I’m not yet a good chef, definitely! Baru setahun terakhir aku “turun ke dapur”. Masa-masa masih bersama mama di Padang, tak sekali pun aku benar-benar memasak. Paling-palig cuma membantu memotong sayuran, itu pun menurut mamaku masih jauh dari perfect! Mama suka bilang, kalau potongan sayuran ku lebih mirip potongan sayur “kriminal” hehehe πŸ˜€ Mungkin saking engga rapi nya :-p Papa ku justru yang lebih sering memasak dibanding anak perempuan nya ini. Dan papaku memang jago sekali memasak πŸ™‚ Pokoknya tiap kali mama bepergian, kami di rumah tak pernah kelaparan hehehe πŸ˜€ Papa selalu memasak menu-menu yang super duper lezat πŸ™‚ Adik ku Dewi juga jago memasak, tapi dia paling engga mau kalau disuruh bebersih rumah :-p

Memasak itu sesuatu yang scientific, begitu kata mbak TJ, roommate ku yang asal Capetown

Aku? Well, bisa dibilang waktu itu aku lebih seneng bebersih rumah, ngepel nyapu, ngelap pajangan sampai mengkilap, dorong-dorong sofa & lemari (i am strong enough!) merubah susunan interior rumah, dan panas-panasan di halaman depan berkutat dengan gunting tanaman, sprayer pupuk cair, dan teman-temannya. Aku lumayan ahli lohh merapikan tunas-tunas baru bougenville, ada teknik nya. Tunas-tunas baru itu dipotong tepat di bagian atas Β pangkal daun, jadi tak terlihat kalau pohon nya baru saja dipangkas πŸ™‚ Aku memang lebih “rela” tangan ku tergores duri dari dahan-dahan bougenville atau duri mawar dibanding kena percikan minyak panas πŸ™‚

Pun saat aku tinggal bersama tante ku di Sukabumi. Seingatku cuma sekali aku memasak, itu pun karena tante dan guardian uncle ku pulang ke Padang. Hanya ada aku dan sepupu ku Dira di rumah. Waktu itu aku berinisiatif memasak ikan balado untukku dan Dira. Ingin sekali tertawa kalau ingat waktu itu πŸ˜€ Saking engga pernah nya bersentuhan dengan peralatan memasak, aku sampai salah menggunakan blender! Alhasil cabe yang harus nya segera hancur, eh malah tak kunjung hancur :-p Belum lagi aku tak mahir membalik ikan di penggorengan…

Lalu aku pindah ke rumahku sendiri. Alih-alih jadi bisa memasak, aku malah selalu mengandalkan “dapur-dapur” lain alias belanja masakan jadi πŸ˜€ Aku cuma memasak nasi, lainnya tidak πŸ˜€ Sempat beberapa kali teman-temanku datang menginap, sebagai tuan rumah aku hanya bisa menghidangkan masakan dari rumah makan ini dan itu, bukan masakan ku sendiri πŸ™‚ Selama setahun tinggal di Jogja pun aku bisa dibilang engga pernah memasak. Iya siy, sekali-sekali aku memasak puding jelly, but it’s not a real cooking. Cuma puding jelly, nothing special about it πŸ™‚

Nah, semenjak tinggal di Rotterdam lah aku mulai terjun ke dapur. Selain karena lebih hemat, juga karena masakan sendiri insya Allah terjamin halal, maka aku pun jadi berusaha untuk belajar memasak. Tidak cuma memasak biar perutku tak kelaparan, tapi aku memasak karena aku suka, karena aku menikmati saat-saat mencampur semua bumbu, mengaduk nya, menunggu bahan-bahan mentah itu berubah wujud menjadi masakan lezat πŸ™‚

Kadang aku bereksperimen dengan bahan-bahan yang aku punya, sering nya sih download resep-resep lewat mbah google, telpon mama dan tanya tante ku. Jadi jangan heran kalau kalian mendapati ku di dapur bersama Mabell, netbook ungu ku, handphone dan berlembar-lembar kertas catatan resep πŸ™‚

