Dibuka nya pintu jendela dapur itu lebar-lebar.  Membiarkan dingin angin Rotterdam masuk ke ruangan itu.  Jari-jarinya dibiarkan basah oleh hujan sembari memperhatikan tetes air itu membentuk pola munggil di lengan cardigan hijau tosca nya. Pandangan nya terhalang barrier jalur kereta di belakang apartemen itu, hingga ia lebih memilih memandang satu dua burung yang bermain hujan di udara, “aku iri, kalian tidak perlu berurusan dengan kekhawatiran-kekhawatiran akan “future paper” ini”.

“Everytime i start working on that “future paper”, i get more and more distraction” keluh nya dalam hati. Seminggu men-deactivate account facebook nya agar tak berlama-lama bersosialisasi di sana malah jadi boomerang, karena semua pesan dan alamat-alamat penting yang harus dihubungi nya tersimpan di sana. YM? “forget about it, i do skype now”, jadi ngobrol hal-hal yang tak jelas di sana bukan lagi distraction buat nya. “So, what now that distract you from the thing you should do?” Entah itu rasa lapar yang membuat nya beranjak ke dapur, entah itu update status sepupu nya yang baru saja mengabarkan kecelakaan yang menimpa paman & bibi nya, entah itu sms-sms hari kemaren yang membuat pikiran nya menjauh pada suatu negeri dimana ia berharap seseorang pulang dan membangun hari bersama nya (Hey you! bukankah dia selalu mengingatkanmu untuk selalu bersungguh-sungguh karena Allah, sebelum keberangkatanmu dulu? bahwa perempuan punya tugas mulia menjadi istri dan ibu, tetapi juga punya tugas untuk belajar dan memberi arti bagi dirinya sendiri? ). Wangi pancake kismis di sore hari membuat nya berlalu dari hal yang disukai nya itu, memandangi hujan…

Raisin Pancake

Ia kembali ke kotak kecil nya, membuka jendela yang ada di pojokan bed set warna hijau lembut itu, dan kembali membuka Mabell netbook ungu. Sepiring pancake kismis di pangkuan nya dan secangkir teh melon, plain, tanpa gula.  “I do wish my mom was here”, lanjut hati nya berkata. “Mungkin itu dulu yang jadi alasan mama engga ngijinin aku kuliah jauh-jauh di seberang pulau?”. Belia, manja, terbiasa ini itu dibantuin, apa-apa diurusin, harus selalu diingatkan dan dimotivasi…”Kemungkinan untuk gagal menyelesaikan kuliah akan sangat besar?” Tapi itu kan dulu, belasan tahun lalu. “Ayo dong! kamu itu udah bukan gadis kecil nya mama lagi! kemana hasil lima tahun jauh dari keluarga & belajar mandiri itu?” ujar hati nya setengah kesal. “Ah tapi kan walau tinggal sendiri, aku punya guardian uncle yang menjagaku dari jauh. Jauh yang cuma setengah jam naik angkot?” lagi-lagi alasan, mungkin dari salah satu sudut hati nya yang yang masih kekanakan.

“You have to speed up, i am worried about your progress!” degggg !  Komentar paling jujur dari supervisor nya seminggu lalu benar-benar membuat nya panik. Panik sesaat memang, karena rasa panik itu tidak malah membuat nya mendedikasikan waktu dan pikiran yang lebih buat “future” paper itu. “Bukankah serangan panik akan membuat seseorang berbuat lebih agar terhindar dari apa yang membuat nya panik? tetapi kenapa tidak begitu denganku? Kenapa aku malah cenderung jadi semakin santai-santai saja ??? Apa panik ku sudah termasuk kategori ekstrim sehingga seluruh sistem ku bergerak terbalik arah, hingga semua tindakan ku cenderung seperti orang yang tidak punya deadline apa pun?? Itu kah yang sekarang terjadi ?” …

