Hujan diiringi kilatan petir dan sahutan guruh di sore hari tadi seperti tak akan berhenti untuk waktu yang lumayan lama. Saat menyimpan selimut-selimut tebal yang baru kuambil dari laundry tadi, mataku memandang ke arah jendela kamar depan. Ada bocah yang berlarian bernyanyi di bawah hujan, riang sekali sepertinya. Mau tak mau aku tersenyum melihat tingkah polah si bocah, he was like getting tranced under the rain, so happy with the rain πŸ˜€

Owh, apa itu ? Si bocah ternyata menggendong karung sampah! Sigap tangan nya memeriksa kantong sampah di depan rumahku yang sampai sore ternyata masih tak diambil petugas sampah komplekSelintas data thesisku mampir di memory ku, tentang salah satu respondenku yang mengawali karir memulung nya saat anak-anak hanya karena orang tua nya tak mampu memberi uang jajan. Aku pun teringat box di atas kulkas yang penuh recehan, receh yang biasa kupakai untuk menyudahi nyanyian asal pengamen yang suka mendadak mampir di minggu pagi. Bocah itu pasti mau deh dikasih recehan buat jajan, pikirku.

Dari balik jendela ini aku melihat mereka mengais sampah di bawah deras hujan

Setengah berlari aku mengambil box itu dari atas kulkas dan segera membuka pintu depan. Lohh.. kemana bocah tadi ?? cepat sekali menghilangnya? Beberapa menit kemudian kembali terdengar suara nyanyian riang nya πŸ™‚ Itu dia! Segera kupanggil “Jang, ke sini!”. Ia mengangguk dan menghampiriku. “Mau uang receh ga?” tanyaku. Sambil menggigil kedinginan ia mengangguk, kuberikan kantong plastik yang kuisi receh itu. Ia pun berucap terima kasih lalu kemudian berlari lagi menghampiri karung sampahnya.

Tak berapa lama, suara bocah lain memanggil namanya. Owh ternyata sore ini ada dua pemulung cilik yang “bermain hujan” di tempat sampah rumah-rumah blok ini. Pintu depan masih kubiarkan terbuka. Sambil melihat bocah satunya lagi, aku teringat pengalaman bersama anak-anak jalanan saat di Jogja dulu. Mas Cilik temanku pernah bilang, sebagai volunteer, aku harus berlaku adil pada semua anak, tidak boleh membeda-bedakan anak. Uhmm… kupanggil bocah satunya lagi itu, sambil memberikan dua butir apel. Aku bilang padanya untuk memanggil temannya tadi.

Hujan masih terusΒ  turun, petir masih terus berkilatan. Dua bocah pemulung itu masih berteduh di teras rumahku yang nyaris basah semua. Mereka sibuk melahap apel-apel yang kuberikan πŸ™‚ Pasti lapar sekali, bekerja mengumpulkan sampah di tengah rintik hujan yang deras… Karena hujan yang tak kunjung mereda dan lantai teras yang basah, akhirnya aku ajak mereka masuk ke rumah. Maafkan aku ya Tuhan, karena masih saja “tidak rela” tubuh-tubuh mungil mereka yang basah kuyup duduk di sofa rotan ku 😦 Kejam sekali membiarkan mereka duduk di lantai yang dingin, sementara aku berpiyama hangat dan mengenakan kaos kaki yang hangat pula duduk santaiΒ  di sofa itu 😦 Untung karpet tua lungsuran tanteku masih kulipat dan kusimpan rapi, kugelar dengan lipatan yang lumayan tebal di lantai ruang tamu, kubiarkan mereka duduk di sana πŸ™‚ Setidaknya tidak sedingin kalau duduk di lantai… Maafkan aku ya Tuhan… sebersit rasa tidak ikhlas masih saja ada hingga mereka harus duduk di karpet di lantai…

Sambil menunggu dan berharap hujan segera reda, bocah-bocah itu menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Bocah pertama yang kupanggil itu namanya Wildan, umur delapan tahun, bersekolah di salah satu SD, masih kelas satu. Bocah yang terakhir namanya Apuk, umurnya 10 tahun. Apuk bilang dia belum pernah bersekolah. Saat aku tanya apakah dia bisa membaca, dia menggeleng. Kukejar dengan pertanyaan “kenapa engga belajar membaca sama Wildan?” dengan ekspresi lucu dia menjawab “dia nya juga belon bisa baca” πŸ˜€ Wildan yang dari tadi sibuk mengunyah apelnya, dan sebagai “tersangka” yang dibilang Apuk belum bisa membaca menimpali obrolan kami itu dengan sedikit pamer “kamu bisa berhitung sampai seratus engga? aku mah bisa” πŸ˜€ Hahaha πŸ˜€ bocah-bocah πŸ˜€

