Tags

, , , , , , ,

February 2013, Sukabumi

Seperti sering dituturkan oleh banyak orang tentang mitos suara drum band tengah malam, bahwa jika ada pendatang yang singgah di Jogja dan kebetulan mendengar suara drumb band ini, maka kelak ia akan menetap di Jogja dan tidak akan pergi lagi. Aku memang tidak pernah mendengar suara drum band tengah malam selama hampir satu setengah tahun menjadi warga Jogja, tidak sekalipun. Kecuali suara lonceng delman tengah malam yang kerap membuatku menarik selimut hingga menutupi kepala. Takut, apalagi seringnya pas weekend hanya ada aku sendirian di kost-an yang merupakan rumah tua dengan lorong panjang penghubung rumah utama dengan dapur, kamar mandi dan kamar-kamar baru di bagian belakang rumah itu. Padahal belakangan menjelang akhir masa tinggalku di Jogja baru kuketahui bahwa suara itu berasal dari gerobak tukang sate!! Hehe ada-ada saja.

Namun dalam beberapa tahun terakhir bisa dibilang beberapa kali aku bolak-balik ke kota ini. Lucunya lagi (atau malah anehnya lagi?) Jogja seperti menjadi tempat getaway resmiku saat suasana hati sedang tidak enak, terasa seperti home far away from home. Seperti saat ini, aku butuh bepergian sejenak dan jogja sekali lagi menjadi pilihanku. Mungkin karena aku mengenal kota ini dengan cukup baik dan banyak cerita bermula di kota ini.

Kali ini aku berhasil membujuk dua sahabat baikku untuk ikut bersamaku ke Jogja. Syukurlah, karena kalau tidak, travelling permitku bisa-bisa diblokir mama hehe. I know it makes me sounds like a teenager, tetapi ya memang begitu. Sebebas-bebasnya aku mengatur kehidupanku, kalau untuk bepergian aku masih merasa wajib mengantongi ijin dari mamaku setidaknya.

Ijinkanlah aku untuk slalu pulang lagi, bila hati mulai sepi tanpa terobati (Kla Project, Yogyakarta)

“Lu di Jogja agendanya ngapain? Napak tilas lagi?” begitu cecar Yoan di whatsapp waktu itu yang langsung kujawab dengan “Menata hati! Eaaaaaaaaa :-p “. Hahaha, nope seriously I just needed a little time away, untuk mendapatkan cerita dan pengalaman yang kuharap dapat memberi pencerahan. Owyaa, tugas utama mencari budget hostel tentu saja kuserahkan pada Yoan, siapa lagi hehe 😀 Kali ini requestnya: kamar murah, aman, cukup untuk 3 orang, dekat dengan Malioboro, kamar mandi dan punya jendela ! Gerutuan Yoan meluncur seperti biasa saat aku minta tolong ini dan itu, hehe 😀 But been years in a weirdest friendship: great friends yet best enemies; I’m getting used to it :-p

Jelajahi waktu…  Ke tempat berteduh hati kala biru (Float, Pulang)

Di depan Candi Prambanan

Di depan Candi Prambanan

Maret 2013, Yogyakarta

Sudah berkali-kali sendirian dalam perjalanan 12 jam Sukabumi-Yogyakarta dan sebaliknya, kali ini ditemani Mbak. Ga ngaruh juga sih, karena perjalanan malam hari cenderung membuatku tertidur nyenyak dengan kuping tertutup headset dengan alunan lagu-lagu dari mp3 playerku. Typically a solo traveler hehe 😀

Subuh waktu itu, Yogyakarta masih gelap. Perempatan Kentungan masih belum begitu ramai. Di dalam taxy mengalun lagu Shontele, Impossible. Seperti disengaja, lagu itu persis mengalun sepanjang perjalanan kami menyusuri Jakal pagi itu. Aku menunjuk beberapa tempat dan singkat menceritakan cerita-cerita tempat-tempat itu dulu. Dari kejauhan terlihat billboard besar milik ATM BCA, Dunkin Donut… There you go, Srikaloka, rumahku dulu selama hampir satu setengah tahun lebih. Haha, jadi ini memang perjalanan napak tilas seperti tuduhan Yoan waktu  itu ? Mungkin! Tidak bisa bilang tidak jika semua tempat yang dilewati, dulunya pun pernah disinggahi 🙂 Lalu kami pun melewati komplek kampus UGM, satu per satu ingatan tentang banyak hal berlompatan di kepalaku.

