Every time you see the rain, I’m every drop that you feel

*****

under the rain

under the rain

Rintik tipis dihembus angin berubah sudah menjadi guyuran hujan deras. Bergegas ia menepi ke halte itu sambil mengatur langkah menghindari genangan air di bekas galian paving block yang entah mengapa pelaksanaan proyeknya baru dimulai di pertengahan Desember, di saat hujan tak hentinya menyiram seisi kota, membuat becek di sana-sini. Di saat tangannya sibuk mencari-cari di saku ransel sebelah mana ia menyimpan jas hujannya, tiba-tiba handphone nya berdering.

Satu nama dengan tanda bintang pertanda nama tersebut adalah contact favoritenya di antara nama-nama lain muncul di layar handphone nya. Bergegas dijawabnya panggilan masuk itu. Suara di seberang terdengar cemas, “Dek, kamu dimana? Masih di jalan kah?”. “Iya, mas. Ini masih nungguin bis nya” jawabnya di antara suara rintik yang semakin deras. “Bawa payung ngga? hujannya deras loh!”. “Ya engga lah, ribet. Cuma bawa jas hujan”. “Kamu ini! berulang kali diingetin untuk bawa payung, tapi ga pernah digubris! Kalau sakit gara-gara kehujanan gimana?”. “Sama aja, mas. Lebih praktis jas hujan” jawabnya pendek.

Belum selesai suara di seberang mengomeli nya, tiba-tiba ia berteriak “Aaarrrghhh !!!”. Suara di seberang terdengar panik berusaha memanggilnya, kebingunan menanyakan apa yang terjadi “Dek?? Dekk? kamu kenapa? Dekk??”. Yang ditanya malah kemudian tertawa senang sembari menenangkan sang penelpon “Hahaha… aku ra po po kok, mas. Ini barusan ono wong edan nyetir ngebut, padahal di depan halte ada genangan air. Konyol sekali. Jeansku kotor semua terciprat becek huhuuuu” ucapnya diakhiri nada kesal. Percakapan mereka berlanjut beberapa lama kemudian, sampai akhirnya bis yang ditunggu datang.

Ia tersenyum sambil bergegas memasuki bis itu, dalam hatinya berucap “terima kasih untuk begitu mengkhawatirkan aku… hujan yang indah”…

*****

Jelajahi waktu, ke tempat berteduh hati kala biru

Perempuan 40 tahun itu berusaha menggeser kotak besar di depannya agar penumpang yang lain bisa masuk ke dalam angkot itu. Hujan membuat semua orang ingin segera pulang, berlindung dalam hangatnya rumah, hingga mereka tak terlalu pilih-pilih lagi kendaraan yang akan dinaiki. Tetapi supir angkot itu masih menginginkan kendaraannya untuk ngetem beberapa saat lagi sampai semua bangku terisi penumpang.

Perempuan itu menatap ujung kotak besarnya yang menumpu di lantai angkot. Kotak besar dari kertas tebal itu mulai basah, tetapi kotak itu terlalu besar dan berat untuk ditaruh di pangkuannya. Apalagi gadis kecilnya meringkuk memeluk sebelah lengannya manja, menyandarkan kepalanya pada bahu sang ibu, tentu akan membuatnya tak nyaman jika harus ikut membantunya memeluk kotak besar itu di pangkuan.

Hujan terus turun. Ia sudah tak sabar ingin segera tiba di rumahnya, membuka kotak besar itu, menata isi nya dimeja beton tua di salah satu sudut dapur rumahnya. Dengan sedikit gelisah ia bolak balik menatap tiap inci kotak besar itu. Ya, kotak besar itu berisikan kompor gas yang berhasil dibelinya setelah sekian lama menyisihkan uang bulanan pemberian suaminya. Cita-citanya di sore yang hujan itu sederhana : sepiring gorengan hangat untuk menyambut suaminya pulang bekerja, gorengan yang ia buat dengan mempergunakan kompor baru itu…

*****

If somewhere down the line, We will never get to meet, I’ll always wait for you after the rain

Berulang kali ia melirik jam kecil di sudut meja TV nya. Satu tangan sibuk memainkan remote TV, mengganti-ganti channelnya sedari tadi. Satu tangannya yang lain berulang kali meng-unlock layar handphone nya, memastikan dengan kecewa bahwa tidak ada balasan atas pesan singkatnya yang ia kirim sedari pagi…

Matanya berpaling ke arah jendela, di luar sudah mulai mendung, titik-titik air mulai terlihat diterbangkan angin, seperti serbuk dandellion yang berukuran sangat-sangat kecil…”Sebentar lagi hujan…” gumamnya. Lalu ia kembali hanyut dengan aktifitasnya yang tidak jelas di depan TV itu sampai akhirnya rasa mengantuk datang diiringi kesimpulannya sendiri bahwa seseorang yang dinantinya tidak akan pernah datang, mungkin….

