Kepala Bappeda kota Banjarmasin yang juga jadi narasumber untuk diskusi hari kedua tentang Adaptive and resilient city, lucu banget dehh karena beliau bolak balik nanya bahasa inggrisnya apa ke moderator Mr. Bruno dari European Union yang juga jadi translator dadakan “eh Bro Bru (bruno), ini apa ya in english nya?” hihi😀

Selesai acara mayors forum, seluruh peserta (Walikota dan para delegasi) diajakin site visit ke Losari Waterfront city project. Ohiyaa saya belum bilang yahh kalau pelabuhan di makassar ini mengingatkan saya kepada aktivitas pelabuhan di Rotterdam saat saya masih jadi warganya dulu🙂

Acaranya dimulai dengan shalat magrib berjamaah di Mesjid terapung Amirul Mukminin *akhirnyaaaaa kesampaian shalat di sini hehe* yang ditutup dengan khutbah dari Walikota Bengkulu. Mesjidnya cantik lohhh, dibikin floating *lagi-lagi inget Rotterdam* Eh tapi saya agak bingung dengan shalat  berjamaah di Makassar ini hehe.. Jadi ceritanya saya masbuq 1 rakaat, nah ternyata di tahyat awal rakaat kedua tetap diakhiri dengan sekali salam, lalu takbir dan lanjut rakaat ketiga. Nah di tahyat akhir rakaat ketiga, ngga langsung baca salam, melainkan takbir lagi untuk sujud (klo ga salah inget dua apa tiga kali gitu) lalu baru dilanjutkan dengan salam. Saya yang masbuq otomatis jadi bingung dan sempet melirik ke lantai bawah ke shaf para bapak hihi😀

Foto dulu sebelum shalat di mesjid Amirul Mukminin

Foto dulu sebelum shalat di mesjid Amirul Mukminin

 

magrib di mesjid Amirul Mukminin

magrib di mesjid Amirul Mukminin

Foto bareng Bapak Walikota dan Ibu, Yenni, dan Kabag Umum & Protokol *saya dan Yenni ngga sempet ganti baju dari pagi wkwwkwkw*

Foto bareng Bapak Walikota dan Ibu, Yenni, dan Kabag Umum & Protokol *saya dan Yenni ngga sempet ganti baju dari pagi wkwwkwkw*

Selesai shalat magrib, acara dilanjutkan dengan light dinner di pinggir pantai. Table manner booo hihi :-p Sempet gemes berdua Yenni pas lihat iga bakar (konro nya makassar), pingin diambil pake tangan dan digigitin, ehhh tapi lihat kiri kanan depan belakang satu pun ngga ada yg “brutal” ama iga bakarnya, jadi aja cuma dicuil-cuilin pake sendok dan garpu hahahaha😀

Selama Acara makan malam itu kami disuguhi pertunjukan seni tari dan musik makassar. indahhhh.. ehh, musiknya mengingatkan saya kepada musik randai nya ranah minang🙂 somehow it has that thin red line🙂

Dinner dan prtunjukan seni di pinggir pantai Losari

Dinner dan prtunjukan seni di pinggir pantai Losari

foto bareng para daeng yang mengisi acara pertunjukan seni *daeng yang cantik itu pake stiletto 10cm, jadi aja saya kebanting tingginya hihihi*

foto bareng para daeng yang mengisi acara pertunjukan seni *daeng yang cantik itu pake stiletto 10cm, jadi aja saya kebanting tingginya hihihi*

Usai bertugas di hari pertama kami kembali ke hotel, sebelumnya sempet makan lagi di salah satu resto seafood rekomendasi supir. Saya yang merasa kekenyangan menolak untuk pesan makanan, cuma pesen es kelapa muda jeruk mandarin. Daaann… yang terjadi adalah saya malah menghijacked porsi makannya ajudan bapak, dan berhasil menghabiskan setengah dari sepiring ikan bakar porsi gede, beberapa potong otak-otak dan icip-icip ikan bakar lainnya wkwkwkwkwk😀 *setelah itu tiap makan saya diledekin para ajudan: icip-icip doang yahhh uniii*😀

Sampai di hotel udah malem banet, mulai deh berasa gempornya, dan kompakan kram kaki sana sini ama Yenni hihi😀

Hari kedua ada perubahan jadwal, Bapak menugaskan saya berdua Yenni untuk mengikuti diskusi panel mayor forum. Ahhh kelabakan hahaha😀 forum dibagi ke dalam 4 ruangan dengan 4 topik berbeda. Saya dan Yenni berdiskusi sebentar sebelum memutuskan untuk memilih topik diskusi apa: dipilih berdasarkan tingkat pengetahuan dan kepedean kami dong wkwkwkwkw😀

bertugas di hari kedua

bertugas di hari kedua

topik 1, adaptive & resilient city-multi sectoral & stakeholders partnership in supporting adaptive & resilient cities; topik 2, intelligent & smart cities – build governance & improve public services using smart city concept; topic 3, Prosperous cities – enabling local economic competitiveness; topik 4, knowledge sharing – replication of indonesia best smart practices.

Sadar kami ngga menguasai bidang ekonomi, akhirnya kami memilih masuk ke forum 1 tentang adaptive & resilient city, which was quite a good choice because we discussed with 2 beautiful first ladies! Panelisnya terdiri dari ibu Elida, walikota Banda Aceh, Stephany walikota Catbalogan-Phillipines, bapak Fajar Kepala Bappeda Banjarmasin, dan bapak Edimon Ginting, deputy country director dari ADB.

Di diskusi panel ini saya kembali berpartisipasi berdiskusi mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibu walikota banda aceh dan walikota catbalogan. Udah ga demam panggung nih haha😀 Paparan dari para panelis ini terkait mitigasi bencana, contoh-contoh best practices dan program masing-masing kota (banda aceh-catbalogan-banjarmasin) dalam membangun resilience dan adaptive strategy bagi kota-kota mereka yang -sama halnya dengan hampir seluruh kota di Indonesia- prone to natural disaster.

Bertanya kepada first lady nya banda aceh & catbalogan-phillipines

Bertanya kepada first lady nya banda aceh & catbalogan-phillipines

Menarik pula paparan Stephany tentang mega project kotanya: sky city, yang berusaha memindahkan pusat-pusat aktivitas dan pelayanan publik kotanya menjauh dari garis pantai, pada terrain of hill side of the city, makanya namanya sky city hehe😀 Ehhh, Stephany ini terpilih sebagai walikota pada umur 29 thn (sekarang umurnya 32 tahun). Young, brilliant and dangerous lady🙂 Saya dan Yenni juga berkesempatan berfoto dengan mereka, para panelis ini. Yang lucu itu pas antri berfoto dengan Stephany, ajudannya stephany bete aja qta todong buat motoin wkwkwkwk😀 Sementara miss Mayornya malah seneng aja disuruh-suruh foto gaya fun peace gitu😀 Eh buat yang pingin tau lebih lanjut tentang Sky city mega project nya mayor stephany uy tan inih, monggo klik link berikut ini, oiyaa.. sama kayak sukabumi, catbalogan juga gabung di ICLEI🙂 Kalau kerja sama kota kami dengan ICLEI adalah dalam pemetaan vulnerable urban system untuk kemudian menjadi bahan penyusunan strategi city resilience terhadap climate change, kebetulan saya juga ikut diajak ikut serta dalam kelompok kerja mengenai perubahan iklim ini.

1@

Dengan ibu walikoya Banda Aceh, ibu Elida

saya, Yenni, dan walikota Catbalogan-Phillipine, Miss Stephany

saya, Yenni, dan walikota Catbalogan-Phillipine, Miss Stephany *hanya ama kami dia mau poto gaya ngga resmi gitu haha*

20150909_121855Selesai diskusi dan antri foto-foto bareng para peserta diskusi, kami berlari ke restoran, daaaannnn… sukses kehabisan makanan ! wkwkwkwkwkwkw😀 epic banget dehhh.. kelaperan akut hahaha😀 Akhirnya kami pesen taksi dan menyerahkan pilihan tempat makan kepada supir taksi yang lalu membawa kami makan di Pallubasa Onta. Saya pikir pake daging onta hihi😀 ternyata itu nama jalan tempat warung makan yang menjual menu andalan palubasa: bentukkan kuahnya mirip rawon, tapi klo rawon kan jadi item kecoklatan gitu karena pake kluwek, nah si pallu basa ini coklat kehitaman karena kuahnya pake kelapa yang disangrai sampai coklat gitu, enaaaakk :-9

Warung Pallubasa Onta

Warung Pallubasa Onta

ini loh pallubasa onta :)

ini loh pallubasa onta🙂

Selesai kabur sebentar demi mengisi perut yang kelaperan, kami kembali ke hotel. Oh iyaa, menraik soal taksi di Makassar, supirnya mau aja nungguin kami makan siang, argo nya dimatikan, dan walau pun pesan taksi nya by phone, engga ada charge minimum payment seperti biasanya, argo nya pun murah dimulai dari 6ribu rupiah. Dari hotel ke pallubasa onta, kami kena ongkos 12ribu saja hihi😀

Sampai di hotel, participants lainnya sedang berdiskusi tentang draft deklarasi Makassar, salah satu hasilnya adalah, akan didirikan university of ASEAN di Indonesia! tepatnya di kota Banjarmasin, sementara Makassar ditetapkan sebagai headquarter untuk ASEAN community *thumbs up for our country, ayokkk jaga keamanan nya untuk semua!* Selesai gladi resik untuk penandatanganan deklarasi Makassar, seluruh peserta pun diajak keliling kota Makassar dengan menggunakan beberapa bus yang sudah disediakan panitia.

