Sore tadi berhasil “turun gunung” walo mesti melawan arus kemacetan yang dipicu “royal wedding” di sebuah istana di kawasan Cipanas. Tujuan utama nya satu : berusaha mendapatkan menu makan malam yang lebih yummy wlo akhirnya nyangkut di fuyung hay yang sama saja grade “ketidaklezatannya” dengan makanan yang disediakan panitia training :-p

Well, setidaknya aku berhasil mendapatkan 4 box susu cair! Tak ada nya susu bubuk di Rotterdam memang sudah membuatku “addicted” dengan produk yang satu itu πŸ™‚ Yang lebih menyenangkan lagi dari hasil turun gunung sore tadi adalah buku yang baru saja kubeli, judulnya “99 Cahaya di Langit Eropa”, selain beberapa benda lain yang juga kubeli (ishkk…tak nak sebot satu-satu lah, sombong kali pun :-p)

Belum kubaca tuntas memang (bahkan bisa dibilang belum dibaca), tetapi menyenangkan, sebaris kalimat di bawah judul nya menyebut “perjalanan menapak jejak Islam di Eropa” membawa ingatanku kembali kepada beberapa pengalamanku sebagai seorang muslim yang pernah menetap setahun di Belanda.

Darimana harus kumulai ya, menceritakan berbagai pengalamanku dulu? Mungkin dari shalat lima waktu yang menjadi agak sedikit berantakan di saat winter? Dinginnya winter yang buatku lumayan membekukan (padahal lemak ku lebih tebel dibanding teman-teman yang lain, apa kabar mereka yang kurus ya? :)), sedikit banyak berpengaruh terhadap ibadah shalat ku. Selain tentu saja waktu pelaksanaan shalat yang semakin “rapat berjejer” karena siang yang pendek. Sewaktu masih belum turun salju, aku dan teman-teman masih seru-seru aja berjalan ke gedung tetangga yang menyediakan satu ruangan mushalla super mungil. Shalat di sana dan bertemu dengan student-student muslim lainnya.

Begitu udara mulai semain dingin, akhirnya kami tak lagi shalat ke mushalla kecil itu melainkan di ruang kelas. Iya, di kampus (di gedung ku) tak ada mushalla atau pun ruang shalat. Jadi lah kami meminta izin memakai salah satu ruang kelas yang tidak dipakai sebagai ruang shalat darurat. Bagaimana tidak menyebut nya darurat kalau ruangan itu ya selayaknya ruang kelas, tak ada sajadah yang bagus, kami shalat di sela-sela furniture kelas dengan bersajadahkan selembar kertas yang biasa kami pakai untuk berdiskusi tugas-tugas kuliah. Alhamdulillah walau pun begitu kami masih bisa shalat berjamaah.

Pengalamanku yang lain adalah ketika dipelototin dengan ekspresi super aneh oleh salah seorang perempuan cleaning service di toilet kampus. Gara-gara nya aku tertangkap basah sedang “beraksi” membasuh kaki ku, melengkapi wudhu ku, di wastafel! hahaha πŸ˜€ kakiku persis berada di atas meja wastafel itu saat si petugas cleaning service itu masuk πŸ™‚ “Maaph, mbak. saya terpaksa engga sopan, darurat ini” ujarku dalam hati sambil berusaha tersenyum dan berharap engga diomelin dalam bahasa Belanda. Bukannya apa-apa, engga seru aja klo diomelin tapi engga bisa mbales, bahasa belanda ku kan saat itu masih limited edition (sekarang pun masih :-p). Owyaa, walo pun aku wudhu nya di wastafel, tetapi aku selalu berusaha mengeringkan lantai toilet dengan toilet paper. Orang Belanda suka lantai toilet yang kering dan bersih. Secara kita pendatang, menurutku kita harus tetap menghormati yang punya rumah dengan menjaga beberapa hal sesuai mau nya mereka, termasuk toilet. Pernah dengar “toilet karma” ? Leave the toilet the way you want to find it πŸ™‚

