Tulisan ini bukan mengenai temuan-temuan audit ku selama ini melainkan pencerahan-pencerahan yang selalu saja ada setiap kali aku harus mengaudit proyek-proyek grassroot. Grassroot? Iya, proyek-proyek yang membuatku berinteraksi langsung dengan masyarakat tataran paling bawah dalam piramid tingkatan perekonomian, masyarakat yang dikelompokkan sebagai masyarakat miskin. Meski pun dari beberapa teori yang sempat kupelajari dari block Urban & Social Development  di Belanda kemaren, miskin tidak melulu mengenai uang dan kemiskinan itu sendiri sangatlah multidimensi.

Sedikit share mengenai kemiskinan di perkotaan atau yang kerennya disebut urban poverty, aku pernah mengutip tulisannya Baker & Schuler (2004) yang mendefinisikan karakteristik urban poverty itu sebagai berikut:

  • Commoditization
  • Overcrowded living conditions
  • Environmental hazard
  • Social fragmentation
  • Crime and violence
  • Traffic accidents
  • Natural disasters

Nah, satu lagi tambahan dari tulisannya Garland, Massoumi & Ruble (2007) bahwa masyarakat miskin perkotaan itu biasanya tidak memiliki lahan/tanah sendiri dan hidup di pemukiman-pemukiman liar yang minim fasilitas serta termarginalkan dari kehidupan dan kesempatan yang dijanjikan oleh sebuah kota. Uhmm… dari proyek-proyek grassroot yang sering kuaudit, sepertinya ada sedikit -let’s say- pengecualian (atau mungkin penyimpangan?) dari teori-teori itu. Iya, kotaku ini memang dikategorikan sebagai kota, tetapi pada beberapa titik, karakter rural atau pedesaannya masih sangat kental. Kemiskinan yang sering aku lihat di sini seperti suatu ambiguitas yang bingung untuk dikelompokkan, berada di antara urban poverty dan rural poverty sekaligus!  Well, butuh penelitian lagi memang untuk bisa kunyatakan demikian, tetapi untuk sementara, IMHO, memang seperti itu.

Aku tidak bermaksud membuat tulisanku ini menjadi serius seperti teori-teori yang sering membuatku tertidur pulas di antara tumpukan bahan kuliah di kamar weenapad 🙂 Teori-teori tadi cuma sekedar pengantar untuk pembelajaran dan pencerahan yang aku dapat, pencerahan dari rumah-rumah mungil dan wajah-wajah renta yang tak henti berucap syukur 🙂

2005

Kali pertama aku terlibat dalam audit investigasi yang kasusnya kemudian berakhir di pengadilan, simply, sebut saja audit bantuan untuk masyarakat miskin. Salah satu item nya waktu itu adalah bantuan untuk rehab rumah tidak layak huni. Owkay, sebelum bercerita lebih lanjut, kutegaskan sekali lagi bahwa ini bukan mengenai temuan-temuan auditku, hanya sisi lain yang cukup berharga walaupun jauh dari tujuan audit itu sendiri.

Pada salah satu rumah yang mendapat bantuan itu, kutemui ia, seorang perempuan renta. Pendengarannya sudah berkurang, rambutnya sudah memutih semua, kebaya lusuh tak berhasil menutupi ringkih tubuh tuanya. Rumah mungilnya? Rumah itu tadinya tak lebih dari pondok kecil berdinding anyaman bambu yang kemudian diubah menjadi kamar permanen mungkin tak lebih dari ruang berukuran 3×3 meter persegi. Tak ada tile keramik mengkilat, melainkan lantai rabat beton. Di salah satu pojok ruang kecil itu ia menempatkan kasur tipis tanpa ranjang (padahal Sukabumi dingin sekali, aku yang lemaknya tebel saja teteup pake kaos kaki dan cardigan kalo di rumah), di pojok lain ia menempatkan tungku kayu bakar dan beberapa peralatan memasak yang tak kalah usangnya. Lalu kamar mandi dan toiletnya? Sudah banyak yang bilang, tak ada kemewahan seperti itu untuk sesosok tubuh renta miskin seperti perempuan itu, yang ada hanya fasilitas MCK di luar sana.

Saat hendak berpamitan aku baru mengetahui bahwa rumah mungil perempuan tua itu dibangun persis di depan rumah permanen lumayan bagus yang ternyata milik putranya sendiri! Sungguh tak habis pikir, seberapa penuh sesak kah rumah permanen yang lumayan bagus itu hingga tak menyisakan sedikit ruang yang hangat untuk perempuan tua yang dulu melahirkan, merawat, membesarkan dan mendidik si pemilik rumah permanen lumayan bagus itu? Apakah si ibu tua iitu makannya terlalu rakus hingga ia harus memasak sendiri makanannya? Dan kenapa justru orang lain yang lebih peduli?

