Apa memang aku merindukan kota itu? Kota dengan aliran sungainya yang tak pernah sepi dari kapal-kapal besar dari berbagai negara. Sungai besar itu, yang namanya diambil temanku menjadi bagian namaku dalam cerita yang sedang ditulisnya, pernah dengan konyolnya kunanti menjadi beku. Sama seperti danau cantiknya yang juga kuharapkan beku di musim dingin hingga permukaannya cukup kuat untuk kutapaki dan kupakai meluncur. Kota yang terpaan anginnya begitu kuat hingga membuat orang-orang terpaksa turun dari sepedanya, hingga membuat payung-payung patah dan memenuhi tempat-tempat sampah di sudut jalannya. Kota yang langit birunya selalu dipenuhi garis-garis lurus dari jet-jet yang saling beradu terbang cepat. Kota yang Β menguji tubuhku dengan empat musimnya, dengan matahari yang enggan pergi meski sudah larut malam, dengan dinginnya yang harus kulawan dengan pakaian berlapis-lapis hingga aku terlihat persis seperti pinguin gendut lucu.

****

Nights in Rotterdam

Tadi siang salah satu teman sekantor bertanya, apa aku ingin kembali lagi ke Belanda, Rotterdam? Kujawab lugas, iya! Aku ingin suatu saat nanti kembali lagi ke sana. Meski hanya satu tahun, tapi cukup membuatku menyukai kota itu. Rotterdam dan Belanda memang tak mengajariku segalanya, tetapi aku belajar banyak hal di sana, seperti belajar mengatasi rasa takutku yang suka tak beralasan. Dan aku sangat menikmati menjadi diriku sendiri di sana seperti aku menikmati semua hal-hal menarik yang kulakukan selama setahun itu. Dan aku menyukai orang-orang baru yang kepada mereka aku memanggil teman & sahabat. Aku menyukai hari-hari ku selama setahun di sana, siang dan malamnya πŸ™‚

Seperti caption tulisanku kali ini, aku ingin bercerita tentang malam-malam ku di Rotterdam.

Kebebasan, itu yang aku rasakan pada malam-malam itu. Heyy! Bukan kebebasan yang bukan-bukan seperti bergaul tak jelas, pulang subuh gara-gara hanging out tak jelas di coffee shop, mabok gara-gara maksa sok keren minum liquors berbagai merk :-p Bukan semua nya itu πŸ™‚ Bacalah sampai akhir cerita ku kali ini, dan kalian akan paham kebebasan seperti apa yang aku nikmati pada malam-malamku di Rotterdam…

One of the nights when i enjoyed listening to the Rotterdam Philharmonic Orchestra at De Doelen Concert Gebouw

Keluargaku memang cukup ketat mengawasi anak-anak perempuannya, termasuk aku yang sudah berumur 30 tahun ini. Ada semacam “ritual” wajib bagi para orang tua di keluarga besarku yaitu kewajiban mengecek keberadaan anak-anaknya begitu adzan magrib berkumandang. Semacam kebutuhan saja bagi mereka untuk melihat kami berkumpul di rumah di saat magrib, or at least tahu dimana keberadaan kami. Call them conservative! Anyhow, aku merasa aman memiliki orangtua dengan ritual wajib seperti itu meskipun kadang tak jarang aku merasa jengkel dan konyol dengan ritual mereka itu (I’m thirty years old, c’mon!).Β Bukan berarti aku tidak pernah pulang malam, kadang-kadang aku pulang malam karena ada kelas aerobic, atau harus mengajar extra sore, atau sedikit lembur di kantor. Pernah ding aku pulang menjelang subuh :-p Waktu itu nonton (honestly, aku tertidur hampir setengah durasi film nya) di Jakarta Theatre berdua temanku, tapi lalu aku “menjual” nama temanku itu sama mama papa. Nama temanku itu sudah jaminan mutu (dikenal sebagai anak baik-baik oleh keluargaku), jadi tak ada omelan berlarut-larut karena kebandelanku waktu itu πŸ˜€