I remember years ago. Someone told me I should take caution when it comes to love. I did, I did… And now when all is done. There is nothing to say. You have gone and so effortlessly… (Shontelle, Impossible)

Belum pun pukul 7 pagi saat kami sampai di Pesona Artha Guest House. Penginapan yang dikelola mas Arya bersama keluarganya. Obrolan pagi pun mengalir seru dengan mas Arya sembari menunggu check in, aku bercerita tentang pengalaman ku traveling waktu di Eropa dulu, mas Arya juga bercerita pengalaman traveling sekaligus liputan-liputannya sewaktu masih bekerja di salah satu stasiun TV swasta dulu. Kemana Mbak ? haha, perut yang lapar membuat Mbak menyusuri jalan Jlagran dengan tujuan yang sangat sangat pasti : mencari sarapan gudeg ! Dan pagi itu di teras guest house kami sarapan gudeg. Tapi oh la laaaa… Mbak lupa kalo aq ngeri dan tidak suka dengan ceker ayam!! hyahahaha tuwh ceker yang sudah nangkring dalam bungkusan gudeg ku terpaksa disingkirkan hehehe 😀 Leher ayam, ceker ayam, apalagi kepala ayam, i dont eat those! sereeem >.<

langit dan bumi Yogyakarta

langit dan bumi Yogyakarta

Setelah formasi kami lengkap dengan bergabungnya Sisil dari Jakarta, kami pun memulai perjalanan hari itu, wisata candi hehe 😀 Aku sudah pernah mengunjungi Borobudur, Prambanan dan candi Ratu Boko. Tapi tak masalah jika mengunjunginya lagi dan lagi hehe 😀 Dari halte transjogja Jlagran kami meluncur menuju kawasan Prambanan. Setengah tertidur dalam perjalanan itu, karena kawasan Prambanan merupakan halte terakhir jadi tak perlu takut terlewat tempat pemberhentian.

Yogyakarta panas dan terik hehe… Muka ku mulai memerah, kaki yang tidak seluruhnya tertutup oleh mary jane Skechers ku mulai belang. Hohoho dulu setiap mudik dari Jogja pasti komen orang-orang “jadi item, de” haha 😀 persis ketika dulu pulang untuk riset di musim panas “kamu balik dari Eropa kok malah item ?”. Mentari bumi Pasundan memang terasa lebih bersahabat dibanding mentari Jogja 🙂

Jadi, karena teriknya matahari akhirnya kami memutuskan naik delman dari halte transjogja Prambanan ke kawasan candi Prambanan. Kapan lagi belagak ala wisatawan mancanegara, bertiga, 20 ribu untuk jarak 1,5 km, lumayan lah. Jarang-jarang kan naik delman, dan memang lebih nyaman naik delman daripada panas-panasan jalan kaki, lagipula betis masih pada bengkak aja gara-gara 12 jam perjalanan bis hehe 😀 Dan bonus seru: foto-foto di atas delman haha 😀

Delman, Prambanan dan keramaian

Delman, Prambanan dan keramaian

Di Prambanan kami membeli tiket paket dua candi, Prambanan dan Ratu Boko. Terakhir dulu aku ke candi Ratu Boko di tahun 2008, waktu itu adalah masa-masa awalku jadi warga Sleman. Pada waktu itu kami sempat menikmati sebentar (hampir) sunset, aku, mbak Bertha, Hardian, Thia, Riky, Andrian, semuanya teman-teman satu kantor, angkatan muda nya lingkungan auditor kota waktu itu hehe 😀 (people come and go, sekarang cuma Thia & Hardian yang masih bertahan di lingkungan auditing hehe).