Bus yang saya dan Yenni tumpangi mendapat guide salah seorang kabid di Bappeda Makassar. Beliau menjelaskan beberapa program andalan kota Makassar seperti smart city yang digunakan untuk fasilitas kesehatan telemedicine, lalu lorong garden dan manajemen persampahan kota makassar termasuk bahwa Makassar merupakan kota yang berkonsep MICE (Meeting, incentives, conference, exhibition). Oiyaa, lorong garden ini mirip dengan program kelurahan hijau di kota kami Sukabumi. Ide dasarnya adalah urban farming: memanfaatkan lahan sempit perkotaan (lorong/gang permukiman) untuk ditanami berbagai tanaman seperti sayuran, bumbu dapur dan buah-buahan. Hanya saja sebagian dari tanaman di program lorong garden ini sudah menggunakan media hidrponik. Eh tapi di Sukabumi juga sudah mulai digerakkan kok berkebun dengan menggunakan media hydroponik sama komunitas Sukabumi Berkebun🙂

Nah menariknya soal manajemen persampahan di Kota Makassar adalah bahwa warga Makassar justru takut sampahnya dicuri hehehe😀 kenapa? karena sampah yang sudah dipilah oleh warga tersebut bisa ditukar dengan beras! Well, mirip kok konsepnya dengan konsep bank sammi (bank sampah sukabumi). Truk angkutan sampah di Makassar menggunakan truk box yang dinamakan tangkasaki: truk angkutan sampah kita. Ide menggunakan box untuk truk sampah kayaknya bisa mereduksi bau sampah yang kemana-mana selama proses pengangkutan dan juga mereduksi sampah yang tumpah berceceran kali yaaa🙂

buanglah sampah pada tempatnya, jagalah sampah mu dari maling :D

buanglah sampah pada tempatnya, jagalah sampah mu dari maling😀

nyicipin sari markisa hasil panen dari program lorong garden di kampung kassi-kassi

nyicipin sari markisa hasil panen dari program lorong garden di kampung kassi-kassi

anak-anak kampung kassi-kassi yang ikut antusias menyambut delegasi asean mayor forum

anak-anak kampung kassi-kassi yang ikut antusias menyambut delegasi asean mayor forum

lorong garden, semacam kampanye urban farming dengan media recycle good di lahan-lahan super terbatas di gang-gang permukiman warga

lorong garden, semacam kampanye urban farming dengan media recycle good di lahan-lahan super terbatas di gang-gang permukiman warga

Selesai kunjungan ke kampung Kassi-kassi, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Losari, tempat diadakannya acara penandatanganan deklarasi makassar, lumayan yaa bisa city tour sama panitia hehehe😀

Sesampainya di pantai losari, kami disambut oleh alunan musik dan teriakan ceria 2000 anak-anak Makassar yang ikut berpartisipasi dalam acara ASEAN Mayor Forum ini🙂 Seru sekali melihat semangat anak-anak mungil kesayangan bangsa ini🙂

2000 anak - anak makassar ikut memeriahkan penandatanganan deklarasi makassar

2000 anak – anak makassar ikut memeriahkan penandatanganan deklarasi makassar

salah satu walikota dari salah satu negara asean menunjukkan kado lukisan dari anak Indonesia *lupa nanya beliau darimana hehe*

salah satu walikota dari salah satu negara asean menunjukkan kado lukisan dari anak Indonesia *lupa nanya beliau darimana hehe*

Ada kejadian lucu pas acara penandatanganan deklarasi Makassar ini😉 Jadi ceritanya tidak ada petunjuk dari panitia dimana letak panggung utama tempat penandatanganan, pun petunjuk dimana tempat buat delegasi dan dimana tempat untuk para walikota. Kalau pun ada sudah ngga ketauan aja saking ramenya yang hadir. Jadilah saya dan Yenni dan ajudan bapak ikut kedorong massa hingga ke panggung utama hihihi😀 Baru ngeh karena ada drone camera yang terus-terusan berada di atas kepala kami. Yahh, sudah terlanjur di sana dan ga mungkin balik badan karena saking ramenya, jadi ya udahhh.. ngeksis ikut-ikutan melambaikan tangan ke drone camera hahaha😀

Lagu I have a dream pun menjadi penutup acara penandatanganan deklarasi Makassar🙂 Semoga yaahhh, ASEAN Community bisa memberi manfaat besar buat bangsa ini, bukan sebaliknya jadi bangsa yang dimanfaatkan :-p eh tapi kita nya sebagai bagian bangsa juga harus bisa meningkatkan kapasitas kita yaaa. Jangan cuma menuntut ini itu sama pemerintah dan protes brutal ketika merasa “tertinggal”. Kasarnya siy di era global seperti sekarang ngga bisa  lagi berpikiran “ke-aku-an”, what happens now is “world citizen”, when you have better quality than any other people in this world, you get hired, you get better payment! terlepas dari negara mana kamu berasal dan di negara mana kamu bekerja. Siapkan diri untuk persaingan global, jangan mengkeret duluan tanpa berusaha hehe.. kalau istilah mama saya “belon perang tapi udah pulang aja”, nah jangan seperti itu. Terutama sekali kuasailah minimal satu bahasa asing yang biasa dipakai di dunia bisnis : inggris, mandarin, dll🙂

Selesai sudah tugas saya di Makassar, lepas magrib saya minta izin kepada bapak Walikota dan ibu untuk berpisah dari rombongan karena kebetulan adik bungsu saya juga lagi dinas di Makassar. Jarang-jarang bisa ketemu sama mahkluk satu itu hihi😀 padahal dia bekerja di Pertamina kantor pusat Jakarta, saya di Sukabumi, it’s not that far tapi ya gitu deh… jarang ketemu :-p Mini reunion juga dengan Mbak Arik, disempet-sempetin deh walau saya jadi menyusup di acara kementerian Pekerjaan Umum urusan pengairan di Hotel Aryaduta.  Ga apa-apa yaaa? kan saya juga dari PU dan dulu juga mantan tukang pengairan di sukabumi nya hihi😀 Terakhir ketemu mbak Arik pas kami sama-sama sedang di Kyoto, Jepang tahun 2013 lalu🙂

mini reunion dengan adikku & dengan mba arik

mini reunion dengan adikku & dengan mba arik

Selesai mini reunion yang isinya cuma ngobrol bentar dan foto bareng, saya minta dipesankan taksi. Nekat jalan-jalan sendirian di kota Makassar🙂 Dari hari pertama sampai hari terakhir bisa dibilang saya ngga bisa kemana-mana selalu stand by dalam forum hihihi😀 Akhirnya malam itu saya minta dianter taksi untuk beli oleh-oleh di jalan Somba Oppu, takut bener-bener udah ngga keburu lagi beli oleh-oleh khas makassar. Akhirnya dapet deh songket makassar, kopi toraja dan kacang makassar. Cuma segitu-gitunya saking udah malem banget dan saya udah kelelahan belon sempet mandi, ganti baju apalagi istirahat dari pagi, kaki saya udah minta ampun diajakin jalan pake boot dari pagi :-p Oleh-oleh buat si bapak satu aja mepet beli di bandara dunkk wlo pun orangnya cuma bilang ngga usah dibeliin apa-apa🙂 Eh sekali lagi anggapan saya selama ini tentang orang makassar yang selalu rusuh di tipi-tipi buyar dengan kemananan dan keramahan yang ditunjukkan oleh supir taksi yang mengantar dan menunggui saya berbelanja sendirian malam itu🙂

Selesai belanaj oleh-oleh saya bergabung lagi dengan rombongan, tapi terus misah lagi berdua doang dengan Yenni: ladies nite out ! Secara dari hari pertama kami bertugas terus yaaa hihi😀

Kami menuju pusat wisata kuliner malamnya makassar, daerah popsa apa yah kalau ga salah namanya (dekat kantor kepolisian pengairan apa gitu istilahnya saya lupa, yang jelas nyebrang dikit dari depan fort rotterdam). Kami menuju warung makan paling ujung karena melihat tempatnya lumayan kece: makan di deck yang menjorok ke laut dengan view aktivitas pelabuhan Makassar dan sebuah bangkai kapal tua berwarna biru. Hampir dini hari baru kami kembali ke hotel😀 Lelahhhhh capek banget tetapi menyenangkan!

a very late dinner next to the port with Yenni *abaikan maskara yg bikin mata panda semakin gelapsss hehe*

a very late dinner next to the port with Yenni *abaikan maskara yg bikin mata panda semakin gelapsss hehe*

dinner dengan view kapal tua ini

dinner dengan view kapal tua ini

Selamat malam, Makassar. See you another time soon!

Selamat malam, Makassar. See you another time soon!