Bisa kalian bayangkan bukan ? Β Betapa malam-malam di Rotterdam penuh dengan kebebasan bagiku. Bisa bebas pulang jam berapa saja. Tak ada sms-sms yang bertanya aku sedang dimana, jam berapa pulang, etc, etc… Pertama, karena sms antar negara itu muahaal (meski mama papa ku suka sekali membuang pulsa untuk sekedar pamer kalau mereka lagi pacaran berdua, atau lagi marahan hehe πŸ˜‰ ). Kedua, perbedaan waktu yang cukup panjang antara Indonesia – Belanda, agaknya alasan ini yang lebih tepat hingga keberadaan ritual wajib magrib itu tak berlaku lagi buatku. Magrib di Belanda sudah berarti tengah malam di tanah air. Nah, begitu aku kembali ke tanah air.. hadeuhhh… ritual itu kembali berlaku :-p

salah satu winter nights ku πŸ™‚ ngajakin teman-teman Afrika nonton pagelaran seni budaya Indonesia di DELFT TU

Malam di Rotterdam tak pernah sama. Saat musim dingin hadir, malam begitu cepat datang mengusir matahari yang memang suka tak hadir. Gelapnya pun tak mau pergi cepat-cepat. Pulang kuliah jam 6 saja sudah terasa gelap dan dingin, apalagi jika beruntung mendapat hujan salju! Haha bisa beku di awal malam dengan pipi yang semakin chubby saja karena blush on pink yang disapukan oleh angin super dingin πŸ™‚

Malam yang dingin di musim dingin itu kadang membuatku begitu malas beranjak dari kamar yang hangat, padahal aku punya banyak kegiatan seperti les bahasa belanda di ibu Djena dan juga pengajian. Selama malam-malam bersalju itu pula aku berhenti bersepeda. Biasanya aku dan temanku berangkat les dengan bersepeda, tetapi bersepeda di atas lapisan salju yang mengeras menjadi es yang licin membuatku takut. Akhirnya, saat lapisan salju itu benar-benar menjadi lapisan es, aku berhasil membujuk temanku untuk berjalan kaki saja ke ibu Djena dengan catatan kami harus berjalan cepat-cepat (mana ada yang bisa berjalan cepat di atas es yang licin tanpa terpeleset jatuh?) dan menghindari eye contact dengan preman yang mungkin kami temui di pojok jalan gelap.

Sekolahan tempat aku dan temanku itu belajar bahasa belanda memang di daerah migrant, untuk ke sana kami harus melewati jalan pintas yang sepi, yang dengar-dengar katanya suka banyak preman nongkrong. Makanya lebih aman kalau ke sana dengan bersepeda (aku punya pengalaman soal preman tak jelas ini haha πŸ˜€ baca sampai akhir yak!). Tetapi sepertinya preman Rotterdam juga takut dinginnya malam yang bersalju hingga tak pernah kami berpapasan dengan preman iseng selama musim dingin itu πŸ˜€ Pernah pula aku dan mbak Fifi menggigil kedinginan di pojokan Rotterdam Central Station hingga aku mentraktir mbak FI segelas kopi panas. Malam itu aku meminta mbak Fifi menemaniku menunggu teman baruku yang ingin sekali ikut pengajian di mesjid Indonesia. Rotterdam Central Station menjadi pilihan tempat kami bertemu karena dekat dari Weena dan juga dekat dari apartmentnya. Tak apalah kedinginan oleh angin penghujung musim dingin demi seorang teman yang ingin belajar agama πŸ™‚

