Seru sekali marathon tiga hari nyari Yaoichi (http://www.kyotoyaoichihonkan.com/), groceries store yang menerapkan konsep green building sebagai bahan risetku. Nyasar sampai luar kota dan berakhir main di pinggir kali, nyasar sampai daerah pinggiran kota yang dihuni oleh kakek-kakek dan nenek-nenek, dan akhirnya hari ini berhasil menemukan supermarket yang dirujuk oleh Profesorku 😀 Yaiyyyy!! *lompat ke udara*

Dan malam ini, alih-alih menulis progres report risetku, yang ada jadi ngantuk dan lapar. Bahaya laten ketika harus berurusan dengan penulisan academic paper di musim gugur atau musim dingin. Duwhh.. yang kayak begini masih punya mimpi lanjut sekolah? xixi… sadar, de! engga dulu pas di jogja, engga dulu pas di belanda, engga sekarang di jepang dan cuma internship… Engga bakal bisa klo belon insyaf dari kebiasaan procrastinating inihhh! :-p

Yukk kuceritakan perjalanan total 3 hari mencari yaoichi ini 🙂

Day #3, Yaoichi, Finally!

Mari kuperkenalkan kepada mba Jepang cantik ini 🙂

Sang penolong :)

Sang penolong 🙂

jadi ikut nanyain alamatnya ke orang-orang di Nikishi Market :)

jadi ikut nanyain alamatnya ke orang-orang di Nishiki Market 🙂

Jadi tadi ceritanya pas aku kebingungan baca dan mencocokkan peta di applikasi Local Map handphone ku  dengan print out peta dari Sensei yang dipegang mba Endang, di pinggir jalan kecil dekat Nishiki Market, seorang mbak-mbak Jepang beserta ibunya menghampiri kami, tersenyum lalu bertanya. Aku langsung menunjukkan petaku dan bilang “we are looking for Yaoichi, the groceries store but we cant find it”. *lupa kenalan, kita panggil aja mbak Kireii (cantik)* Peta lokasi nya udah di-bookmark dari rumah, udah aktifin GPS nya, tapi karena ga punya paket internet, fitur get direction nya jadi ngadat ga bergerak 😦 susahnya di jepang itu kita ga bisa beli nomer lokal segampang waktu di Belanda. Kalau dulu di Belanda tinggal pilih mau pake lebara, Tmobile, Vodafone dll tinggal beli aja simcard nya, jadi teteup bisa komunikasi dan connect ke internet)

Mbak Kireii lalu sigap mempelajari peta itu, tetapi sayangnya beliau juga ga ngerti Yaoichi supermarket itu yang mana. Tidak menyerah, mbak Kireii masih terus berusaha menolong kami mencari si Yaoichi yang sudah 3 hari dicari tapi engga ketemu-ketemu. Mbak Kireii mengajak kami mengikuti langkahnya, kami kembali ke Nishiki market. Di salah satu kios, mbak Kireii berhenti lalu bertanya kepada salah satu pedagang dimana letak Yaoichi supermarket itu. Mereka berbicara dalam bahasa Japon. Mba Kireii lalu menjelaskan kepada kami petunjuk dari pedagang tadi dalam bahasa Inggris.

Sadar kami semua masih muka bingung dan yakin ga bisa menemukan si Yaoichi, mbak Kireii akhirnya menemani kami menyusuri jalanan kecil dekat Nishiki market itu. Sampai kemudian  mbak Kireii melihat seorang petugas pos akan mengantarkan barang ke sebuah gedung, mbak Kireii sigap berlari sambil berteriak “konichiwa, sumimasen!” menyusul  petugas pos. Kami memperhatikan dari seberang jalan, mbak Kireii menanyakan alamat yang dimaksud kepada petugas itu, petugas itu memberikan ancar-ancar arah menuju si Yaoichi.

Setelahnya mbak Kireii menghampiri kami kembali lalu menggambar sebuah sketsa di belakang print out peta: perempatan kedua, sebelah kanan. Dia masih menemani kami berjalan, setelah yakin kami tidak jauh dari Yaoichi barulah mbak Kireii pamit dan menyerahkan kembali petanya kepadaku. Benar saja, tidak berapa lama kami berhasil menemukan si Yaoichi yang ternyata supermarket mewah yang bagian belakangnya menyambung dengan hotel mewah Savoy!

Aaaaa… baik sekali ! Tahukah kalian Mbak Kireii itu tadinya lagi asik jalan sambil  ngobrol bareng ibunya, ibunya lalu menunggu di pinggir jalan sementara mbak Kireii bertanya sana sini, membantu kami berjalan mencari si Yaoichi sampai ketemu! Tanpa kami minta bahkan ! She has that awareness, bahwa di dekatnya ada yang lagi bingung butuh bantuan hehe… *baca tulisanku beberapa waktu lalu tentang diffusion of responsibility, kalo semua orang punya awareness & willingness yang bagus untuk menolong orang lain, maka kasus-kasus menyeramkan akibat diffusion of responsibility bakal lenyapppp*

