Aku perantau, alhamdulillah selalu ada rizki untuk bisa pulang kampung dan selalu ada cerita seru saat pulang kampung πŸ™‚ Kali ini ceritaku diawali dengan dana pulang kampung yang terbatas. Maklum, mahasiswa! Dana pulang kampung mengikuti nominal yang diberi pihak pemberi beasiswa. Alhamdulillah cukup, walau pun mesti cerdik berburu ticket murah untuk jadwal pulang yang bertepatan jadwal liburan summer πŸ™‚ Mungkin flight yang kami pilih itu bisa murah karena mengharuskan kami untuk transfer penerbangan beberapa kali, banyak transit nya. Tidak apa-apa, sekalian bisa menginjakkan kaki di beberapa negara, Jerman dan Singapore πŸ™‚

Terbang dengan maskapai milik Jerman, dari Amsterdam menuju Jakarta, transit pertama di Frankfurt, Jerman. Aku dulu pernah ke Jerman, tapi baru ke Berlin saja. Jadi lumayan lah bisa mampir di Frankfurt selama beberapa jam. Begitu turun dari pesawat, aku dan teman-teman langsung menuju mesin penjual ticket otomat, tujuan utama: cari makanan halal di dekat Frankfurt Haubanhoff alias stasiun utama kota Frankfurt. Di rombongan pulang kampung kami kemaren ada Pak Ketu yang berulang tahun πŸ™‚ jadilah kita ditraktir di Frankfurt. Setelah makan dan Β foto-foto (wajib hehehe) di depan stasiun nya, kita kembali ke bandara.

Shalat! Meski pun dalam perjalanan jauh, meski pun ke negara-negara yang penduduk muslim nya sedikit hingga seperti nya susah cari tempat shalat, shalat tetap suatu kebutuhan sekaligus kewajiban πŸ™‚ Dan di setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan, bukan? Ingatan ku kembali kepada saat aku dan teman-teman shalat di bangku taman di depan Schloss Charlotenburg Palace, Berlin. Atau saat takut-takut shalat, tanpa berani mengangkat tangan ku saat takbir di dalam metro di kota Paris, tapi itu sebelum aku dan teman-temanku berkunjung ke mesjid raya kota Paris yang subhanallah indah sekali πŸ™‚ pun ketika aku dan teman-teman kuliah “numpang shalat” di ruang kelas yang kebetulan sedang tidak dipakai, bersajadahkan selembar kertas lebar πŸ™‚ Tidak apa, mungkin kelak akan ada Mushalla di gedung kami, amin πŸ™‚

Tebak lah! Kemudahan yang Allah beri pada kami untuk tetap bisa beribadah di tengah perjalanan kami? Jawabannya adalah : kami menemukan bahwa di Bandara Frankfurt (apa nama bandara nya? hahaha aku lupa :D) disediakan tempat khusus untuk beribadah! Ada Kapel, gereja buat Protestant, ada synagoge, ada mushalla dan lain-lain.

Worship rooms in Frankfurt airport

Berjalan mengikuti petunjuk arah Mushalla. “Kok jauh ya? jangan-jangan cuma ruangan sisa yg dikasih nama Muslim Prayer Room?” begitu batin Β ku curiga waktu itu, karena letak muslim prayer room nya memang agak di ujung. Tetapi begitu membuka pintu Muslim Prayer Room itu….

Subhanallah…. coba cek foto-foto berikut ini πŸ™‚

Mukena yang tergantung rapi

Bukan ruang sisa yg dipaksakan untuk menjadi mushalla! coba lihat mukena-mukena yang digantung rapi di foto di atas. Ruangan mushalla ini pun wangi, rapi dan bersih πŸ™‚

Tulisan nya pun bener "Muslim" bukan "Moslem" seperti biasa nya salah

 

Ini ruangan shalat untuk laki-laki

Lega, dan ditata dengan perencanaan. Aku suka pilihan warna sajadah nya yang lembut dan bersih πŸ™‚ Beberapa lukisan kaligrafi menjadi ornamen dinding nya.

Pojok mimbar

 

Teman-teman pulang kampung berpose di ruangan Mushalla ^_*

 

Rapi sekali bukan? bahkan disediakan set meja untuk duduk dan membaca Al Qur'an

Foto di bawah ini adalah ruangan shalat buat para perempuan muslimah, dibatasi gorden warna coklat gold Β dari shaf laki-laki, ruangan wudhu nya pun didesain cantik, sayang aku lupa memotret interior ruangan berwudhu itu.

Di sini kami bersujud dalam shalat

Jadi hari itu kami tetap bisa melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar berjamaah, walau pun dijamak dan diqasar πŸ™‚ Shalat Magrib dan Isya kemudian shalat Subuh, Dzuhur dan Ashar hari berikutnya kami lakukan bergantian di dalam pesawat. Alhamdulillah, selama perjalanan jauh kami pulang kampung ke Indonesia, tetap bisa melaksanakan ibadah shalat πŸ™‚

Sekian cerita pulang kampung edisi ini πŸ™‚

Advertisements