Tags

,

Total sudah 11 hari proyek kecil house renewal-ku berjalan. Kusebut house renewal karena memang bukan proyek renovasi yang merubah bentuk rumah mungilku, melainkan hanya mengganti semua kusen, pintu, jendela, bebenah dapur dan mengecat ulang dinding-dindingnya. Jadi, kayaknya memang lebih tepat disebut renewal aja yak πŸ˜‰

Friends in Rotterdam says i should find a family man who will build a kitchen for me πŸ˜€ i built it myself πŸ˜€

Melirik kalender di kamar depannya yang berhenti pada bulan Maret 2009, total hampir 3 tahun rumah mungilku itu kosong tak terurus. Seharusnya begitu aku kembali ke tanah air, proyek house renewal ini sudah harus dimulai coz I need a place to stay, to keep all my belonging, yet privacy πŸ˜‰ So many obstacles I have to overcome since this is my very first time having kinda project. It feels like having flashback to March 2008, when I bought that little house and me myself had to 95 % handle everything related to mortgage, developer, property ownership bla bla bla… Ya iya cuyyy, yang mau mandiri and ga nebeng lagi kan situ, ya kudu situ yang gempor urus ini itu :-p Hehehe πŸ˜€ Tapi ya gitu, merencanakan dan melaksanakan proyek kecil ini buatku tidak begitu mudah.

Bukannya mau sok pinter apalagi pamer, dan bukan sotoy juga menulis tentang proyek berjenis β€œrenovasi bangunan” ini, aku hanya ingin berbagi β€œkeribetan-ku” saja. Semoga aja bisa ngasih gambaran buat para perempuan single (if you had spouse, just let him take over this crazy mess! Trust me! πŸ˜‰ ), yang awam tentang konstruksi dan renovasi, udah gitu sibuk pula merintis karir ihirrrr πŸ˜€ Mari sejenak membaca cerita house renewalku ini πŸ˜‰

Cermat dalam merencanakan, itu adalah kunci dari proyek apa pun, termasuk proyek ku ini. Kenapa harus cermat? Pertama, karena ada yang namanya budget constraint alias anggaran yang terbatas. Kedua, adalagi yang namanya time constraint. Klo kasus ku ini, time constraint nya ada dua: butuh cepat-cepat pulang ke rumah sendiri karena empet lihat barang-barangku yang masih di dalam koper super gede dan box-box verhuisdoos dari Rotterdam, terus hari-hari aku kan bekerja sehingga nyaris tidak bisa mengawasi langsung jalannya proyekku. Kalau lagi ga ada audit siy, bisa curi waktu siangnya dan ngacir ke rumah, kalo cabutnya pas ada audit kan bisa dijitak aku sama pak boss πŸ˜€

Lanjut soal kecermatan dalam merencanakan, berhubung limited budget, aku harus mengestimasi nilai uang dari setiap sudut rumah yang aku benahi. Terus karena engga berpengalaman itung-itungan dalam hal owner estimation, akhirnya aku minta tolong sama temanku. Supaya aman, aku minta dia menghitung dengan perkiraan harga maksimal, jaga-jaga aja kalo sewaktu-waktu harga material naik. Bener aja per 1 Januari ini harganya naik, untung 85% material udah kubeli. Nah setelah terima gambar dan ancar-ancar biaya kasar dari dia, mulai deh aku pilih-pilih point-point apa yang harus dikerjakan dan diprioritaskan. Owyaa, setelah sempet berdebat terus-terusan dengan temanku itu soal fengshui pintu yang dianggapnya kurang baik, akhirnya aku ngebandel dengan pilihan penempatan pintuku sendiri. Alasannya karena aku bisa save more space for kitchen stuff dengan lokasi pintu yang aku pilih, nanti kali ya klo punya rumah yang lebih luas baru deh diterapkan fengshui nya. Kata sepupu ku yang anak DKV, fengshui itu secara ilmiah memang ada benarnya juga kok πŸ™‚ but for this time being that’s not on my list yet.

pintu yang dicat dasar warna oranye itu konon fengshui nya ga bagus

Lanjut lagi –> hunting tukang. Beuhhh… kayaknya semua orang pada ngabis-ngabisin anggaran gitu yak? Sampai-sampai tukang menjadi the most wanted person di akhir tahun! Banyak siy tukang lain, tapi aku pilih yang direkomendasikan oleh orang-orang terdekat saja. Alasannya karena proyek ku itu akan berjalan nyaris tanpa pengawasan langsung dari ownernya, gw kerja dari pagi mpe sore gitu loh bo! Oleh karena itu harus nyari tukang yang benar-benar jujur, bisa dipercaya, rajin dan berdedikasi. Apalagi barang-barang pribadiku sebagian besar masih di sana. Untungnya setelah sempat pending-pending terus, akhirnya nemu trio tukang yang sekarang kerja di rumahku itu !

