Silver white winter that melt into spring, these are a few of my favorite things…

Baru setelah urusan perthesisan dan pendaftaran acara wisudaku yang kedua, aku punya waktu luang untuk menuliskan cerita lain dari hari-hari seru ku sewaktu di Eropa dulu. Bukan kenapa-kenapa siy, bukan karena sahabat-sahabatku yang bertanya cerita jurnal perjalananku selama di sana tetapi karena Jogja hujan terus di waktu sore hingga malam. Hujan yang bulir-bulir airnya membuat basah kuyup, yang ketika bercampur dengan aneka polutant perkotaan menciprati jeansku dengan noda-noda berpasir. Aku tidak suka hujan yang seperti itu. Maka hari-hari terakhir di Jogja menyisakan banyak waktu untukku dan mbak fifi membuka album-album foto setahun lalu. Serasa kembali berada di apartemen student weenapad, mengulang cerita-cerita dulu, tertawa saat satu foto mengingatkan kami peristiwa konyol di foto itu lalu berkomentar betapa baiknya teman-teman yang ini dan sebal mengingat teman-teman yang lain berubah menjadi pribadi yang tidak menyenangkan saat di Belanda sana. Well, people change. Mungkin kami pun ada kala nya menjadi pribadi yang menyebalkan selama di sana…

*****

Winter 2010, Weenapad, apartemen pinggir rel yang kami tempati itu terasa sepi karena hampir semua student bepergian selama liburan musim dingin waktu itu. Sebagian besar bepergian ke negara-negara Eropa lainnya yang lebih hangat dibanding Belanda di saat winter. Tetapi buatku yang gadis tropis tulen, yang notabene belum pernah bersentuhan dengan salju, keputusan untuk tetap tinggal di Rotterdam dan menikmati dinginnya kota yang bersalju selama winter itu merupakan keputusan yang tepat.

Pertama, karena salju cuma mampir sebentar, seingatku saat malam pergantian tahun 2010-2011 nyaris sudah tak ada salju yang tersisa. Kedua, tabunganku dari uang jajan yang diberi pemerintah Belanda waktu itu masih pas-pasan (aku boros belanja baju, coat, boot dan makanan hehehe 😀 ), sebenarnya sempat aku berencana travelling bersama temanku yang lain ke satu sudut Eropa menyusuri peninggalan-peninggalan Islam di benua itu tetapi lalu aku batalkan. Uangku cukup siy sebenarnya untuk rencana traveling itu, tetapi salah satu prinsip keuangan perantau yang sudah lama aku terapkan agaknya terbawa sampai ke negeri kompeni: at least harus punya tabungan untuk tiket penerbangan sekali jalan, just in case aku harus mendadak pulang. Ketiga, winter itu rencananya mau fokus mengerjakan thesis karena jadwal perthesisan untuk mahasiswa program Double Degree sebulan lebih awal dibanding mahasiswa lain di kelas yang sama, but this reason was really b*llsh*t hahhaa, I don’t think one of us who stayed in Weenapad during that holiday was doing his thesis writing 😀 Keempat, Rotterdam yang dingin bersalju, aku menyukainya 🙂

Agak mono juga kalau tak kemana-mana selama liburan musim dingin itu maka kami pun membuat beberapa acara seperti baso party di unit apartemenku, jalan-jalan dan perang bola salju di rumah tanteku di Maaswijk dan ke Paris di penghujung winter. Beberapa teman berinisiatif menyusun rencana shopping day ke kota tetangga Delft. Iya, menurut beberapa sumber yang telah melakukan survey kecil-kecilan, harga souvenir di Delft lebih murah dibanding di Rotterdam (tapi itu sebelum aku tahu kalau belanja souvenir di Xenos yang ada di centrum juga murah meriah gonjreng :-p catatan: murah dalam itungan euro loh ya :-p).