Kemaren seorang teman mengingatkan nya akan hal yang sama yang juga berusaha untuk diingatnya. Setengah becanda teman nya itu bilang “inget2 aja dulu triggernya apa pengen sekolah lalala :)”… “Aku setengah lupa!”. Tetapi ia berhasil me-recall kenangan-kenangannya yang terkumpul sejak menyelesaikan pendidikan sarjana nya dulu. Seminggu setelah wisuda, sebelum mendapatkan ijazah resmi, ia menerima panggilan walk in interview di ibukota, diterima dan kemudian meninggalkan masa training begitu saja! Kabur dan berlibur di rumah guardian uncle nya. Tante dan guardian uncle nya itu kemudian yang “menampungnya” selama masa-masa singkatnya menjadi pengangguran (lagi-lagi selalu ada yang membantunya). Ingatan nya kembali ke lembaran surat kabar yang dibaca nya sore itu, tahun 2005 kalau tidak salah, di sana tertulis tentang negeri penjajah yang menawarkan beasiswa dengan syarat dan ketentuan berlaku. Dan sejak saat itu lah ia berusaha melengkapi “syarat dan ketentuan berlaku” itu..  Hampir menyerah dan pernah hampir berbelok ke negeri sakura karena berita dari negeri penjajah yang tak kunjung datang…

Sekarang kamu di sini, bukan kah ini yang kamu ingin dari dulu? tinggal sedikit lagi bukan? tinggal menyelesaikan dan mempertahankan “future paper” ini di hadapan para penguji bukan?kamu tidak ingin gagal bukan? kamu tidak ingin semua nya jadi sia-sia bukan? ” tanya nya dalam hati. “Coba bayangkan wajah-wajah kecewa yang akan kamu hadapi di rumah kelak, jika kamu gagal justru di akhir cerita ini! Tante & guardian uncle mu yang rela bangun pagi-pagi buta, menyiapkan sarapan, mengantarmu, dan ikut sibuk mempersiapkan semua nya dari awal.. Mama & papa yang selalu penuh harap dan doa.. Adik-adik mu.. terutama dirimu sendiri!” ujar hatinya dengan nada tinggi.

Pun bahwa “future paper” ini banyak kendala nya… Monolog hatinya: Ayo dong, ingat kembali semua nya sejak awal. Semua begitu mudah bukan buat mu? Dari awal hampir semua nya selalu diiringi dengan kemudahan! Memang bukan nya tanpa usaha, tapi lihat! Teman-teman mu berjuang LEBIH dari kamu! Waktu itu bukan kah kamu termasuk yang awal dapat tawaran pekerjaan? Seminggu setelah wisuda, bahkan ijazah pun belum ada di tangan mu waktu itu? Bukankah di antara teman-teman mu waktu itu, kamu termasuk yang pertama yang memberi kabar “hey, gw diterima jadi abdi negara!” Ingat lagi sahabat-sahabat yang bersama mu ke Bandung, berjuang untuk hal yang sama dan mereka tidak mendapatkan hasil seperti yang kamu dapatkan! Ingat lagi ketika kamu juga berhasil mendapatkan tawaran dari negeri sakura itu, yang sempat membuat hatimu mendua? Dan juga ketika teman-teman mu kembali berjuang untuk mendapatkan nilai TOEFL , kamu saat itu sudah bisa tersenyum lega “Thanks God! I’m done with it!”.

“Jadi sekarang memang saat nya kamu diuji dan harus berani mengatasi semua kendala ini, termasuk rasa malas dan keengganan mu itu! Ayo berhentilah jadi anak manja yang bersembunyi ketika dihadapkan pada masalah! Sedikit ujian ini (walau kamu menganggap nya it’s a way too much!) harus berhasil kamu lewati! Jangan jadikan semua nya sia-sia!” ujar hati nya memberi semangat.

Semangat itu seperti cahaya kecil ini ! Kadang ikutan meredup saat sekeliling nya gelap...

Sepiring pancake tadi habis sudah, hujan masih berlanjut. Sore sudah berganti malam walau pun masih terang di luar sana… “Aku masih punya sedikit sisa waktu untuk bersunguh-sungguh menyelesaikan semua nya ini!” yakin nya sambil menutup jendela kotak kecilnya.

Rotterdam, hari-hari yang hujan menyambut summer.

Advertisements