Jalan Gudang, Sore Hari Dua Hari yang Lalu
Bocah laki-laki berumur sekitar 9-10 tahun. Muka bocah nya kucel, sepertinya belum mandi sedari pagi. Pakaiannya lusuh, entah sudah berapa hari si bocah itu tak berganti pakaian. Sigap ia melompat ke dalam angkot yang melaju pelan karena terhadang macet sore hari. “Ya Allah ya Rabbi.. Bapak, minta uang nya! cepek pun jadi! minta atuh, Bapak?”. Lancar sekali kalimat itu meluncur dari bibirnya, seperti sudah berlatih ratusan kali monolog di depan cermin, penuh semangat seperti rekan mahasiswa yang sedang berdemo menuntut entah apa kepada pemerintah. Tetapi ada sebersit lelah dan rajukan khas seorang bocah umur 9 tahunan di balik suara bersemangatnya dan kesigapannya melompat.

Si bapak yang dimintai uang tadinya tak mau memenuhi permintaan si bocah. Sambil menghela nafas, dikeluarkan juga beberapa koin seratusan dari saku bajunya untuk si bocah. “Serba salah.. Engga diberi, karunya (kasihan). Diberi, takut keterusan dan jadi malas…” gumamnya pada diri sendiri.

 

Sebuah Kantor, Jalan Suryakencana, Pagi Tadi

“Hamborger, neng? kue? roti?”, seorang ibu berusaha menawarkan berbagai cemilan dagangan nya dengan logat jawa yang mau tak mau membuatku tersenyum. Apalagi saat mendengar “hamburger” menjadi begitu medok “hamborger” πŸ™‚ Lalu seorang anak laki-laki belasan tahun (mungkin 14-15 tahun) menyusul di belakang nya, tersenyum sedikit mengangguk ke arah kami. “Ini anak saya, lagi belajar bantu-bantu jualan makanan, bantu saya bawain keranjang-keranjang ini”. Si cowok abege itu pun kembali tersenyum begitu diperkenalkan kepada kami.

“Kayak nya udah engga sekolah ya?”. “Bageur (baik), anak cowok umur segitu engga gengsi ikut ibu nya berjualan”. “Iya, biasanya cowok umur segitu kan suka gengsian, malu, mana mau seperti itu”. Diskusi kecil kami setelah ibu dan anak remajanya itu berlalu.

Gengsi? Malu? mungkin memang benar itu yang dirasakan si bocah abege. Coba saja bandingkan dengan bocah abege lain nya yang petantang petenteng di seputaran dago sehabis jam sekolah. Hape seri terbaru di tangan, sepatu dan tas branded (meskipun KW I ato II alias aspal), tongkrongan motor & boil punya bokap nya, obrolan soal si A yang baru putus dari pacarnya bla bla bla πŸ˜‰ tetapi mungkin juga tidak, atau si bocah itu mungkin saja harus mengikis rasa gengsi nya sampai tak berbekas demi menopang kebutuhan keluarga.

Masih di Sebuah Kantor, Jalan Suryakencana

“kok kayak ada suara bayi? siapa yang bawa bayi ke kantor?” “Ah, paling bunyi handphone nya di ruang sebelah”. Lantas datang seorang ibu (lagi-lagi) menawarkan berbagai cemilan dagangannya sambil menggendong seorang bayi perempuan umur satu tahun. “Tuh kan, beneran ada bayi” ujarku.

“Sinping na bade, neng? ” Sinping itu sejenis cemilan sunda, sinping asin (aku engga suka karena bau jamu :-p) dan sinping manis (kue semprong siy kata aku mah). Rasa lapar (padahal katanya mau menurunkan bobot :-p) membuatku membeli sebungkus sinping manis yang ditawarkan. “lucunyaa, meni gembil (chubby) ujarku pada sang bayi di gendongan si ibu. Sadar dapat pujian dariku, si bayi perempuan itu pun tersenyum manis, garis senyuman yang membuat pipi mungil nya main gembil dan lucu πŸ™‚ Ibu nya menjelaskan pada temanku bahwa si bayi terpaksa dibawa berjualan karena tidak ada yang menjaganya di rumah..

Owkay, tadi pagi itu Sukabumi hujan deras. Kalau saja bayi itu bayiku, tidak akan tega rasanya membawa nya berjualan menembus hujan dan dingin nya pagi.. Satu tahun, mungkin bicara saja belum bisa, mungkin melangkah saja masih tertatih..

Perempatan Cigodeg, Sore Hari Beberapa Hari yang Lalu

Dari angkot yang melaju aku melihat dua bocah berjalan beriringan, saling berpegangan tangan. Mungkin mereka bersaudara, atau juga sekedar bersahabat. Si bocah satu begitu sabar menuntun bocah satu nya lagi yang sepertinya tidak dapat melihat sejak dilahirkan. Dan bocah yang dituntun itu berjalan sembari memegangi ember kecil. Aku mengerti sekarang, tetapi tidak mengerti kata yang pantas dan tepat untuk menjelaskannya. Saling membantu mencari nafkah kah itu namanya? atau (maaf) mengais rasa iba orang-orang dari penglihatannya yang tidak sempurna untuk kemudian tergerak memberi recehan? lalu jika itu yang terakhir, apa kabar semua yang menentang eksploitasi anak? pekerja anak? atau apalah namanya? Dengan cara itukah Β mereka akan bertahan hidup ?

Perempatan Gunung Karang, Sore Hari Tadi

Bocah-bocah itu lagi. Duduk di pinggiran trotoar, mungkin sedang beristirahat. Anak kecil yang berkantor di jalanan kan juga bisa kelelahan…

Sebuah Sekolah Negeri, Beberapa Hari yang Lalu

Panas terik siang itu, mendampingi rekan-rekan ku mengaudit proyek konstruksi di sekolahan menjadi sangat sangat melelahkan (padahal cuma mendampingi saja :-p). Alih-alih berkutat dengan meteran dan ukuran besi struktur, mataku malah sibuk memperhatikan bocah-bocah, yang sambil tetap bercanda, berlatih silat di halaman sekolah itu. Satu yang menarik perhatian, bocah laki-laki gendut, item karena sering bermain di bawah terik mentari, pipi tembem, rambut jigrak persis adik bungsu ku πŸ™‚ Ceria sekali dia, begitu percaya diri memperagakan jurus-jurus silat yang dihafalnya di depan guru dan teman-temannya πŸ™‚ Heyy bocah, bisa dibilang kamu beruntung πŸ™‚

(sebagai catatan: kenapa ya untuk proyek sekolahan aja masiiiiihhhh aja dibangun asal-asalan? ini tuh investasi jangka panjang, tabungan akhirat juga! iya mereka cuma tiga tahun belajar gedung itu, tetapi yang mereka pelajari di sana buat NANTI, buat seumur hidup dan buat semesta!)

*****

Like a bird high on the wind
May you fly away
Like a snowfall in the spring
may you cares melt away
CHILD, innocent child
our hope lies insideΒ your starry eyes
my innocent child

Advertisements