Adalah satu hari yang penuh salju, 27 December 2010, nyaris persis setahun yang lalu, perjalanan bersepeda 28km PP Rotterdam-Delft-Rotterdam di jalanan yang tertutup salju. Aku tadinya tak mau ikut, sadar diri dengan kemampuan dan keberanianku bersepeda yang masih sangat minim. Tetapi last minute aku putuskan bergabung dengan teman-temanku itu, keputusan yang….. hehehe hadeeeuhhhh ga tau mesti bilang apa 😀 baca terus deh sampai akhir 🙂

Pagi itu dimulai dengan mengecek segala persiapan, maklum waktu itu winter dan Delft, walaupun terbilang tetangga, tetap saja letaknya di luar kota. Pakaian berlapis-lapis ditambah coat, sarung tangan, boot dan kaos kaki hangat, sarung tangan yang waterproof (salju itu cepat meleleh ketika terkena hangat tubuh, apalagi aku yang penuh dengan kehangatan wekekekeke huekkk :-p), bekal makanan, pompa sepeda dan bekal euro tentu saja 🙂 Eh ada kejadian lucu pagi itu, salah satu teman yang tadinya berniat ikut tiba-tiba ngambek dan membatalkan niatnya gara-gara beberapa oknum menyebabkan keterlambatan acara jalan-jalan itu (xixi 😀 eh bukan aku loh ya! Well, ternyata yaaaa…walo cewek itu suka ribet n lama klo dandan, tapi cowo justru yang sering telat apa-apa :-p). Clue-nya: pelaku pembatalan adalah orang yang sama dengan orang yang ketinggalan pesawat saat kami berangkat ke Belanda setahun lalu itu hahaha 😀

By the way, hampir semua orang yang tahu kalo kami bersepeda ke Delft winter itu bilang “What? That’s crazy!”. Dan mendengar komentar orang-orang itu nyaliku langsung ciut tapi teteup pasang muka (pura-pura) berani, pantang mundur hehehe 😀 And so those people were right! We were quite crazy! Mamaaaa, jalanannya bener-bener licin dan sepi! Beberapa kali aku harus turun dari sepeda karena jalur sepeda yang tertutup salju tebal menjadi licin sekali. Bahkan berjalan menuntun sepeda pun harus hati-hati karena lapisan salju yang mengeras menjadi es lebih licin lagi, bahkan untuk boot-boot winter yang solnya didesain khusus itu. Kami benar-benar seperti orang-orang yang kurang kerjaan menuntun sepeda melawan udara dingin dan terseok-seok melangkah di jalanan bersalju tebal (IMO loh yaaa, pelaku lain di cerita ini dilarang protes :-p).

These are the crazy people on this story, minus the photographer

another shot of the crazy people hehe 😀

Iring-iringan kami sempat nyasar dalam perjalanan 28km bersalju itu. Kecanggihan teknologi yang tidak dibarengi kecanggihan usernya hehehe 😀 Adalah gadget yang bernama galaxy tab dengan fitur GPS canggihnya yang membuat kami nyasar. Sepertinya si empunya gadget salah membaca GPS nya, maka nyasarlah kami dengan sukses 😀 Sudahlah udara sangat dingin, jalanan licin, nyasar pula! Pipi chubby ku sudah dingin seperti balok es, warnanya pasti sudah pink memerah. Tetapi tetap saja seru, tertawa menertawakan kekonyolan kami, berhenti di setiap sudut jalan yang menarik dan berfoto-foto sambil menikmati bekal yang kami bawa dari Rotterdam. Akhirnya kami memilih untuk memakai cara travelling konvensional alias bertanya kepada penduduk setempat, lebih efektif hehehe 😀

She was so happy & cheerful on her way to Delft, didn't have any idea what she's goin' through on the way back home 🙂