Rotterdam di malam hari memang terlihat dan terasa lebih aman dibandingkan dengan tanah air di malam hari. Mungkin karena aku tidak bisa berbahasa belanda jadi tidak pernah tahu berita kriminal yang terjadi di malam hari. Ujung-ujungnya setiap keluar malam hari ya rasanya aman-aman saja. Cuma beberapa tempat yang membuatku agak was-was, salah satu nya dari Wah Nam Hong menuju Rotterdam central, konon katanya di sana suka banyak junkies (yang lagi-lagi warga migrant). Pernah ada teman yang mengingatkan untuk tidak lewat di jalan kecil itu begitu malam menjelang. Sepinya jalanan tidak begitu menakutkan dibanding diganggu preman yang cuma bisa berbahasa belanda :-p

Dan memang aku tidak pernah diganggu orang iseng ketika berjalan sendiri di malam hari. Nyaman-nyaman aja pulang malam sendirian. Seperti waktu itu, aku pulang sendirian sehabis mengikuti workshop batik di Β Historisch Museum menjelang tengah malam (aku dan temanku berpisah ke arah yang berbeda di Rotterdam central Station). Trik nya aku sengaja membenamkan kepala ku dalam hoodie winter coat ku jadi tak ada yang bisa melihat jelas kepalaku yang berjilbab di bawah temaram cahaya lampu jalan. Trik lainnya adalah berjalan lah secepat mungkin dan jangan melayani obrolan orang yang tidak dikenal (never talk to a stranger, ajaran mama nih!). Pernah aku disapa oleh (lagi-lagi) warga migrant saat pulang kemalaman, aku cuma jawab “sorry, i don’t speak Dutch” sambil berlalu dengan setengah berlari. Satu lagi, avoid eye contact with strangers!

Berbeda dengan malam-malam musim dingin yang begitu panjang (sebenarnya yang lama itu adalah gelap nya, karena matahari berada pada kondisi paling malas untuk bersinar :-p waktu malam nya tetap saja dihitung mulai sejak jam 6-an hingga jam 6-an lagi). Malam-malam di musim panas justru begitu pendek. Jam sebelas malam saja masih terang benderang. Pada malam yang masih terang benderang inilah aku paling berani sepedaan sendirian πŸ˜€ Pertama, karena jam 11 malam itu jalanan relatif sepi. Walaupun sepeda punya jalur sendiri, aku masih suka takut denger bunyi motor gede yang menyusul sepeda ku. Kedua, walaupun sudah larut malam, suasananya seperti sore saja, terang benderang. Jadi aku tidak takut pulang dari mesjid sendirian πŸ™‚

Habis pengajian langsung ke Casino! hehe engga kok πŸ™‚ cuma mampir berpose aja πŸ™‚

Tetapi malam yang pendek dan siang yang begitu panjang itu tak ayal membuat tubuhku bingung. Terutama saat ramadhan datang. Adzan magrib baru berkumandang sekitar jam 10-11 malam. Alhasil pernah aku dan roommie ku ketiduran dan tidak punya nasi untuk berbuka puasa πŸ˜€ Kejadiannya sepele, waktu itu kami memutuskan untuk tidur siang (padahal itungannya sudah sore) dan memasak nasi nya menjelang berbuka saja. Bukannya bangun on time seperti yang direncanakan, eh malah bablas! Kami baru bangun tidur saat orang lain mungkin sudah mencuci piring sehabis berbuka puasa. Akhirnya nodong tetangga minta jatah preman, eh jatah nasi πŸ˜€