Ketukan di pintu membangunkannya. Dirapikannya selimut flannel bunga-bunga dan bantal-bantal di atas karpet itu dan dengan malas melangkah ke arah pintu.

Pipinya pasti bersemu merah tak karuan, kaget begitu melihat sosok di depannya. Kesimpulannya tadi salah, sosok ini yang sudah setahun menghilang dan dihilangkan dari ingatannya, benar-benar berani datang menemuinya.

Sore itu gunung es yang ada di antara mereka selama empat ratus tiga puluh dua hari mencair sudah. Tidak ada yang membahas kenapa dulu mereka saling membangun tembok diam dan keacuhan yang begitu tinggi. Mereka hanya terus saling berbicara, berbagi hari-hari yang hilang dari mereka, sambil sesekali menyesap green tea latte di meja kecil itu.

Dan hey, lihat! Hujan pun seperti menahan dirinya untuk tidak segera turun, sampai ia mengizinkan dirinya kembali mengambil resiko dan segala kemungkinan atas kesepakatan mereka untuk memulai segalanya lagi dari awal. Diam-diam ia tersenyum menatap punggung  tegap itu berlalu berpamitan. “I am happy to have him back…”

*****

If I could bottled the smell of the wet land after the rain, I’d make it a perfume and send it to your house

rain in Kyoto

rain in Kyoto

Tubuh Asia-nya tenggelam di antara tingginya orang-orang Belanda yang berlalu lalang di Centraal Station siang itu. Diputarnya punggungnya ke kiri dan ke kanan, mengusir penat dan kantuk yang dihasilkan oleh kolaborasi perjalanan kereta beberapa jam dan dinginnya udara di penghujung tahun itu.

Angin kencang menerpa wajahnya begitu ia keluar dari pintu utama. Ia mempercepat langkahnya mengikuti langkah-langkah lebar dari bule-bule di sekitarnya. Diperhatikannya tempat-tempat sampah di beberapa sudut jalan di luar stasiun itu, sudah penuh dengan payung-payung yang patah diterjang gerimis yang tidak seberapa tetapi dengan iringan angin yang luar biasa. “Lebih baik pakai raincoat saja” bisik pikirannya.

Gerimis mulai berubah deras, angin kembali bertiup kencang, salju akan segera hilang diiringi menghangatnya suhu yang tetap saja terasa menusuk dinginnya. Sambil terus melangkah, ia sibuk berusaha meminggirkan ranselnya dan memakai raincoatnya hingga tiba-tiba seorang cowok Belanda tinggi jangkung bersepeda ke arahnya sambil berteriak “Welkom in Netherland, Mevrouw!”. “Bedankttttt!” teriaknya reflek membalas salam si bule Belanda. Si bule tertawanya renyah, tak peduli orang-orang di sekitarnya akan menganggapnya aneh. Ia pun ikut tertawa oleh kelucuan si bule Belanda itu.

Pasti si bule Belanda berkesimpulan ia orang baru di Belanda ini karena tadi ia terlihat kikuk diserbu hujan, padahal cuaca galau di Belanda kan sudah hari-hari. Dan memulai pembicaraan tentang bagaimana cuaca hari ini adalah basa basi yang sangat lumrah di negeri kincir angin itu. Di bawah hujan bulan Desember itu ia melangkah riang “Di bulan ketiga aku hijrah ke Belanda, itu tadi adalah kali pertamanya orang Belanda mengucapkan selamat datang kepadaku”. Pertanda baik, ia akan sangat menyukai negara ini…

*****

dari baris-baris kalimat Adhitia Sofyan & Float, serta hujan bulan Desember….

Advertisements