Dalam perjalanan menuju hotel, saya dan Yenni sempat ngobrol dengan supir taksi nya (yang lagi-lagi baik yaaa). Daeng itu bercerita bahwa Makassar di bawah kepemimpinan Walikotanya yang sekarang jadi sering sekali menjadi tuan rumah berbagai event. Iya lah yaa, kalau kotanya jelas berkonsep MICE, maka indikator keberhasilannya adalah event-event yang diadakan di kota tersebut🙂 Ehh seharian itu saya tiga kali menggunakan tiga armada taksi yang berbeda, ngobrol dengan mereka mengingatkan saya pada aksen berbicara teman-teman kuliah saya dulu yang berasal dari makassar seperti pak Ancu dan Ulil hehehe😀 Mulai familiar dengan akhiran-akhiran dan intonasi berbicara nya orang Makassar tetapi kami harus bergegas pulang🙂

Next time semoga ada kesempatan bertugas lagi di event-event internasional seperti ini🙂

Terima kasih sekali kepada bapak Walikota yang sudah mempercayai saya untuk ikut serta di ASEAN Mayor Forum! Saya benar-benar belajar banyak dari pengalaman saya kali ini🙂

A Latepost Of Being 34 YO

Tags

, ,

Been ages not dropping any writing here🙂 Still checking on blog stats and new comments sometimes though i rarely reply to any of them nowadays. I appreciate them🙂

I turned 34 last month, no celebration as i was busy attending school for planner in Bandung, (not so) far away from home, family & friends. Not even a cake i made for myself like the previous years. Yet no more heart wrenching feeling and nites spending with tears like last year (yippieee! i think i finally get rid of that nitemare and make peace with my fate. trying to be super positive by saying so haha). Nonetheless, i received so many beautiful wishes and prayers🙂 I feel so grateful for that and i do hope they said it sincerely🙂

Anyhow, been learning a lot from the school about planning, come to this one good conclusion : The only certainty in planning is the uncertainty itself.

Self reflection? definitely! Having a glimpse of what’s happening during these past few years, seeing me unintentionally ruining my very own plan, having to let things go uncontrolled, surprised by how everything -i had planned- totally changed within an eye blink… The uncertainty.

But i was told that a goal without a plan is just a dream (that’s written on my class t-shirt!). And i refuse to live the dream ! Thus, I keep on planning the life i think i’ll be super happy living in. Never mind if something comes along my way. Anyhow, everything that worth fighting requires lots of very well planned-efforts.

So, though every little things seems so pointless at the moment, and every prayers seems left unanswered, and sometimes i am in doubt of the path i am choosing… I’ll remember those days i prayed for the things i would have in the future. Therefore, I’d appreciate both of achievement and failure:)

34 yo now !

34 yo now !

I Think I Like Being 34 YO. Not to hide the fact that i am getting old haha😀

Nite-nite, Peeps.

Dear Single Ladies

Just about yesterday i attended two wedding parties. And today i heard two friends o’mine got divorced with their husband and wife. All this till death do us apart is now becoming till i get bored of you? (Read it somewhere). Or i will stand by you through thick and thin is now becoming i will dump you at unpredicted time?
Not to say i was lucky enough to not tie the knot with the wrong spouse, nor that i was lucky enough to fail some relationship instead of to fail a marriage. But yeah, those days i am staying single after failing my last relationship are the days i learn best of who i am, what type of woman i will be in a relationship, and of everything i shall value in a relationship: a marriage.

And here is for my dear single ladies and myself🙂

“So, dear single ladies, do not let yourself be worried if you haven’t met The One. Do not change who you are to fit the typical princess. Be your own kind of princess. Do not let yourself be bothered by people who ask you when or if you’ll ever get married. There is no expiry date on singlehood. It is truly the time you get to explore yourself and learn to be the best version of who you are. God made you perfect as you are. Love yourself and someone will love you.” (Axioo photo)

still a wanna be ^^

still a wanna be ^^

DIY Bathroom Make Over

Sudah lama tidak menulis, sibuk sama therapy, sibuk sama tumpukan deadlines, dan sibuk menata hati hehe🙂 Everything turns out better now, if i could say. Dan iyaaa, sekarang gw lagi seneng banget mengerjakan proyek kecil-kecilan bertema DIY (Do It Yourself). Engga purely 100% DIY siy, sadar banget sama kapasitas tenaga & kesehatan sekarang.

DIY pertama gw pasca operasi kemaren adalah : bathroom make over. Abis itu lanjut DIY kecil lainnya seperti bikin taplak meja (simple yet lumayan harus tekun & konsentrasi juga ngejahit 4 meteran renda pake flanel stitch, tanpa mesin jahit hehe), terus bertanam anggrek (ceritanya dikasih bibit anggrek sama oma di kantor gegara qta sering curhat2an soal taneman), dan sekarang (masih on progress) make over kitchen & ruang tamu (yang ini decor aja siy).

Mungkin term DIY gw agak keluar dikit deh dari pakem DIY sesungguhnya. Coz DIY yg gw kerjain kemaren-kemaren ini masih memerlukan tenaga tukang (kebayang ntar dianter ambulance lg klo gw nekat ngangkat2 tumpukan ceramic tile & masangnya sendirian :-p amit-amit yeee). DIY yg gw kerjakan kemaren masih sebatas: mendesain, survey & milih material, belanja material, memilih tukang, mengatur finishingnya, mengawasi dari awal proyek sampai klaar. So, thats my DIY😉

Nah, buat cewek-cewek single out there, yang tinggal di rumah sendiri tanpa ada asisten, mungkin udah biasa lah yaa klo sekedar berjibaku ama kunci inggris buat ngeganti kran air, ato manjat tangga ngeganti bohlam. I’d like to share soal bathroom make over just in case a serious case take place in your home sweet home :-p

Tadinya sebelum kejadian masuk rumah sakit kemaren itu udah pingin juga make over bathroom, gegara mulai curiga sama suara seperti air yang terus mengalir padahal kran ga dibuka, apalagi pas rumah ditinggal sebulan waktu ke Jepang akhir tahun lalu, kok ya tagihan airnya sama aja, siapa coba yang make air selama gw ga ada di rumah?? Daaaannn yang lebih bikin bete (ngeri juga) itu mulai ada binatang kecil2 keluar dari kran air >.< Walo rumah gw kecil pisan, tapi insya allah bersihhh yooo… Makanya pingin buru-buru make over bathroom, ehhh taunya dana nya keburu dialihkan buat biaya surgery yg ngabisin tabungan modal nikah itu xixi😀

Pembagian fungsi ruangan memungkinkan kamar mandi ukuran 1,5x2 meter persegi berfungsi sebagai laundry room juga

Pembagian fungsi ruangan memungkinkan kamar mandi ukuran 1,5×2 meter persegi berfungsi sebagai laundry room juga

So, akhirnya awal Mei baru deh kesampaian mengeksekusi DIY bathroom make over nya🙂

Ini x, y, z DIY bathroom make over buat kalian yg mungkin butuh info :

  • Survey pendahuluan: cari ide

Sebelum mengeksekusi project ini, gw sempet beberapa kali survey dulu ke toko bahan bangunan. Belum untuk hitung-hitungan bahan siy, tapi lebih ke cari ide hehe😀 Oiya, gw prefer survey ke toko bahan bangunan yang sistemnya udah swalayan kayak ace hardware, roda mas, dll. Lebih nyaman untuk sekedar survey cari ide: bentuk & fungsi appliance yang mau dipake, jenis-jenis kran & shower, bentuk+warna+paduan motif ceramic tile. Survey pendahuluan juga ga melulu mesti ke toko material loh yaa.. Gw sendiri sibuk baca-baca buku juga, karena kebetulan punya banyak koleksi bacaan tentang home, garden, &decor. Survey online juga bisa banget, niy gw rekomen satu situs bagus: http://www.houzz.com di sini kita bisa save desain-desain yang kita suka ke dalam idea book pribadi🙂

  • ukur-ukur & coret-coret

Ukur dengan cermat ruang bathroom yang tersedia : p x l x t. Jangan lupa juga ukuran closet, pintu, bak mandi, dll, coz ini ntar ngaruh ke hitungan detail kebutuhan material (klo mau irit dan tepat guna siy, klo budget nya ga kenal limit mah santai aja hehe). Pastikan juga tata letak pipa & elektrikal existing. Setelahnya mulai deh menggambar dan mendesain: pembagian fungsi ruang, perbedaan level lantai, letak pintu, closet, shower dll. Nah soal desain dan keterbatasan ruang niy, gw terinspirasi banget dengan apato gw semasa tinggal di Kyoto kemaren. Keciiiilll banget tapi ruangannya engga ada yang mubazir. Waktu tinggal di Belanda siy ruangan-ruangannya lebih lega dan lebih leluasa. Jadilah gw mencoret-coret dengan cermat desain awal si kamar mandi baru inih.

Ukuran kamar mandi gw kecil bgt, cuma 1,5×2 m persegi, dan direncanakan untuk bisa mengakomodasi banyak kebutuhan ruang: toilet + kamar mandi + laundry room. Yang terakhir ini harus dipaksakan mengingat luka operasi gw kemaren gede pisan jadinya sebisanya ga lagi deh nyuci ala-ala jaman gw masih sehat kemaren itu hehe… Jadi selain fungsi awalnya, kamar mandi yg baru ini ntar juga harus bisa memuat mesin cuci, sehingga gw nya harus bener-bener bisa mengakali keterbatasan ruang tadi itu…

  • survey harga & tukang

Ukur-ukur udah (termasuk kalkulasi kebutuhan material), ide desain udah juga, sekarang waktunya survey harga material & upah tukang. Oiya, memilih sistem kerja tukang juga agak sedikit tricky niy😉 Upah tukang, as you know, bisa harian atau borongan. Nah kemaren itu gw agak sedikit beruntung memilih sistem kerja tukang dengan borongan. karena ternyata kondisi existing bangunan (masih asli bangunan dari developer) bikin jadwal make overnya molor dari perkiraan :-p Ini gegara plesteran dinding existing ternyata ga nyiku kemana-mana xixixi.. Akhirnya susah ngejar centring pasangan pipa, & keramik daaannn jadinya boros pasir & semen :-p (upah borongan means si tukang dibayar dengan harga x sampai satu unit kamar mandi selese, upah harian means upahnya dibayar per progres kerja per hari nya).

