Karena pada saat-saat tertentu, buku-bukunya Leila S. Chudori dan Haruki Murakami menjadi terlalu berat untuk dibaca, maka saya memilih hilang dalam baris-baris buku seringan Jika πŸ™‚ Dan adalah teman sekantor yang nyaris tidak pernah ke toko buku, tetiba rela dititipi permintaan untuk membelikan buku ini, well thank you πŸ™‚

Dan ini bukan review buku seperti yang kadang saya tulis di akun Good Reads saya, melainkan pengalaman memahami jika dan jika milik cerita-cerita di dalam buku ini πŸ™‚

Well, kadang kita (saya lebih tepatnya) pun berandai-andai jika ini, jika itu, maka tidak akan begini, tidak akan begitu, maka akan seperti ini atau jadi seperti itu πŸ™‚ Persis seperti yang tertulis di sampul belakang buku Jika…

Apa yang terbersit dalam hatimu, saat kaki sudah menjejak di masa sekarang, tetapi sebuah ingin masih tertinggal di masa lalu? Kau mungkin berharap semesta mengulang jika.Β 

Lalu,

Bagaimana jika kita harus kembali ke masa lalu, untuk menuju masa depan?

Lalu, lagi-lagi tulisan Feba Sukmana menggugah memori saya tentang Belanda. Schidam, kota kecil di sisi Rotterdam. Suatu pagi di bulan Ramadhan 2011, selepas shalat subuh, saya pernah bersepeda ke Schidam. Ragu tapi penasaran kemana path kecil itu membawa saya dan Classy (sepeda saya), karena saat itu saya hanya mengikuti path kecil di depan apartemen ke arah yang belum pernah saya tempuh, jalanan yang lengang. Hingga akhirnya bertemu dengan tulisan Rotterdam yang berganti Schidam. Dinanti centrum yang masih sepi lengang, gereja St Lugwina, lalu bayangan rumah-rumah khas Belanda terefleksi seperti lukisan di permukaan sungai, dan windmollen serta perahu-perahu tertambat di tepian sungai.

Kadang-kadang, kita cuma butuh folder penanda, untuk memanggil ulang semua memori. Dan, kamu berusaha melukiskan ulang, memanggil semua memori yang bisa dipanggil, ketika kalian masih bersama.

good reads

good reads

Lalu, seperti apa cerita selanjutnya andai saja saya tidak pergi ke Belanda, melainkan belajar cukup di Bandung saja? Jika saja…

Lalu jika saja dulu semua berjalan rapi sesuai rencana, maka cerita keberangkatan saya ke Jepang pasti akan berbeda. Jika saja chapter 2012 saya seperti ini, jika saja chapter 2013 saya seperti itu. Jika saja…

Lalu jika saja di awal tahun ini saya bisa benar-benar fokus walau pun saya berhak untuk tidak fokus, maka saya tidak akan membuat sia-sia hasil survey seharian untuk angka-angka bernilai sembilan digit, haha πŸ˜€

Kembali kepada buku Jika, Between The Last Train Leaving and The First Train Arriving, rute perjalanan jika penulis yang mirip dengan perjalanan jika ku. Bukan Osaka tetapi Kyoto, Eropa meskipun minus Barcelona lalu tanpa USA.

Kamu pernah begitu berani. Untuk kembali

Masih banyak penuturan tentang jika di buku ini yang membuat saya pun berandai-andai sendiri. Every word every action, someday will lead you to “what if” question.

If only…

Β 

Advertisements