Manyun, nyasar dan kedinginan

Anyway, view sepanjang jalan yang kami lewati itu worth it sangat. Indaaaahhh sekali sudut-sudut Belanda yang didominasi warna putih salju itu. Btw soal warna putih, jadi inget adikku pernah bilang kalau waktu dia dinas di bagian kejiwaan dan berhadapan dengan pasien-pasien yang mengalami gangguan kejiwaan, dia tidak boleh memakai kerudung bewarna-warni, harus putih polos. Kenapa? Cari tahu sendiri yaa 😉 Balik lagi ke cerita perjalananku waktu itu. Sepanjang perjalanan 28km bersalju itu semua yang kami lihat terasa indah. Ada peternakan kuda poni, areal pertanian yang putih tertutup salju, sungai-sungai kecil yang pinggirannya mulai membeku. Bersepeda sambil menikmati hamparan view berupa perahu-perahu yang ditambatkan di dek-dek di halaman depan rumah-rumah pedesaan Belanda, bebek-bebek yang tetap berenang mencari celah di bekunya air, ranting-ranting tak berdaun, tiupan angin dingin, salju yang tebal.. Ahh winter itu adalah saat semua keindahan membeku dibalut romantisnya salju …

on the way to Delft, salju di pinggiran sungai

on the way to Delft, tranquility...

Restoran di desa yang kami lewati dalam perjalanan 28km bersalju

Lalu kekonyolan dan serunya perjalanan itupun berlanjut. Kali ini pemicu nya adalah seorang bayi besar yang mendadak sok tau hanya karena sebelum perjalanan itu dimulai sempat browsing sedikit banyak tempat-tempat di kota kecil Delft! Tujuan utama kami ke delft waktu itu adalah untuk shopping oleh-oleh buat semua yang menuntut adanya oleh-oleh saat kami pulang ke tanah air nanti. Nah, si bayi besar yang tadinya tidak ingin ikut dalam kelompok bersepeda ini sudah browsing tentang tempat-tempat belanja souvenir di Delft, tentang centrum nya dan toko-toko yang menawarkan harga murah (murah itungan euro :-p). Dia pun sudah tanya-tanya beberapa temannya yang pernah ke kota itu. Hehe 😀 bagaimana mau melanjutkan cerita ini yak ? Intinya, si bayi besar berhasil membuat teman-temannya percaya bahwa ada satu centrum lagi dimana semua tokonya menjual souvenir lebih murah. Dan ga tau juga ya, apa teman-temannya yang mendadak ga bisa mikir (mengingat mereka itu lebih pintar membaca peta dan punya gadget super canggih itu lohhh xixixi 😀 ) atau si bayi besar yang jagoan membuat orang lain yakin… Alhasil rombongan itu bolak-balik muter-muter ga jelas dari centrum yang sesungguhnya ke centrum versi si bayi besar yang ternyata salah itu. Ujung-ujungnya si kepala rombongan yang sudah terlanjur kesal mengultimatum bahwa waktu belanja souvenir dibatasi Cuma sekian puluh menit saja! Whewww! Panik deh, langsung ngacir balik lagi ke toko-toko di centrum kota Delft itu, bergerak cepat menyelamatkan souvenir-souvenir untuk dibawa pulang ahahaha 😀 Maaphkan si bayi besar yak teman-teman 🙂

toko-toko souvenir di Delft

 

Girl with pearl earing yang terkenal itu ada di Delft

Selesai berbelanja, ada satu agenda lagi di hari dingin bersalju itu, yaitu shalat zuhur di mesjid yang ada di kota Delft itu. Sempat terjadi perseteruan antar anggota kelompok geng, ehhh apa siyyy ? 😀 Nope, sempat berantem kecil di pinggir jalan di depan stasiun utama kota itu, menentukan pilihan shalat, apakah nebeng shalat di kampus IHE-Unesco yang terletak persis di depan centrum atau tetap melanjutkan perjalanan bersepeda menuju mesjid yang waktu itu belum pernah kami datangi. Akhirnya pilihan jatuh pada shalat zuhur di mesjid. Dengan agak sedikit dipaksa ngebut, mengingat hari yang cepat gelap di saat winter itu, kami pun bersepeda lagi menyusuri jalanan utama kota Delft untuk mencari mesjid yang dimaksud. Aku? Hahaha 😀 jangan ditanya, sudah mulai berasa capek dan pegelnya tapi malu bilang capek dan takut dicap manja hehe 🙂

