Tags

, , ,

Mengaplikasikan ajaran dan teladan yang baik dari orangtua dalam keseharian itu menjadikan hidup lebih terarah dan insya allah jauh dari masalah, apalagi saat jauh dari orangtua dan segala aturan-aturan mereka, menurutku sih begitu πŸ™‚

Saat membuat adonan kue talam ini tadi, ingatanku kembali kepada masa kecilku dulu, membandingkan keadaan keluarga kami dulu dan sekarang. Masa kecil merupakan masa pembelajaran yang dipenuhi dengan kasih sayang dan nilai-nilai moral yang ditanamkan oleh mama papaku dulu.

C360_2012-08-11-18-11-57_org-1

Orangtuaku dua-duanya guru, dan kesejahteraan guru waktu itu belumlah seperti sekarang. Praktis kehidupan kami dulu jauh dari mewah, sederhana tapi cukup. Sekarang pun masih seperti itu walaupun, alhamdulillah, banyak hal yang dulu mungkin di luar angan-angan kami sekeluarga tetapi sekarang berhasil terwujud.

Aku kecil mulai merasakan “perjuangan” mama papaku saat kami sekeluarga pindah ke Padang, waktu itu umurku sekitar 9 tahun. Saat itu papa mama membeli sebidang tanah dan mulai membangun rumah untuk tempat tinggal kami, tidak lagi menyewa rumah seperti sebelum-sebelumnya. Rumah itu kami tempati meskipun belum 100% rampung. Dindingnya masih kelihatan hollow brick nya, lantai nya masih acian semen kasar, tidak ada terasnya. Tetapi rumah sederhana itu milik kami, hasil keringat orangtuaku, benar-benar hasil keringat mereka, bukan dari warisan atau apa pun lainnya πŸ™‚

Perjuangan mama papaku untuk membangunkan kami rumah yang layak itu pula yang kelak membuatku lebih memilih untuk “memaksa diri” mencicil kredit rumah dibandingkan mencicil kendaraan. Mereka memberiku teladan bahwa rumah itu kebutuhan mendasar dan penting untuk menaungiku dan keluargaku kelak. Di rumah sederhana itu ulang tahunku tetap dirayakan, walaupun dengan sangat sederhana: kue bolu + lontong sayur semuanya buatan mamaku tercinta. Undangannya hanya lewat ajakan lisan, dan yang datang adalah teman-teman bermainku. Lucunya mereka selalu memberiku kado buku tulis hahaha πŸ˜€ Iya, tidak ada kado lain selain buku tulis, jadi tiap kali aku atau adikku merayakan ulang tahun, kami pasti panen buku tulis yang disimpan untuk tahun ajaran berikutnya. Sama pun ketika aku dan adik-adikku selalu dapat rangking tiga besar di sekolah, hadiah dari guru-guru kami pun buku tulis πŸ˜€ Jadi setiap tahun ajaran baru, mamaku bisa lebih tenang karena kami punya tabungan buku tulis yang lumayan jumlah nya πŸ™‚

Nah ini salah satu fase penting yang penuh nilai dari masa kecilku πŸ™‚ Dulu, demi menopang semua kebutuhan kami, mama papa ku juga berjualan beberapa macam kue. Jadilah kami sekeluarga satu teamwork dalam cerita berjualan kue itu hehe… Semua kue-kuenya mama papa ku yang membuat, Subuh-subuh sekali mereka sudah bangun dan sibuk di dapur, sementara kami masih terlelap nyenyak. Waktu itu kami berjualan kue putu ayu, nasilamak baluo (ketan lapis kelapa parut gula merah) dan kerupuk balado. Papaku hebat, dia contoh teladan buatku, laki-laki yang engga segan untuk turun membantu mama di dapur (papaku pinter masak loh hehe. sop, gule patin tempoyak, ikan bakar.. klo papa yang masak pasti nyammm nyammm). Setelah kue-kue itu selesai dimasak, lalu kami, aku dan adik-adikku membantu sebisanya. Tugas kami adalah bagian packaging haha πŸ˜€ Dengan modal satu hekter, lilin dan korek, mulailah kami menge-pack kue-kue itu. Plastiknya dilipat dan ditekan, lalu digeser pada api lilin biar menutup sempurna. Nah untuk kue putu ayu dan nasilamak baluo lebih gampang lagi packagingnya, plastiknya cukup dilipat ujungnya lalu dihekter πŸ™‚ Senang rasanya kalau kue-kue kami laku semua, kalau pun tidak habis, aku juga senang-senang saja bisa menghabiskan kue-kue itu sesukaku hehehe πŸ™‚

Di sinilah secara tidak langsung mama papaku menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada kami. Bahwasanya kami tidak boleh mengambil apa yang bukan hak kami, tidak boleh mengandalkan belas kasihan orang lain. Tidak pantas berbuat seperti itu apalagi kami dilahirkan dengan fisik yang sempurna dan punya akal untuk bisa berkreasi, mengusahakan sesuatu dengan halal. Kelihatannya memang remeh temeh, apaan sih jualan kue? Tetapi sekarang melihat berita di TV, mereka yang kaya raya dengan menghalalkan cara yang tak halal demi gaya hidup yang luar biasa mewah dan nyamannya, mama papaku yang dulu berjualan kue sebagai usaha untuk mendapatkan penghasilan tambahan rasa-rasanya mereka jauhhhhhh lebih terhormat, lebih kayaaaa dibanding orang-orang itu πŸ™‚

