Heyhoooo, Assalamualaikum πŸ™‚

postingan kali ini kita mulai dengan menu buka puasa ala hujan badai tanpa angin dengan gluduk yang jarang-jarang ada di Rotterdam ini, yaitu….

eng…

ing…

eng…

tadaaaa !

Kapsalon !

Hehe πŸ˜€ i just came back from campus and bought this meals on my way back home, i was having a qualitative analysis workshop with one of my lecturers (he is an Indonesian who can not speak Bahasa at all!). Hujan lumayan deras pas turun tram, dan begitu aku memakai rain coat merah ku, seorang bule londo yg melaju dengan sepeda nya berteriak penuh semangat ke arah ku “welcome in Holland!“. Spontan aku bales “I’ve been living here for one yearrrr!“. Whewww! Maybe i should have shown him my verblijf (KTP belanda ku yg masa berlaku nya udah mau habis).

Owyaa, menu lezat di atas namanya kapsalon, sejenis makanan cepat saji favorit ku dan teman-teman karena insya allah halal. Cerita nya hari ini aku memutuskan untuk tidak memasak apa pun! Sebenernya masih ada rendang yang kumasak kemaren sih, but it was too salty! Lupa kalo pake cabe giling botolan harusnya engga usah digaremin lagi rendang nya 😦 (but people say it’s a sign of a coming marriage for me haha). So this is my lazy afternoon πŸ™‚ Itu artinya si kapsalon ini adalah menu buka puasa ku. Arti nya lagi sore ini tidak ada delivery tajil buatΒ anak-anakku,Β warga indonesia plus dua warga Mesir yang suka kuanterin tajil selama bulan Ramadhan ini πŸ™‚ (My mommy told me that i look like a mother who has so manyyyy kiddos coz i cook different menu everyday! Well, mama ku curcol, coz during Ramadhan we always confuse her by asking different meals! otherwise we would not wake up and eat for sahur :-p).Β Β Maybe some of them will praise Lord for they don’t have to taste my recipe haha πŸ˜€ Well, you gotta tell me if my recipes were not good or taste awfull, otherwise i will keep sending you my recipe πŸ™‚

Hmm… bicara tentang anter-menganter makanan, baru saja ingat kalau Ramadhan tahun ini istimewa buat mama & adik perempuanku. Bukannya Ramadhan tahun-tahun sebelumya engga istimewa, hanya tahun ini mama dan adik ku itu punya kesibukan baru menyiapkan hantaran makanan untuk keluarga besan nya mama alias keluarga mertua adik ku, satu tradisi di keluarga minang πŸ™‚ Tradisi ini salah satu tradisi keluarga minang yang hanya dilakukan di bulan suci Ramadhan.

Maanta pabukoan, begitu tradisi itu disebut. Dalam bahasa Indonesia artinya adalah mengantarkan/mengirimkan makanan untuk berbuka puasa. Perempuan minang yang sudah menikah biasanya akan memasak menu-menu spesial untuk dianterin ke rumah keluarga suami nya. Tidak hanya untuk mertua nya, tetapi juga untuk keluarga saudara-saudara perempuan suami nya (di dalam adat minang yang matriliineal, perempuan amat sangat disayang & dihormati).

Tahun-tahun sebelumnya, kami yang menunggu hantaran pabukoan dari tante-tanteku (istri-istri dari saudara-saudara laki-laki nya mama) dan dari istri sepupu-sepupuku.Β Selalu seru setiap kali menunggu pabukoan itu datang. Seingatku waktu aku dan adik-adik ku masih kecil dulu, kita selalu excited saat menunggu pabukoan itu datang, saling menebak apa saja menu yang dibawakan untuk kami, sampai saling rebutan juga hahaha πŸ˜€ Wheww, ternyata klo diinget-inget zaman dulu, aq dan adik-adik ku memang sudah “ganas” dari dulu nya kalo soal makanan πŸ˜€ Mama juga biasanya sengaja tidak memasak dalam jumlah banyak karena akan mendapat kiriman pabukoan dari keluarga ipar-ipar nya.

I will tell you more about maanta pabukoan. Rule #1 makanan harus dianter dalam rantang 4 susun! Rantang 4 susun itu biasanya berisikan aneka tajil (seperti puding, kolak, kue dan dan onde-onde) serta aneka makanan utama (rendang, kalio daging, dendeng balado, gulai dan aneka menu khas minang yg TOP lain nya). Jadi selama bulan Ramadhan jika Jij semua sempat berkunjung ke Padang, maka Jij semua akan melihat perempuan-perempuan berpakaian santun (di Padang peraturan sekolah nya aja udah dari dulu mewajibkan semua siswa perempuan untuk mengenakan jilbab) membawa banyak rantang. Bisa dipastikan mereka adalah para istri yang sedang maanta pabukoan untuk keluarga suami nya tercinta πŸ™‚ Oh so rule #2 adalah berpakaian yang santun. Malu lah keluarga minang kalo punya anak kemenakan perempuan berpakaian tak santun πŸ™‚ apalagi berkunjug ke rumah keluarga mertua, sungguh harus berhias dengan pakaian yang santun untuk menghormati mereka πŸ™‚