Dan sekali lagi aku dibuat terkagum-kagum dengan attitude bangsa Jepang ini, menolong ga setengah-setengah, tapi sampai clear dan dengan tulus 🙂

Oiyaaa ! Gara gara nyasar-nyasar cari si Yaoichi ini, aku juga jadi berhasil tidak sengaja masuk Nisikhi market ! Yaiyyy, potoh sana sini, lumayan buat bahan revitalisasi pasar Pelita dan penataan PKL di Sukabumi tercintahhh, ngirit biaya studi banding kan gw? hehe  🙂

Nishiki Market, pasar yang jadi daya tarik wisata

Nishiki Market, pasar yang jadi daya tarik wisata

Day #2, Pinggiran Kyoto Kelurahannya Oma-oma dan Opa-opa

Mundur ke hari kedua perjalanan tiga hari mencari Yaoichi 🙂 Jadi ceritanya aku berusaha mencari alamat si Yaoichi pakai google map. Pertamanya masuk dari blog travel seseorang yang pernah menulis where to go list when you are in Kyoto gitu deh. Dari blog itu ada link yang menghubungkan aku ke website fancy groceries store ini. Sayangnya website tersebut full tulisan keriting-keriting yang tidak bisa kumengerti 😀 Apess haha 😀 Untungnya google chrome, web browser yang aku pakai, ada fitur translationnya. Nah mengandalkan fitur itu aku nemu store information yang menyebutkan kalau kantor pusat nya berada di daerah NISHISHICHIJO bla bla bla (udah lupa lagi haha 😀 Fyuhhhhh susah ngapalinnya).

Dari alamat hasil translasi google chrome itu aku pun menelusuri alamat yang dimaksud dengan google map. Tadaaaa! Groceries store yang kata review nya ini fancy sekali, lalu kata sensei ku jauh lebih bagus konsep green buildingnya daripada sky garden di Kyoto Eki (Central station Kyoto), tidak terdeteksi keberadaannya oleh google map 😦 Tetapi ada beberapa suggestion alamat yang juga berada di Nishishichijo bla bla bla itu. Akhirnya aku menyimpan file alamat yang kupikir berada di sekitar si supermarket Yaoichi, yaitu Orange Inn, penginapan dengan konsep budget hostel gitu deh sepertinya.

Nah, mbak Endang yang membantu mencarikan rute bis menuju nishishichijo something itu. dari Kyoto Eki kami meluncur ke tekape, turun di halte perempatan apalagi aku lupa judulnya. Tidak beberapa jauh dari halte kami melihat sebuah supermarket. Tapi sayangnya merk si supermarket bukan yaoichi dan ga ada ciri-ciri roof gardennya :-p Owkay, change of plan, kami berdua harus menemukan si Orange Inn terlebih dahulu, dari sana baru menelusuri jalanan untuk mencari si Yaoichi ini.

Akhirnya berhasil menemukan si Orange Inn. Alamakkk.. di jalan kecil pun ternyata *lupa ngecek street view nya di google map wkwkwkw * Kebingungan karena ga mungkin aja ada supermarket mewah dalam gang seperti itu. Kami pun memilih melanjutkan perjalanan, jalan kaki sambil waspada lirik kiri kanan sapa tau menangkap keberadaan Yaoichi 😀

Perasaan sudah jauh kaki melangkah tapi kok ga nemu-nemu juga yaaa? Akhirnya nemu gedung gede sepertinya bakal calon Mall gitu deh, namanya mirip Yaoichi (ada ichi-ichi nya juga) tetapi poster-posternya cuma menandakan kalau tempat itu cuma pachinko & slot (semacam timezone di Indonesia gitu deh). Di depan parkiran nya ada dua orang petugas parkir merangkap keamanan. Dengan pertimbangan orang yang berumur bakal ga bisa bahasa Inggris, maka kami bertanya pada petugas yang mudaan. Ehh ndilalaaahhh.. zenzen wakarimasen si mas nya wkwkwkwkw 😀 Dia lantas menunjukkan tangannya ke arah depan pertanda “jalan aja terus… blabla sapyrfqwtd0y037r53” xixi 😀

Dowhhh.. yawdahlaah yaa.. jalan aja terus.. sampai jauh.. sampai jauh nyasarnya haha 😀

Nemu lagi supermarket gede yang di depannya banyak tanaman-tanaman siap untuk dijual, tetapi merk si supermarket nya D2, bukan Yaoichi ! Nah di sini baru mulai ngeh, kenapa di area ketersesatan kami inih (bahasaa!) adanya kakek-kakek dan nenek-nenek semua? Bahkan zebra cross nya dilengkapi tombol request untuk menyeberang seperti di Belanda dan Solo, biar aman gitu buat elderly untuk menyeberang kali yaa… Yang jelas kami lalu balik arah, mencoba mencari dari arah sebaliknya ke jalan-jalan kecil yang tadi belum kai telusuri hingga kami kembali ke supermarket pertama dekat perempatan jalan.

