Dear readers,

It’s been (almost) a year I am away from this home country Indonesia, and during my stay in NL, I rarely see any Dutch use broom or sapu lidi or (sapu nyere in basa sunda) πŸ™‚ They prefer vacuum cleaner to broom. Well yeah, except when i went to Pathe and watched Harry Potter flies with his broom, what so called Nimbus 2000 πŸ˜€ And yeah, i’m going to tell you more about this broom, sapu lidi or sapu nyere πŸ˜€

Owkay, i’m gona switch to Bahasa now. Or dya prefer me to tell the story in Basa Sunda? (one month intensely speak in Sundanese with my respondents, please allow me to be proud of my Sundanese improvement:))

Weekend kemaren, di sela-sela penelitian dan thesis ku, aku menyempatkan berkunjung ke Bandung. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir aku ke Bandung, sejak aku hijrah ke Jogja lebih tepat nya, paling dulu hanya lewat saja dari perjalanan ku Sukabumi-Jogja & Jogja-Sukabumi. Misi utama adalah memenuhi shopping list titipan teman-temanku, reunian dengan beberapa orang teman dan tentu saja sejenak melupakan thesis (haha, lah wong ke bandung bawa Mabell -FYI! Mabell adalah netbook ungu ku nan imut- dengan niatan mengolah data lapangan JIKA sempat)

Nah, daripada nge-mall dan bermacet-macet di pusat kota Bandung yang ampun bikin bete. Saking macet nya, aku lebih milih turun di stasiun kebon jati lalu berjalan kaki hingga pasar baru, diiringi raungan sirene ambulance yang menangis minta dikasih jalan (seperti nya jalanan Bandung engga manusiawi lagi ya?). Yang lebih menyebalkan lagi, pas jalan di trotoar yang emang khusus buat pejalan kaki (?) tiba-tiba aja ada motor trail ijo ikutan melenggang di trotoar!! Olalaaaa… satu point lagi yang menambah rasa tidak suka ku kepada pengendara motor-motor mahal yang suka mendadak lupa kalo motor nya itu sejati nya tidak memberikan privilege or keistimewaan apa pun atas penggunaan fasilitas umum! Ibarat kata mbak Sania Twain “So you got a car? that don’t impress me much!” tapi ini kasus nya motor wekkkk :-p

So, minggu pagi nya aku dan teman-temanku ngangkot ke destinasi kita, si Sapu Lidi. Sapu lidi itu nama sebuah resto sekaligus resort di daerah Bandung (udah masuk Lembang deh). Nah, salah turun pula sepertinya :-p Hingga kami pun harus berjalan kaki menyeberangi perumahan mewah, karena si Sapu Lidi itu berada di pintu masuk sisi satu nya lagi dari perumahan mewah itu πŸ˜€ Tidak apa-apa, hitung-hitung membakar kalori. Hasil facial sehari sebelumnya sepertinya langsung ilang tak berbekas disapu terik matahari, yukkkk mareeee!

Lalu apa istimewa nya si sapu lidi yang satu ini? Sapu Lidi ini berawal dari ide nya Bob Doank (engga kenalan, jadi klo mau tau lebih banyak tentang doi, google aja yak! tapi dy juga punya satu resto lagi yang dikasih nama “imah seniman”). Dia bikin resto & resort yang landscape nya dibikin ala pedesaan lengkap dengan saung-saung, empang, petak-petak sawah, jembatan-jembatan kayu, sepeda tua, pancuran air dan dilengkapi dengan kentongan untuk memanggil pelayan πŸ™‚ Terus sapu lidi nya? well, Sapu lidi cuma ikon yang ada di gerbang pintu masuk resto ini. Mungkin ikon sapu lidi nya itu dianggap mewakili suasana pedesaan yang tenang dan teduh, ga nyambung yak? begitulah πŸ™‚

Saung di gigiran balong

Sapu Lidi

Senyum si teteh pelayan resto yang mengenakan kebaya dengan bawahan kain batik menyambut kami ramah siang itu. Kami dipersilahkan memesan menu, tetapi kami ingin menikmati view resto itu terlebih dulu sambil memilih-milih saung yang enak untuk saling bercerita dengan teman-temanku.