Selama Ramadhan dengan malam yang super pendek dan siang yang super panjang itu pula ibadahku agak bolong-bolong 😦 Bukan puasanya, alhamdulillah puasa ku full kecuali satu minggu yang wajib off itu (sepertinya utang puasa ku cuma 2 hari deh :D), melainkan ibadah shalat tarwih & witirnya. Karena malamnya yang super pendek itu, aku memutuskan untuk mengerjakan shalat isya, tarwih dan witir pada saat menjelang sahur saja. Tetapi kenyataannya aku cuma berhasil menunaikan shalat Isya ku saja, lainnya bolong-bolong 😦 Alibi ku cuma waktu malam yang pendek & waktu berpuasa yang belasan jam itu mau tak mau membuat tubuhku letih sekali. Biasanya sehabis berbuka puasa, shalat magrib dan mengaji aku akan segera tidur dan bangun menjelang sahur sampai selesai shalat subuh. Rupanya alokasi waktu menjelang sahur itu tak cukup untuk melaksanakan shalat isya, tarwih 8 rakaat dan witir 3 rakaat 😦 Seingatku cuma sekali aku berhasil melaksanakan shalat tarwih & witir berjamaah, di hari penghujung ramadhan. Padahal teman-temanku yang lain selalu shalat tarwih & witir berjamaah di lantai 5! Sedihnya..sob..sob…sob…

Tarwih berjamaah terakhir di Rotterdam

Malam-malam di Rotterdam punya banyak cerita lain. Salah satunya siaran radio online yang digagas tetanggaku si opung Rudi. Dengan memanfaatkan kecepatan transfer data internet yang super canggih, awalnya radio kami cuma sebuah event di fesbuk dimana warga kampung pinggir rel (begitu kami menyebut diri kami yang tinggal di weenapad, apartment khusus student di pinggiran rel dekat central station) bisa meng-upload video dari youtube, men-tag teman-teman dan berkirim ucapan dan comment-comment konyol. Salah satu nama yang paling happening waktu masa jaya radio itu adalah “for you there” hehehe πŸ˜€

Owyaa, radio kami itu diberi nama radio Weena 53fm. Lalu salah satu penyiar nya menemukan domain gratisan untuk radio online! Makin canggih lah radio kami itu, mengudara di saat tak ada tugas kampus atau malah di saat stress melarikan diri dari tanggung jawab lahir bathin yang disebut thesis πŸ˜€ Semakin seru karena page radio yang baru itu menyediakan chat room buat interaksi para pendengar nya πŸ˜€ Lalu aku bilang sama salah satu penyiar nya kenapa tidak menghubungkan radio itu dengan skype nya? Sehingga para pendengar bisa request lagu-lagunya on air online πŸ™‚ Ujung-ujung na suaraku yang request on air-online, dikerjain penyiar judulnya :-p Pendengar radio kami makin banyak, tak terbatas pada warga kampung rel saja, tetapi student-student hingga mbak-mbak warga Rotterdam lainnya. Bahkan ada tuh yang kirim-kirim lagu sampai ke Jerman segala πŸ˜€ Sayangnya radio kami terpaksa dibangkrutkan dan diganti dengan Pasar Rombeng Weena. Alasannya karena pressure untuk menyelesaikan thesis semakin tinggi dan orang-orang butuh ongkos pulang ke tanah air hingga harus menjual perabotannya, ehhh ??? πŸ˜€

dinner party at one of my friend's house

one of the nights when we had mas deva's belated birthday party. Aku juga kebagian kado dari mereka coz ultahku n mas deva deketan πŸ™‚

Aku juga pernah memecah keheningan malam di apartemen pinggir rel itu (lantai 3 khususnya) dengan alarm kebakaran (pendeteksi asap lebih tepatnya). Β Ceritanya malam itu aku lagi multitasking: memasak, menyetrika, nonton How I Met Your Mother. Biasanya kalau multitasking yang melibatkan beberapa lokasi seperti kamar-dapur, aku tidak pernah menutup pintu kamarku rapat-rapat. Tetapi malam itu aku menyalakan kompor listrik itu untuk merebus fillet ayam, lalu beranjak ke kamarku, menutup pintunya, lalu menyalakan setrikaan+laptop, menyetrika dan nonton di saat bersamaan.

