Pagi yang cerah, setelah waktu beranjak siang, pasti berganti guyuran hujan deras. Sukabumi, sudah seminggu ini seperti itu. Terlintas hari-hari terakhir di Kyoto bulan Oktober lalu, yang dingin, kelabu, dan hujan… Ya, ada satu journey yang belum sempat ditulis di sini. Tentang perjalanan istimewa ke Amanohashidate, di ujung utara Kyoto prefecture. Perjalanan istimewa, 25 Oktober 2013, di bawah guyuran hujan, dan tentu saja “TYPHOON”…

Postcard from far away, dentingan piano nya Coldplay. Cuma lagu ini yang mengisi playlist di hp ku selama perjalanan dari Kyoto -Amanohashidate. Alunan denting piano yang dulu sering mengisi ruang kamarku di Srikaloka, Jogja. Lagu yang tepat pula untuk menggambarkan the atmosphere, the beauty scenery, dan tentunya that melancholic feeling i suddenly had when i saw the fogs covering the hills, the misty rain, the flow of the rivers on the way down to Amano Hashidate… Apa yang aku lihat dan rasakan dalam perjalanan hari itu benar-benar seperti masuk, melihat dan mengalami sendiri sebuah postcard yang dikirim dari negeri yang jauh…

???????????????????????????????

Hari itu aku nekat tidak mengindahkan peringatan typhoon yang dilansir beberapa channel TV dan web-web prakiraan cuaca. Sehari sebelumnya pun sebenarnya sudah ada peringatan bahwa typhoon akan menghantam Kyoto area, tetapi di hari sebelumnya itu toh tidak terjadi apa-apa. Hanya hujan gerimis dan angin biasa seperti yang sering terjadi di Indonesia juga. Malam sebelum berangkat ke Amano pun aku beberapa kali mengecek situs-situs prakiraan cuaca dan bolak balik meyakinkan diri bahwa dampak typhoon tidak akan sampai di area Amanohashidate. Dari peta prakiraan cuaca, typhoon bergerak di bagian selatan pulau, sementara Amanohashidate terletak di bagian utara. So, my silly thought was “Amanohashidate wont get affected by the typhoon” 😀

Subuh itu setelah mandi dan shalat, aku menyiapkan sarapan dan bekal yang rencananya akan dibawa untuk perjalanan ke Amano. Kunyalakan TV, walau pun tidak mengerti bahasa Jepang, namun berkali-kali telingaku menangkap kata-kata typhoon yang diucapkan oleh news announcer nya. Sempat meragu untuk melanjutkan rencana perjalanan ke Amanohashidate, lalu tiba-tiba nada notifikasi pesan whatsapp hp ku berbunyi, “mba, jadi berangkat ga?” tanya Linda waktu itu. Kujawab “Terserah, nda. Aku siy udah mandi. Tapi di luar hujan loh”. Akhirnya kami berdua sepakat untuk tetap berangkat ke Amanohashidate 🙂

???????????????????????????????

Pagi itu Kyoto Eki (central station nya Kyoto) terlihat ramai oleh payung-payung warna warni dan orang-orang yang berjalan cepat. Kontras sekali dengan kelabunya cuaca hari itu. Bolak-balik kulihat jam tanganku, aku tidak bisa menghubungi Linda, pun sebaliknya, karena kami sama-sama masih menggunakan nomor provider Indonesia. Aku mulai kuatir kalau-kalau terpaksa membatalkan perjalanan hari itu. Bisa sih aku mengirim sms ke Linda, tapi mahalnya engga kira-kira hehe 😀 Phone creditku selama di Jepang terpaksa harus diirit untuk hal-hal yang urgent sifatnya, seperti waktu itu nyasar sampai keluar kota hehehe 😀