Lalu ketika teman-teman mengajakku bergabung dengan acara-acara PPMR (persatuan pelajar muslim rotterdam), mulai dari pengajian rutin bulanan, belajar baca Al Qur’an (BBAQ) hingga mengisi blogs pengajian. Senangnya bisa ikutan acara-acara itu. Teman ku bertambah banyak, senang rasanya jadi banyak saudara πŸ™‚ Deg-deg-an pula rasanya saat tulisan pertama ku ada di blogs PPMR. Bagaimana tidak, aku pengetahuan agamanya ya engga kalah limited juga dengan bahasa belanda ku. Jadi wajar aja Β klo aku deg-deg-an takut tulisan ku tidak mutu dan tidak ada yang baca. tetapi salah seorang admin blogs bilang, jumlah pengunjung blogs lumayan nambah saat tulisan itu dimuat. lalu saat kami belajar baca Al Qur’an bersama, Subhanallah sekali pak guru ngaji kami yang juga teman sekelas ku dengan sabar mengajarkan kami mengaji. Yang aku suka adalah kami bebas request mau belajar ayat apa saja, dan setiap BBAQ kami juga selalu berdiskusi tak hanya membahas arti nya tetapi juga lebih kepada practical essence in daily life dari ayat suci itu πŸ™‚ menyenangkan sekali bukan ? Dengan segala keterbatasan itu, kami bisa sama-sama belajar agama πŸ™‚ Simply say, kuliah kelar, baca Al Qur’an lancar, bahkan sedikit banyak jadi nambah ilmu practical nya πŸ™‚ Owyaa, thanks to one of my dearest friends who gave me a pink-purple Al Qur’an when i was about to depart to Rotterdam. I like that gift so very much, a beautiful Al Qur’an with indexes. It helps me to find the answer from Al Qur’an on my every question πŸ™‚ So boys & girls, Al Qur’an is a very nice gift πŸ™‚

Dan aku selalu pulang dari mesjid dengan cerah ceria πŸ™‚ mendadak suka punya energi lebih tiap rabu malam karena bakal mengaji, sharing dan berdiskusi dengan teman-teman yang baik-baik itu, mendadak berani sepedaan tengah malam, kadang sendirian, dari mesjid kembali ke apartemen hehe πŸ™‚

BBAQ-ers, teman-teman belajar baca Al Qur'an

Aku juga kadang-kadang ikut bermalam minggu di mesjid πŸ™‚ Kalau malam minggu pengajian nya edisi dewasa ++ πŸ˜€ Maksudku, pengajian tiap malam minggu itu diprakarsai oleh ibu-ibu muslim Indonesia, jadi lebih ke pengajian yang dihadiri keluarga campuran Indonesia-Belanda. Pengajian nya disampaikan dalam bahasa Belanda, karena banyak mualaf belanda yang hadir, termasuk anak-anak mereka yang lucu-lucu yang berbicara dalam dua bahasa indonesia-belanda. Ada satu udztad favoritku, namanya Roland (ato Ronald yak?). Bule belanda gitu, kalau beliau melihat ada student yang hadir, maka beliau akan menyampaikan pengajian malam itu dengan trilingual πŸ™‚ arab, belanda dan Indonesia πŸ™‚ kalau udztad yang lain yang memberikan tausiah, aku suka nanya ke mbak-mbak dan tante-tante yang duduk di sebelahku, minta ditranslate ke bahasa Indonesia πŸ™‚ Mereka itu baik-baik semua, kayak keluarga gitu deh πŸ™‚ Tidak hanya akrab di mesjid, tetapi di luar juga. Contohnya aku sempet diajakin mbak Mirda dan mbak Elsye pas mereka mengadakan batik workshop di Historisch Museum, gretongan gitu ! padahal pengunjung lain kudu beli ticket hehehe πŸ˜€ terus waktu mbak Mirda doa selamatan rumah baru nya, kami juga diundang. Suaminya mbak Mirda yang mualaf itu lancar banget baca Al Qur’an nya. Two thumbs for them deh! Mbak-mbak ku yang lain juga baik banget, bahkan sampai aku balik ke Indonesia pun, kita tetap keep in contact. Mbak Mirda, tante Leyni, mbak Arti, mbak Susi dan yang lainnya πŸ™‚ Kurang baik apa coba Allah sama aku selama di belanda? dan kurang indah apa coba ukhuwah islamiyah kami di negeri penjajah itu ? πŸ™‚

