Andai saja aku bertemu dengannya di dataran Eropa sana, setidaknya di Rotterdam, mungkin aku akan berpikiran bahwa lelaki itu adalah seorang backpacker. Hard core backpacker mungkin?

Penampilannya ya seperti backpacker yang kadang kulihat melintas di tengah keramaian Central Station Rotterdam. Baju lusuh, rambut dan kulit dekil, mungkin karena jarang mandi, kuping dengan bekas tindikan super besar seperti tindikan satu suku pedalaman atau mungkin seperti tindikan kuping anak-anak punk, underground, entah apa namanya…serta backpack besar yang tak kalah lusuh di punggungnya.

Tangkas ia melompat turun dari truck. Aku yang sedang tekun mendengarkan cerita hidup dari responden ku di bawah terik matahari siang itu sontak melihat kepadanya. “Pasti preman pasar!”, begitu pikirku karena truck yang baru datang itu adalah truck pengangkut sampah dari pasar. Karena aku tidak berkepentingan dengan siapa pun dari truck itu, aku kembali mendengar kan cerita ibu pemulung responden ku.

Lelaki itu mendekat ke tempat kami, aku dan ibu pemulung itu. Pertama ia mondar mandir tak jelas di sekitar kami, kemudian tak sengaja aku menangkap gerak matanya yang terus menatapku dari jarak beberapa meter. Reflek ku-check diriku hari itu. Aku berpakaian biasa saja, cincin bebek bengil dan gelang hadiah ulang tahun dari mama sudah kulepas beberapa hari lalu dan kusimpan rapi di rumah, bajuku kaos yang cukup sopan, jeans ku juga biasa saja, sandal ku juga sandal gunung biasa, camera ku masih di dalam tas (makanya aku tak punya foto nya untuk tulisan ini). Aku cukup mawas diri untuk tidak mengenakan benda-benda berharga yang bisa membahayakan aku karena area research ku cukup beresiko, jauh dari mana-mana, sepi di tengah-tengah bukit-bukit sampah yang dikelilingi kuburan china serta peternakan ayam.

Jadi satu-satunya benda berharga yang mungkin menarik perhatian nya mungkin hanya recorder mungil yang tergantung di leher ku. Tetapi seperti nya ia bukan jenis preman tukang palak! Well, siapa pun dia, bukan urusanku. Jadi, meskipun was-was, aku pun kembali fokus pada pertanyaan yang harus kutanya kepada ibu pemulung, responden ku.

Tidak berapa lama lelaki itu kembali mendekat, kali ini ia menyapa ku sambil tersenyum, “mbak” begitu katanya singkat. Kemudian ia ikutan jongkok di dekat ku dan tangan nya sigap meraih kue tart, yang sungguh sudah tak layak makan karena berasal dari truck pengangkut sampah, dan  memakan nya. Eneg, ampuuuuun! Kenapa hari ini aku harus melihat pemandangan seperti itu????

Tak hanya itu, kemudian ia pun mulai menceracau tak jelas, bahasa nya tak ada dialek sundanya, lebih seperti bahasa teman-temanku dari Jakarta sana. Ia bergumam tak jelas, sedikit kutangkap ia seperti bermonolog dengan menyebut “mama ayo makan siang” kemudian “mbak sih, harusnya mbak yang naik, bukan orang lain” lalu “kalau ajaran Protestan kan engga begitu” dan kemudian ia sibuk dengan dunia nya sendiri.

Olalaaa… orang gila kah ia? orang yang hilang ingatan? orang yang mengalami gangguan kejiwaaan atau gangguan mental?? Ibu pemulung yang berada di depan ku berusaha mengajak nya mengobrol “timana, jang?”. Aku berbisik kepada ibu pemulung bahwa seperti nya lelaki itu bukan orang sunda dan mungkin tak mengerti bahasa sunda. Lalu aku pun bertanya kepada lelaki itu dalam bahasa Indonesia “Darimana? bukan orang sini ya?”. Di luar dugaan ku, ia menjawab “Dari Kebayoran, Kebayoran Baru, ini abis dari piknik”… Kemudian ia tertawa tak jelas.

Mendengar jawaban nya itu, aku menyimpulkan bahwa lelaki itu benar sedikit stress. Bolak-balik ia berusaha menarik perhatian ku, kadang dengan duduk sangat amat dekat dengan ku yang berjongkok di pinggiran bukit sampah. Pernah pula ia menawarkan permen-permen yang juga berasal dari tempat sampah “ini buat mbak”. Aku menjawab dengan berusaha tetap berani dan tetap tenang “Makasih, buat kamu aja”. Lalu ia kembali mendekat dan ikutan jongkok di sebelahku sambil terus menatapku. Huaaaa sungguh aku ketakutan setengah mati 😦 Takut ia akan mendorong ku hingga jungkir balik di kolam sampah, takut ia akan merebut recorder kecil ku, takut ditodong, takut ditarik, takut diikutin terus, takut…! Pokoknya aku takut!

Baru kali itu aku berada dekat-dekat dengan orang gila, dan baru hali itu pula aku diawasi oleh orang gila, yang dengan sok akrab (dan heran nya ia tetap berlaku sopan, really ! he knows how to behave!) selalu saja berusaha menawari ku benda apa saja yang ia temukan dari tempat sampah itu. Baru kali itu pula aku berdialog dengan orang gila!

Pengetahuan ku tentang penyakit kejiwaan, gangguan jiwa, atau apa pun namanya, adalah nol besar. Yang aku tahu bahwa di Eropa sana (setidaknya di Rotterdam), tak ada orang gila yang berkeliaran. Sekali nya pernah melihat orang gila selama aku tinggal di Belanda ya waktu kemaren di Frankfurt. Saat itu aku dan teman-teman sedang menunggu metro dari bandara ke central station Frankfurt. Itu lah pertama kali aku melihat orang gila di Eropa.

Sementara di negeriku sendiri, orang gila cukup sering kulihat. Tak terurus, terabaikan, dan terlupakan bahkan mungkin oleh keluarga sendiri. Pernah dulu, beberapa tahun yang lalu di depan Hero supermarket di kota Sukabumi ini, aku melihat perempuan gila yang tengah hamil besar berjalan tak tentu arah. Sungguh tak terbayangkan bagaimana kelak nasib bayi yang dikandung nya, entah akan lahir dimana bayi itu…

Entah, seperti nya ku pun bingung dengan definisi gila, sakit jiwa dan gangguan mental. Tetapi jika itu memang penyakit, semoga ada yang peduli untuk menyembuhkan orang-orang dengan penyakit itu dan tetap memperlakukan mereka sebagaimana layaknya memperlakukan manusia. Termasuk lelaki yang “menemukanku” tadi siang.

 

 

 

Advertisements