Akhirnya, shalat berjamaah juga di mesjid di kota Delft 🙂

Akhirnya sampai juga di mesjid itu. Di sana kami shalat dan beristirahat sejenak meluruskan kaki yang sudah mulai ga karuan rasanya, menghangatkan badan dari udara luar yang dingin sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Rotterdam. Nah yaa, dari mesjid ini aku sudah mulai kehilangan semangat untuk mengayuh lagi sepedaku, tapi bagaimana pun aku kan harus pulang, ga mungkin menginap di kota yang sama sekali asing bagiku itu 🙂 Mengenai hal ini, aku Cuma ingat kejadian-kejadian di masa kecilku. Bercerita sedikit yaa! Dulu waktu aku kecil, mama sering memintaku ke warung membeli gula atau minyak goreng, sebelum berangkat ke warung aku meminta mama menyebutkan kalimat apa yang harus aku ucapkan ke pemilik warung dan menghafalkan “bu, beli gula nya satu kilo” sepanjang jalan. Lalu aku juga selalu bertanya kepada mama “kalau minyak dan gulanya ga ada gimana, ma?” yang selalu dijawab mama “ya kamu pulang, jangan nginap di warung itu :-p!”.Owkayy, ingat itu aku pun bertekad “hayuk pulang!” hehe 🙂

Sedikit berbeda dengan perjalanan dari Rotterdam menuju Delft, perjalanan pulang dari Delft kembali ke Rotterdam benar-benar menguras energi dan emosi. Gelap yang terlalu cepat datang membuat perjalanan terasa sedikit menyeramkan karena jalanan yang semakin sepi, tak ada yang bersepeda lagi di malam hari yang dingin membekukan itu. Tubuh-tubuh mulai kelelahan karena diajak mengayuh sepeda di jalanan yang sering tiba-tiba menghilang karena tertutup salju tebal. Ujung-ujung jari yang mulai kehilangan rasa karena lembab dan dinginnya embun yang muncul akibat hangatnya suhu badan dibalik sarung tangan yang basah karena salju. Hampir tak ada lagi tawa di perjalanan pulang itu. Masing-masing kami tampaknya sibuk dengan pikiran masing-masing, mungkin sibuk membayangkan nyamannya tidur di balik hangatnya duvet dan heater yang distel dengan suhu maksimum, tidak di jalanan yang sepi itu, kedinginan mengayuh sepeda. Aku ? Hahaha 😀 I was busy fighting against my fear!

Saat semua orang mengayuh sepedanya secepat mungkin agar bisa segera sampai di apartemen yang hangat, aku berjuang memompa semangatku agar tetap bisa mengayuh sepedaku. Di tanjakan pertama yang berupa jembatan perlintasan sepeda itulah sepedaku (atau pengendaranya?) mulai bermasalah. Beberapa waktu sebelumnya aku sempat terjatuh di depan Rotterdam central station dan Classy, satu tonjokan stang sepeda meninggalkan codet kecil di sudut mataku dan sepedaku itu terbanting cukup keras hingga kap penutup rantai dan pedalnya itu sedikit bergeser dari posisinya semula. Nah, mungkin gara-gara itu sepedaku jadi susah sekali dipakai untuk melewati tanjakan. Teman-teman yang baik hati itu menawarkan untuk berganti sepeda, tetapi kan aku hanya bisa dan terbiasa mengayuh Classy, sepeda lain tidak. Apalagi sepeda yang tidak dilengkapi rem tangan, bisa nyuksruk nancep di timbunan salju deh tuwh, ngebayangin sneuwpoppen xixi 😀 Akhirnya tanjakan itu berhasil dilewati dengaaaaannnn… tadaaaa! Tanjakan itu berhasil dilewati dengan turun dari sepeda dan menuntun sepeda itu sampai tanjakan itu berubah menjadi turunan hehehe 😀 If every step is an uphill climb, carry on untill they feel much lighter..la..la..la..la… That song is so damn true! 🙂