Lalu pengalamanku saat berkunjung ke beberapa negara di Eropa sana. mari kita mulai dengan… France! Paris to be exact! Seperti anomali kisah ku di sana. Saat shalat subuh di atas tram, aku tak berani mengangkat tanganku untuk takbir. Lintasan cerita tentang muslim di paris membuatku takut, tambah lagi aku tak sedikit pun mengerti bahasa prancis. Hingga subuh (yang hampir menjelang pagi) itu aku pun menggantikan gerakan tangan ku dengan isyarat mata. tetapi dalam hati aku masih berharap akan menemukan indah nya menjadi muslim di kota paris seperti yang aku tonton di film Paris j’et aime (ya engga persis adegan cowo noni memasangkan kerudung ke cewe muslim gitu lah yaaa :-p). Harapan itu terwujud saat aku dan teman-temanku berhasil mengunjungi Le Grande Mosquee de Paris alias mesjid raya Paris! Subhanallah indah nyaaa perasaan hati bisa menemukan mesjid cantik itu dan bisa shalat di sana πŸ™‚ Ketidaksempurnaan shalat subuh di tram pagi itu sedikit terbayar dengan shalat di mesjid cantik itu πŸ™‚ Hey, jika kalian berkesempatan berkunjung ke Paris, cobalah masukkan mesjid ini ke dalam agenda kunjungan kalian πŸ™‚ Menurut buku yang kubeli tadi, mesjid ini pernah menyelamatkan puluhan warga Yahudi dari kejaran tentara Nazi Jerman…

Inside Le Grande Mosquee de Paris

Jerman, seperti dulu pernah kuceritakan juga tentang Frankfurt… Iya, kalau kalian transit di Frankfurt airport, cobalah cari worship center nya. kalian akan menemukan mushalla yang sangat bersih, wangi dan menyenangkan sebagai tepat beribadah πŸ™‚ Lalu Berlin, waktu berkunjung ke berlin, aku menginap di rumah salah seorang teman yang menikah dengan seorang pria berkebangsaan Jerman. Beribadah bukan hal yang sulit selama tinggal di sana, karena keluarganya Β mbak Lusi adalah keluarga Muslim πŸ™‚ Yang ingin kuceritakan adalah saat kami shalat di istana megah, Schloss Charlottenburg πŸ™‚ Woww kok bisa?? ya bisa tho yoooo, bonus ketemu pangeran cakep malah :-p hahaha engga gitu πŸ˜€ Lah wong kita shalat duduk jejer-jejeran di salah satu bangku taman tepat di depan istana cantik itu πŸ™‚ yang penting jalan-jalan engga boleh ganggu kebutuhan super penting menghadap dan mengadu pada Allah the almighty lah yaaa πŸ™‚

Taken by mbak Ola when we’re praying in a bench in Schloss Charlottenburg

Sempat pula aku berkunjung ke beberapa negara bekas negara komunis. Kita mulai dengan kota Praque. Tempat menginap kami waktu itu cukup strategis, jadi saat tiba waktu shalat, tinggal berjalan saja dari kota tua Praque untuk kembali ke penginapan dan beribadah shalat. Yang lucu adalah, saat orang-orang Praque melihat aku dan teman ku (orang asia) berkerudung, hampir semua nya menuduh kami orang Malaysia πŸ™‚ kenapa ya? entahlah πŸ™‚ Satu yang menjadi agak sulit adalah soal makanan. Untung nya di penginapan ada resto yang menyediakan menu khas Czech khusus vegetarian. Di hari-hari yang lain kami membeli seember ayam goreng untuk dimakan bersama. Sempat pula kami kangen nasi, dan pada saat bertemu restoran china yang menyediakan nasi, senang sekali rasanya. Hanya saja ada menu mengandung porkie porkie di sana, rasa senang itu pun menguap :-p lalu aku dan temanku melangkah ke restoran franchise lain (ayam goreng lagi dengan merk lain :-p) dan memesan menu untuk anak-anak yang lebih murah, plus dapet bonus mainan burung bersepatu roda dengan aksara Czech yang tak bisa kubaca :-p