Jadi, rantang 4 susun merupakan benda paling dibutuhkan dalam tradisi ini selain menu-menu home made yang lezat. Dan seperti nya rule #3 adalah kalau mau jadi menantu keluarga Minang, jij harus bisa memasak! Alamat tak diterima pabukoan jij klo makanan nya berasal dari salah satu rumah makan Padang hehehe πŸ˜€ Aku kurang paham kenapa rantang yang dipakai adalah rantang 4 susun, tapi yang jelas begitu kami anak-anak gadis nya beranjak dewasa, mama dan tante-tante ku mulai mengoleksi rantang 4 susun itu. Sama seperti hobi mereka berbelanja karpet berwarna merah (acara adat minang, baik itu pernikahan atau acara lainnya hampir selalu didominasi dekorasi warna merah cerah dan emas) dan dinner set yang seragam, 3 rumah yang berbeda punya karpet-karpet merah dan dinner set yang sama! Alasan mereka sih supaya nanti kalau mereka mengadakan pesta adat di rumah untuk anak gadis nya, tidak perlu lagi repot menyewa peralatan tersebut (that is also one reason kenapa ibu menjadi sosok yang sangat dimuliakan dikeluarga Minang, sampai diberi gelar Limpapeh Rumah Gadang. Bcoz she thinks ahead for her children future πŸ™‚ ).

Rule #5 adalah, tradisi maanta pabukoan ini berlaku untuk anak gadis minang yang sudah menikah. Makanya Ramadhan ini special buat mama dan adik perempuan ku yang baru menikah beberapa bulan lalu, tahun ini adalah tahun pertama adik ku maanta pabukoan untuk keluarga mertua nya. And so this tradition does not apply for me yet πŸ™‚ O iya, dalam maanta pabukoan tidak ada aturan yang jelas mengenai batas waktu pengaplikasian tradisi Β ini (ribet deh bahasa nya). Maksud ku, tradisi ini sih biasa nya mulai dilakukan sejak Ramadhan di tahun pertama pernikahan hingga Ramadhan-ramadhan berikutnya. Tapi biasa nya sih kalau anak-anak mereka sudah beranjak dewasa, tradisi ini tidak dilakukan lagi, diambil alih oleh putri-putri mereka yang ganti maanta pabukoan ke rumah mertua mereka.

My mom, My NJ, & My sister on her wedding day. See all red decoration and red traditional dress? ^_^

Well, tergantung individu juga sih. Misal nya tante ku yang anak pertama nya sudah di perguruan tinggi saja, sepertinya masih setia maanta pabukoan buat keluarga mertua nya. Mama ku sendiri seperti nya malah tidak pernah maanta pabukoan karena mertua nya mama (who are my nenek and my datuk) adalah orang Jambi yang engga kenal tradisi ini dan jauh pula di Jambi sana. So this tradition does not apply for her πŸ™‚ jarak pun sebenarnya bukan suatu alasan untuk tidak maanta pabukoan. Misal nya aja tante ku yang di Sukabumi, dari awal pernikahan nya beliau sudah menetap di Sukabumi, tetapi beliau tetap maanta pabukoan untuk keluarga mertua nya (who are my Amak and my Gaek) di Padang. Hahh? dikirim pake apa?? Well, maanta pabukoan itu engga mesti dianter langsung oleh yang bersangkutan, tetapi bisa didelegasikan kepada keluarga nya juga kok πŸ™‚ karena sebenernya (menurutku) tradisi maanta pabukoan ini adalah cara bersilaturahmi antar keluarga πŸ™‚ So, rule # 6 maanta pabukoan adalah ajang silaturahmi, memuliakan keluarga mertua dengan kunjungan, silaturahmi selain tentu saja mengirimi nya makanan lezat πŸ™‚Β (aku juga ingin seperti itu, meski pun Β nanti mertua ku bukan orang Minang πŸ™‚ ).

Dan menurutku tradisi maanta pabukoan ini selaras dengan salah satu hadist yang arti nya:

β€œSiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”

Insya allah pahala nya dobel karena yang dianterin makanan adalah mertua (serta keluarga) sendiri, itu artinya menyenangkan hati orang tua juga kan πŸ™‚ Nah buat yang belon punya mertua, berbagi lah dengan para tetangga, sekalian silaturahmi πŸ™‚ I believe that good food brings people together πŸ™‚ Hmm… besok masak apa lagi ya?

Last, aku mau sharing pepatah berikut ini..

Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah…Β Adat itu bersendikan aturan, dan aturan itu bersendikan Kitab Allah, Al Qur’an…Begitu yang selalu diucapkan dan harus diamalkan oleh orang Minang.Β 

Advertisements