Candi Ratu Boko (meskipun hanya tersisa puing pondasi dan gate nya) dan Prambanan menurutku memang lebih cantik dibandingkan Borobudur. Jadilah dua komplek candi ini menjadi tempat yang seru untuk foto-foto (apalagi ?yaiiyyy!), kecuali panas teriknya (dohhh !!). Untungnya dari Prambanan ke Ratu Boko ada shuttle bus (plus satu botol air mineral udah include di HTM nya lohh) yang nyaman.

Reruntuhan candi Ratu Boko, photographer on duty, kami

Reruntuhan candi Ratu Boko, photographer on duty, kami

Owyaa! Satu hal yang aku suka dari kunjungan ke Prambanan kali ini adalah: bersepeda! Yaiyyy ! haha i could feel myself in ecstacy when i rode the bicycle 😀 My heart could detect that happy feeling, like the old great days, just me and Classy and the music from my music player. Iya, di komplek Prambanan ada fasilitas rental sepeda. Cukup bayar IDR 10ribu untuk sekali keliling rute-rute yang sudah ditentukan. Me, loveeeee it ! dan Silfia berhasil mengerjaiku dengan menyuruhku bolak balik bersepeda untuk mendapatkan angle foto yang pas hahaha 😀 panas, haus, keringetan tapi seruuuu, say cheese! 😀

Bersepeda keliling komplek candi Prambanan

Bersepeda keliling komplek candi Prambanan

Lelah berkeliling dua komplek candi itu, akhirnya kami menyempatkan makan siang di Soto Pak Min, ga bisa lagi pilih-pilih menu karena sudah hampir habis hehe. Di Jakal, persis di gang depan rumahku juga ada satu cabang soto Pak Min. Tapi Prambanan – Jakal itu jauhhhh, Jenderal! Selesai makan siang yang kesorean, kami bergegas kembali ke guest house. Malamnya kami janjian ketemu Moel, junior ku dan Silfia waktu di Teknik Sipil dulu. Sekarang dia juga lagi melanjutkan pendidikan master nya di UGM. Kalau ga salah dulu aku asisten tugas besarnya dia deh (untunggg ga pernah galak sama praktikan-praktikanku, klo ga pasti Moel ga mau jadi guide kami haha).

So little time to rest these happy feet hehe 🙂 Selesai Magrib menjelang Isya kami dikawal Moel cari makan malam ala Jogja. Tujuannya di Pendopo Ndalem, dekat alun-alun. Sayangnya Pendopo Ndalem waktu itu ditutup untuk umum karena sedang dipersiapkan untuk acara pernikahannya salah satu kerabat kraton. Huhuhuuu…. batal deh :-p

Akhirnya sewa dua becak menuju alun-alun kidul. Sisil sangaaat penasaran dengan cerita masangin di alun-alun kidul hehe 😀 Tetapi tetap harus isi perut dulu lah yaa, makan lesehan di alun-alun kidul. Hyaaa rame sekali ternyata! Untung ga collapse hehe, i always get dizzy when i’m among a very crowded crowd :-p Ehh.. makan lesehan di alun-alun kidul ga recomended deh (dan ini dibenarkan oleh Yoan), bakmi jawa ku sepertinya dimasak dengan bumbu utama GARAM (keasinan bo!), sementara Mbak malah dapet suguhan bebek atlet (alias daging bebek yang alot, mpe harus pinjem pisau untuk bisa memotong-motongnya xixixi :D) dan menunggunya pun lamaaa la la la….

Malam hari di alun-alun kidul

Malam hari di alun-alun kidul

Selesai makan, dilanjut dengan ikut bergabung dengan keramaian di alun-alun kidul. Ceritanya ada yang penasaran pingin nyobain masangin alias masuk di antara dua pohon beringin (colek Sisil). Karena ga satu pun di anntara kami yang membawa penutup mata, akhirnya nyewa dengan harga IDR 4ribu. Murah hehe, soalnya dipake bergantian dan suka-suka berapa lama hehehe 😀 Sisil baru berhasil melewati dua pohon beringin itu setelah 3 kali mencoba. Mbak malah lebih lucu lagi, begitu hampir garis finish malah melenceng ke kanan nabrak pagar pohon beringin hahaha 😀 Aku ? Uhmm.. penasaran pun ! akhirnya ikut nyobain masangin. Jauh dari pinggir lapangan aku memulai langkahku dengan mata tertutup. Konsentrasi penuh hingga langkahku pun cepat seperti biasanya meskipun dengan mata tertutup rapat (ayo-ayo sapa yg suka protes dengan cepatnya langkahku :-p), sampai tiba-tiba…. eng ing eng… mendadak ragu karena tiba-tiba rasanya suasananya mendadak jadi lebih gelap! Aku sempat bergumam “kok jadi gelap?”. Nah setelah itu langkahku yang tadinya lurus jadi melenceng ke kiri hingga nabrak pagar beringin hehe 😀