Bath2

  • Irit & cermat

Oiya, satu hal yang penting lagi dalam ngerjain DIY project sejenis… Kita nya harus cermat biar bisa irit hehe.. Maksudnya, pastikan bener-bener kerusakan kamar mandi apa saja yang harus segera ditangani. Pastikan juga appliances apa saja yang masih bisa dipakai, misalan : flexible pipe, kran air, toilet, dll. Jangan lupa untuk mempersiapkan utilitas lainnya jika suatu saat misalkan pingin ada kran air panasnya, maka kudu tuwh dari awal-awal memasang instalasi pipa dan kran khusus air panas walo pun water heater nya masih kapan-kapan hehe…Hal yang sama juga berlaku untuk pemasangan exhaust fan, klo budget nya belum memungkinkan, at least siapkan dulu instalasi listrik untuk exhaust fan nya, jadi nanti engga perlu lagi membongkar pasangan keramik dinding. Pasangan kran dan sambungan-sambungannya juga harus teliti memilihnya, misalkan kran untuk disambungkan ke mesin cuci ada kran khusus yang pake drat pengunci jadi air bisa mati otomatis begitu mesin cuci mati. Pun sambungan T untuk jet shower ke tangki flush toilet. Nahh penting untuk memilih kran dengan bahan yang beneran stainless (ada berbagai macam campuran kran, tanya di toko material yang bener-bener anti karat).

Jangan lupa juga untuk melebihkan 10% pembelian ceramic tile just in case ada yang pecah saat pemotongan. Dann untuk perpipaan: jangan pelit untuk penggunaan lem pipa, kualitas pipa dll. kenapa? coz kalau perpipaan nya suatu saat rusak lagi (bocor atau pecah), maka mau ga mau harus lagi aja tuwh ngebongkar dinding dan lantai, which can cost you more in the future.. Kayak kasus make over kamar mandi gw ini, ternyata bener ada kebocoran pipa di sambungan yang ternyata ama tukang developernya duluuu dilem seadanya :-p (rumah ini gw beli tahun 2008, setidaknya bangunannya udah ada dari medio 2007, jadi dengan kualitas kerjaan tukang yang alakadarnya emang pantes aja siy 2014 kudu dimake over)

Akhirnya setelah 5 hari kamar mandi gw selesai deh di make over🙂

Dan puas sama hasilnya, coz akhirnya ruangan kamar mandi yg kecil banget ini (1,5×2) berhasil menjadi kamar mandi multi fungsi: kamar mandi, toilet, laundry room.

Trick nya ada di permainan perbedaan level lantai. Secara garis besar, tinggi lantai gw bagi dua, bagian yang lebih tinggi untuk area mesin cuci & ganti baju (area kering), sedangkan bagian yang levelnya lebih rendah menjadi area mandi & toilet. Pemisahan fungsi ruang gw perjelas dengan shower curtain. Oiya, sebenernya bisa banget pake pintu tempered glass atau pake shower box. Hanya saja dua pilihan tersebut kurang cocok di kamar mandi gw yg kecil mungil itu.. material yang massive kayak tempered glass justru akan membuat kamar mandi gw jadi lebih sempit karena harus menyediakan space untuk bukaan pintu nya lagi. Selain harga nya yang juga mihilll bingitsss haha😀

saking kecilnya niy kamar mandi, naruh rak & cermin jadi di atas closet. teteup aman asalkan antara bawah rak dan tombol flush teteup ada space lega biar tangan ga malah bikin jatuh barang-barang di atas rak hehe :D :-p

saking kecilnya niy kamar mandi, naruh rak & cermin jadi di atas closet. teteup aman asalkan antara bawah rak dan tombol flush teteup ada space lega biar tangan ga malah bikin jatuh barang-barang di atas rak hehe😀 :-p

Satu trick lagi biar kamar mandi nya lega & ga lembab: mengeliminate pemakaian bak mandi😀 Akhirnya bak mandi gw ganti dengan shower, biar ga cape menguras bak mandi, biar ga jadi sarang nyamuk juga pas rumah ditinggal dalam waktu lama, dan biar irit pemakaian air juga hehe…

bak mandi digantiin ama shower & kran untuk wudhu. shower curtain dipasang dengan rel gorden yang dibor ke dinding, lebih kuat untuk mengantisipasi yg numpang minep & suka jorok ngegantungin handuk sembarangan :-p

bak mandi digantiin ama shower & kran untuk wudhu. shower curtain dipasang dengan rel gorden yang dibor ke dinding, lebih kuat untuk mengantisipasi yg numpang minep & suka jorok ngegantungin handuk sembarangan :-p

In total, biaya make over kamar mandi gw ini sekitar 5 juta. Itu udah beberapa printilan accesories seperti cermin, shower curtain dan rel nya. Super irit hehe😀

So, DIY room make over, engga sesulit yang dibayangin kok. You can save up money instead of paying more for professional architect whatsoever. DIY, you can do it laaa😉

 

 

 

 

Medication anxiety

It’s been a week since i started my medication, the therapy (up to the next 6 months). I noted down every detail in my “pink diary”, like how much do i gain or loose weight when i was released from the hospital, then right before the therapy started and when it is in progress; my waist band size; acne, period, etc.

Though my medication is supposed for good, to prevent me from having cyst recurrence, to fix the imbalance hormones inside me, to keep everything else inside me stays healthy, i feel the anxiety overload nonetheless. What happened on that day, 5 weeks ago, was really a traumatic experience to me, that explains.

Been reading so many articles about the side effects of medication i am taking now, sharing with some friends who also former ovary cyst sufferers (all of them were never given such therapy like i do have now), i am scared of these side effects. Lucky me, on this first week of the therapy, i didnt gain weight as predicted, i didnt have a bad hairfall, i only had one big pimple haha😀, i didnt feel dizzy, i didnt have a bad swing of mood (except when i remember the old days when my ex and i argued the number of our future children, discussed about one year full leave i would take everytime i deliver his baby…)

Now i am having my fingers crossed: that i am among those 25 % patients who do not suffer all these side effects, that i am among those number who stays healthy-no cyst recurrence post ovary removal, that i am among those women who are able to get pregnant and deliver healthy baby even with only one ovary left.

Despite this anxiety, i do believe in prayer🙂

Chocolate cyst, not as sweet as its name

Seperti yang saya janjiin kemaren, sekarang saya share soal chocolate cyst. Kista yang membuat saya kehilangan ovarium kanan. But before i proceed, i have a great happy news to deliver!😀 I just came back from my obgyn doctor this afternoon, had another USG check, and i am so happy to see the monitor had no reflection of any suspected mass inside my womb, left ovary n the falopian tube! So, conclusion: they all are allrite and healthy ! Praise be to Allah, alhamdulillah, what else could i ask for?🙂

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.  QS 94:5-6)

Owkay, i’ll try to share about the cyst, what cause it and the treatment, in the eyes of a (was) a sufferer and (now) a survivor😉

Pasca oophorectomy, kista saya yang sudah pecah kemaren itu kemudian dibawa ke instalasi patologi anatomi RSU R. Syamsudin, SH untuk diteliti apakah cancerour atau non cancerous, type, ukuran dan kandungan di jaringan kista itu sendiri.

Hasil patologi anatomi kista itu terdiri atas makroskopis (apakah kista masih utuh atau sudah terbelah, ukurannya, warna dan teksturnya, ketebalannya, etc) dan juga mikroskopis. Nah untuk hasil patologi anatomi mikroskopis ini saya engga ngerti istilah-istilahnya, full istilah anatomi: stroma ovarium, kista follikel, corpora lutea, serbuk sel radang limfosit, hitosit, pigmen hemosiderin, mukosa, epitel torak, papilifer, inti dalam batas normal). But dont worry, i got a video about the ovulation, and it’s quiet informative so you can figure out some of these anatomy terms, aaaaannnddd: know what exactly is happening inside your body when you’re ovulating😉 Oiya, “inti dalam batas normal” itu berarti si kista ini (Alhamdulillah) adalah a non cancerous cyst! Kalau engga salah kemaren dijelasinnya begitu🙂

Kesimpulan dari patologi anatomi kista saya adalah : Chocolate cyst (endometriosis externa)

Kenapa juga dinamakannya chocolate cyst? instead of brown cyst ? Chocolate kan makanan favorit semua orang? Apa kista ini tumbuh karena kebanyakan maem coklat? hehe silly :-p I came googling on some articles. And found out that the chocolate cyst is a functional cyst, filled with dark, brown blood (there comes the name of chocolate :-p). Nah, kemaren itu kasus saya si kista nya pecah, hingga ada koleksi cairan darah coklat di perut saya yang bikin bagian bawah perut terasa nyeri luar biasa hingga berjalan pun engga bisa tegak karena menahan rasa sakitnya. Oiya, saya sempat salah kaprah niy soal kista, saya pikir kista itu berbentuk benda solid seperti batu, sort of. Ternyata kista saya itu tumpukan cairan hehe.. saking ga ngelmu nya saya tentang penyakit sendiri :-p

Jadi kista coklat itu kista yang berisi cairan darah yg berwarna gelap, kecoklatan. Nah terus kista fungsional apalagi? Are they the same thing? Owkay, coba lihat dulu video yang saya unggah di atas ya…

Menurut pemahaman saya setelah nanya-nanya ke dokter saya, terus baca artikel sana sini (klo ada yg lebih ngerti, tolong dikoreksi yaaa), penjelasannya sebagai berikut.

