Orang-orang berjalan cepat di bawah payung warna-warni mereka. Kyoto-Osaka-Kobe hari ini kompak hujan. Dingin sekali, sekitar 19 C, dingin khas musim gugur, persis seperti dulu rasanya autumn pertama di Rotterdam, angin kencang, hujan, mendung. Rasanya lebih nyaman berlindung dibalik duvet hangat yang berisi bulu-bulu angsa daripada jalan-jalan di luar sana.  Karena itu pula kami membatalkan rencana sightseeing di Kobe & mampir di Osaka untuk melihat Tsurumi Ryokuchi Koen Park. Padahal yang terakhir ini adalah lokasi yang harus aku lihat untuk bahan risetku seperti yang dirujuk oleh Senseiku dan besok sore adalah jadwalku untuk melaporkan progress researchku.

Setidaknya niat dari tanah air untuk shalat Ied di mesjid Kobe tunai sudah 🙂 Pagi-pagi sekali aku bangun, takut terlambat dan batal ikut shalat Ied. Jam 5.30 aku ke lantai 11, unit kamarnya mbak Endang. Lalu kami turun ke lantai dasar, telpon anggota team satunya lagi yang ternyata batal ikut karena sakit. Mungkin karena dari awal datang ke Kyoto nyaris tidak satu hari pun yang terlewatkan untuk jalan-jalan, akhirnya kecapekan dan drop. Apalagi sightseeing di sini membutuhkan energi ekstra untuk naik turun tangga berjalan kaki 😀 Lengan dan betisku juga mulai memar-memar ungu, pertanda tingkat kecapekanku sudah mulai menuju tingkat mengkhawatirkan, tetapi karena di sini setiap harinya fun, plus excited melihat tempat-tempat baru, jadinya rasa capek itu tidak terlalu dirasa hehe 😀 Pokoknya dopping vitamin dari dokterku sebelum berangkat ke sini, plus vitamin C, plus segelas susu, wajib masuk perut di awal hari 😀

on the hankyu to Kobe

on the hankyu to Kobe

Karena berangkat pagi-pagi sekali, belum ada bis yang menuju Kyoto Eki (Kyoto Central Station). Akhirnya kami memutuskan untuk jalan kaki mengejar Hankyu (kereta subway, kalo di Belanda ya Metro). Dari Apartemen ke main gate stasiun hankyu sebenarnya dekat sekali, apartemen kami di kawasan Kawaramachi, pusat kota Kyoto. Sementara main gate hankyu station nya ada di bawah Takashiyama Departemen store, departemen store elitnya Kyoto. Yaa mirip-mirip De Bijenkorf departemen store dan V&D departemen store nya Belanda begitu. 5 menit jalan kaki (standar kecepatan jalan kaki orang Jepang hehehe).

Akhirnya pagi tadi penuh dengan acara lari-larian 😀 Pertamanya gara-gara salah mengambil arah dari mesin ticket, dengan konyolnya kami berlarian ke arah yang justru menjauhi main gate dan mesin ticket 😀 Hahaha maklum, baru pertama kali naik hankyu di Kyoto, jadi belum hafal medan. Sadar kami salah arah, maka secepat kilat kami berhamburan lari kembali ke arah mesin tiket, mengejar hankyu yang berangkat jam 06.00 pagi itu. Owyaa, ticket hankyu dari Kyoto ke Kobe itu 600JPY, sekitar 70.000IDR (pake rate beli 118IDR). Keretanya lucuuuuu warna marun nyaris ungu 😀 interior di dalamnya juga bagus rapi bersih, bench empuk warna shocking green dipadu warna dan motif kayu pada dinding interior dalam kereta.

Kami harus berganti kereta di Juso Station (sudah masuk kota Osaka) ke kereta yang menuju Sannomiya station (kota Kobe). Nahh yang ini juga lucu 😀 Pas di stasiun apa gitu tadi (di Osaka, setelah sungai besar), kereta nya balik arah kembali menuju

bareng Aiya, sahabat baru di sini :) junior di UGM tapi beda program magister :)

bareng Aiya, sahabat baru di sini 🙂 junior di UGM tapi beda program magister 🙂

Kyoto, kami panik lagi kenapa keretanya balik arah, apa kami tadi ga ngeh kalau sudah melewati Juso Station? Hahahah ternyata keretanya pindah jalur hehehe 😀 Well, pengumuman-pengumuman dari petugas di kereta diumumkan dalam bahasa Japon (baru nyadar kalau barang-barang buatan Jepang di label nya ditulis “made in Japon”), jadi no wonder lah kalau jalan-jalan di Jepang kitanya jadi kayak orang bingung, sudahlah tidak bisa membaca tulisan kanji yang super keriting itu, mendengar omongan mereka pun ga ngerti.