they were trying to fix Classy, Thank you guys 🙂

Setelah tanjakan panjang itu terlewati energi benar-benar terkuras. Lemes, lelah dan dingin sekali rasanya. Teman-teman terus menyemangatiku. Hingga akhirnya karena kayuhanku yang semain melambat, kami terpaksa berhenti di satu titik. Teman-teman berusaha mencari tahu apa yang salah dengan sepedaku. Di pinggir jalan itu Classy terpaksa dibongkar, untungnya ada yang membawa perlengkapan bongkar-bongkar sepeda. Kap rantai Classy terpaksa dilepas karena nyangkut terus di pedalnya. Itu siy bukan apa-apa, ada yang lebih konyol :-p Ternyata cincin karet dengan angka di stang sepeda itu ada gunanya yaaa? Hahaha, kemana saya selama ini 😀 Bo! Aku baru tahu kalau itu yang namanya gear sepeda dan bisa distel sesuai kondisi jalan. Sepertinya tadi itu aku terus mengayuh sepeda dengan settingan gear untuk jalanan datar! Makanya jadi berat sekali mengayuh sepeda itu! Yah tapi kan aku sadarnya telat, sudah keburu kelelahan karena mengayuh sepeda dengan settingan gear yang salah :-p

Beruntung sekali aku selalu bersama teman-teman yang baik hati itu, sabar dan benar-benar ngemong ke aku yang bawaannya rewel dan manja 🙂 Coba ya kalo waktu itu aku jalannya bareng teman-teman lain yang ga seperti mereka, hampir bisa dipastikan aku pasti sudah dibentak-bentak atau malah ditinggal di tengah jalanan sepi karena dianggap merepotkan saja, terus aku nangis bombay deh sambil lari-larian di antara pohon-pohon yang meranggas kedinginan huhuuuuu.. Eh kenapa jadi bollywood begini? Hahaha 😀

Nah setelah bongkar-bongkar classy di pinggir jalan itu kita lalu melanjutkan perjalanan. Dasar aku badannya aja yang gede, but I’m not a super girl like those who are able to manage their energy for biking on such a long route, biasa ngebut ato apalah lain-lain yang menantang adrenalin 🙂 Belum berapa jauh mengayuh sepeda, aku ngadat lagi hehe 😀 Sumpah, rasanya capek sekali. Kembali teman-temanku itu dengan sabar menunggu ku, bahkan berbagi tugas mengawalku dan membawa ranselku yang penuh dengan souvenir-souvenir itu. Semua menyemangatiku dan berusaha mencari cara biar semua bisa selamat kembali ke Rotterdam 🙂

Duhh sungguh waktu itu aku ga enak hati sama semua teman-teman dalam rombongan bersepeda itu. Perjalanan 28km bersalju itu benar-benar membuatku putus asa 😦 Setiap kali melewati halte bus, aku seperti ingin menyerah saja pulang dengan menumpang bus sampai Rotterdam. Tetapi kan sepeda dilarang masuk bus ato tram. Sepeda Cuma boleh masuk metro dan kereta, itu pun di gerbong yang bertanda sepeda dan jadwal-jadwal khusus. Nah untuk balik lagi ke stasiun kereta rasanya jauuuuuuuuuhhh sekali. Sebelum sampai sana mungkin aku sudah pingsan di tengah jalan. Salah satu temanku itu malah menawarkan untuk menuntun sepedaku sampai Rotterdam dan aku disuruh naik bus saja. Baik sekali bukan ?? Tapi kan walo aku manja, rewel dan sering merepotkan, engga setega itu juga kali 🙂 Akhirnya aku paksakan mengayuh sepedaku, sambil dalam hati berjanji engga akan bersepeda jarak jauh lagi di saat winter!