Akhirnya Linda muncul, lalu kami membeli ticket limited train of Hashidate (direct train from Kyoto to Amanohashidate, cuma ada sekali dalam sehari, selebihnya harus turun di Fukuchiyama untuk berganti kereta). Tiket yang kami beli adalah tiket yang non seat reserved, alias tidak punya nomor tempat duduk, seharga 3.770 JPY. Pilihan yang irit, karena bisa menghemat sekitar 500 JPY (kalau tidak salah ingat). Aku pikir waktu itu kami akan digusur-gusur oleh penumpang lain yang membeli tiket plus reservasi tempat duduk, ternyata tidak. Di Jepang (setidaknya di kereta hashidate tersebut), disediakan satu gerbong khusus untuk penumpang dengan tiket tanpa reservasi tempat duduk, gerbongnya pun nyaman. Berbeda dengan yang aku lihat dalam kereta DB (Deutsch bla bla bla lupa hehe 😀 ) dalam perjalanan Rotterdam – Berlin tahun 2011 dulu, penumpang yang duduk tanpa reservasi tempat duduk harus siap-siap pindah begitu yang mereservasi kursi naik kereta. Jadi kalau beli tiket hashidate train tanpa reservasi tempat duduk, tidak perlu kuatir tidak kebagian tempat duduk. Hey, kalau traveling bertagline kere-kere hore, maka harus pintar-pintar cari cara yang irit-irit seperti ini lohhh 😉

Mungkin karena hari itu typhoon sedang menghantam Kyoto, maka sedikit pula orang-orang yang melakukan perjalanan dengan kereta Hashidate. Aku duduk sendirian, menikmati pemandangan indah alam Jepang dengan bukit-bukit yang berlapis-lapis disaput kabut dan gerimis hujan typhoon dari jendela tempat dudukku, lalu kembali sibuk dengan pikiranku. Linda juga sibuk sendiri dengan pemandangan dari jendela tempat duduknya. Aku sempat merekam beberapa scene dari perjalanan kereta down to Amanohashidate, tetapi lalu lupa menguploadnya ke akun youtube ku hehehe 😀 Videonya a little bit shaky, plus beberapa kepotong view gelap dalam terowongan yang menembus bukit :-p Nanti yaa, kapan-kapan aku upload.

Setelah dimanja dengan view alam yang begitu cantik kendati tersaput kabut dan hujan, akhirnya kami sampai di Amanohashidate. Tempat yang disebut juga “The Bridge to Heaven” is a 3.6 kilometer sand bridge formed over thousands of years, semacam apa ya… semenanjung yang kiri kanannya dipagari oleh barisan hutan pinus. Tidak terlalu lebar siy, sekitar 20 m averagely. Berbekal peta dari tourist center di station Amanohashidate, kami memulai perjalanan hari itu dengan mencari view land nya Amanohashidate yang disebut Hiryukan. Serunya, atau lebih tepatnya konyol, kami salah mengambil belokan gara-gara sepotong kalimat berbahasa inggris yang berbunyi “short distance hiking” hingga akhirnya nyasar di tengah hutan bambu. Sepi, hujan, licinnya jalanan yang terus menanjak itu, sepatu dan jeans ku mulai basah… dingin sekali! Nyaliku ciut setiap kali pikiran akan ular atau binatang liar lainnya yang mungkin saja menampakkan diri di hutan bambu itu melintas di pikiranku. Setelah yakin kami salah arah, akhirnya kami memutuskan turun kembali ke jalan utama (pas turun ini masih sempat pula nyasar ke kuburan ya waktu itu hehehe).

???????????????????????????????

Dan ternyata si Hiryukan itu hanya beberapa meter dari belokan pertama yang kami ambil ! Nah di post wisata Hiryukan ini ada dua pilihan untuk naik ke atas bukit tempat viewing spot nya Amanohashidate: chairlift atau monorail. Dasar udah kepalang nekat jalan-jalan saat typhoon, aku dan Linda sepakat naik ke bukit dengan menggunakan chairlift alias kursi yang digantung (tanpa seatbelt!). Lucunya saat kami membeli tiket untuk chairlift ini, si petugas bolak balik bertanya apakah kami akan menggunakan monorail atau chairlift, dan kami pun berulangkali menjawab “chairlift!” 😀 Ya, wajar saja petugas itu bolak balik bertanya, mengingat hari itu Amanohashidate sedang hujan, dan Kyoto prefecture sedang dilanda typhoon! Terakhir si petugas malah menyodorkan dua foto kepada kami: foto chairlift dan foto monorail. Mungkin dia masih belum yakin atau malah berharap kami akan memilih untuk naik ke bukit dengan menggunakan monorail. Tapi dua cewek nekat ini kompak menunjuk foto chairlift ! 😀