Vienna, Austria… kembali soal makanan halal. tapi kali ini kebalikannya dengan Praque πŸ™‚ Di Vienna lebih gampang mencari restoran Turki yang menyediakan menu-menu halal πŸ™‚ Jadi tak ada masalah lah soal makanan. hanya saja aku sempat diomelin oleh mas-mas Austria itu 😦 Cerita nya kami berkunjung ke desa penghasil anggur terkenal di Austria, namanya desa Grinzing, it’s a traditional wine tavern in Austria. Pingin sekali melihat bagaimana siy kebun anggur di Vienna itu, lalu bagaimana mereka mengolah buahh itu menjadi minuman beralkohol yang makin lama disimpen harga nya makin mahal itu? saat turun tram lalu berkeliling sebentar, kami tak juga menemukan tanda-tanda keberadaan perkebunan anggur itu. Akhirnya aku memutuskan utnuk bertanya kepada seorang mas-mas bule Austria yang nongkrong tak jauh dari hate tram. Susah deh berkomunikasi dengan mereka karena rata-rata tak mau/tak bisa berbahasa inggris. Eh tapi begitu aku bertanya dengan menyebut-nyebut kata “WINE”, si mas itu langsung nyolot sambil menunjuk ke arah kerudungku! “Wine? no wine! God will be angry!” begitu kira-kira maksud perkataannya sambil terus menunjuk jilbabku! Whewwww!!! easy kali mas! sapa juga yang mau minum wine :-p orang aku cuma pingin lihat kebun n proses pembuatan nya kok, lain tidak :-p Tapi setelah aku pikir-pikir, bukannya itu adalah rahmat ya? Artinya, di negeri antah barantah pun, dimana orang-orang berbicara dengan bahasa yang tak ku mengerti, dengan embel-embel komunis dan segala macam pula, Allah selalu menjaga dan mengingatkan ku untuk tidak terpeleset ? πŸ™‚ Memang tak seujung jari pun kecuali milik Allah smua, bumi Allah πŸ™‚

Adalah Budapest kota favoritku πŸ™‚ Sejak tiba di sana, tak satu pun kami melihat perempuan berjilbab. berbeda dengan Vienna yang lumayan banyak kami jumpai perempuan berjilbab (muslim). Sampai saat kami mengunjungi Buda Hill, di sana barulah kami bertemu dengan seorang perempuan berjilbab, eh tapi dia pun sama turis nya seperti kami πŸ™‚ Kami masih saja penasaran kenapa kok sepertinya tidak ada muslim di Budapest kecuali kami? Hingga saat melewati keramaian Elizabeth square (was it Elizabeth square? i forget, it was close to Basilica anyway), seorang cowo cakep mengucap Assalamualaikum kepada kami (aku dan mbak pi yang berkerudung). Kaget campur takjub bo! Secara kami sudah punya anggapan final, bahwa budapest tak ada atau hampir nol muslimnya)! Salah euy! dengan bersemangat kami menjawab salam itu “waalaikum salam” πŸ™‚ Yang lucu nya, kami yang punya body pendek hidung pesek kulit gelap ini dianggap bule Arab oleh anak-anak sekolahan di sana πŸ˜€ hahaha πŸ˜€ mereka sepertinya antusias sekali melihat kami dua mahkluk cantik berjilbab (sepertinya memang jarang sekali perempuan muslim berjilbab di Budapest) πŸ™‚ beberapa kali berselisih jalan di kompleks istana (apa ya namanya ? lupa deh) itu, mereka selalu bergumam Arab, arab, arab ke arah kami πŸ™‚ mereka pun tak menolak ketika didaulat foto bareng bersama mbak-mbak cantik berkerudung dari Indonesia ini πŸ™‚

They called me Arab πŸ˜€

Banyak hal lain yang ingin kuceritakan tentang pengalamanku sebagai seorang muslim selama di Eropa. Nantilah, kugali lagi memory ku. Kutulis hingga cahaya itu lebih dari seratus πŸ™‚ Anyhow, for now, i have to go to sleep. Wishing i could wake up a bit earlier tomorrow and study for Friday final exam πŸ™‚ biar tak kecewa lah boss ku mengirimku sekolah ke sini, biar pulang nanti ilmu ku nambah n bisa mengabdi lebih baik lagi πŸ™‚

Lagipula, kubaca dulu deh buku baru yang seru ini πŸ™‚

Goodnite, readers πŸ™‚

Advertisements