Hidup itu butuh rempah-rempah, perlu dibumbui ini itu dalam takaran yang pas, agar hidup itu lebih bermakna. Seperti ontbijtkoek filosofi: susu, gula merah, kacang mede , mentega, telur dan tepung hanya akan jadi kue biasa, tapi coba tambahkah sedikit bubuk spekuk dalam takaran yang pas. There you go, a nice and tasty ontbijtkoek made from all ingredients that perfectly blended with a smell and taste of spicy spekkoek πŸ™‚ And life goes that way too !

my first ontbijtkoek, not too spicy like those in Rotterdam

Ontbijtkoek filosofi tadi cuma karanganku saja, hasil menganalogikan banyak hal saat aku memasak. Yah, kali ini semacam ingin bercerita banyak hal, yang berawal dari memasak, tanpa harus terikat komposisi menulis yang baik dan benar. Jadi lupakan saja semua tentang kalimat utama dan kalimat pendukung, apalagi koneksi antar paragraf πŸ™‚

*****

Sore hari, batas kota-pasar pelita

Weekend ini ingin sekali mencoba resep baru yang membawa kembali sedikit hawa Rotterdam. Olliebollen, sudah pernah. Grismel puding, sudah pernah. Ontbijtkoek ? Uhmmm.. aku tidak pernah suka kue berwarna coklat dan bercita rasa rempah itu, bahkan taburan kismis di salah satu varian ontbijtkoek yang dijual di supermarket Albert Heijn pun tak berhasil membuat aku menyukai kue itu. Kulirik sms kemaren yang bilang “kamu benar-benar lagi ngidam Eropa ya?”. Hahaha πŸ˜€ mungkin saja, sampai terbawa mimpi berkali-kali: seperti bertemu wajah-wajah yang sangat familiar tetapi tidak kukenali, cafe-cafe bernuansa Eropa berbentuk bangunan tua berwarna terracota, hingga Rotterdam pun banjir dan jadwal tram mendadak kacau πŸ˜€ Owkay, kusempatkan berbelanja bahan ontbijtkoek sore itu, bergegas langkah berpacu dengan rintik hujan yang kembali turun.

Dulu, when i was a teenager, mama begitu kuatir kalau nanti aku tak bisa memasak. Aku takut api, takut listrik, takut terpercik minyak panas, bahkan membersihkan sayuran pun kadang membuatku bergidik ngeri. Nah sekarang justru mama kuatir aku tak bisa beranjak dari dapur (dan makanan) πŸ˜€ Iya, sejak menjadi mahasiswa kere di Belanda, aku mulai belajar memasak. Dan aku sangaaaaaat menyukainya! Sempat diprotes beberapa teman yang kuatir kuliahku terlantar gara-gara (menurut mereka) aku keseringan memasak daripada belajar :-p Well, kuliahku selesai toch? Thesis ku kemaren dijadiin contoh untuk penelitian kualitatif dengan metode yang cukup menarik -life trajectory research- dibahas dan didiskusikan adik-adik kelasku di kelas Research and Methodology Technique, wlo pun thesis ku nilai nya 7 saja haha πŸ˜€ Singkatnya, aku sekarang senang sekali memasak, bereksperimen di dapur mungilku, dan seru menemukan hal-hal baru πŸ™‚

Hal-hal baru? Iya, memasak itu ternyata ga cuma butuh rasa atau feeling, tetapi juga ketepatan dalam menakar, keterampilan memainkan peralatan masak, dan keberanian mencoba mencampur bahan dan rempah πŸ™‚ Memasak itu adalah salah satu contoh a lifetime learning process hehe… Seperti sore itu, aku baru tahu kalau satu ons bumbu spekuk itu sangatlah mahal ! Sekitar 40ribu rupiah. Aku juga baru kalau membeli bumbu spekuk, beli lah seperlunya, karena bumbu spekuk yang disimpan lama, aroma dan rasa nya justru menguap hilang. Aku juga baru tahu, 5 lembar kertas roti yang aku beli kemaren cukup untuk berpuluh-puluh adonan kue! Untung saja harga selembar nya murah, seribu rupiah, tak apalah menyimpan nya untuk persediaan. Aku juga baru tahu kalau loyang muffin satuan bentuknya serupa tapi tak sama dengan loyang bolu kukus satuan, dan loyang muffin persegi tak muat di dalam steamerku :-p Dan aku juga kembali diajar untuk berhati-hati membeli bahan kue, bahkan di tanah air ini yang mayoritas penduduk nya adalah muslim. Essens vanila yang kubeli minggu lalu dan lumayan mahal itu ternyata mangandung alkohol! Sob sob sob…. Btw soal alkohol, any product contain R-OH (biasanya bahasa inggredient nya berakhiran -OL) surely contains alcohol! And mind this chain of alcohol “R-OH”. One of my teacher said alcohol, indicated by R-OH chain, will take your soul away, R-OH-ROH-Soul…