2006-2008

Setiap kali mengaudit proyek-proyek grassroot seperti jalan setapak, MCK, sumber air bersih, irigasi dan lain-lain, sering sekali team-ku mendapat kalimat-kalimat typical seperti ini:

“Abdi mah hoyong bedah rumah”. “si mak eta karunya, randa, putra na tos pupus sadayana, imah na tos rubuh”.

Yang artinya “saya pingin bedah rumah”, “ibu itu kasihan, janda, anak-anaknya sudah meninggal semua, rumahnya rubuh”

Pada tahun-tahun itu, acara TV yang satu itu (bedah rumah) ternyata menjadi impian banyak orang. Impian orang-orang yang tak berhasil melawan ketidakpunyaan, yang tak berhasil menyediakan tempat berteduh yang layak untuk diri mereka. Sudah begitu pun, masih saja ada yang nakal sehingga bantuan-bantuan untuk rehab rumah tidak layak huni itu tak seratus persen diterima oleh mereka yang berhak.

January 2012

Program audit pertama di tahun yang baru. Hampir seminggu marathon mengaudit proyek-proyek grassroot lainnya, diselingi izin gara-gara sakit satu hari, lalu cabut dari kantor di hari berikutnya gara-gara tubuh yang masih saja tak mau diajak kompromi berpanas-panasan dan hujan-hujanan di lapangan (udah gitu mau wisuda pula hehehe 😀 ga mau keliatan jelek pas pake toga :D). Proyek graassroot kali ini dilaksanakan oleh lembaga pemberdayaan masyarakat dengan end user masyarakat miskin seperti rehab rumah tidak layak huni, saluran irigasi, tembok penahan tanah, dan jalan setapak. Lokasinya ya tentu saja di pelosok kelurahan-kelurahan, di tengah sawah, di gang-gang sempit.

Owkay, kuceritakan satu saja ya? Hari itu aku dan team-ku mengambil sampling beberapa proyek rehab rumah tidak layak huni yang dana pembangunannya berasal dari anggaran pemerintah ditambah dana swadaya masyarakat. Di salah satu rumah yang direhab, kami bertemu dengan seorang ibu tua yang dipanggil Emak. Rumah itu dibangun dari dinding bilik, persis di sebelah rumah ada balong (empang) dan kandang bebek. Saat kami mengukur luas rumah, dan mencocokkan item-item pekerjaan di proposal dengan item-item di kondisi real bangunan sederhana itu, Emak berkata dalam bahasa sunda yang artinya “Mak mah makasih udah dibantu membangun rumah. Tanahnya mah bukan punya Mak, Mak teh di sini numpang di tanah orang”. Lalu pihak kelurahan yang mendampingi kami waktu itu menyanggah ucapan si Ibu “Sanes (bukan), Mak! Ini mah udah tanah Mak, udah dihibahkeun ku nu boga na ge (sudah dihibahkan kok sama yang punya). Pan abdi nu neken akta na di kelurahan (kan saya yang tanda tangan akte nya di kelurahan”. Ternyata nilai swadaya yang cukup besar tertera di proposal itu merupakan nilai tanah yang dihibahkan oleh tetangga si Mak untuk membangun rumahnya. Si bapak yang dari kelurahan itu berujar kepadaku “Dulu mah Neng, Emak teh tinggal nya di kandang. Karunya (kasihan). Anak nya mah tuh rumah nya yang di depan”. Saat kami melintas di rumah yang dimaksud si bapak, aku memperhatikan rumah itu. Rumah permanen yang lumayan untuk ukuran kampung seperti itu. Apalagi jika dibandingkan dengan kandang yang dulunya jadi tempat tinggal si Emak! Sekali lagi, kepedulian justru datang dari orang yang tak memiliki pertalian darah dengan si Ibu!