Tahu kan klo Ted Morsby itu cakep sekali dan Barney si womanizer alias pleiboi kampung itu menyebalkan banget? maka aku larut dalam tontonan lucu itu sambil terus menyetrika baju-bajuku. Menjelang tengah malam, terdengar suara bel. “sapa sih yang malam-malam begini datang? ga bakal deh dibukain pintu” begitu bathinku waktu itu. Eh makin lama suara bel itu makin terdengar keras dan kencang. Aku berlari membuka pintu kamarku dan mendapati lorong berbau asap! Ya Allah! dapur sudah penuh asap! Aku hampir saja membakar unit apartemenku dengan kecerobohanku! Aku lupa dengan fillet ayam itu huhu 😦 Fillet ayam & panci nya GOSONG menjadi KERAK yang SEMINGGU kurendam tak BERSIH juga! Segera kubuka jendela dapur lebar-lebar, asap nya benar-benar berbau gosong! Ternyata suara yang kukira suara bell adalah alarm pendeteksi asap! untung saja waktu itu tak sampai terjadi kebakaran.. kalau saja… Ah, Ted Morsby harus bertanggung jawab :-p

Dapur itu bisa disebut ruangan favoritku karena di sana aku belajar memasak, mengundang teman-temanku dan bahkan camping saat suasana kamar terlalu kondusif untuk tidak belajar :-p Di sana aku memasak & belajar ditemani lagu-lagu dari radio combo yg aku “rampok” dari rumah tanteku di Spijkenesse πŸ™‚

Malam-malam Rotterdam pernah menjadi begitu membuat penasaran! Yaitu malam ketika aku menunggu salju pertama ku turun! Bolak balik aku melirik ke arah jendela kamarku, memastikan weather forecast yang kubaca bahwa malam itu akan turun salju menjadi kenyataan. Dan benar saja, malam itu (mungkin lebih tepatnya dini hari), aku melihat salju pertama ku turun, meski tipis, meski sebentar, rasanya tak terlukiskan, speechless! Dan beberapa menit setelah salju pertama itu turun, tembok-tembok di facebook penuh dengan postingan mengenai salju πŸ™‚

Malam-malam di Rotterdam juga berarti tidur dengan lampu temaram dari gedung-gedung di sekitar Rotterdam Central Station πŸ™‚ Aku terbiasa mematikan semua lampu dan membiarkan gorden jendela terbuka lebar, dan terkadang suka iseng menghitung cahaya lampu yang berwarna biru di antara lampu-lampu lain dari gedung tinggi di seberang hotel Manhattan itu, dengan logo NL nya yang berwarna oranye besar itu. Bisa dibilang itu adalah lampu tidurku dan pengganti bintang-bintang πŸ™‚

Ini kamarku waktu window sill nya belum penuh dengan pernak pernik ku πŸ™‚ seingatku cuma sekali aku menutup gorden itu, waktu Rotterdam badai dan aku takut kilatan petir

Well, malam di negeri asing justru terasa aman buat ku. Tak pernah aku mengalami kejadian buruk setiap kali harus berjalan seorang diri di malam hari. Pernah ada beberapa kejadian tetapi tidak bisa disebut buruk juga πŸ™‚ Salah satu nya cowo (lagi-lagi) migrant yang mabok di dalam metro dalam perjalanan ku dari Spijkenesse kembali ke Rotterdam Central Station. Waktu itu aku hanya sendirian sehabis berkunjung ke rumah tanteku. Sebenarnya malam itu masih terang benderang, sekitar jam 9 malam, summer nights. Seorang pria negro yang mungkin naik di halte Portugal, berjalan sempoyongan dan menabrak-nabrak tiang dalam metro dari arah belakangku. Ya Tuhan, cowo ini mabok! Aku duduk sendirian dan cuma ada beberapa orang di gerbong itu. AVOID EYE CONTACT! Begitu perintah batinku ketika si cowok mabok itu berbalik arah lagi ke arahku dan duduk di kursi persis di belakangku. Cukup lama aku ketakutan hingga si cowo negro yang mabok itu turun setelah melewati beberapa halte kemudian. Aku ingat, begitu turun dari metro aku langsung berlari kencang dari Rotterdam central menuju Weena πŸ™‚ Meskipun saat itu masih terang benderang, tetapi tetap saja hitungannya sudah malam hari!