Jangan takut dulu atau mengkaitkannya dengan hal-hal berbau mistis. Penjelasannya sih sederhana kalau menurutku. Mata manusia, meskipun dalam keadaan tertutup rapat, tetap bisa mendeteksi ada atau tidak nya cahaya. Asalkan dalam kondisi sadar/terjaga. Kalau ga percaya coba aja sendiri di rumah, tutup mata rapat-rapat, lalu minta orang yang ada di rumah untuk mematikan/menyalakan lampu secara acak. Pasti berasa kok, terangnya yang sampai ke mata itu berbeda 🙂 Nah, pas saat aku merasa tiba-tiba sekelilingku itu lebih gelap, itu adalah saat langkahku tepat berada di ujung jajaran pagar-pagar beringin itu. Bayangan rimbun beringin membuat sekeliling jadi lebih gelap. Itu juga yang membuat konsentrasiku pecah, bingung, lalu langkahnya mulai melenceng ke kanan hehehe 😀 Mirip sebenarnya dengan permainan sky bridge yang pernah aku coba akhir tahun lalu: berjalan dari satu pohon ke pohon lainnya dengan media satu jembatan super kecil yang menggantung di ketinggian, berupa lempengan-lempengan  kayu kecil selebar lebih kurang 20cm, disambung dengan seutas tali yang terus bergoyang dan melengkung setiap kali kita melangkah. Prinsipnya: don’t get distracted, focus to your destination, jangan sampai terhenti di tengah jalan karena si jembatan bakal semakin ga imbang karena momen yang tercipta dari berat tubuh, melangkah lah dengan pasti jangan ragu-ragu apalagi takut jatuh hehe 🙂 That applies to masangin, and the way you live your life too, ihiwww 😉

Selesai mencoba masangin, kami pun kembali ke guest house, tapi cari taxy malam minggu begitu susahnyaaa… Padahal harus segera beristirahat karena besok masih ingin sarapan di Sunmor (Sunday Morning UGM) sebelum berkereta ke Solo.

Minggu pagi, sarapan di Sunday Morning UGM, pasar kaget ala mahasiswa setiap minggu pagi. Kalau dulu di masa-masa awal aku menetap di Jogja, Sunmor ini berlokasi  dari mulai pintu gerbang utama kampus, tetapi sudah beberapa tahun terakhir Sunmor dipindah ke Lembah UGM.

Sempat mengambil beberapa foto di Graha Sabha Padmana, gedung yang juga menyimpan banyak cerita. Di sana, Januari 2012, aku resmi menyelesaikan program master double degree dan berhak mendapatkan dua gelar tambahan di belakang namaku “M.Sc., M.Eng”. Gelar akademik yang dulu rasanya begitu tinggi, ga tau kapan bisa meraihnya hehe 😀 Well, mengutip kalimat Darwin Silalahi “you are your life story, you are not your job title”. So, i will not judge or value myself by these titles, neither do i will let people judge or value me by these. I am me, a whole package of me myself, not any job title nor academic title attached after my name. Haha jadi kemana-mana ya bahasan :-p

Kampus UGM pagi itu: photo pre-wedding, Merapi dari kejauhan, sepeda-sepeda,, Sunmor, dan pose iseng ku hehehe :D

Kampus UGM pagi itu: photo pre-wedding, Merapi dari kejauhan, sepeda-sepeda,, Sunmor, dan pose iseng ku hehehe 😀