Akhirnya berbekal raincoat, satu tangan yang aku lingkarkan ke besi penggantung kursi memegang erat kamera, satu tangan lagi memegang erat tasku, aku berhasil naik chairlift sekaligus merekam perjalanan nekat di bawah guyuran hujan itu! (Ssttt… LCD kamera ku sukses rusak kerendem hujan :-p) ini video perjalanan ke atas bukit dengan chairlift yang tanpa seatbelt itu, maafkan di video nya aku sibuk berteriak-teriak, antara excited sekaligus ketakutan, takut peganganku terlepas lalu meluncur ke jurang…

Dan di atas Hiryukan yang katanya so touristic itu, hanya ada kami dan beberapa petugas! Haha.. benar-benar konyol sekaligus gila! Traveling di saat orang-orang berlindung di rumah dari serangan typhoon. Amanohashidate dari Hiryukan terlihat kelabu but so mystical ! Tranquility yang berbeda… dan aku menyukainya tanpa alasan 🙂 Seperti yang Yoan bilang waktu main ke Sukabumi kemaren, bahwa pengalaman seperti ini yang dicari. He is so damn right ! Tiket 2×3.770 JPY yang sangat worth it buatku ! Mungkin orang-orang akan menggeleng jika bepergian di bawah hujan deras seperti aku waktu itu. Mungkin orang-orang akan lebih memilihh untuk bepergian ke Amanohashidate saat cuaca cerah terang benderang, apanya yang mau dilihat saat semua tertutup kabut dan basah oleh hujan? Tapi kemudian tidak akan ada pengalamann unik dan seru seperti ini bukan ? Taking that chairlift ride up to the hill would be just so so… crossing the sea through the sand bar would be oh so so when the weather was fine… That would be a common journey like everybody else did, dont you think ? And am so happy to have that courage and craziness to take the journey under the rain 😀

???????????????????????????????

And here is also another extraordinary story to me 🙂 Hujan masih terus mengguyur kami, aku lantas melepas kaos kaki ku yang sudah basah kuyup terendam hujan, ujung-ujung celana jeansku kugulung karena sebagian sudah basah dan berat oleh air hujan, dan aku sudah mulai menggigil kedinginan. Kami memutuskan untuk turun dari Hiryukan dengan menggunakan monorail 😀

Dari Hiryukan kami lalu menyusuri pinggiran muara sungai, melewati jembatan unik yang akan membuka berlawanan arah ketika ada kapal yang lewat.  Unik buatku, karena dulu di Belanda jembatan-jembatan seperti ini akan ditarik naik, bukannya bergerak membuka berlawanan arah seperti yang aku lihat di Amanohashidate hari itu. Dari jembatan itulah kami memulai perjalanan menyusuri sandbar yang dipagari pohon-pohon pinus itu (sekitar 3,6 km sampai ujung Miyazu bay). Berjalan kaki menjadi pilihan selain bersepeda (bicycle for rent) karena hujan yang terus turun, rasanya berjalan kaki tidak akan terlalu membuat jeans kami basah (padahal sudah basah pun haha).

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Lagi-lagi kami disergap jalanan yang sangat sepi.. Turis-turis lain hanya melihat sand bar nya dari jembatan, tidak meneruskan menyusuri sandbar itu sampai ke Miyazu bay. Jadi praktis hanya ada aku dan linda yang dengan nekatnya berjalan menyusuri sand bar itu di bawah guyuran hujan dan angin yang bertiup kencang. My heart skipped a beat everytime wind blew from the sea…. Rasanya suram sekali, kapal-kapal besar bersauh di kejauhan. Tidak ada birunya air laut, hanya warna pekat yang disaput kabut.. mendung… gelap… Langit dan laut sama kelabunya. Aku kemudian mendekat ke garis pantai, penasaran seperti apa lautan di Jepang.. Riak air dan gemericik hempasan ombak yang tidak terlalu besar, hamparan pasir putih dan bintang laut yang terbawa ombak hingga ke bibir pantai. Sepi sekali.. benar-benar tidak ada orang lain di sepanjang sand bar itu, hanya ada kami.