Kami putuskan untuk mencari si Yaoichi lain kali saja, lalu menunggu bis untuk lanjut ke AEON Mall di belakang Kyoto Eki. Nah di halte bis lebih nyadar lagi kalo district itu memang dihuni oleh mayoritasnya elderly, orang lanjut usia, para pensiunan. Yang antri nunggu bis ya mereka yang sudah tua-tua, pun di dalam bisnya hehehe 😀 Isinya oma-oma dan opa-opa semua wkwkwkwkw 😀 What a weird day dehh !

Mba Endang pusing nyari alamat & nyasar di district nya para orang tua hehehe :D

Mba Endang pusing nyari alamat & nyasar di district nya para orang tua hehehe 😀

Akhirnya di hari kedua pencarian bukannya nemu Yaoichi malah nemu district para pensiunan dan lalu juga berhasil nemu rute dari AEON Mall ke Kyoto Eki wkwkwkwkw 😀 Ternyata lewat underpass yang berada di bawah railway kereta! Nemu Toys r us, nemu toko pernak pernik lucu-lucu, nemu interior hearts (ada yang kalap belanja untuk dekor rumah, mamahhh maapkeun sayah boros di bidang ini haha). The day turned out to be girls’ day out dan memang lost = lotsa fun ! 😀

nyasar ke mall (dengan sengaja) :D

nyasar ke mall (dengan sengaja) 😀

Day #1, Nyasar lalu Main di Pinggir Kali

Hari pertama pencairan Yaoichi, salah baca peta nya engga kira-kira hingga kami nyasar ke Uji-shi. Semacam Depoknya Kyoto gitu deh hehe..

Si mbak yang bertugas di bagian tourist center di Uji-shi geleng-geleng bilang sorry, it must be somewhere in Kyoto, not in Uji 😀

Kepalang tanggung nyasar ke kota satelitnya Kyoto, akhirnya peta yang dari tourist center nya diambil juga lalu kami “menyesatkan” diri di jalanan kecil kota Uji, motret-motret view sungainya yang memang luar biasa indah dengan perbukitan hijau yang mulai dihias semburat warna musim gugur. Lingkungannya yang super bersih, air jernih mengalir membiarkan pengunjung bisa melihat bening hingga dasar sungai yang banyak ikannya itu. Perahu-perahu tertambat rapi di pinggir sungai kecil nya, jembatan yang didesain cantik berwarna oranye-abu-abu, lampion-lampion yang menghiasi pinggiran sungai. Indaaahh sekali nyasar hari itu 🙂 Owyaa, view nya menggingatkan aku pada satu hari yang juga dingin dulu di Giethorn, Venetia nya Belanda.. berperahu menyusuri kampung Giethorn, ketakutan saat perahu kami berada di tengah-tengah danau dan disiram gerimis hujan. Waktu itu aku belum belajar berenang haha 🙂

IMG_8193

Main di pinggir kali di Uji shi

Yaoichi, Indi Dia yang Dicari-cari 😀

Dalam emailnya minggu lalu, aku diwajibkan datang ke beberapa lokasi pilihan Sensei yang katanya bisa memberikan aku pelajaran tentang best practices dan best policy konsep green building dan urban planning yang menjadi topik risetku. Buatku tidak masalah, karena lokasi-lokasi yang beliau pilihkan itu juga merupakan objek wisata di sini 🙂 See? Memang tugas belajarku di Kyoto, Jepang, ini untuk jelan-jalan, jalan-jalan melihat dan mempelajari serta mengambil manfaat untuk diterapkan dalam mendesain kotaku dan Indonesiaku (tinggi sekali mimpiku hehehe).

Yaoichi ini menerapkan konsep green building pada bangunannya. Bangunan 3 lantai yang tersambung ke hotel Savoy di lantai 3 nya ini didesain bagus. Aku suka penggunaan materi kayu pada lantai, langit-langit dan bagian-bagian interior toko nya. Warna alami coklat kayu, dipadu warna warni alami cerah dari buah-buahan dan sayur-sayuran organik… tempat yang menyenangkan untuk berbelanja kebutuhan dapur 🙂

Uniknya di lantai 3 selain restoran (milik Hotel Savoy) juga ada mini bar yang menghadap ke kebun sayuran ! Yupp.. lantai 3 ini didominasi oleh roof garden, kebun sayuran organik. Penataannya sungguh bagus. Restaurantnya berdinding kaca, jadi pengunjung restoran bisa seolah-olah sedang mengadakan makan siang atau meeting di samping kebun yang hijau 🙂 Mini Bar/cafe nya juga menghadap ke kebun. Uniknya lagi paving block di pinggir kebun dibuat dari bahan serbuk kayu yang dibikin compact hingga jadi lempengan paving block 🙂 Ada sungai kecilnya juga sebagai sirkulasi air untuk kebun sayuran ini. Di lantai 3 ini juga ada green house nya, sayangnya ga bisa masuk kecuali petugas. Ini dia foto-foto kebun di lantai 3. Menarik bukan? perpaduan konsep green building dengan urban farming 🙂

Interior Yaoichi groceries store

Interior Yaoichi groceries store

Kebun sayuran, cafe, restaurant & meeting room di lantai 3

Kebun sayuran, cafe, restaurant & meeting room di lantai 3

 

 

Advertisements