Semestanya adalah siang di tempat sampah dan malam di rumah yang mungkin jauh dari sederhana apalagi mewah. Perempuan yang sepertinya di awal 20 tahun dan lelaki yang sepertinya di akhir 20 tahun adalah bagian dari semesta nya, yang dipanggilnya dengan sebutan ayah dan ibu. Bagian semestanya itu, entah mereka punya sebentuk buku yang menjadi bukti legal sah nya ikatan di antara mereka entah tidak. Jadi janganlah pula berharap ia kan punya selembar dokumen yang menyatakan bahwa diri nya adalah bagian resmi semesta ayah dan ibunya.

Seperti lingkaran-lingkaran yang saling beirisan, seperti yang diajarkan di pelajaran matematika, semesta nya dan semesta ayah ibu nya pun saling berpotongan dan beririsan dalam diagram venn yang disebut keluarga. Irisan yang terbentuk dari perpotongan-perpotongan itu adalah garis keturunan dan juga sangat mungkin garis nasib, yang jika tak beruntung, akan seperti garis nasib kedua orang tua nya…

Bajunya biru cerah, seperti kaos kesebelasan dengan huruf-huruf capital yang ku-eja B-A-L-L-A-C-K. Seperti nama asing, aku yakin itu seratus persen karena enam tahun tinggal di dua lingkungan perumahan yang berbeda, dan bekerja di satu kantor yang semua karyawan nya kelahiran bumi parahyangan, tak satu pun orang yang kukenal punya nama sunda “Ballack”. Rambutnya dipotong super pendek, mirip potongan rambut teman-temanku di masa-masa ospek dulu. Badan nya mungil, tetapi tidak kurus. Kulitnya coklat karena semesta siang nya termasuk matahari yang terkadang terlalu terik, itu pula mungkin yang membuat rambutnya sedikit kecoklatan. Umurnya kuperkirakan sekitar tiga tahun.

Tadinya ia tertidur lelap di satu sudut bagian semesta siang nya. Terik matahari tak ayal membuat nya terbangun dan menangis. Sang ayah, yang diberitahu tetangga-tetangga, kemudian menjemputnya ke tempat nya tadi terlelap dan menggendong nya di punggungnya. Sang ibu kemudian mengambil alih, dan mengajak nya berjalan bergandengan tangan ke bagian lain semesta siangnya yakni truck pembawa rupiah. Ya, dari truck itu ayah dan ibu nya mengais apa saja yang masih layak ditukar menjadi rupiah.

Di salah satu ujung truck itu ia menunggui ibunya memilih-milih benda-benda yang sesungguh nya tidak layak lagi untuk dipilih. Sabar ia menunggu, hening dalam dunia nya sendiri hingga kilap benda mungil yang jatuh dari truck itu mengalihkan perhatian nya. Tangan mungil nya meraih benda itu dan menunjukkannya kepada ibu nya. Sang ibu yang diinterupsi dari kesibukannya beralih kepadanya dan bertanya “naon eta, neng?”. Tangannya menggenggam sebuah jepitan rambut usang. Ya, jepitan rambut usang yang karena keusangan nya itu lah jepitan itu berakhir di semesta siangnya.

Oh… apa tadi? Neng?? Ributnya lalat di tempat itu rasanya tak mungkin membuatku salah dengar. Jadi sosok mungil yang dari tadi kuperhatikan adalah seorang gadis kecil? Bukan seorang lelaki kecil? Karena itulah ia dipanggil “Neng”… Memang tak ada anting di kedua kuping nya. Ah semesta nya ini mungkin tak mampu mendukungnya untuk memiliki anting-anting seperti layak nya yang dimiliki oleh anak-anak perempuan lain nya. Semesta siang nya ini dipenuhi benda-benda usang yang dibuang oleh pemiliknya. Semesta siang nya ini hanya ruang yang terpaksa jadi ruang bermain nya, yang tanpa batas dinding masive, pun tanpa atap yang membuat nya teduh. Semesta siang nya ini hanya bukit-bukit sampah yang tak seru untuk dijadikan tempat bermain dan berlari mengejar layangan karena mungkin saja pecahan beling melukai kaki mungil nya. Semesta nya ini dipenuhi oleh mahkluk-mahkluk mungil hijau bersayap yang selalu berisik dan juga mahkluk-mahkluk lain yang muncul dari sampah-sampah itu, yang menuliskan namanya di sini saja aku tak mampu, karena mereka terlalu mengerikan dan membuatku mual…

Tetapi semesta siang nya itu adalah tempat tumbuh nya.

Untuk gadis mungil yang tumbuh di antara bukit-bukit sampah dan sunyi nya kuburan china, semoga kelak semesta mu berganti cerah, amin.

Advertisements