Tempat itu penuh tumpukan sampah dan bau sekali, ada peringatan tanda berbahaya dijalan masuk nya. Hari pertama ke sana, masih sempat kupakai sedikit Hugo B*ss woman ku, lumayan bisa sedikit mengalahkan bau berton-ton sampah di sana J Hari ini tidak, aku harus benar-benar membaur bersama mereka. Setiap kali aku melompat di sela-sela tumpukan sampah itu, lalat-lalat gendut berwarna hijau pun ikut berhamburan dan menciptakan melodi mereka sendiri, aransemen musik dari kepakan sayap mereka.

Ini hari ketiga penelitianku. Hari pertama kuhabiskan dengan berbincang dengan teman-teman yang mengelola tempat pembuangan akhir sampah itu. Mereka lah yang membantu ku agar bisa masuk ke komunitas pemulung yang menjadi fokus penelitianku. Hari kedua dan hari ini, hari ketiga, aku resmi masuk ke komunitas mereka.

Tentang hari ini, hari ketiga penelitianku, aku bertemu dan berbincang dengan beberapa pemulung di sana. Salah satu nya sebut saja namanya Andri, begitu ia memperkenalkan namanya kepada ku. Umurnya sebaya adik ku yang kelahiran tahun 1986. Awalnya ia menolak untuk ku wawancara dan kutulis cerita nya di dalam thesis ku nanti. Baiklah, sesuai kode etik penelitian, aku harus menghormati hak responden ku untuk menolak diwawancara. Hingga aku pun beralih kepada seorang bapak yang sedang sibuk mengais sampah. Kumulai mewawancarai bapak pemulung itu. Mungkin karena melihatku begitu antusias mendengarkan cerita si bapak itu dan ketika aku meminjamkan ballpoint ku kepada seorang penadah sampah yang sibuk menimbang dan mencatat jumlah sampah dari beberapa pemulung, Andri pun sesekali menimpali obrolan ku dengan si bapak pemulung. Hingga ia pun tak keberatan saat kuambil foto nya yang sedang menimbang sampah hasil pulungan nya hari itu.

Dan ketika siang beranjak sore, ia pun kembali menghampiriku di saung-saungan (asli nya bukan lah saung, hanya kain sampah sisa-sisa penutup kasur busa yang ditopang beberapa tiang bambu). Ia ikut duduk santai dan kemudian tanpa kuminta bercerita tentang hidupnya.

Aku pun menyimak cerita nya itu. Bagaimana ia harus tinggal bersama nenek nya setelah perceraian orang tua nya di usia nya yang baru 4 tahun. Ibu nya kemudian menikah lagi dan merantau ke pulau Sumatera. Sudah lima tahun berlalu sejak terakhir ia bertemu dengan ibu nya itu. Ayah kandung nya pun sudah berkeluarga lagi. Andri si anak bungsu, kakak-kakak perempuan nya bekerja menjadi TKW di Saudi. Salah satu nya sudah memiliki anak yang sekarang menjadi tanggungan Andri. Kutanya kenapa ia yang membiayai keponakan nya itu, termasuk sekolah nya. Andri pun bercerita bahwa kakak nya itu ditinggal suami nya menikah lagi, kemudian berangkat ke Saudi dengan harapan bisa membiayai keluarga nya. Tetapi sekarang, menurut cerita Andri, sudah 87 bulan kakak nya itu tak menerima sepeser uang pun dari majikan nya…

Kemudian ia pun bercerita tentang pekerjaan nya sebagai pemulung dan dengan bangga ia bilang padaku bahwa walaupun pendapatan nya tak menentu, ia tetap memaksakan diri menabung. Kutanya Andri, untuk apa tabungannya itu kelak? Tegas ia menjawab, “untuk modal nikah, teh! Nanti kalau udah umur 30 mah saya mau menikah!”. Hebat, Andri ! Kucerna jawabannya itu, dan kubandingkan dengan teman-temanku yang belum menikah padahal secara ekonomi mereka sudah jauh dari sekedar mapan, belum berani berkomitmen ? Entah lah J Aku sendiri pun juga belum, insya allah segera 😉

Lalu ia pun menceritakan kepadaku tentang kisah pahit nya lima bulan yang lalu, saat bekerja pada sebuah proyek bangunan di Pekanbaru. Lima bulan bekerja di proyek itu tapi tak mendapatkan bayaran sepeser pun gara-gara uang yang harusnya dibayarkan kepada para kuli itu dihabiskan sendiri oleh mandor yang sudah diberi kewenangan mengatur pembayaran upah mereka. “Saya terpaksa mencuri, teh. Tapi mencuri nya bukan mencuri milik warga. Saya jujur aja yah sama teteh,  saya dan teman-teman mencuri bahan bangunan di proyek karena mandor juga ibarat nya udah nyuri uang kita. Laku satu setengah juta. Uang nya dipakai untuk ongkos pulang bersama”. “Masa??” ujarku takjub. “Iya, teh. Kita nyewa bis rame-rame, ada yang sampai harus berdiri dari Pekanbaru ke Bogor, dua hari dua malam kita puasa karena uang nya sudah habis untuk menyewa bis itu”. “Terus?”, kejar pertanyaanku. “Sampai Bogor ke sini mah terpaksa jalan kaki, da teu punya uang tea”. “haaa?? Jalan kaki???”. “iya, teh. Nyampe sini mah capek tapi kudu kerja deui. Tapi Alhamdulillah ayeuna mah utang-utang keur harita geus kabayar, lunas” jawabnya dengan senyum…

Andri, yang umur nya sebaya adik ku tetapi jalan hidup nya begitu berbeda… Adik ku tak harus membiayai keponakan nya, malah bisa bebas minta ini-itu kepada kakak-kakak nya. Adikku dulu juga sempat dititipkan ke nenek di Padang tapi bukan karena keluarga kita cerai berai. Andri tak sempat menyelesaikan SMA nya karena kecapekan, harus sekolah dan juga harus bekerja untuk membiayai sekolah nya sendiri (dari SD malahan). Sementara adik ku, masih sempat nge-band di antara kesibukan kuliah nya, dan tak harus bekerja seperti Andri.

Andri membangun mimpi-mimpi masa depan nya dari tumpukan sampah yang buat sebagian orang menjijikkan. Tak punya banyak pilihan mungkin Andri… Sekilas kubayangkan pentagon livelihood asset Andri di pikiran ku dan kubandingkan dengan pentagon livelihood asset milik adik ku yang sebaya Andri, dan juga adik bungsu ku… Ya Tuhan, adik ku harus lebih banyak bersyukur dan belajar dari kisah Andri ! Aku pun juga harus!

Masih banyak sebenarnya hal yang ingin kuceritakan tentang Andri, tetapi di sini udah beduk Magrib, saat nya aku berbuka puasa  🙂

Advertisements