Sudah lama tak pulang ke rumah ini. Sedikit miris melihat kondisi nya sekarang yang tak lagi terurus, bersih dan rapi seperti dulu. Hampir 2,5 tahun kosong tak ditempati. Tanaman-tanaman di halaman mungil nya pun hampir tak ada, hanya beberapa gerbera merah, hydrangea dan rumput liar, serta pohon kenanga yang sudah tinggi.Β Tetapi aku tetap senang berada di rumah ini, meski pun nanti untuk ditempati kembali, harus kurenovasi beberapa sudut rumah ini.

Tenang, dengan atmosphere yang homey, itu yang aku suka. Lalu apa kaitan nya dengan Tidbits Budapest, A Spooky Place To Stay? hehehe πŸ˜€ Dengan niatan ngadem ke rumah ini agar bisa menyelesaikan transkripsi interview-interview ku, aku malah membuka-buka album spring break ku Mei lalu, 3 negara, 3 kota. Praque-Vienna-Budapest. Nah, Budapest lah yang ingin aku bahas πŸ™‚

Selama seminggu backapckeran, aku dan teman-teman menginap di tiga tempat berbeda. Semua nya hostel-hostel murah meriah. Waktu di Praque, kami menginap di salah satu hostel murah yang dekat sekali dengan pusat kota praque, ke centrum nya cuma beberapa menit jalan kaki. Bangunan nya merupakan bangunan lama. Tidak terlalu istimewa menurut ku. Kemudian di Vienna kami menginap di salah satu hostel murah juga, yang jika dibandingkan dengan hostel yang di Praque, hostel ini jauh lebih rapi bersih dan bagus.

Pikir kami waktu itu, semakin ke akhir perjalanan kami, semakin bagus penginapan yang kami dapat. Dan tibalah kami di Budapest. Sore itu kami segera mengontak kantor hostel yang akan menyediakan penginapan buat kami. Kantor nya tidak terletak di satu gedung dengan penginapan yang kami sewa. Disambut senyum hangat Maria, karyawan hostel yang cantik dan ceria, kami kemudian diantarkan ke sebuah gedung tua. Lokasi nya bagus karena terletak benar-benar di pusat kota Budapest, gedung itu bertetanggaan dengan Basilika! Tapi, gedung tua???

hahaha πŸ˜€ iya banget, gedung apartemen super tua πŸ™‚ Sepintas di pintu gerbang nya yang berat dan tebal aku berbisik ke teman ku “This is a spooky building!”. Begini suasana entrance nya begitu pintu gerbang nya yang ala pintu-pintu tua Eropa itu dibuka…

Entrance penginapan kami di Budapest

Kami tinggal di lantai 3 bangunan apartemen tua ini. Dan ternyata, di apartemen 4 lantai itu, hanya kami penghuni nya! Lumayan ciut nyaliku, karena di apartemen itu hanya ada kami, 4 orang perempuan yang tak bisa bahasa lokal Budapest. O iya, untuk menuju ke lantai 3, ada dua pilihan fasilitas. Bisa dengan naik turun tangga biasa atau naik lift yang letak nya sedikit tersembunyi dan gelap di belakang dinding-dinding tangga. Demi merasa sedikit lebih tentram, kami memilih untuk menggunakan lift saja. Mbak fifi sempat mencoba menggunakan tangga.. Aku sih engga bakalan, karena menurut ku aura nya dingin sekali dan menyeramkan! Lucu nya lagi, salah satu teman ku langsung berikrar untuk tidak akan keluar malam selama kami di penginapan itu πŸ˜€ Padahal she’s a party goer, waktu di Praque dan Vienna, dia sering keluar malam tanpa kami πŸ˜€

Lantas bagaimana interior apartemen tua yang kami tempati itu? Ini dia foto-foto nya πŸ™‚

Ini bagian dalam apartemen, kosong kecuali unit yang kami tempati

Nah foto yang di atas itu bagian dalam apartemen yang demi alasan pengiritan (karena konon kabar nya biaya pemeliharaan gedung-gedung tua di Budapest lumayan mahal), lampu nya baru menyala jika sensor otomatis nya mendeteksi kehadiran manusia. Kebayang kan gelap nya apartemen ini begitu malam menjelang ? Pernah suatu hari kami pulang agak kemalaman, dan setengah berjuang membuka gerbang depan dengan kombinasi angka-angka yang susah dihafalkan. Saat itu ada serombongan ibu-ibu paruh baya yang ikutan berhenti di depan pintu apartemen kami, penasaran mungkin kenapa 4 gadis ini berani tinggal di gedung tua yang spooky dan gelap? Begitu kami berhasil membuka pintu gerbang dan lampu otomatis menyala, ibu-ibu itu pun bersorak lega hehehe πŸ˜€