Owyaa, pastiin ya bayaran tukang nya dihitung dengan cermat: gaji, uang makan, pengeluaran lain seperti cemilan, kopi dan rokok. Ihhh sebel deh harus berdamai dengan rokok untuk sementara waktu >,< Klo kamu nanti sempat bertamu ke rumahku, peraturannya tetap sama: klo mau merokok di luar aja! Tapi untungnya tukang-tukang ku sopan semua, aku perhatiin mereka engga pernah pake toilet ku hehe πŸ˜€ Dulu tuwh ya pas benerin genteng tau kapan, tukang nya jorok pake toiletku seenaknya! Terus ya, walo pun perjanjian nya lo ga menyediakan makan siang untuk mereka, at least sediain kopi+cemilan deh. Laper tau kerja konstruksi gitu mah. Girly-girly begini aku kan sempet jadi anak teknik, pernah praktikum bikin beton & bikin adukan aspal juga loh :-p Jadi aku tau lah capek dan lapernya πŸ™‚ Tukang-tukang ku itu kalo lagi kerja serius banget, engga kayak tukang yang kerja di rumah tetangga, kerja nya mainin handphone melulu :-p Jadi suka hampir tiap sore sebelum pulang mereka ditraktir baso or somay yang lewat di depan rumah sama pamanku πŸ˜€

Teliti dan size does matters! Tagline yang ini penting biar engga boros, susah dan rempong sendiri :-p Ceritanya kan temenku itu udah bikinin gambar kusen-kusen berikut pintu dan jendela. Lalu karena pingin memangkas beberapa pos biaya, aku putuskan untuk memakai Β beberapa material lama yang masih bisa dipakai, seperti kaca jendela dan teralis nya. Eh gara-gara engga teliti, gambar detail yang dari temanku itu aku tambahin tulisan tangan ku berisi ukuran kaca yang lama, salah tulis, lebar kaca yang harusnya 35 cm kutulis 45 cm, dan sama tukang kusennya aku berpesan mau pake kaca yang lama! Whewww kusen yang datang jadi tumbuh kesamping alias kelebaran πŸ˜€ Dibalikin lagi deh tuwh, kena charge biaya tambahan lagi deh ihikssss 😦 Tapi tetap lebih irit klo kusen nya dirombak lagi daripada pasang kusen yang ukurannya terlalu lebar itu hehehe πŸ˜€

Size does matters

Beda lagi pas pilih-pilih material untuk dinding dan lantai dapur. Pinginnya kan tadinya tema dapur mungilku bright white and shocking yellow (saya penyuka warna cerah ceria). Pas ke toko bahan bangunan aku jatuh hati sama satu tile warna kuning cerah, tapi ukuran nya rada ajaib dan tidak biasa 25×45 cm klo ga salah, jadi untuk meja dapurnya aku kesulitan nemuin tile dengan warna kuning yang sama persis. Owyaa, aku pake buku besar Ikea untuk nyontek ukuran-ukuran bagian dapurku (ga ada yg jual bukunya kok. Aku dapet gratisan waktu di Rotterdam hehehe). Nah ya, gara-gara size yg ga cocok akhirnya tema dapurku jadi rustic kitchen. Terus aku salah lagi nyatet kebutuhan keramik buat lantai dan dindingnya! Ughhh kayaknya waktu itu aku lagi ribet sama itung-itungan pajak auditan ku deh, jadi lieur sama angka-angka. Akhirnya tuh keramik lantai kurang satu kotak dan keramik dindingnya kelebihan satu kotak. Pas kemaren aku balik lagi ke toko nya, keramik lantai dengan motif yang aku pake itu habissssss tak ada lagi! Whewww kudu nunggu semingu lagi sampai barangnya datang. See? Ketidaktelitian bisa menyebabkan proyek nya ga klaar-klaar :-p