seeur tatangkalan hejo & balong, siga lembur kuring

di pematang sawah

Tempat nya memang enak untuk bersantai-santai sejenak, jauh dari kebisingan kota, jauh dari tugas-tugas rutin. Hijau dan segar karena rindang nya pepohonan, suara gemericik air di pancuran-pancuran nya, serta semilir angin benar-benar membuat betah berlama-lama di sini, bisa sambil menulis thesis (seriously?), mau berlarian dari saung ke saung ala film India, melamun membayangkan masa depan (uhuyyy) atau sekedar foto-foto. Dan bagus nya lagi, kita bisa bebas foto-foto tanpa dikenai camera charge.

Enakeun keur belajar atawa facebookeun hehehe πŸ˜€

Si neng keur ngalamun ^^

Caiyyaa caiyyaa, nu iyeu mah pilem india tea ^_*

bade poto pre wedding di dieu? perei nteu dipungut acis πŸ™‚

Puas menikmati view sekitar nya dan berfoto-foto, kami pun kemudian memesan makanan. Cara memanggil pelayan nya pun unik, yaitu dengan memukul kentongan ronda yang memang digantung di setiap saung. Tapi pernah pas memanggil pelayan untuk ketiga kali nya, sang pelayan datang agak lama, mungkin karena bingung menentukan dari mana arah suara kentungan berasal hehe πŸ˜€ Mau tau menu nya? Menu nya lumayan bervariasi, dari makanan tradisional sunda, sampai jajanan ala eropa. O iya, menu dan penjelasan nya ditulis dalalm tiga bahasa : Bahasa Indonesia, Basa Sunda, & Inggris. Harganya? Nah ini yang bikin agak sedikit sakit hati (dua di antara kami masih berstatus mahasiswa dengan uang jajan terbatas :-p) ! Harga nya lumayan mahal (jika dibandingkan dengan porsi nya), jadi tak heran kemaren butuh waktu yang agak lama memutuskan menu yang akan dipesan πŸ˜€ Iya, satu porsi soto bandung dihargai sekitar 25rb, surabi kinca satu porsi sekitar 7rb, teh lemon hangat satu cangkir kecil 17rb, mie tek-tek satu porsi kecil sekitar berapa ya kemaren? 24rb atau berapa ya? Kalau menu yang berbahan ikan, dihitung per ons, satu ons nya sekitar 7rb. Yang unik adalah penyajian makanan nya langsung di dalam wajan-wajan mungil dan untuk soto disajikan dalam satu periuk mungil. Apa kata mamaku kalau sempat makan di sini? “Engga sopan! Masa anak gadis makan langsung dari wajan?” hehehe πŸ˜€

Daptar kadaharan jeung patuangan

Soto bandung

Mie tek tek dina wajan keneh

Surabi kinca

Setelah selesai makan, kami pun harus segera beranjak dari sapu lidi, kembali ke kota masing-masing, kembali ke rutinitas. Eh di pintu keluar ternyata kami membutuhkan waktu extra karena….. Ada toko souvenir nya juga yang menjual aneka kerajinan tradisional dari daerah Tasikmalaya, dan tak ketinggalan aneka makanan tradisional πŸ™‚

Oleh-oleh keur wargi di imah

bade nu mana, neng? kelom bereum atawa kelom ageung ? πŸ˜€

Puas berbelanja (shop till drop, hehehe πŸ˜€ ), kami harus benar-benar segera pulang, balik dulu ke Cisitu untuk mengambil backpack dan segala macam upeti untuk dibawa pulang, lalu mengejar public transport berikut nya untuk kembali ke Sukabumi dan Jakarta. Kembali ke rutinitas kami. Well, sehari-dua hari di Bandung lumayan bikin segar lagi πŸ™‚

Mugi-mugi tiasa ngariung deui πŸ™‚

PS: if you would like to see more pictures of Sapu Lidi, please do check on myΒ Album (all pictures are deary’s copyright).

See ya next time with another story to tell πŸ™‚

Advertisements