Setiap kali perempuan berovulasi, folikel (inget kan di kajian mikroskopis kista saya ada tulisan folikel nya? di video juga jelas banget apa fungsinya folikel itu dan seperti apa bentuknya) menyimpan sel telur dan melepaskannya ke saluran tuba falopi. Setelah tugasnya selesai, si folikel ini akan mengecil kembali menjadi corpus luteum. nah si corpus luteum itu nanti akan hilang sampai siklus ovulasi berikutnya. Tetapi karena ada kesalahan pengiriman sinyal akibat ketidakseimbangan hormon (makanya jauh-jauh dari stress dan emosi jiwa yaa), si folikel ini malah exist menumpuk cairan hingga terbentuklah kista yang berisi darah coklat (old blood). Kayaknya gitu deh, kroscek yaa klo pingin pasti.

Nah jadi chocolate cyst itu adalah kista fungsional yang terjadi karena kegagalan si folikel untuk mengecil jadi corpus luteum karena ketidakseimbangan hormon, dan malah menumpuk cairan hingga membesar jadi kista dan ini bisa terjadi kapan saja selama seorang perempuan masih berovulasi. jadi be aware yaaa! A childbearing age woman (wanita yg masih berovulasi, belum menopause) beresiko terkena kista fungsional ini. Kira-kira seperti itu hehe (anak teknik ngejelasin masalah kedokteran, harap maklum deh :-p)

Oiya, stress could boost size of cyst also (in my case) lead to ruptured cyst (my case). Well well, dari Desember ke Maret waktu itu memang bisa dibilang tingkat stress saya lagi tinggi-tingginya. Ada beberapa masalah yang bener-bener menguras emosi saya, i was clearly not in a good emotional state which then lead to the imbalance of hormonal and then yeah.. this is happening😦 Temenku ada yang kistanya tumbuh sampai 10cm di salah satu ovarium tapi karena orangnya selalu happy dan riang gembira, sampai saat ini fine-fine aja menjalani pengobatannya tanpa harus dioperasi, dokternya bilang kista nya bisa mengecil dan hilang dengan pengobatan. kasus saya? *nyesek*

Terus gejalanya apa saja? Seperti banyak disebut di berbagai artikel, pun kasus saya sendiri, si kista coklat (kista fungsional) ini nyaris tidak terdeteksi.

Seperti saya contohnya: siklus menstruasi saya cukup teratur 28 hari kurang lebih, nyeri haid tidak pernah membuat saya mengkonsumsi obat anti nyeri atau pun membuat saya menghentikan aktivitas sehari-hari. Jadi saya tidak punya kecurigaan apa pun karena sepertinya semua baik-baik saja.

Lalu jika pun terasa nyeri di perut, sering bias dengan diagnosa lain seperti : masuk angin, mag, gastritis, atau radang usus buntu.

Katanya lagi gejala yang sering mengiringi adalah : bloating (kembung), nausea (mual), vomitting (muntah), dan nyeri di bagian bawah perut. See? semua gejala itu bisa disalahtafsirkan menjadi diagnosa penyakit-penyakit lain. Seperti saya, curiga nya selalu aja gastritis, tekanan darah rendah, kecapekam, masuk angin bla bla bla.. tidak pernah mengarah kepada adanya kista, kecuali saat kemaren kistanya sudah terlanjur pecah dan menyebabkan nyeri yang luar biasa hebat di perut bagian bawah.

Terus pengobatannya bagaimana?

Kista yang masih berukuran kecil bisa hilang dengan sendiri nya atau dengan mengkonsumsi obat-obatan. Kista yang sudah berukuran 2-3 cm juga masih bisa diatasi dengan tindakan operasi minor : laparoskopi. technically laparoscopy dilakukan dengan membuat sayatan kecil di perut dan memasukkan instrumen kecil yang disebut laparoscope untuk mengecek & mengobati kondisi di dalam area abdomen atau pun area pelvic.

Nah, kalau kista nya berukuran besar lagi, maka tindakan yang dilakukan adalah operasi major yang luka sayatannya lebih besar, disebut laparotomy. Jika si kista bursting or ruptured aka pecah, dan menyebabkan internal bleeding serta perlengketan dengan organ dalam tubuh, maka tindakan penyelamatan yang dilakukan akan lebih kompleks lagi. Contohnya kasus saya, perlengketan kista yang pecah itu justru di ovarium kanan, tidak bisa lagi dibersihkan. Maka demi keselamatan jiwa (karena saya juga mengalami bleeding yang dikuatirkan dapat toxicate another organ), akhirnya terpaksa dilakukan tindakan oophorectomy alias ovary removal surgery alias pengangkatan ovarium…

Oiya, mengenai penyebab lainnya, silahkan cek video yang ini yaaa (in short: ketidakseimbagan hormon, akumulasi toksin dalam tubuh, stress dan gaya hidup, etc)

 

Pengobatan & pemantauan pasca operasi juga harus dilakukan untuk mencegah cyst recurrent aka tumbuh nya kista lagi.

Saya sendiri dalam obrolan santai arisan di rumah tante kemaren ini sempet disarankan oleh dokter kandungan nya tante untuk mengkonsumsi pil KB selama 6 bulan pasca operasi. Bingunglah si saya inih, bagaimana bisa saya yang belum menikah justru harus mengkonsumsi pil KB??

20140405_165516

Akhirnya tadi saya minta di USG lagi sekaligus berkonsultasi dengan dokter obgyn yang mengoperasi saya kemaren itu. Alhamdulillah, organ reproduksi saya bersih, clear tidak ada lagi masalah (semoga selanjutnya seperti itu,, sehat selalu, aamiin). Nah Pil KB itu ternyata berfungsi sebagai terapi hormon. Hanya saja karena saya memang belum menikah (risih juga kali ngantri beli pil KB di kota kecil ini :-p), dokter bilang saya tidak perlu mengkonsumsi pil KB itu, gantinya saya dapet obat lain untuk terapi hormon yang harus saya minum setiap hari, pada waktu yang sama, selama 6 bulan ke depan (sebagai gambaran biaya untuk kalian yang juga harus menjalani terapi hormon dengan obat-obatan ini: 30 kapsul Rp. 364.000. Konsultasi dan USG Rp 150.000. Harga per April sebelum kenaikan BBM loh yaaaa, smoga thn 2014 ini harga BBM engga naik lagi mwehehehe😀 ).

Obatnya harus dengan resep dokter loh yaaa, dan biar rutin juga check up & USG nya, biar semuanya terpantau, kalau ada apa-apa engga terlambat taunya, engga “ketipu”, dan engga nyesel sendiri seperti kemaren hehe…

Soal luka operasi saya yang vertikal ini, tadi juga saya sempat konsultasi. Beberapa hari yang lalu kan saya sempat tuwh nonton video lahiran C-Section (hikmah kejadian kemaren, saya jd lebih peduli & lebih ngelmu dengan keperempuanan saya hehe). Si dokter di video ngejelasin kalau luka C-section dibikin horizontal agar kelak si ibu bisa berkesempatan untuk melahirkan secara normal. Saking pinginnya saya nanti jadi ibu, tapi juga saking takutnya saya kalau sampai harus ope-ope an lagi, saya nanya dehh tuwh soal penjelasan dokter di youtube ke dokter obgyn saya.

Voilaaaa ! He said i can still possibly deliver my babies through normal vaginal birth instead of C-section! Pfyuhhhh ! what a relieve, walo pun nikah nya engga tau kapan dan hamilnya juga engga tau kapan yaaa hehe😀

Dokter saya bilang, “yang dibedah kemaren kan bukan rahimnya”, jadi selama rahim saya baik-baik saja, dan kehamilannya nanti tidak bermasalah, tulang panggul juga tidak menghalangi jalan lahir, maka dengan jahitan operasi saya yang vertikal sepanjang 20 cm ini masih berpeluang untuk melahirkan secara normal ! *lagi-lagi sujud syukur walaupun sampai hari ini belum bisa rukuk dan sujud, walaupun menikah dan hamilnya masih dalam doa yang belum diijabah Allah hehe*

So, that’s it about chocolate cyst, endometriosis. If any of you need more information on this, please go ask your obgyn doctor coz he/she knows more and can provide you proper information related to your health problems. It is good to read lots articles on this, share with the former sufferer and survivor, but again, every human being is unique, sometimes you can not generalize things like this🙂

To the sufferers, dont worry too much as it could give more pressure to your soul and sometimes lead to depression. Find more information, get a proper thorough check, so you could decide what medication is best for you. And saving all possibilities of becoming a healthy mommy and having wonderful kidds, for sure!