Lama-lama jenis masakan yang aku masak jadi bervariasi. Dari yang super duper simple sampai yang butuh waktu berjam-jam untuk memasak nya a.k.a rendang padang πŸ™‚ Lucu niy soal rendang πŸ™‚ Pertama kali aku masak rendang ya di Rotterdam, waktu itu Lebaran Haji. Masing-masing unit dapet jatah daging untuk diolah dan dibawa ke acara potluck kecil-kecilan di apartemen. Tadi nya daging itu mau aku masak sate tetapi lalu berubah menjadi rendang :-p Sungguh kalau dilihat-lihat lagi foto nya, rendang ku waktu itu masih jauuuuuuuhhh dari rendang yang asli πŸ˜€ eh tapi aku senang-senang aja, soal nya foto rendang itu berhasil “menyatukan” kami-kami yang baru pertama kali nya berlebaran haji di negeri orang lewat comment-comment yang lucu-lucu bernuansa hari raya πŸ™‚ (coba lihat album la petite maison dans le bord du monde ku di fb). Well, jadi inget old saying yang bilang “good food bring people together” hehehe πŸ™‚

Kembali soal rendang, rendang kedua di Rotterdam adalah rendang ayam πŸ™‚ Berhubung cuma ada persediaan fillet ayam (aku paling suka beli fillet ayam. Ngapain juga mengeluarkan uang buat beli tulang ayam, mending daging nya aja ! ya ga?) jadi lah hari itu aku memasak rendang ayam. Dan rendang ketiga lebih spesial hehehe πŸ™‚ Rendang ketiga merupakan pesanan temanku untuk acara ulang tahun nya πŸ™‚ Can you imagine how happy i was (nervous as well) when a friend ask me to cook for his special day and many guests will come and taste my recipe? Beberapa hari sebelum hari H, aku udah sibuk telpon mama di Indonesia, memastikan semua bumbu-bumbu dan takaran nya yang akan aku butuhkan agar rendang nya lezat πŸ™‚ Well, who knows that might be a good start for Β my culinaire business one day (wake up, deary!) πŸ™‚

Owyaa, soal resep-resep masakan ku, memang banyak sekali improvisasi nya, tak melulu mengikuti pakem memasak konservative πŸ™‚ Kadang aku salah mencampur bahan, lalu resep itu pun dengan sendiri nya kurubah πŸ™‚ Pernah aku ingin membuat puding marmer yang kemudian juga berubah :-p Berhubung toko chinese yang suka menyediakan bahan-bahan masakan ala Indonesia dan Asia sudah tutup, aku cuma berhasil mendapatkan grismeel puding (puding londo gitu deh) di supermarket dekat apartemen. Olalaa… ternyata puding grismeel itu sangat lengket dan lembek, agak mirip adonan hunkwee, tapi agak bertekstur. Kontan aja ketika dicampur dengan bubuk coklat dan dibentuk pola marmer engga bisa-bisa, yang ada malah lengkettttt! Padahal rencana nya itu bakal menjadi hidangan di pengajian bulanan! Dan ketika dipotong… nggggg…adonan nya super lembek jadi tak berbentuk 😦 Mirip kue talam, dan ketika ada teman yang bertanya resepku itu, aku bilang aja judul nya kue talam coklat hehehe πŸ˜€ Tetapi kemaren sebelum mudik ke Indonesia, aku mencoba memasak puding grismeel itu lagi, dan lumayan berhasil πŸ™‚ Teknik nya seperti membuat puding dari adonan hunkwee aja πŸ™‚ Semoga tetangga-tetangga sebelah yang waktu itu kukirimi suka πŸ™‚

Aku termasuk heboh kalau sudah berada di dapur dan memasak πŸ™‚ Setidak nya itu kata salah satu room mate ku dulu πŸ˜€ Iya, soal nya aku suka panik dan ribut sendiri kalau engga sengaja salah mencampur bahan, atau kelupaan menambahkan bumbu. Pernah juga dulu aku ribut sendiri gara-gara adonan yang harus ku-mixer tumpah dan menciprati dinding dapur! Masalahnya waktu itu aku belum “bersahabat” dengan staff mixer yang baru aku dan mbak fifi beli πŸ™‚ Satff mixer itu cuma memiliki satu tombol on, dan tak punya tombol pengatur kecepatan. Jadi harus pakai ilmu kira-kira dan pakai hati kalau menggunakan nya, tidak boleh langsung full power, kalau engga ya bakalan tumpah kemana-mana deh hehehe πŸ˜€