February 2012

Audit kedua di tahun ini, masih proyek-proyek grassroot di pelosok kampung. Hari ini hari kedua. Tak seperti hari pertama yang panas, hari ini cuaca lumayan bersahabat sehingga 6 proyek bisa selesai diperiksa dalam waktu singkat.  3 proyek rehab rumah tidak layak huni dan 1 proyek saluran irigasi yang dikerjakan dalam tiga tahap. Lumayan, sport jantung pas ketemu lintah begitu mau mengambil meteran yang kecemplung masuk saluran, lalu bergidik ngeri saat ulat bulu gendut melintas di dekat ujung sepatu boot ku…

Saat kami masuk ke perkampungan di pinggir areal persawahan itu, hangat sapaan seorang bapak tua. Lalu seorang ibu tua yang tadinya asyik ngobrol dengan si bapak tua datang menghampiri kami lalu berkata “bade diparios, neng? (mau diperiksa, neng)” ujarnya saat melihatku mencatatkan nama proyek, lokasi serta ukuran real rumah itu di kertas kerja audit ku. “sumuhun (iya), bu” jawabku. Lalu kutanya ia “ini rumah ibu?”, si ibu pun mengangguk sembari berucap “hatur nuhun pisan tos dipang damelkeun, hatur nuhun pisan kasadayana (terima kasih banyak udah dibangunkan rumah, terima kasih buat semuanya)”. Ucapan yang membuatku tak enak hati, karena aku tak membantu apa-apa, kepedulianku terhadap yang tak mampu masih “tipis”,  keberadaanku di sana cuma untuk mengecek real proyek nya saja.

Kulirik perempuan tua itu, berjilbab, berkebaya dan berkain cita (almarhumah nenekku suka bilang itu kain cita, kain sarung katun bermotif batik. Dulu, waktu aku kecil, suka kupinjam untuk bermain ninja-ninjaan sama adik-adikku 🙂 Kalo orang sunda kekeuh we nyebut itu (kain) samping hehe :D). Sambil terus mencatatkan data-data rumahnya, aku berusaha mengajak si ibu ngobrol. Ia bilang ia tinggal sendiri di rumah itu, anak-anaknya sudah tidak ada. Aku jadi ingat salah satu temanku yang tak berniat memiliki anak dan bahkan sudah merencanakan untuk menghabiskan masa tua nya di house for elderly or senior citizen. House for elderly di Belanda memang bagus dan memang pemerintahnya sangat perhatian kepada para senior citizen itu. Tetapi lalu aku ingat lagi hasil interview seorang teman dengan salah satu penghuni house for elderly. Dia bilang bahwa mereka (para lansia itu) harus saling bertelepon setiap hari untuk memastikan bahwa masing-masing mereka masih sehat dan “alive”. Karena pernah beberapa kejadian lansia meninggal dan baru diketahui setelah beberapa hari. Menyedihkan ya akhir hidup tanpa anak dan keluarga? Apalagi jika tak punya tempat berteduh yang layak.

*****

Mungkin masing-masing kalian yang membaca tulisanku kali ini punya pembelajaran yang berbeda-beda dari cerita ini (atau malah tidak? Whewww ! keterlaluan :-p). Or perhaps you feel it the same way with me… Buat ku, hal-hal yang kutemui di atas kadang seperti menyentilku, bahwa kadang aku lupa bersyukur dan kadang merasa tak pernah cukup dengan apa yang aku miliki, bahwa kadang aku juga sering tak peduli dengan mama papa (buktinya papa suka protes karena aku jarang telpon, seringnya justru ditelpon). Uhmmm jadi tak fokus begini yak epilogue nya? Hehe, maklum masih under medication 😉

Intinya, banyak lohh yang masih tinggal di rumah tidak layak huni. Bukan karena mereka malas untuk membenahi rumahnya, tetapi karena benar-benar tak memiliki kemampuan untuk itu, seperti ibu-ibu dan bapak-bapak tua di penghujung waktu mereka, apalagi jika sudah tak memiliki sanak saudara… Owyaa, untuk rumah seperti rumah di foto di atas, biaya nya sekitar 7-12 juta (didukung swadaya masyarakat tentunya, contoh: upah dan konsumsi selama proyek dilaksanakan). Just in case ada yang berniat untuk membantu membangunkan rumah yang manusiawi untuk masyarakat yang tidak mampu, kalau engga sempat survey langsung, coba deh minta data nya di kelurahan-kelurahan or tokoh masyarakat setempat. Tapi berdasarkan pengalamanku niy, kalau mau membantu, lebih baik lagi kalau langsung mengawasi penggunaan dananya, atau survey lokasi dan kondisi rumah yang akan direhab, lalu susun RAB nya (material & upah), lalu drop material sesuai kebutuhan. Meminimalisir terjadinya penyalahgunaan dana bantuan itu penting 🙂

There are many ways to share and there are more ways to help 🙂 I wish you a very happy weekend, readers !

 

** last night, when i wrote this posting, i had no idea that i would leave this job owh so very soon. I wish i can keep my integrity in my new working environment…

 

 

Advertisements