Giving you a big hug! This too shall pass🙂

 

Laparotomy, a life changing experience (2)

Tags

, , , , , ,

Pasca operasi besar, seperti apa rasanya? Some patients are just lucky enough to have a better preparation before they undergo a surgery, so they know what kind of experience to expect after the surgery and they have better management of any potential side effect following a surgery . Saya? Karena rasa sakit, diagnosa, persiapan operasi, operasi, lalu selesai operasi, semuanya terjadi kurang dalam 24 jam, maka yang terjadi setelah operasi adalah planga plongo, terkaget-kaget, shock dan sakit sekaliiii. Jreng-jreng… oxygen mask pun mendarat lagi di hidung agar saya lebih rileks dan tenang🙂

To anyone who have to undergo a major abdominal surgery, here i shared you my experience.

IMG_20140331_110146

Pain & PONV following a surgery

Operasi saya malam itu dimulai sekitar jam 11 malam, Jumat 7 Maret. Menurut tante saya yang menunggui saya selama sakit, operasi itu selesai sekitar jam 2 pagi, Sabtu 8 Maret. Total sekitar 3 jam (dipotong waktu untuk adegan dokter bedah meminta surat pernyataan ijin dari keluarga untuk dilakukan tindakan darurat pengangkatan ovarium, dipotong lagi adegan dokter kandungan saya yg tadinya udah pulang, lari-larian, terus agak ngebut nyetir balik lagi ke rumah sakit untuk melanjutkan sesi kedua operasi saya setelah dapet telpon dari dokter bedah hehe *fans nya serial grey anatomy saya mah*.

General anesthesi yang disuntikkan pada saluran kateter infus (yup, itu namanya juga kateter, ga cuma kateter utk urin aja) kerja nya luar biasa ya… Saya engga tau persisnya kapan saya sadar post operasi. Tetapi saya ingat beberapa kejadian saat saya masih dirawat di ruangan Post Anestesi Care Unit (PACU, 24jam pertama post operasi itu jam-jam kritis pasien, jadi harus dipantau dulu di ruangan PACU sebelum dinyatakan aman untuk dipindahkan ke ruang rawat inap).

Salah satunya saya inget kalau saya sempet “ngamuk” di ruangan PACU hehe… Sepertinya waktu itu pengaruh anestesi di area operasinya mulai hilang, mungkin saya baru sadar kali ya dan mulai merasakan sakit seperti keiris pisau yang intensitasnya rasa sakitnya ribuan kali lebih sakit daripada luka keiris pisau dapur. Something wrong with my belly ! Jadinya saya teriak-teriak ga tahan sama rasa sakitnya huhuuu😦 Lalu ada petugas yang menyuntikkan sesuatu di saluran kateter di tangan saya, mungkin obat anti nyeri, sort of. Terus inget juga MT (paman) yang berusaha menenangkan saya dan minta saya untuk tidak teriak-teriak karena ada beberapa pasien lain juga di ruangan itu.

Dohh, maapkeun, tapi saya engga peduli, masih mabok anesthesi juga, dan sakit banget rasanya. Dua kali kemudian saya juga teriak lagi manggil dokter karena rasanya pusing dan mual sekali (jangan ngebayangin teriak2 lantang, engga bisa hehe… sampai hari ini pun saya kalau ngomong belum bisa bersuara kenceng kayak biasanya :-p).

This thing, a patient should be aware of after underwent a surgery is PONV aka Post Operative Nausea & Vomitting. Katanya siy 20-30% dari pasien yang baru selesai dioperasi akan mengalami efek samping dari anesthesi which is PONV ini alias rasa mual dan muntah. Just my luck, i was among these 20-30% number. Waktu masih di ruangan PACU, saya dua kali berteriak memanggil dokter karena pusing dan mual yang saya rasakan begitu saya sadar. Rasanya sangat kepingin muntah. Dua kali petugas medis menyodorkan semacam nampan ke arah mulut saya, dan begitu saya bersiap memuntahkan isi perut, jreng jrengggg…. Batal ! Karena kan sejak pagi jumat itu perut saya udah kosong karena sebelum dibawa ke Hermina saya udah sempet muntahh dulu, jadi engga ada yang bisa dimuntahkan lagi di sabtu pagi itu… Yang ada saya malahan shock dengan rasa sakit keiris-iris di area jahitan saat perut berkontraksi karena ingin muntah, tubuh saya langsung lemes lagi😦

Begini deh rasanya dioperasi tanpa persiapan sama sekali, banyak pengalaman pertama yang harus diantisipasi. Dan rasanya tuwh seperti mau ujian Sustainable City and Climate Change dadakan tanpa persiapan belajar, baca buku atau pun nyiapin contekan, bengong deh haha😀

Balik lagi ke PONV, biasanya PONV ini terjadi selama 24 jam pasca operasi. Nah saya? saya termasuk yang PONV nya lumayan awet :-p Ada kali sekitar 4×24 jam saya engga bisa makan dan minum karena mual dan pusing. Mungkin karena seumur-umur saya ga pernah minum minuman beralkohol kali ya? setahun di Belanda ga pernah nyicip bir or wine, sebulan di Jepang ga pernah jg nyicip minum sake :-p Jadinya pas dapet narcotics untuk anesthesi, mabok dan teler nya jadi lamaaa hehe… Padahal laper dan haus. Bahkan nyium bau masakan aja saya langsung tersugesti untuk muntah, padahal klo kepingin muntah begitu, perut berkontraksi, akibatnya sakit sekalli kayak diiris-iris. Akhirnya setiap mama, tante, mt & adek mau makan, langsung diusir-usirin keluar kamar perawatan saya hehe *maapkeun!*

Owkay, jadi beberapa saat setelah sadar pasca operasi yang perlu diantisipasi itu adalah PONV -si efek samping dari anesthesi- dan rasa sakit di area pembedahan. tapi sekali lagi, pain management dari setiap pasien itu beda-beda, tergantung dengan kesiapannya untuk dioperasi (jadi sempet baca-baca dulu, cari tau dulu ttg segala sesuatu post operative, jadi lahir dan bathin nya lebih siap) dan juga daya tahan tubuh serta reaksi tubuh terhadap obat-obatan dan rasa nyeri.

Limited mobilisation, bising usus versus kentut

Setelah kondisi saya dianggap cukup stabil, baju operasi saya dibuka (ga sempet ngelirik tuwh baju, seperti apa penampakannya setelah operasi selesai, you know what i meant), lalu ganti dipakeiin piyama oleh petugas medis nya (btw, pasca major abdomen surgery begini saya sarankan untuk mempersiapkan piyama yang atasannya berkancing, dan bawahan yang bagian pinggangnya longgar). Setelah itu saya dipindah ke brankar untuk dibawa ke ruangan rawat inap. I was a little bit stoned still :-p jadi ga inget saya lewat mana, terus lupa semua juga wajah-wajah paramedis yang menangani saya selama di ruang operasi & ruang PACU.

Klo PONV saya baru hilang setelah 4 harian, saya juga nungguin kentut pertama dan bising usus dengan penuh harap🙂 Haus banget setelah 24 jam dari mulai sakit sampai selesai di operasi engga minum… tetapi dokter dan perawat-perawat kompak engga ngijinin saya minum sampai bising usus saya terdeteksi atau kentut. Hari pertama pasca operasi itu sayangnya si kentut menolak muncul hehe… sementara bising usus saya juga engga terdengar😦 Akhirnya setelah beberapa jam, bising usus saya mulai terdeteksi, which is artinya digestion system saya udah mulai sadar dari pengaruh anesthesi dan mulai bisa menerima asupan dari luar. Tetapi karena bising ususnya lemah, akhirnya saya cuma diijinkan minum satu sendok air putih setiap dua jam sekali. Yup ! tiap dua jam cuma boleh dapet satu sendok air minum. Mama saya bilang saya keliatan pucet dengan bibir yang memutih karena dehydrasi😦

Akhirnya besoknya lagi baru deh si kentut yang dinanti datang hehe… Saya sudah boleh minum dan makan (hari itu dapet sirup bubur nasi hehe… bubur saring super encer sampai bisa disedot pake straw yang kecil :-p). Hanya saja karena saya masih terserang PONV, teteup saja engga bisa makan. Kalau saya paksain makan saya malah mual, klo mual malah pingin muntah, nah begitu mau muntah perut saya berkontraksi, shock sendiri karena rasa sakitnya. akhirnya saya memilih kelaperan deh🙂

Padahal kata dokter bedah saya, saya ga punya pantangan makan apa pun, karena pencernaan saya engga bermasalah. bahkan saat saya bersikeras memilih kelaperan dibanding mau nelen makanan yang disuapin mama, dokter Eddy sampai bilang begini ke mamah “Dia mau makan apa, bu? nasi padang ? ayam KFC? beliin aja, engga ada pantangan kok ” haha😀 Pada desperado orang-orang ngadepin si uni yang super keras kepala engga mau makan :-p

Oiya, si PONV ini ternyata juga mempengaruhi lama waktu perawatan pasca operasi. Si PONV ini bikin ga nyaman, akibatnya mobilitas pasien jadi terganggu karena mau apa-apa udah keliyengan duluan, mual, pingin muntah. Padahal mobilitas (gerakan tubuh, exercise kecil pasca operasi) itu bagus untuk mencegah blood clog in your inner part post surgery. Jadi pasien itu diharapkan bisa memulai latihan duduk, turun dari tempat tidur dan berjalan itu di hari pertama or kedua pasca operasi besar. Setiap hari selama masa pemulihan itu saya mendapat suntikan anti nyeri dan anti mual. Saya sendiri akhirnya baru bisa turun dari tempat tidur di hari ke-4 atau ke-5 pasca operasi deh. Telat banget kan ? :-p

Konyolnya, saya tersugesti untuk bisa segera duduk, turun dan tempat tidur dan berjalan itu justru karena saya sangat ingin keramas! hehehe😀 setiap pagi saat suster membersihkan & mengganti pakaian saya, saya ngeributin mereka dengan permintaan “suster saya pingin keramas. rambut saya udah jelek banget inih…”. terus sama suster-susternya dijawab, “iya mbak, nanti kalau udah bisa turun dari tempat tidur, kateternya udah dilepas, saya bantuin keramas”.