Soal panik dan heboh itu juga yang kadang membuat acara masak-memasak ku jadi seru dan lucu (menurutku siy). Seperti sore tadi, aku (dibantu assisten ku, little lady Alisa) berusaha membuat bolu kukus untuk ulang tahun adik ku. Yaa, walau pun adik ku engga tinggal di Sukabumi, tetapi di Depok, aku ingin membuat sesuatu untuk ulang tahun nya. Lagipula ini ulang tahun pertama nya jauh dari rumah, karena tahun ini adik ku resmi belajar merantau πŸ™‚ Jadi nyaris tak ada masakan special dari mama dan tante-tante ku, tak ada traktiran dan kumpul-kumpul bersama mama, papa, dewi, didi dan aku. I just want to show him how we love him so much πŸ™‚ Mama tadi sempat bertanya, apakah adik ku itu akan ke Sukabumi untuk merayakan ultah nya. Ku jawab “Bang ndut nya siy di depok, Ma. Kue ultah nya nanti dibikin dan dimakan rame-rame di Sukabumi”.

Dibantu Alisa aku menimbang semua bahan-bahan yang dibutuhkan. Mengocok telur dan membagi nya untuk diwarnai. Nah, adonan lapisan pertama kuberi warna coklat, dan kutaruh di loyang bulat untuk kemudian dikukus. Saat itulah Alisa memberi tahu kalau aku lupa memasukkan santan ke dalam adonan kue ku! Hyaaaa dasar aku engga teliti mencatat cara memasak nya! Aku melewatkan satu baris instruksi yang berbunyi “Tuangi santan sedikit demi sedikit sambil diaduk rata”. Akhirnya dengan sedikit panik aku menuangkan santan langsung ke dalam loyang yang sudah berisi lapisan pertama kue nya dan mengaduknya di sana! Dan setelah adonan pertama itu masuk ke dalam kukusan, baru sadar lagi kalau aku lupa menambahkan garam! hahaha kacau parah deh acara memasak sore tadi πŸ˜€ tapi bolu kukus nya berhasil kok, kecuali toping blueberry yang terlalu encer untuk bisa membentuk tulisan “gefeliciteerd” hehehe πŸ™‚

6 butir telur + 2 kuning telur, emulsifier, vanili, dan 250 gr gula pasir

Gara-gara lupa, santan nya pun jadi diaduk langsung di dalam loyang !

Lapisan kedua, ijo seger πŸ™‚ harusnya 4 warna, tapi supermarket kehabisan pewarna pink dan semua warung kompak tutup di hari minggu

Bolu kukus tiga warna buat bang ndut πŸ™‚

Well, walau pun masih harus belajar lagi dalam hal memasak, sampai kelak aku bisa memasak tanpa harus “nyontek” dari netbook ku, tetapi sungguh memasak itu menyenangkan, kok πŸ™‚ Sama menyenangkannya dengan berkebun πŸ™‚ Jadi ingat mama pernah bilang, bahwa aku harus bisa memasak. Setidak nya untuk suami dan anak-anak ku kelak. “Iya kalau nanti punya uang lebih untuk bisa menyewa juru masak, kalau engga. Masa anak orang mau dikasih makan mie instant melulu?” begitu ujar mama waktu itu. Mama benar, pasti rasa nya happy sangat jika bisa memasak untuk keluarga kukelak πŸ™‚ As an old saying says “Man built the house but woman made of it a ‘home’ when she cooks” …

Dan spesial buat adik ku bang ndut tercinta πŸ™‚ Happy Birthday! Semoga selalu dilimpahi rizki dan kasih sayang Allah. Sehat dan sukses selalu, amin πŸ™‚ We love you, bang ndut πŸ˜‰

Gefeliciteerd met je verjaardag, bro πŸ™‚

And for those who read my blog, i wish you a happy monday (sunday afternoon is already monday :)), may your love one prepares your meal with passion πŸ™‚

(all pictures is deary’s copyright)

Advertisements