Dan berikut ini foto-foto interior unit apartemen yang kami tempati itu πŸ™‚

Tempat tidurku dan tempat tidur mbak fi

Queen size bed buat ketua rombongan kami πŸ™‚

Sofa di sisi tempat tidur ku dan pintu masuk

Satu set meja makan, TV dan DVD player, serta komputer yang terkoneksi ke internet

Owyaa, komputer nya itu agak sedikit aneh cara pengoperasian nya.. setelah berkutat beberapa lama, akhir nya aku menemukan cara men-shut down nya, berikut cara koneksi ke internet. tapi parah nya aksara nya agak berbeda, jadi kami pun tak berhasil menemukan beberapa huruf yang tidak biasa dipakai di Budapest :-p Β Dan mengenai tempat tidur ku yang sisi kanan nya menghadap ke pintu masuk, lumayan bikin tidur engga tenang, was-was aja jika aku terbangun tengah malam dan melihat “ada apa-apa” di pintu itu πŸ˜€ Biasa nya aku ga suka tidur dalam terang, tetapi selama beberapa hari di Budapest aku harus berkompromi dengan cahaya lampu hingga tidur pun terpaksa kututupi muka ku dengan pashmina ku. Yaah, daripada tidur dalam gelap di gedung tua itu, tak apa lah selama beberapa hari muka ku ditutup pashmina hehehe πŸ˜€ Hmm satu lagi! aku engga suka sama lukisan jelek yang menggantung tepat di dinding depan tempat tidur ku itu. Benar-benar selera seni yang parah :-p

Tapi foto-foto di atas belum semua loh.. Ini beberapa foto fasilitas yang menjadi milik kami selama di sana πŸ™‚

Voilaaaa πŸ˜€ ada kamar extra di atas dapur πŸ™‚

Ini sebener nya attic dapur yang disulap jadi kamar yg lumayan spacious πŸ™‚ jadi inget lagu-lagunya Alisa’s Attic deh πŸ˜‰

Attic bedroom di atas itu ditempati sama temanku yang dari China πŸ™‚

Lalu ini foto dapur, ruang makan mungil dan kamar mandi nya yang dilengkapi mesin cuci, super lengkap deh apartemen tua ini πŸ™‚

Ini view dapur dan ruangan utama dari atas Attic bedroom πŸ™‚

Semua peralatan masak dan makan pun tersedia πŸ™‚ juga bumbu-bumbu dasar nya lohh πŸ™‚

Fridge, kompor dan oven πŸ™‚ sayang nya kami lebih milih jajan dibanding memasak πŸ™‚

Di dinding dapur ada peraturan tentang jadwal pembuangan sampah dari pihak hostel, peraturan nya juga sengaja dibuat sedikit serem dengan mencantumkan bahwa pengambilan sampah akan dilakukan lewat jam 12 tengah malam. Dan dengan konyol nya pihak hostel berpesan agar kami tidak takut jika ada yang mendatangi ruangan kami lewat tengah malam :-p

Dan ini foto kamar mandi nya πŸ™‚

kamar mandi, merangkap toilet lengkap dengan mesin cuci πŸ™‚

And the best from this old apartemen is the big windows which gives us the best view to the Basilika πŸ™‚ Dan jendela super besar nya itu pula yang membawa ku berimajinasi tentang cerita ruangan apartemen itu dulu nya, cerita penghuni nya dulu, pesta-pesta berabad lalu yang mungkin pernah diadakan di sana πŸ™‚

Basilika dari jendela apartemen, lonceng nya juga jadi alarm selama kami di sana πŸ™‚

Saat kami check out dari penginapan itu, kami berkesempatan mengunjungi gedung tua lainnya yang menjadi kantor hostel itu. Iseng aku bertanya kepada karyawan nya tentang apartemen kami yang nyaris tak ada penghuni nya itu. Karyawan itu bilang, mereka sengaja menyewa beberapa unit dari gedung-gedung tua untuk kemudian disewakan lagi kepada para turis. Salut deh ! Mereka menemukan cara lain untuk bisa memanfaatkan gedung tua agar tetap menghasilkan uang, setidak nya untuk biaya pemeliharaan gedung, sekaligus mempertahankan keberadaaan gedung-gedung tua itu. Dan memang aku suka suasana yang ada di apartemen tua itu, menikmati “ketuaannya” seakan aku benar-benar bagian dari Budapest masa lalu hehehe πŸ˜€

May, 2011. From Praque-Vienna-Budapest, Budapest wins my heart πŸ™‚

Semoga kelak bisa berkunjung lagi ke kota indah itu, berbelanja embroidery khas Budapest yang warna warni, dan mungkin sekali lagi menikmati Budapest tempo dulu di penginapan unik lain nya πŸ™‚

Echo, Kittima, mbak Fifi dan Deary. Budapest May 2011

(All pictures is deary’s copyright)
PS: for anyone interested in having a nite or two of staying here, just google about Pal’s Hostel πŸ™‚ good luck!

Advertisements