Beberapa kali aku bertanya kepada Linda apakah perjalanan kami menuju ujung lain dari Amanohashidate itu masih jauh. Aslinya aku ingin kembali ke arah jembatan dan membatalkan niatan untuk berjalan kaki menyusuri sand bar hingga ke ujung Miyazu bay. Pikiran burukku waktu itu adalah “bagaimana kalau tiba-tiba ada tsunami? atau badainya makin parah? skill berenangku baru sampai kolam renang komplek Taman Asri, belum cukup untuk berenang di lautan” di kiri kanan kami lautan terbentang… Tetapi lalu Linda berujar “ayo, mba. masa udah tanggung begini engga sampai ujung ?”. Owkay, kami lalu lanjut berjalan kaki menyusuri 3,6 km sand bar itu di bawah hujan. Kakiku sudah kutempeli plester di beberapa tempat. Gara-gara kaos kaki ku basah dan kulepas, praktis sepatu membuat lecet kulit kakiku (3 plester di kaki kiri, 1 plester di kaki kanan wkwkwkwkw). Mataku pun berulangkali melirik jam tangan, iya.. hari mulai beranjak sore.

??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ??????????????????????????????? ???????????????????????????????

Lega sekali rasanya begitu melihat papan penunjuk arah yang seperti memberi tahu “hey girls! come on, you’re getting closer to your destination!”. dan hatiku benar-benar bersorak gembira ketika akhirnya kami bertemu dengan beberapa orang petugas yang sedang memelihara pohon-pohon di ujung Miyazu bay! Aahhh finally, another human being on the planet hehe 😀

Akan sangat konyol waktu itu jika kami memaksakan diri untuk balik ke ujung amanohashidate dengan berjalan kaki. Hey, ini autumn, gelap datang lebih cepat! Dan sand bar itu ditutup untuk pejalan kaki pada jam lima sore! Sadar kecepatan berjalan kaki ku mulai turun, plus senja akan segera datang, dan badai masih menghantui area Kyoto, maka aku mengusulkan pada Linda untuk kembali ke area station dengan menggunakan kapal. Syukurlah kapal-kapal itu tetap beroperasi walaupun sendang hujan deras.

Sambil menunggu jadwal keberangkatan kapal kembali ke amanohashidate, aku dan linda sempat berjalan-jalan ke kuil di belakang dermaga. Rasanya hangat bisa numpang berteduh di kuil yang berbahan kayu dan bernuansa oranye itu. Yaa walaupun sejatinya kuil itu adalah rumah ibadahnya pemeluk agama lain, tetapi di Jepang kuil-kuil itu sudah menjadi objek wisata.

Kami pun kembali ke Amanohashidate dengan menumpang kapal. dan lagi-lagi hanya ada aku, Linda, dan dua orang turis (kemungkinan siy European) lainnya serta nahkoda di kapal itu. Dari atas geladak kapal, mataku tak lepas memandang 3,6 km sand bar yang berhasil kami susuri dengan berjalan kaki di bawah guyuran hujan dan terpaan anging dingin… Burung-burung laut berkicauan terbang seperti mengejar kapal yang kami tumpangi. Di seberang sana rumah-rumah di Miyazu bay semakin terlihat kecil dan jauh. Akhir dari perjalanan ini semakin dekat, sudah waktu nya pulang kembali ke Kyoto dan apato yang hangat 🙂

Direct train dari Amanohashidate menuju Kyoto sudah lewat, hingga kami harus menyambung dan berganti kereta di Fukuchiyama. Saat di Fukuchiyama, kami didatangi oleh seorang petugas yang berbicara dalam bahasa Jepang. Linda menebak arti ucapannya bahwa kereta menuju Kyoto mengalami keterlambatan, entahlah.. mungkin karena badai typhoon. Angin malam itu mulai membuat kami benar-benar menggigil kedinginan. Aku mulai lapar, lecet-lecet di kakiku mulai terasa perih… tetapi rasanya senang sekali… wishing listku untuk bisa berkunjung ke amanohashidate tercapai sudah.. dan aku berhasil mendapat cerita serta pengalaman seru dari perjalanan hari itu 🙂

???????????????????????????????

Advertisements