The recipe πŸ™‚ btw, the book is lovely, isn't it? a birthday gift from friend

Selepas subuh, rumah mungil dengan pemandangan indah Gunung Gede

Pekerjaan rumah sudah kuselesaikan sore kemaren tetapi aku tetap bangun saat bacaan ayat suci Al Qur’an dan alunan lembut Standchen dari handphone ku beriringan menyudahi tidurku. Pukul 4 tepat, udara terlalu dingin hingga butuh satu jam tambahan untuk bisa benar-benar menjauhkan selimut dan bangkit dari tempat tidur. Pukul 5 tepat, alunan Standchen sesi kedua, harus bangun! Dingin air wudhu subuh itu menghilangkan rasa kantuk yang tersisa. Masih ada setengah jam sebelum Mbak datang menjemputku. Shalat subuh, merapikan kamar, membuka semua jendela dan membiarkan udara segar masuk, menyapu, menanak nasi, menjemur cucianku dalam setengah jam. Dalam hal ini, aku benar-benar putri mamaku πŸ™‚ Iya, mamaku adalah perempuan yang memegang prinsip “Perempuan itu keluar dari rumah setelah semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya selesai dikerjakan. Perempuan itu harusnya malu berjalan keluar rumah dengan dandanan wah tetapi rumahnya berantakan!”. Hahaha, sebisaku aku pun mengikuti prinsip itu, terkecuali di saat-saat aku benar-benar kehabisan energi (dan malas) πŸ˜‰

Hampir pukul 6, si Mbak pasti telat bangun atau bahkan lupa pesanku ? Sambil menunggu, kusempatkan mengiris bawang putih, bawang merah, jamur dan bunga bawang (sayur favoritku). Ah sepertinya aku butuh satu kejutan menyenangkan dalam makanan ku hari ini πŸ˜‰ Mari bereksperimen! So, i dropped an orange leaf in my pan! Orange scents dalam tumisan jamur-bawang daun ku pagi itu benar-benar menyenangkan πŸ™‚ Dan rasanya pun jadi lebih segar, uhmmm nyam nyam :-9 I think life will also be more interesting with some surprises, spontaneus idea πŸ˜€ Break the routinity and go with something fun, tolerably crazy (instead of totally crazy, i suppose) πŸ˜€

And so, pagi itu aku dan Mbak berjalan kaki, menemukan jogging track yang baru! Topografi kota ini benar-benar luar biasa hingga “jogging track” yang kami lewati tadi bervariasi, tanjakan, turunan, lalu jalanan datar, plus desain trotoar yang tinggi nya tak kira-kira (ada gitu ketinggian trotoar hampir setengah meter dari badan jalan ?) :-p Bahkan beberapa tanjakan itu sebenarnya tidak patut didesain sebagai jalan! Konturnya curam dan licin sekali, menurutku seharusnya tanjakan-tanjakan itu lebih aman dan nyaman kalau didesain sebagai tangga, tetapi lalu tak akan ada kendaraan yang bisa melewatinya! Β Anyhow, sepertinya jalan yang kami lewati tadi itu tidak didesain dengan menggunakan selembar blueprint peta topografi, dan tak pula mengaplikasikan teori timbunan dan galian karena menurutku jalanan tadi itu benar-benar mengikuti kontur tanah yang asli! Ah seperti yang ahli desain jalan saja :-pΒ Yah, dulu kan desain jalan raya termasuk mata kuliah favoritku πŸ™‚

Jogging track pagi tadi. Sepi, licin karena lumut dan lembab tertutupi rindang hutan bambu