Selesai sarapan dan foto-foto, perjalanan dilanjutkan ke Solo dengan kereta Prambanan Express. It was a shopping day! I didnt buy lots, just batik shirts for my brothers, batik dresses for my baby niece, batik mukena for my mom and myself. The girls? don’t ask! Semua kalap belanja batik di pasar Klewer haha 😀 Mbak malah sempat anteng banget menikmati lunch dengan menu tengkleng 😀 Aku ? i dont eat lamb hehe (owkay, jadi aku ga doyan ceker, leher & pala ayam, daging kambing, daging bebek and daging kelinci ya sodara-sodara!)…

Owyaa, di Jogja dan Solo, kalau jalan-jalannya rombongan kecil 3-4 orang, rasanya lebih irit naik taxy deh. Semua pakai argo, traffic relatif lancar. Jadi ya lebih irit dan nyaman deh.

Daaannn ini yang paling penting di Solo: srabi Notosuman!! Owhh nooommm nooommm nyummyyy 😀 hampir kehabisan pun hehe 😀 Akhir tahun 2011 sebenarnya aku hampir mencicipi srabi enak inih tapi urung gara-gara motor kami ditabrak motor lain di sebuah perempatan. Aku nya sudah keburu takut, meskipun cuma lecet-lecet dan memar-memar sedikit tetapi aku trauma beneran hingga ga berani naik ojek seminggu setelahnya 😦 Well, i am a freak when it’s about on road things :-p

Solo hujan sore itu. Kami kembali ke Jogja dengan kereta ac Sriwedari. Waktu tempuh Jogja-Solo sekitar  satu jam. Sengaja balik ke Jogja ga terlalu malam karena masih ada agenda hunting buku dan dinner bareng beberapa teman lainnya.

Solo

Solo

Sesampainya di Jogja, bergegas menyetop taxy menuju toko buku Toga Mas (lantai dua Giant, seberang XXI jalan Solo). Selama menunggu kereta aku sudah memastikan lokasi toko buku tersebut lewat whatsapp dengan Yoan karena terakhir kali aku ke sana ya tahun 2010 hehe. Tapiiii… eng ing eng !! Begitu sampai di toko buku yang dimaksud kok tidak kelihatan lagi ada billboard nama toko buku itu? yang ada justru pamflet-pamflet toko komputer! Eaaaaaa! dari hasil konfirmasi dengan tukang parkir baru deh ngeh “wahh sudah pindah, mbak. ke Kota baru, deket Gramedia. baru sekitar dua bulan pindahnya”. Aduwhhh padahal buru-buru karena masih ada janji dinner, dan belon mandi wkwkwk dan apesnya tadi kan sudah lewat kota baru! balik lagi deh xixixi 😀 Akhirnya nemu juga lokasi toko buku nya yang baru dan terpaksa belanja buku dengan amat terburu-buru (maafkan sayah, mbakkk ! hehe). Meskipun judulnya buru-buru, tapi kalap paling banyak sendiri beli bukunya ehehe 😀 Udah gitu anteng mojok nungguin buku-bukunya disampulin sama karyawan toko bukunya (hihihi hampirrrr dijitak si Mbak). Rusuh deh rusuh hehe 😀

Lantas buru-buru balik ke penginapan, mandi, beberes, lalu meluncur kembali ke jalan Solo. Dinner with some friends! yaiyyy 😀 Ceritanya nyempetin ngumpulin dan bertemu beberapa teman sekaligus. Ada Yoan, ada Alawiya dan teman-temannya juga. Alawiya ini temannya temanku di Belanda, bingung yak ? hehe. Actually Shiham, my Dutch teacher at Ibnu Goldun School Rotterdam introduced me to Alawiya last year on facebook and never meet each other eversince hehe. So, dinner kemaren itu sekaligus menunaikan janji untuk ketemu Alawiya selama dia belajar di Indonesia (she was born and raised in Germany). Ah senangnya bisa terus menambah teman 🙂  and we switched gifts that nite hehe 😀 Aku bawain Yoan & Alawiya makanan khas Sukabumi dong. Yoan gave me a Panda Bear ! Last time when i came to Jogja brokenhearted ( :-p ), he gave me chocolate. Now he gave me panda bear from China 😀 But i do hope this time his little gift won’t attract “another chapter of another stranger another passerby” hahaha 😀 Thanks, Yo 😀 And Alawiya treated all of us that dinner which was supposed to be on me! Nice young girl, thank you 🙂

That was a very hectic day haha 😀 so after having dinner and talks, we went back to the guest house. Finally this happy feet need to rest and we also had to start packing before heading back home to our regular routine!