Oh mine! rambut panjang saya yang udah keringetan karena kesakitan di hari jumat itu, udah dipakeiin head cover buat operasi, terus keringetan lagi gegara segala macem keluhan post operasi, dan mandi yg cuma mandi waslap setiap pagi bener-bener bikin ga nyaman. Thats another thing you should be prepared of: mendadak jadi sangat bergantung kepada orang lain karena gerak tubuh yang jadi terbatas, mendadak jadi kucel dan lebih jelek hehehe…

Pada hari ke 4 atau ke 5, ya? Lupa deng. Akhirnya saya cukup kuat untuk duduk sendiri, dan turun dari tempat tidur. Kateter urin pun akhirnya dilepas. Nah ini juga sakiiit :-p Sepertinya semenjak di operasi itu saya paranoid sendiri, hingga memperburuk respon tubuh saya terhadap rasa sakit. Dan dibantu suster akhirnya saya mandi dan keramas. Bahagia bangetttt akhirnya boleh mandi beneran hehe😀

Oiya, kemaren saya sempat baca cerita seorang cyst survivor, sebelum operasi dia sudah siap lahir bathin gitu dengan operasinya. Detail banget loh ! Sampai-sampai dia nyempetin keramas dulu sebelum operasi karena dia mikir mungkin baru berhari-hari setelah operasi baru bisa keramas. Cewek, teteup yaaaa😉 Terus dia juga tau kalau sebelum dan sesudah operasi itu pasien sebaiknya puasa bicara dulu biar engga kembung. Saya mah engga tau ada aturan begitu. Jadinya begitu udah bisa dibezuk, Gank Tambun saya datang nengokin, ngajakin ngobrol, dibecandain, lalu begitu mereka pulang sayanya langsung puyeng dan lemes lagi heheuu…

Satu lagi, konstipasi aka susah BAB! Saya sempet nanya ke perawat dan adek saya yang udah pernah C-section soal ini, mereka bilang biasanya untuk BAB pertama kali setelah operasi akan sulit, cenderung konstipasi hingga diperlukan semacam obat pencahar. Nah, kali ini saya cukup beruntung, karena urusan belakang itu lancar jaya tidak ada masalah bahkan saya engga perlu make obat pencahar hehehe😀 Banyakin aja makan buah-buahan (pepaya works best!) dan sayuran yaaa…

Obat-obatan dan incision

Selama 6 hari saya dirawat pasca operasi, banyak sekali obat-obatan yang masuk ke tubuh lewat kateter infus. Total setiap harinya saya menerima 3 macam infusan plus dua macam obat (untuk anti nyeri dan pereda mual) yang disuntikkan ke saluran kateter infus, dan itu kateter harus 3 kali pindah juga (kiri, kanan, kiri) karena pembuluh darah saya bengkak, membiru hingga cairan infus malah rembes keluar. Alhamdulillah saya engga punya alergi obat.

Tiga macam cairan infusan itu bergantian masuk tubuh saya. Satu ampul seperti infusan ringer laktat biasa (tapi ga tau isinya apa hehe), satu ampul ukuran kecil (ga tau juga itu apa), dan satu lagi cairan dalam botol kaca. Nah yang botol kaca ini niy si antibiotik yang harus saya terima dua kali dalam sehari. “jajanan” paling mahal yang saya pernah beli hehe😀 Satu botolnya seharga 600an ribu kalo engga salah, jadi sehari saya “jajan” 1,2 juta untuk si antibiotik.

Oiya, sebagai gambaran untuk kalian yang terpaksa harus menjalani oophorectomy & appendix removal sekaligus ( but i really do wish no one will gonna go through such experience), total biaya dua operasi, obat-obatan dan biaya perawatan saya kemaren itu kurang lebih 29 juta. Iya.. dua puluh sembilan juta rupiah :-p I know what you think, bener banget cukup buat resepsi sederhana sebuah pernikahan yaaaa… Dicover BPJS sekitar 10jutaan, jadi saya bayar selisih biayanya sekitar 19 juta. Mahal bingits karena operasi saya ada dua dan ditangani oleh dua dokter (bedah dan kandungan), dan kebetulan kemaren saya dirawat di paviliun Seruni (harusnya klo pake BPJS saya dirawat di ruang perawatan untuk PNS gol 3c ya?).

Lalu yang harus diantisipasi di hari-hari pertama pasca operasi adalah…. saat ganti perban dan pengecekan luka jahitan ! Untungnya mama saya udah landing di sini persis di hari pertama saya dipindah ke ruang rawat inap🙂 Papa engga ikutan, karena masih di Jambi dan akhir desember tahun lalu papa juga kan baru sembuh setelah sempat diopname beberapa hari. Setiap pagi susternya membersihkan luka jahitan di perut saya, mengecek apakah ada infeksi & rembesan dari luka dalamnya dan juga mengganti perban (sampai hari ke tiga atau ke empat gitu saya masih pake perban konvensional, bukan yang waterproof).

Kira-kira bentuk luka jahitan saya seperti garis nomer 3, from the upper midline, passing my umbilic and then down the midline to the pelvic area. Dijahit dengan menggunakan nnon absorbable suture (benang khusus untuk operasi), untungnya bukan yang pakai staples (haha asli sereeeemm klo sampai kemaren pake staples, googling sendiri yah seperti apa dijahit dengan menggunakan staples itu :-p).

incisions

Nah, yang bikin jiper itu pas susternya ngecek infeksi dan rembesan di luka! perut saya di sekitar jahitan luka operasi akan dipijet-pijet untuk memastikan tidak ada rembesan dari dalam perut ke luka jahitan. Duhhh saya mah terus-terusan megangin tangan mama saya dan engga berani melihat ke arah perut sendiri! Tapi syukur alhamdulillah luka saya bagus pemulihannya, kering, tidak ada infeksi atau pun rembesan🙂

Satu hal lagi, cek juga apakah kulit kalian punya reaksi alergi terhadap plester/band aid/perban. Saya sempat punya masalah itchy (gatal) di kulit perut yang tertutup plester waterproof. Selama di rumah sakit, luka saya ditutup perban konvensional dan kain kassa yang tebal. di hari ke lima atau ke enam gitu, plester dan kain kassa konvensional diganti dengan plester/band aid yang waterproof (seperti plester luka biasa hanya saja berbahan plastik bening dengan ukuran raksasa heheu). Total perut saya ketempelan plester itu selama sekitar 2 mingguan. Akibatnya rasa gatal karena iritasi di kulit, justru bukan di luka jahitan, tapi di bagian kulit yang ketempelan perekat plester. Akhirnya setelah saya engga perlu pake perban lagi, saya olesin skin food cream yang mild gitu (tapi ga boleh kena bekas jahitan loh yaaaa! luka jahitan cuma boleh diolesin krim khusus dari dokter setelah luka bener-bener menutup).

Oiya, pasca major abdomninal surgery dengan luka yang cukup besar seperti punya saya, sebisanya jangan bersin dan batuk (dengan keras), jangan tertawa lepas dulu, jangan melakukan gerakan-gerakan drastis secara mendadak seperti membungkuk (rukuk dan sujud), jangan lari-larian (iya laaa), jangan beraktivitas yang berat dan jangan ngangkat barang yang berat-berat juga. Beberapa pasien ternyata beresiko terkena incision hernia (saya lupa ngebookmarked artikelnya, googling sendiri yaa) yang terkadang harus mendapat tindakan operasi lagi (euwww ! no more deh !)

Hari ini persis minggu ke-4 saya pasca operasi. Shalat masih saya lakukan dengan duduk di kursi. tapi overall kondisi saya sudah jauh lebih baik daripada minggu pertama pasca operasi

Perawatan di rumah

Saya diijinkan pulang di hari ke-enam. Lucu juga siy. Saking saya jadi sering mendadak paranoid post surgery kemaren itu, begitu diijinkan pulang pun saya tetiba takut hingga tekanan darah saya drop lagi hehe… Rasanya lebih aman di rumah sakit, kalau kenapa-napa tinggal pencet bel, perawat bakal langsung datang🙂 tapi kan harus pulang biar segera bisa beraktivitas normal, lagian mama juga sudah harus pulang ke padang (keiko bayi sampai ngambek & memusuhi saya berhari-hari, coz neneknya saya hijacked selama saya sakit hehe).