Pada jalanan datar yang tak lebih lebar dari bicycle path di Β Rotterdam, aku benar-benar rindu bersepeda di jalanan yang tertib, aman dan nyaman, seperti dulu di Rotterdam…

Itu Mbak, berjalan di jalanan kecil yang membawa rindu kembali Rotterdam

Dari rumah hingga ke pasar, dua jam kami berjalan kaki. Mbak bilang dari kemaren salah perkiraan melulu :-p Pertama, Mbak pikir aku ga bakal mau diajak jalan pagi. Hahaha πŸ˜€ minggu lalu kan aku nya beneran sakit :-p Uhmm.. loosing one colleague a few days ago has changed my mind. I’m not worried about death since it will come to every living creature. I just frightened, frightened that i would suffer from illness caused by unhealthy lifestyle. I don’t smoke, i eat healthy food (i guess), but i lack of excercise, i admit! So the day after his funeral, i decided to take 30 minutes everyday for jogging πŸ™‚ Kedua, Mbak pikir aku ga mau diajak masuk pasar tradisional :-p

Btw, i’m not saying death is frighthening nor that i’m saying smoking will directly kills you. NOPE! A friend of mine died because of blood cancer, just one month or so after his first diagnose. So very soon 😦 A silent killer. Another friend o’mine who now is pursuing her doctoral about cancer told me that cancer=multi factor and lifestyle is one of the factors triggering cancer! I’m not sure whether it was his smoking habit that has triggered his chronic cancer or not. But everybody knows it was part of his lifestyle 😦 I agree that smoking is bad, many researches has proved it. Smokers, u’re insanely killing yourself and then you shared the bad luck to those who breath the air polluted by you! How selfish you call yourself then? Aku punya teman yang perokok. Bahkan waktu itu pun dia berbuka puasa dengan merokok! Saat diprotes kenapa tidak menungguku memberinya minuman, dia cuma menjawab santai “sama saja, yang penting ngebatalin puasa”…Di Rotterdam pun kami bertetangga, dan bertamu ke unitnya sungguh merupakan siksaan :-p 5 menit saja berada di unit itu, balik-balik semuanyaaaa jadi bau rokok! menyebalkan !

Lalu soal pasar, aku memang jarang sekali masuk pasar tradisional di sini. Aku kurang suka pasarnya karena menurutku agak spooky, suram dan menakutkan. Jauh sekali bedanya dengan pasar tradisional Blaak Open Market di Rotterdam atau pun pasar tradisional di Budapest yang indah itu. Beberapa kali dulu aku sempat nyasar di dalam pasar itu, bingung mencari jalan keluar. Jadi, biasanya aku masuk pasar tradisional itu hanya jika ada temannya saja.

Tetapi pagi ini ditemani mbak aku berbelanja banyak di pasar tradisional itu πŸ™‚ Segar, murah-murah, lumayan ngirit walau pun jacket putihku kena noda pasar di sana-sini :-p Resiko lain masuk pasar tradisional adalah suka mendadak miris Β melihat begitu banyaknya pengemis, orang gila dan anak-anak yang berusaha keras menjual kantong plastik belanjaan. Well, anak-anak yang ingin belajar mandiri dengan berusaha kecil-kecilan itu berbeda dengan anak-anak yang memang terpaksa berada di pasar dan berdagang benda-benda kecil yang mampu dilakukan oleh seorang bocah. They are just 2 different things and who’s to blame for the last being told ?

Belanjaan favoritku, cabe hahaha πŸ˜€

Well, seperti yang kutulis di atas. Hidup itu butuh bumbu, butuh rempah πŸ™‚ Dan seperti hal nya memasak, sometimes life is also trial and error process. Seperti ontbijtkoek yang kubuat hari ini. Semua bahan dan rempahnya terasa pas, lebih mild, tidak terlalu “berani” seperti ontbijtkoek di Belanda. Dan buatku itu yang paling pas walo mungkin banyak orang lebih suka ontbitjkoek yang lebih berani rasa “spekuk” nya. So does life, what best for me is not for other, perhaps πŸ™‚

the ingredients, and that mixer is also a gift, a graduation gift from my Mom πŸ˜€

Ah lima belas menit lagi menuju hari yang lain. Sudah saatnya tidur sebelum besok pagi kembali mencampur rempah-rempah lain dalam masakanku:)

Advertisements