 *****

The last day

Pagi terakhir di Jogja, target hari ini cuma Malioboro & Beringharjo. Setelah sarapan roti bakar yang dipersiapkan oleh ibu mas Arya, kami langsung melaju lagi ke ujung jalan Malioboro: Mirota batik & pasar Beringharjo, tapinya ada yang ga nampol sarapan dengan roti bakar doang hehe 😀 Akhirnya sarapan lagi di nasi padang kaki lima, Mbak dan Sisil rupanya bener-bener kelaparan. Jadilah mereka sarapan ronde kedua dengan nasi komplit lauknya. Aku ? cuma nemenin dengan sepotong telur dadar dan sebuah perkedel kentang 🙂

Di Mirota pada kalap lagi belanja haha 😀 Eh iyaa, beberapa tahun terakhir ini orientasi shoppingku berganti: baju, mainan dan perlengkapan bayi (ada ponakan cantik sekarang kan), serta perlengkapan rumah! Emak-emak banget ga sih ? 😀 Setengah mati menahan diri untuk tidak menambah belanjaan akhirnya malah jadi beli gorden batik hehe.. Cant help myself deh kalo belanja buat mendandani rumah !

Malioboro siang itu tidak hanya tentang belanja. Ada satu pemandangan yang menampar sudut rasa dan pikiranku. Di depan toko batik high end Margarita Batik, persis di sebelah pintu masuk, duduk seorang perempuan tua bersama kacang bawang dagangannya. Lalu apa yang istimewa dengan nenek itu ? Penampilannya biasa saja, berkebaya dan berkain batik, wajah dan tubuhnya menggambarkan kerapuhan khas seorang perempuan yang sudah renta, mungkin usianya sudah lewat 8 dekade. Sederhana dan papa… Aku yakin sepasang mata tuanya sudah mengabur tak lagi jernih, pun punggungnya yang sudah tak lagi tegap lurus. Lalu tangannya, gemetar, tremor khas usia senja. Namun ada cerita yang lain tentang tangannya yang menua itu. Dengan suara pelan dan dalam bahasa Jawa, perempuan tua itu bercerita kepada Mbak bahwa tangannya itu sakit akibat terjatuh dan tidak pernah benar-benar pulih. Tetapi dengan kondisi tangannya yang seperti itu, ia tetap bisa bekerja mencari nafkah. “Semua karena kuasa gusti Allah”. Begitu katanya sambil tersenyum. Deughhhh !! Ini dia pencerahan yang aku cari 🙂 Bahwasanya sesulit apa pun situasi yang kita hadapi, ada Allah yang berkuasa dan memberi pertolongan. Bahwasanya pasti ada kemudahan dibalik semua kesulitan, yang dibutuhkan adalah kejelian dan kecermatan untuk menemukan kemudahan itu dan juga yakin!…

Pencerahan darinya

Pencerahan darinya

Capek berkeliling menemani the girls keluar masuk toko (bahkan ada yang nekat balik lagi ke Mirota batik, colek Sisil :-p ), aku dan Mbak menyempatkan belanja oleh-oleh gudeg titipan. Mbak malah lunch sama gudeg komplit di Yu Djum di jalan Dagen. Aku ? cuma bacem tahu dan sambal krecek 🙂 Soalnya pingin banget makan siang dengan pecel dan ketupat di angkringan sebelah Malioboro Mall, pecel favoritku bersama mbak Fifi dan Mbak Ofi semasa kuliah dulu hehe 😀 Enak, murah, porsinya segambreng. Typically mahasiswa kere tapi keren deh hehe 😀 Ehhh tapinya si mbok yang biasa angkringan di sana tidak berdagang hari itu 😦 Kecewa dehhh…

Akhirnya pilihan lunch jatuh ke House of Raminten, apalagi? kan ikon nya Jogja. Tapinya ternyata antriiiiiiannya puanjaaaang ! Padahal sudah lapar sangat. Akhirnya panggil taxy lagi dan meluncur ke arah Jakal. Di jakal paling gampang cari makanan dan tempat makan. Dan aku sangat-sangat hafal daerah itu, kan dulunya salah satu warga Jakal km 4,5. Sayangnya siang itu agak macet, perasaan dulu pas jam istirahat siang, Jakal belum semacet itu.