Satu hal penting lainnya yang aku pelajari dari proyek kecilku ini: Stick with the plan and budget! Jadi inget kalo lagi audit, suka jadi catetan dan temuan tuwh belanja-belanja yang tidak sesuai dengan pos anggarannya. Sama halnya dengan disiplin anggaran di pemerintahan, proyek-proyek pribadi pun seharusnya menerapkan disiplin anggaran! Artinya setiap pengeluaran harus sesuai dengan rencana. Tapi yan g namanya proyek sendiri kadang suka longgar gitu batasan disiplin anggarannya. Banyak maunya padahal dananya cekak, bencana deh tuh hehe πŸ˜€ Misalkan ya kemaren itu, kran air di kitchen sink yang lama sebenarnya masih bagus dan masih bisa dipakai, tapi karena tergoda dengan kran di toko material akhirnya jadi ada pos pengeluaran dadakan kran air. Terus kamar mandi yang tadinya engga masuk dalam rencana renewal jadi masuk gara-gara lihat kran flush toilet warna pink pucet samaan sama lantai kamar mandi dan pingin beli :-p

Adalah penting sebenernya untuk menambahkan sekian persen dari anggaran untuk mengcover biaya tak terduga yang mungkin aja sewaktu-waktu dibutuhin. Kayak kemaren itu, atap dapur yang sudah rapi terpasang ga sengaja ketimpa tukang yang ga sengaja terpleset pas ngerapiin sambungan atap itu. Pecah deh tuwh dua lembar, akhirnya jadi nambah biaya extra. Tapi ya gw bilangin, klo tukang yang kerja sama lo ga sengaja ngrusakin material yang ada, jangan marah-marah ga jelas! Yang namanya apes mah milik semua orang juga kadang-kadang, lagipula siapa siy yang mau celaka? Iya ga? Syukur alhamdulilah tukang nya engga kenapa-kenapa. Jadi inget dulu si bibi yang suka bantu-bantu di rumah tante juga pernah jatoh pas lagi kerja di lantai dua, kesian parah beliau, mpe harus therapy juga.

biaya tambahan: ngangkutin sisa bekas bangunan & memperbarui taman mungil yang ketutupan sisa bangunan ini

Kadang ya, kalo lagi senggang aku suka buka-buka buku-buku desain koleksi ku atau ga buka buku besar Ikea. Dan melihat semua desain-desain yang super bagus maha homey itu membuatku pingin ini itu pingin banyak sekali πŸ˜€ Tapi ya itu tadi, prioritas itu penting! Kecuali klo lo punya budget yang unlimited πŸ˜‰ Klo engga mah ya, prioritas adalah prioritas! Wlo proyek ku belum rampung tapi sudah ada beberapa teman yang berkunjung, dari yang datang untuk bermalam tahun baruan sampai yang mampir ngobrol-ngobrol sore-sore sepulang kerja. β€œDe, yang ini ga sekalian diganti? Ini nanti dipasang itu ga?bla bla bla…” hehehe πŸ˜€ Aduwhh pinginku siy semua yang bagus-bagus ada di rumahku tapi berhubung banyak hal, sekarang ini ya apa adanya dulu lah πŸ™‚ Ini aja aku kadang suka membatin β€œ Ya Tuhan, akhir tahun lalu aku masih nongkrongin sale Zara aja gitu di centrum, akhir tahun ini aku rempong keliling toko bangunan, kucel nyari diskon akhir tahun material bangunan huhuuu :’(β€œ apa siyyyy hehehe πŸ˜€ Well, lain-lainnya insya allah akan diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya jika ada rezeki lagi, akan kuanggarkan dan kurencanakan di Repelita berikutnya πŸ˜‰ Iya Repelita, tapiΒ  bukan rencana pembangunan lima tahunan, melainkan RENCANA PEMBANGUNAN LAIN TAHAP hehehe πŸ˜€ Sekarang, klaar proyek ini nanti, nabung dulu lagi sayaaa πŸ˜€

Ahh sekarang jadi ngerti dulu papa pasti susah banget merencanakan dan membangun rumah kami itu. Rumah tumbuh, rumah yang benar-benar tumbuh bersama tumbuhnya kami dan berkembangnya kebutuhan kami akan ruang serta membaiknya keuangan orangtuaku πŸ™‚ Dulu aku yang paling vokal klo protes ide-ide impromptu nya papa tentang rumah kami itu. Sekarang mengerti deh ribetnya πŸ™‚ Rumah itu, yang tiap tahap pengerjaannya meninggalkan jejak-jejak desain papa yang sangat impromptu hahaha πŸ˜€ tapi lihai tangan mama penyamarkan ketidakkonsistenan desainnya dengan pengaturan dan seleranya. Well, it’s true that men build houses but women make it home πŸ™‚

Advertisements