Meskipun dulu mama papaku secara ekonomi tidak mapan, pendidikan kami tetap nomor satu. Buku-buku pelajaran, meskipun beli nya cicilan hehe, kami punya semua dan di saat kami naik kelas, buku-buku itu pun berpindah tangan kepada anak tetangga agar mereka juga bisa belajar dengan baik. Owyaa, kami kecil juga selalu disuplai bahan bacaan meski kami bukan anak orang kaya. Kami dulu langganan majalah Ananda, aku yang bertugas me-manage pencatatan, pembayaran dan pemeliharaan majalah-majalah itu hehe πŸ™‚ Setiap akhir bulan, aku yang membayarkan uangnya ke om loper koran sejumlah majalahyang kami terima sebulan itu, jadi pencatatanku harus rapi, bisa-bisa disentil mama kalau hitungan majalah nya berbeda dengan om loper koran nya hehe πŸ™‚

Mama Papa juga punya alasan sendiri kenapa memilih majalah itu untuk bahan bacaan kami daripada majalah anak-anak satunya lagi yang bergambar kelinci itu. Majalah itu dipilih mama papa karena sering memberikan bonus-bonus rakitan dari kertas yang bisa melatihh kami terampil dan kreatif (aslinya aku doang yang sibuk sama bonus bonus rakitan itu wkwkwkkw). Aku dulu punya miniatur kapal Nina, miniatur pesawat concorde, boneka kertas shirley temple, wayang boneka kertas frankenstein, dan miniatur kota tua Eropa lengkap dengan wagon kertas, lumbung gandum dan rumah-rumah kayunya! Semuanya digunting, dilem dan dirakit sendiri. Β Majalah itu juga tidak hanya menjual dongeng, lebih realistis kata mama papa ku. Pun di dalamnya selalu ada berita dari apa yang lagi happening di luar negeri sana. Jadi walau pun kami waktu kecil tidak pernah menginjak ibu kota, tapi kami update dengan berita anak-anak di luar negeri hehehe πŸ™‚

Kesederhanaan masa kecil itu pula yang membuatku merasa cukup dengan apa yang aku punya. Tempo hari salah satu staffku berujar “beli mobil atuh, bu Deary? masa numpang ojek melulu?”. Senyum-senyum aku menjawab “Bayarnya pake apa? rumahnya aja belon lunas πŸ™‚ “. Keinginan itu penggerak kita untuk berusaha secara maksimal, tetapi berusaha pun harus tahu batas kemampuan diri, bukankah begitu ? Kalau lah lupa dengan batas kemampuan diri lantas khilaf pula hingga menghalalkan yang tidak halal, bukankah jadi jauh diri dari selamat ? πŸ™‚

Pun kesederhanaan masa kecil itu pula yang membuatku berusaha dalam koridor-Nya untuk hal-hal yang aku cita-citakan. Alhamdulillah meskipun aku kecil bersekolah di sekolah dasar negeri dekat rumah yang tidak terkenal, berhasil juga mengenyam pendidikan tinggi dari dua universitas besar yang dulunya terbayang pun tidak πŸ™‚ Insya allah selalu ada kemudahan untuk hal baik yang diusahakan dengan jalan yang baik pula bukannya?

???????????????????????????????

Pfyuhhh kue talam… kamu berhasil membongkar memori masa kecilku πŸ™‚

Thanks to mbak Yunilvia Rima Defitra dari group Natural Cooking Club yang udah share resepnya sebagai berikut :

Adonan ungu:

  • 500 gr ubi ungu rebus hingga empuk (aku ketipu dengan japanese sweet potatoes yang kulitnya berwarna ungu ternyata isinya tidak ungu hahaha)
  • 500 gr gula pasir
  • 1 sdt garam
  • vanili bubuk secukupnya
  • 250 gr tepung sagu (tepung tapioka)
  • 50 gr tepung beras
  • 400 cc air
  • 100 cc santan kental

Adonan putih:

  • 24 tepung beras
  • 24 gr tepung maizena
  • 1sdt garam
  • 500 cc air
  • 100 cc santan kenatl

Cara memasaknya:

  • blender semua bahan adonan ungu sampai halus dan tercampur rata, lalu masukkan ke dalam cetakan kue talam, 3/4 tingginya saja, (bisa pakai cetakan muffin lepasan juga) yang sudah dioles tipis minyak goreng.
  • masak adonan putih hingga kental dan meletu-letup, dinginkan, lalu masukkan dalam plastik segi tiga
  • suntikkan adonan putih dengan bantuan plastik segitiga ke bagian tengah adonan ungu
  • kukus dengan api sedang lebih kurang 20 menit hingga matang

Aku tadi hanya membuat setengah dari porsi adonan ini, dapatnya 12 loyang muffin. Bentuk isi nya masih rada kacau karena belum luwes bermain dengan plastik adonan putihnya hehehe πŸ™‚ Silahkan buat yang ingin mencoba, siapa tahu beneran bisa untuk bahan bakulan kue daripada mencari penghasilan tambahan dari yang bukan hak πŸ˜‰

Advertisements