Kuminta supir taxy mengantar kami ke Foodfezt, salah satu tempat makan dan ngumpul-ngumpul dengan banyak cerita dulu… Dan lagu ini mengalun pelan menemani kami menunggu pesanan makanan kami diantar…

pejamkan mata…

lihat dia disana…

buanglah duka…

demi cita-cita!

(White Shoes and The Couple Company, Windu & Defrina)

Lagu yang berkisah tentang Windu dan Defrina 🙂 Duduk di meja pojokan lantai dua, persis di meja yang sama di akhir tahun 2011 dulu. Mungkin Yoan dan Mbak benar, bahwa perjalanan kali ini juga napak tilasku, meski tak berniat sama sekali seperti itu. At some point, when you visit some places where you had stories, everything you have been through, everyone you have met, are just like flashes of light, popping up on your window of memory, whether you want it or not, whether you like it or not.

Yet, isn’t it nice to be able to smile, even laugh, over all of that long tiring drama, conflict, arguing, silence and farewell? What happened last year was just a series of unfortunate events. Two dramas in a row, two different rollercoaster turning my pages upside down. Now i can say i remember those all as what has enriched me in person 🙂

mbak dan sisil, lunch di foodfezt

mbak dan sisil, lunch di foodfezt

Haha, seperti peneguhan, ada lagu ini mengalun mengiringi lunch siang itu

I rest my case you are always this late, And you know how much I hate waiting around ’round ’round, Bitter heart, bitter heart tries to keep it all inside, Bitter heart, bitter heart shadows will help you try to hide… (Zee Avi, Bitter Heart)

Inginnya menghampiri operator musik di cafe itu dan berpesan padanya “hey, bisa tolong dilanjut dengan Zee Avi’s “I am me once more” please?”

But I should thank you for taking my blindfold off now. I ain’t jaded no more, no more. And I take pride in being the one that said goodbye. That could only mean I am me, once more (Zee Avi, I am me once more)

Panda bear is finally home :D

Panda bear is finally home 😀

Now i know what quality i search on people. Now i know what kind of people i should value high and what kind of people i should value less. Now i know that i wont let another passerby making me just an option to his, that i wont let anyone interfere my tiny little world. I’d rather be selfish for my own sake 🙂 Now i know what i really want and ready to sign another future deal with myself, and back to that sacred principal o’mine that “I’ll go with whatever comes first” let alone those who judge and their judgement. They are not in my shoes, they don’t live my life 🙂

Kenyang dan senang 🙂 Makan siang kali itu di Foodfezt diakhiri dengan dua mangkuk kecil es krim gratisan karena berbagi tentang foodfezt di twitter haha 😀 Dan akhirnya harus benar-benar kembali ke penginapan, bersiap diri untuk meninggalkan Jogja!

Time stands still, beauty in all she is… I will be brave. I will not let anything take away.. What’s standing in front of me. Every breath, Every hour has come to this… (Christina Perri, A Thousand Years)

*****

Kamar penginapan mulai kelihatan seperti kapal pecah karena masing-masing mengurai barang-barang bawaan dan berharap bisa menciutkan ukurannya agar muat di ransel-ransel yang mulai kelebihan muatan 🙂 Ada yang sampai kelupaan cardigan nya lohhh 😉 Untungnya pencerahan-pencerahan dan cerita tentang perjalanan kali ini tak butuh ruang besar untuk disimpan, hanya sedikit ruang dalam ingatan 🙂

Alunan gitar mas Arya saat kami bertiga, mas Arya-Sisil-aku, bernyanyi medley suka-suka 🙂

Sampai nanti lagi Jogja…

I stay to watch you fade away, I dream of you tonight,  tomorrow you’ll be gone… (Saybia, The Second You Sleep)

Advertisements