Mereka selalu mengecek kondisi ku, melontarkan canda ke arahku dan terus menyemangatiku agar tetap mengayuh sepedaku. “Nanti kalo ada yang jualan coklat panas, kita berhenti dulu, biar mbak Deary bisa beristirahat ya?”, begitu ucap ketua rombongan waktu itu 🙂 Hwaaa mereka itu benar-benar teman yang sabar sekali menghadapi aku 🙂 Beruntung dulu aku juga satu kelompok dengan mereka waktu tugas studio ke Salatiga. Kebayang dong capeknya harus naik sepeda motor dari Jogja-Salatiga padahal aku baru saja landing dari dua penerbangan Padang-Jakarta-Jogja. Tetapi ya itu, mereka selalu mengecek kondisiku, apakah aku capek atau lapar 🙂

hehe bisa senyum lagi setelah minum coklat panas 🙂

Benar saja kami menemukan satu toko bakkery kecil dalam perjalanan pulang yang melelahkan itu. Sesuai janji teman-temanku itu, kami pun berhenti untuk secangkir coklat panas serta cemilan manis Belanda dan beristirahat sejenak. Seru juga deh, ngobrol-ngobrol dengan pegawai bakery, si cowo migrant keturunan India yang antusias sekali mendengar obrolan kami tentang tanah air tercinta, Indonesia. Aku sendiri benar-benar bersyukur kami menemukan bakery itu, asupan coklat panas dan kue-kue kecil nya sedikit banyak membantuku mengusir rasa capek dan dingin.

Dan perjalanan pun dilanjutkan. I feel a bit better after that hot chocolate 🙂 Iya siy, kecepatan ku mengayuh sepeda masih belum stabil dan betis rasanya beraaaat banget. Tetapi teman-temanku itu tetap menyemangatiku untuk terus mengayuh Classy. Aku lupa berapa lama perjalanan yang kami butuhkan untuk bisa sampai lagi di Rotterdam waktu itu. Yang jelas malam sudah begitu gelap dan dingin ketika kami memasuki wilayah Rotterdam. Dan hatiku benar-benar berteriak senang ketika mataku mulai mengenali bangunan bergaris biru terang itu ! Supermarket Albert Heijn!! Yaaaiyyyy ! berarti apartment Weenapad, kamarku yang hangat dan homey itu cuma beberapa menit lagi saja 🙂 Semangatku langsung datang dan bergegas pula aku mengayuh sepedaku itu! Finally, home sweet home, home far away from home 🙂 Dan aku berhasil menuntaskan perjalanan 28km bersalju itu dengan selamat, engga jadi pengsan, engga jadi ngacir naik bus hehehe 😀

Travelling always teach you something 🙂 Travelling changes strangers to friends. It also shows you who your trully friends are 🙂 Coba lihat mereka yang bersabar menghadapi aku yang sedang kesusahan, mereka itu engga cuma ada buat haha hihi di masa-masa yang menyenangkan, tapi benar-benar ikutan prihatin dan menyemangati serta bisa diandalkan di saat-saat sulit. I owe them my deepest gratitude!

Nah teman, mungkin kalian mengenali salah satu wajahh di ceritaku kali ini. Mungkin pula kalian sedang memandangi oleh-oleh yang kalian peroleh dari salah satu wajah itu. Jika iya, selamat! Kalian mungkin saja mendapatkan oleh-oleh yang kami beli sewaktu perjalanan 28km bersalju itu 🙂

*****

Jogja 19 December 2011,

catatan dari pojokan Azarine yang miskin signal

Advertisements