Apuk bilang sehari-hari ia dapat uang 4 ribu rupiah dari sekilo sampah. Wildan meralatnya, satu kilo sampah itu harga nya dua ribu saja πŸ™‚ Owh mungkin karena Apuk belum bisa membaca dan menulis ya? Aku bilang Apuk bahwa dia harus belajar membaca dan berhitung, biar dia tidak dibohongi soal timbangan dan harga sampahnya πŸ™‚ Apuk juga bilang dia punya sepuluh adik! Huwaaa umurnya 10 tahun tapi punya 10 adik? secara matematika sederhana tidak masuk akal bukan, kecuali adiknya kembar semua? akhirnya kembali lagi: mungkin karena Apuk tidak bisa membaca dan berhitung…

Diumur sepuluh tahun Apuk belum bisa membaca dan berhitung sama sekali. Dulu aku umur 6 tahun sudah menerima surat pertama yang dikirimkan via pos oleh pamanku, dan bangga disuruh membacakannya di depan teman-teman satu sekolahan seusai upacara bendera. Di umur 6 tahun itu pula aku terbiasa membaca majalah anak-anak sambil berdiri di bagian depan vespa papa saat beliau membawaku pulang dari playground: Ananda, Tom-tom, Aku Anak Saleh… dan diumur 12 tahun aku sudah dipercaya mama mengatur pengeluaran ku sendiri, kelas 1 SMP aku sudah membuat pembukuan uang masuk (uang jajan dari mama), uang keluar (kupake buat jajan dan ongkos bis) dan menyisihkan sedikit buat tabungan.

Wildan terlalu asik dengan apel nya hehehe πŸ˜€ Kutanya lagi Apuk soal uang hasil menjual sampahnya, apa temuan thesisku dulu juga berlaku padanya (anak pemulung berusaha mendapatkan uang saku sendiri dengan memulung). Apuk bilang uangnya dipake buat beli beras… Wildan mengiyakan ucapan Apuk “iya, dia mah uangnya dipake beli beras. kalo aku mah ada cengcelengan (tabungan, red)”. Kutanya lagi Apuk apakah dia punya kakak. Apuk menjawab “punya, tapi kerjanya di Irian”. I bet he has no idea how far Irian from Sukabumi is “jauhnya? pernah diajak ke sana engga?”. Apuk kembali menjawab “kan kerja nya di kapal, si teteh yang diajakin mah”. Owh berarti dia punya dua kakak. Kakak, lihat ini adikmu harusnya bersekolah…

Kutawari mereka biskuit yang sekarang susah sekali habisnya (i’m not on diet! no, i’m not :-p). Apuk bersemangat mengambil beberapa keping sekaligus biskuit verkade dari wadahnya, Wildan menolaknya sambil terus asik menggigiti apel yang sudah mau habis πŸ˜€ Dari pintu depan yang kubiarkan terbuka, kulihat ada cacing yang terbawa percikan hujan di lantai teras. Melihatku bergidik ngeri melihat cacing itu, Apuk pun sigap menangkap cacing itu dan melemparnya jauh-jauh. Lalu sigap pula tangannya meraih kantong yang berisi biskuit tadi. Aku bilang pada Apuk untuk mencuci tangannya dulu sebelum memegang makanan, dia pun menurutinya πŸ™‚

Bocah-bocah itu lalu larut dalam diskusi kecil mereka sendiri, mungkin sedang mempertimbangkan apakah akan tetap menunggu hujan reda sambil berteduh di ruang tamu ku atau menerobos derasnya bersama karung-karung sampah mereka. Apuk bilang hari ini dia belum berhasil menjual sampah sedikit pun. Aku ingat box recehku tadi masih terisi setengah, sebaiknya memang untuk Apuk. Senyumnya lucu sekali saat aku menyerahkan recehan dalam kantong kecil untuknya πŸ™‚ Lalu setelah berbisik-bisik lagi, Apuk yang jadi juru bicara pamit hendak pulang, menerobos hujan yang memang sepertinya enggan berhenti…

Kulihat di teras tak ada sandal mereka… jadi mereka mengais sampah dari satu rumah ke rumah yang lain tanpa alas kaki! Ada untung nya juga temanku yang kupinjami semua perlengkapanku saat kost di Jogja dulu membawa kembali pulang semua milikku, dari karpet, setrika, hingga 3 sandal jepit yang biasa kupakai di rumah Srikaloka πŸ˜€ terlalu banyak sandal jepit menganggur di rumah ini, sementara penghuni nya cuma hanya ada aku. Kuberikan dua pasang sandal jepit episode jogja itu kepada mereka, tidak apa-apa kegedean daripada mereka tidak memakai sandal sama sekali, padahal lingkunga kerja pemulung adalah lingkkungan kerja yang lumayan vulnerable.. mulai dari segala macam kuman penyakit di tempat sampah, hingga barang-barang rongsokan yang bisa membahayakan kaki dan tangan.

Akhirnya dua bocah pemulung itu pulang sambil berucap terima kasih. Padahal di luar sana masih saja hujan deras dan gelap senja mulai menghampiri. Semoga saja Apuk punya kesempatan untuk bisa belajar membaca, menulis dan berhitung, dan semoga Wildan juga bisa terus melanjutkan pendidikannya.

Dua bocah pemulung dan derasnya hujan, terima kasih untuk pembelajaran sore tadi πŸ™‚

Advertisements