Kalau bertanya pada orang Jepang tuwh untung-untungan 😀 Seringnya mereka tidak bisa berbahasa Inggris, kalau pun bisa kadang malah balik dijawab dalam bahasa jepang lagi hahaha 😀 Pernah waktu itu di travel center di kampus, kita bertanya soal jadwal shinkansen, ehhh si mbak-mbak yang ditanya ga bisa bahasa Inggris at all hahaha 😀 Dia lalu narik temannya yang bisa berbahasa Inggris untuk membantu kami. Dan begitu kami selesai bertanya dan berucap “arigato gozaimasu”, si mba nya langsung sighed legaa hahaha 😀 Pusing beliau ditanyain dalam bahasa Inggris 😀

Mesjid Kobe

Mesjid Kobe

Tetapi kerennya attitude orang Jepang, mereka pasti benar-benar berusaha membantu sampai kesulitan yang kita hadapi itu benar-benar clear 🙂 Buktinya waktu itu aku kesulitan menginstall VPN di laptopku karena manual nya hanya tersedia dalam bahasa Jepang ( booo! padahal website campus international, tapi ga punya manual english di website nya huhuuu, di Belanda dulu kita ada sesi khusus untuk ngasih tau cara install VPN dll, dalam bahasa Inggris), mas-mas Jepang cakep Nishide san benar-benar ngebantuin hehe 😀 Dia berusaha menginstall VPN biar aku bisa mengakses database online library campus dari koneksi internet di rumah, biar bisa pakai ReffWork juga untuk paperku (gayaaa.. mau pake ReffWork xixi). Lalu beberapa hari kemudian di kampus dia nanya lagi apa aku sudah bisa mengakses database yang aku mau. Aku bilang belum karena begitu aku entry user ID dan password bolakk balik dapat notifikasi invalid username/password. Dan sekali lagi dia yang bolak balik telpon ke bagian akademik, perpustakaan dan Rainbow (bagian IT kampus), made sure that my problem would be solved soon 🙂

Terakhir dia ngasih kartu namanya dan bilang “nanti kalau ada apa-apa, hubungi saya lagi aja”. hehe baik bener. Oiyaa, ternyata beliau ini dosen part time. Dohhh smoga dosen-dosen muda di Indonesia ga belagu yaa, punya attitude yang bagus juga kayak Nishide san. Catatan niy, bolak balik ke bagian IT dan Perpustakaan ngasih gambaran bagaimana bertolak belakangnya “international campus” di Belanda dan Jepang. Di Belanda yang namanya international campus itu bisa dipastikan staffnya pada berbahasa Inggris kalau melayani overseas students. Tetapi di Jepang pada pakai bahasa Jepang xixixi 😀 Butuh perantara yang bisa berbahasa Jepang-Inggris agar urusan nanya-nanya berjalan lancar 😀

Detail jendela mesjid

Detail jendela mesjid

detail interior mesjid

detail interior mesjid

Yukkk balik lagi ke cerita hari raya 🙂 Nah di Juso rencananya kami akan nyambung hankyu dengan jeda antara sekitar 13 menit. Begitu turun dari Hankyu dari Kyoto, mata kami menuju display kedatangan kereta, 1 menit berikutnya ada Hankyu yang akan menuju Sannomiya! Hahh?? Platform mana??? Sekali lagi kami berlarian naik tangga, dan tadaaaaa! begitu nyampai lantai berikutnya pemandangannya super sekali ! Orang-orang berlarian dari segala arah ke arah yang berlawanan 😀 benar-benar berlarian untuk mengejar kereta berikutnya! Hahaha saking bengongnya melihat flow of people tadi ga sempat menngabadikannya dengan kamera, malahan ikut berlarian bergabung dengan arus manusia yang terburu-buru berlarian 😀 Duhhh itu teteh-teteh di Sukabumi yang kalo mau naik angkot berasa angkotnya milik pribadi, melangkah supermanis dan pelan-pelan kalo di Jepang sini bakal kelaut aje dahhh… Yang lelet-lelet ga bisa di sini xixixi 😀

Pfyuuhhhh akhirnya pegel keringetan berlarian nya ga sia-sia! berhasil dalam satu dua menit pindah platform dan pindah kereta xixi 😀 *lap keringet, pijet-pijet betis*