Pengalaman terakhir dikejar orang tak jelas di malam hari, yang juga lagi lagi warga migrant, adalah di malam terakhir aku ke mesjid untuk berpamitan dengan ibu-ibu dan mbak-mbak ku di pengajian keluarga mesjid ISR. Ceritanya hari itu aku ke Groningen bersama dua temanku, traveling terakhir di negeri belanda sebelum pulang ke tanah air. Pulangnya, sehabis magrib aku dan mbak Fifi langsung mengayuh sepeda kami menuju mesjid. Nah, kejadiannya adalah pada saat kami pulang dari mesjid. Waktu itu di perempatan depan supermarket BAS, sambil menunggu seorang teman lain yang ingin menginap di apartemen kami, aku dan mbak Fi berhenti dan bermain-main dengan sepeda-sepeda kami. Kebetulan saat itu aku membawa kameraku, jadilah kami berfoto-foto dengan sepeda-sepeda tercinta itu. Β Maksudnya sebagai kenangan karena kami akan berpisah dengan sepeda-sepeda yang sudah menemani kami perpetualang seru ala Lima Sekawan nya Enyd Blyton di Belanda sana.

Pada saat aku berpose sambil mengayuh Classy sepedaku, seorang cowo (migrant lagi euy, kykna yg iseng & jahil mreka aja yak??) muncul entah darimana dengan sepedanya juga. Dia menggumankan sepotong kalimat yang bagiku terdengar seperti tawaran “BURGER”. Spontan aku menilik sepedanya. BURGER? kok di sepedanya engga ada box BURGER? Aku bilang “no thanks” dengan nada kuatir. Ehhh ternyata yang dia tawarin bukan BURGER hahaha πŸ˜€ melainkan PICTURE!! FYI: sometimes it’s really hard to understand african english, their spelling is somehow a bit tough for your ears πŸ™‚

He wanted to take our picture ! Oalaaahhh ngeri lah yauw! Difotoin oleh orang asing di tengah jalanan yang sepi, malam gelap pula, mana tuwh cowo maksa banget! Entah bagaimana waktu itu kejadiannya, yang jelas aku langsung nekat ngebut mengayuh sepedaku secepat mungkin menjauh dari si orang aneh itu ! Aku ingat mbak Fifi berada di belakang ku dan berteriak untuk tidak bersepeda ngebut dan ketakuutan begitu πŸ™‚ Mana aku peduli dengan teriakan mbak Fifi, rasa takutku waktu itu melebihi segalanya hingga aku yang tidak pernah sekalipun ngebut bersepeda, tiba-tiba saja nekat haha πŸ˜€

Ini foto yang diambil sesaat sebelum kami dikejar preman edan itu, lokasi nya tepat di depan supermarket BAS. dan baru nyadar, ternyata aku ngebut dengan memakai rok itu ya?

Sampai di apartemen, kami seperti tak bisa berhenti tertawa menertawakan kekonyolan dan ketakutan kami di jalan itu πŸ™‚

Well, itu adalah penggalan dari malam-malam terakhir ku di Rotterdam. Lalu kemudian cerita tentang malam-malam itu berganti dengan malam yang sibuk dengan kegiatan mengosongkan kamar, menyimpan semua benda-benda yang sudah menjadi ornamen kamar superbesar ku selama setahun, packing, hingga kamar itu terlihat sepi tanpa ada jejak kami, persis seperti waktu awal kedatangan kami dulu….

And then after my hundreds of nights in Rotterdam, I had to say goodbye and bid them farewell. This part makes me so sad 😦

Advertisements