Satu hal lagi yang bikin saya agak down, sebelum sakit saya biasa tinggal sendiri di rumah, mandiri melakukan apa-apanya. Setelah keluar dari rumah sakit, saya engga diijinkan pulang ke rumah saya sendiri karena saya memang belum bisa beraktivitas seperti dulu lagi, apalagi kemmbali mengurus rumah sendiri. Saya pulang ke rumah tante, dan semua-semua diurusin sama tante saya. Bosen juga berminggu-minggu cuma istirahat, makan, pemulihan, baca buku, nonton, jalan ke depan, tidur lagi…

Sampai hari ini, minggu ke empat pasca operasi, saya baru dua kali keluar rumah which is untuk kontrol dan buka jahitan ke dokter bedah saya. Kurang lebih dua minggu pasca operasi, tiba saatnya untuk buka jahitan. Saya (lagi-lagi) ketakutan karena ini kali pertama saya berurusan dengan hal-hal seperti ini. Untungnya saya punya sahabat-sahabat terbaik yang selalu mensupport saya. Seharian saya ketar ketir nungguin jadwal ke dokter, sampai temen saya bilang “ga sakit kok, kayak dikitikin aja. Ntar klo sakit, gw bantu nonjok dokternya” hiyaaaah!

Mama saya sudah pulang seminggu sebelumnya. Jadilah ditemenin tante selama proses buka jahitan itu. Daaannn… karena luka operasi saya panjang, buka jahitannya juga dua episode :-p Pas buka jahitan pertama, disisain sekitar 8 jahitan untuk menopang luka yang panjang itu. Beberapa hari kemudian baru deh dibuka semua nya, dan setelahnya luka saya sudah harus “bersosialisasi” lagi dengan air hehe.. Oiya, sampai detik buka jahitan itu saya masih belum berani tuwh lihat sendiri lukanya kayak gimana :-p Pas keesokan harinya sebelum mandi baru deh… Ya Tuhan, perutnya jadi ada tattoo perjuangan…

Satu lagi yang perlu dicermati dengan luka abdomial surgery ini. Karena Luka saya vertikal, jadinya engga nyaman banget seperut-perut. Kalo makan kekenyangan, perut rasanya jadi kenceng banget. Dan ga bisa loh make celana/baju yang ada waistband nya coz di bagian umbilic (pusar) bekas lukanya rawan gitu deh. Kesenggol dikit aja whewwww…. jadi jeans dipensiunkan dulu untuk sementara waktu.

Sebisanya kalau harus bepergian naik kendaraan gitu, perut disupport sama gurita/korset stagen. Kemaren saya udah latihan pakai gurita karena niatnya senin depan udah mulai belajar ngantor lagi, tapi ternyata ribet yak pake gurita itu. Nah kalo pake korset stagen, jangan ketat-ketat. tadi pagi kebetulan saya ditelpon tante Nining, sahabat keluarga, yang juga baru selesai dioperasi pengangkatan miom & kista, jadinya saya dan tante Nining mendadak bikin peer group cyst survivor gitu hehe.. Tante Nining shared ke saya untuk tidak pake korset yang kenceng (kayak kalo mau kebayaan) coz menurut beliau sendiri rasanya bikin nyeri di luka jahitan. Kemaren saya sempet googling juga mengenai belly care pasca surgery, ada yang menyarankan untuk pake girdle panty, yang selain bagus untuk menopang perut, juga bagus untuk memperbaiki postur tubuh pasca operasi (saya sendiri pasca operasi kemaren, kalau jalan jadi cenderung agak bungkuk coz luka saya yang panjang itu, otot dan kulitnya belum balik seflexible semula)

Change of the internal interior geography

Owkay, sekarang bahas oophorectomy nya (ovary removal surgery). Pasca Oophorectomy kemaren itu saya kadang masih merasakan pegel sedikit kebas di pinggul kanan (yang diangkat ovarium kanan, appendix juga di kanan kan, jadi dobel). Di bagian perut sebelah kanan itu kadang juga ada rasa seperti digigit semut, hilang sendiri kalau perutnya saya usap-usap (sambil bilang “we’will be allrite, someday we’ll be strong enough to carry & deliver a healthy baby”. I gotta to encourage myself, dont you think?).

Dari beberapa artikel yang saya baca, rasa nyeri dan pegel itu wajar coz the internal interior geography is changed. Ada yang hilang dari tubuh saya : ovarium kanan & appendix. Jadi tubuh perlu waktu untuk penyesuaian terhadap perubahan-perubahan tersebut. And it takes time to recover, and it includes pain and sore following the process. Jadi jangan takut

Period, the change also messes up my period cycle. Sebagai gambaran: operasi saya selesai tanggal 8 dinii hari, tanggal 17 nya saya sudah dapet period (kalau ikut catetan siklus saya yang 28 hari, it supposed to be on 20-21). Jadi lebih cepat beberapa hari. Sorry for so much detail about this period, i think women should get a clear explanation here (so, please not to consider this as something improper). Nah tanggal 1 kemaren, paginya saya latihan naik turun tangga ke lantai 2 (kan niatnya senin ini mulai ngantor, ruangan kerja saya di lantai 2 pun), cuma sekali siy, tapi beresannya saya jadi agak lemes, akhirnya saya tiduran beberapa lama.

Malemnya sekitar jam 11an, ada cairan rembes di panty saya. Saya check, warnanya pink pucet dan encer kayak air. Paniklah si saya inih, mana semua orang di rumah udah pada tidur. I texted friend who also had underwent gyneacology surgery, asking if she ever experienced such thing following her surgery. I also texted my sister who is also a doctor. tapi semua orang bener-bener udah tidur huhuuu😦 Akhirnya saya bbm sahabat saya yang pastinya hobby banget begadang :-p Well, though he couldnt help giving me an explanantion of why, at least i told somebody, and thats such a self shoothing🙂

Malem itu saya sempet kepikiran saya bleeding niy gegara tadi naik turun tangga, tapi perut saya ngga nyeri or kram, berarti tidak terjadi sesuatu yang membahayakan di dalam sana… Dengan mencoba berpikir positif sambil terus encouraging tubuh saya, akhirnya saya ketiduran juga hehe… Paginya si cairan encer pink pucet itu berubah jadi darah kental (again, sorry for too much detail on this). Akhirnya kesimpulannya : saya in period lagi dengan jarak waktu cuma 10 hari dari terakhir in period!

Besok saya dijadwalkan ketemu spesialis obgyn yang kemaren performing oophorectomy ovarium saya, untuk dapet penjelasan lengkap soal kista dan period saya yang justru kacau setelah dioperasi. Setelah operasi kemaren saya dua kali konsul ke dokter bedah saja. Seperti saya bilang, pasca operasi saya cenderung jadi paranoid, jadi saya takut engga bisa memanage dua informasi dari dua dokter at once. Akhirnya baru besok deh saya ketemu dokter kandungan saya dalam kondisi sadar, engga keblinger gegara anesthesi haha😀

Oiya, ini list pertanyaan yang saya siapkan untuk konsultasi besok (kalau mau nitip pertanyaan terkait, silahkan komen sebelum jam 12 besok siang yaa):

  1. Kapan saya boleh melakukan perjalanan jauh keluar kota (both by car & plane)
  2. Apa iya saya harus mengkonsumsi pil KB selama at least 6 bulan ke depan untuk mencegah kista nya balik lagi?
  3. Apakah siklus period saya yang kacau itu normal pasca operasi?
  4. Lalu terkait dengan oophorectomy saya kemaren, apakah yang diangkat beneran cuma ovarium yang kanan, sedangkan tuba falopi kanan tetap ada? Lalu pengaruhnya apa terhadap keseluruhan organ reproduksi saya?
  5. bagaimana kondisi ovarium kiri, tuba falopi kiri, eggs dan rahim saya? (and how good is my chance to get pregnant?)
  6. Dulu sebelum dinyatakan punya kista dan menjalani operasi, setiap kali sebelum in period, bagian tubuh saya sering membiru memar tanpa sebab. apakah itu pengaruh dari kista nya?
  7. Lalu dengan bentuk luka vertikal, apa memungkinkan bagi saya untuk melahirkan normal? (kemaren ceritanya saya habis googling penjelasan di youtube tentang C-section, dan dokternya menjelaskan bahwa luka Csection itu horizontal agar pada kehamilan dan kelahiran berikutnya, si ibu masih punya kesempatan untuk melahirkan dengan normal. nah sementara luka saya kan panjang vertikal…)
  8. And make sure everything, my inner body part, stays in place🙂

Satu lagi yang perlu diantisipasi pasca operasi: MATA PANDA! hehe😀

Karena kemaren operasi saya engga cuma membuang penyakitnya tetapi juga membuat saya harus mengikhlaskan ovarium kanan, jadinya hampir tiap malam saya nangis dan kurang tidur. Saya engga siap dengan konsekuensi operasi kemaren. Banyak kekuatiran yang memenuhi pikiran saya, jadi paranoid. Takut engga ada yang berani ambil resiko menikahi saya, takut beneran engga bisa hamil, bla bla bla…

Tapi support dari keluarga dan sahabat-sahabat terbaik bikin saya kuat (insya allah). Seperti Sigit bilang there will be this man who have pure love🙂 Alby juga bilang “Anak mah Allah yang ngatur, kalo kata allah engga punya anak, yang ga punya masalah juga ga bakal bisa punya anak. tapi kalo kata allah lo bisa punya anak, insya allah un!”. sahabat gw Yoan juga bilang klo hidup engga melulu ujian yang sulit, jadi gw harus bisa berpikir positif. Mbak pippo, mbak ofi, venny, semua juga bilang hal yang sama🙂

So, gurls. Be brave ! Be positive ! Surround yourself with great people who keep encouraging you! and stay healthy for sure !

I’ll be back with more explanation on chocolate cyst soon after i see my obgyn doctor!