Masih interior mesjid, foto diambil dari shaf perempuan di lantai 2

Masih interior mesjid, foto diambil dari shaf perempuan di lantai 2

Sepanjang jalan kami disuguhi view kota Kobe yang disaput gerimis hujan.. Oiyaa, walaupun namanya Hankyu alias kereta subway, ga melulu berada di railway terowongan bawah tanah kok 🙂 Begitu masuk Osaka keretanya sudah ga dibawah tanah lagi, jadi bisa dapet pemandangan yang indah 🙂 Kita sempet berguma pas lewat Rokkomichi station, inget Nurul, mbokne dek Iyo sahabat kami yang dulu konon apato nya berada persis di belakang stasiun Rokko hehe 😀

Turun di Sannomiya station kami lalu bergegas mencari East gate. Petunjuk arah dari beberapa teman, keluar statsiun dari East gate lalu jalan kaki sekitar 15-20 menit ke mesjid, dan ikuti saja rombongan berkerudung/berbaju koko. Begitu pesan mereka. Alassss, we didnt see any of those 😦 akhirnya berjalan menelusuri jalan di sekitar stasiun yang kira-kira menuju mesjid Kobe hehe.. Oiyaa, untung mba Endang nge-bookmarked google map di iphone nya, jadi begitu ketemu bapak-bapak tua penjaga perempatan (di sini setiap perempatan suka dijaga petugas berpedang sinar gaban hehe) kami tunjukkan peta tersebut dan bilang kalau kami mencari mesjid kobe. Daaaannn.. beliau memberi petunjuk arah dalam bahasa Japon (lagi-lagi haha). Baiklaaah,… mari kita mempercepat langkah biar punya spare waktu untuk nyasar-nyasar 😀

tuwh kan mirip-mirip facade Paris Le Grand Mosque?

tuwh kan mirip-mirip facade Paris Le Grand Mosque?

Untungnya di Pearl Street ada peta lokasi, dan mesjid Kobe tertera jelas di sana 🙂 Alhamdulillah.. untuk urusan ibadah insya allah pasti diberi kemudahan 🙂 seperti kemaren Jumat kami juga kebingungan mencari mesjid karena salah satu anggota team harus shalat Jumat, untungnya mataku menangkap cowo berwajah timur tengah dan kami memutuskan mengikutinya hehe.. Benar saja, cowo itu menuju mesjid 🙂

Akhirnyaaa berhasil juga menemukan mesjid Kobe, mesjid tertua di jepang. Tunai sudah satu janji pada diri sendiri untuk bisa melaksanakan shalat Ied di mesjid ini 🙂 Daaan… ya gitu deh hehe 😀 Dari luar detail facade bangunan mesjid dan warnanya mirip Paris Le Grand Mosque yang sempat aku datangi di penghujung winter 2010 dulu.. Jendela-jendela dengan mozaik kaca, lampu kristal yang menggantung di langit-langit, karpet hangat berwarna marun… Tempat yang indah untuk beribadah, dan menikah haha 😀 Kata mba Mita (tadi kenalan pas wudhu di toilet mesjid hehe) memang banyak yang menikah di mesjid ini 🙂

Takbiran di sini ga seindah di Indonesia tapinya, kangen pun dengan suara takbiran yang berirama indah diselingi bunyi beduk sahut-sahutan… Khutbah shalat Ied nya disampaikan dalam bahasa Arab, xixi ga ngerti… kecuali nama nabi Ismail dan Ibrahim yang beberapa kali disebut, pasti isinya tentang sacrifationnya nabi Ibrahim dan nabi Ismail 🙂

salam-salaman selesai shalat Ied

salam-salaman selesai shalat Ied

Selesai shalat Ied, lalu antri beli kebab (iyaa, ga ada makanan lezat ala Indonesia yang bermacam-macam dengan porsi ambil suka-suka kayak di mesjid Nasuha Rotterdam hehe), lalu berbelanja bahan makanan halal di Halal Kobe. Mba-mba yang jaga tokonya orang Jepang, tetapi bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit, mungkin karena mayoritas pelannggan toko ini adalah student muslim dari Indonesia 🙂

Petugas berpedang sinar gaban hehe :D

Petugas berpedang sinar gaban hehe 😀

bareng Fika, DD UGM -GSICS Kobe

bareng Fika, DD UGM -GSICS Kobe

Dan lalu hujan…. sightseeing di Kobe dan Osaka harus menunggu lagi nanti kapan-kapan 🙂

Seperti yag lainnya bergegas berjalan menembus hujan, dengan payung warna warni, kami pun mempercepat langkah untuk kembali ke Kyoto…

Dingin dan hujan, tidak ada rendang apalagi ketupat, tidak ada keluarga yang memeluk hangat berucap selamat lebaran… Tetapi tetap saja pengalaman berlebaran di negeri orang itu sangat berharga, seperti dulu di Rotterdam, dan insya allah nanti di tanah suci, semoga, aamiiin…

 

Advertisements