Dalam sebuah relationship yang serius, dengan niatan menikah, terlanjur menyayangi seseorang dengan teramat sangat itu ibarat mempersiapkan bahan masakan dengan memakai pisau merk Galaxy, keluaran Daiso (Japon brand, red).

Untuk mendapatkan pisaunya saja jauh dari Jepang sana (at least dari Daiso, Paris Van Java mall, Bandung, red :-p). Saking bagus dan tajamnya pisau ini, sesekali jari tangan bisa tidak sengaja terluka perih. Padahal waktu memakai si pisau sudah berhati-hati, dijaga agar tidak melukai jari tangan. Kadang terlukanya bukan karena teriris saat sedang memakai si pisau, tetapi justru tidak sengaja tersenggol si pisau yang sedang tidak dipergunakan, pun di jari yang sangat kecil kemungkinannya untuk teriris, jari tengah tangan kanan misalnya (karena lazimnya tangan kanan yang memegang pisau, bukan?)…

Pun demikian, karena sudah terlanjur suka dengan si pisau daiso, desainnya yang ergonomis, edge nya yang benar-benar tipis tajam, walau pun sering tidak sengaja bikin celaka jari, tetap saja pisau ini tidak jadi “dipensiunkan”. Yaa, namanya juga desain manusia, pasti ada plus minusnya kan? Tinggal nanti-nantinya lagi belajar untuk menyimpan si pisau dengan hati-hati, dengan posisi edge nya yang tajam menghadap sisi yang aman, dan berkonsentrasi pada saat menggunakannya. Sekali waktu nanti pasti ada saatnya lagi ga sengaja teriris si pisau, namanya juga di dapur, banyak faktor yang membuat si pisau “terlupakan”, misalnya pada saat mengiris sayuran, tetiba ingat kalau lupa men-defrost daging, lalu si pisau ditaruh begitu saja asa-asalan, etc etc etc 🙂

Nah, sama halnya dengan sebuah relationship (lupakan pacaran ala abege alay) antara dua orang yang saling menyayangi (dengan sangat) dan berniat untuk menikah, membina keluarga bersama-sama.

Sesekali pasti terselip khilaf yang membuat satu hati merasa tersakiti, tersinggung, terluka. Padahal yang namanya relationship dengan niatan serius untuk menikah, tidak ada yang namanya dengan sengaja menyakiti hati yang satunya lagi, bukan? Tapi seperti halnya cerita di atas, tentang pisau dan jari dalam semesta dapur, ada banyak hal yang membuat satu hati tidak sengaja melukai hati yang lainnya (atau bahkan tidak menyadari sudah menyakiti hati yang satunya lagi). Misalkan: komunikasi yang tidak lancar (bisa karena si sinyal, bisa karena cuma satu arah saja), and for women (yes, we are!) there is this PERIOD (haha bukan period nya yang salah, tapi emosi yang kacau karena pengaruh si hormon dan kram perut yang bikin pingin pengsan aja so we could skip the pain :-p).

1528724_708181819212272_2029038147_n

Nah, kalau rasa sayangnya benar-benar sudah mentok (ini istilah upin, staf, sahabat, sekaligus my brother di kantor yang sukanya sok bijak aja gitu :-p), seperti apapun rasa sakitnya, apa pun penyebabnya (CATAT! tidak untuk jenis-jenis penyebab yang terkategori perselingkuhan yak! in a serious relationship there is no room for three, sempit ! :-p), apalagi jika relationship dan niat menikahnya dibangun dengan penuh liku dan perjuangan, pastiiiiiii mau untuk saling memaafkan, mengkomunikasikan hal-hal apa yang menjadi penyebab “si luka” itu, lalu saling bekerja sama mengatasi penyebab luka, termasuk saling memberi tahu dan mengkoreksi kekurangan masing-masing (i hear this hundred times!). Lagi-lagi namanya juga manusia, dua manusia yang pastinya berbeda sifat, latar belakang, pemikiran (tapi satu visi misi dunk, kan ini lagi membicarakan relationship between two people yang berniat menikah).

Kalau “meledak” dan marah karena rasa sakit, rasa tersinggung, rasa terabaikan, rasa kecewa (you name it lahh yaa) itu ya sangat wajar, namanya juga rasa sakit (baca: terusik), ya kan ? Justru yang tidak wajar adalah kalau lantas “biasa-biasa saja” 🙂

Pernah seorang sahabat bercerita ketidaknyamanannya dengan sifat tunangannya yang moody, sebentar manis, sebentar marah ga jelas (ouch, feels like i was slapped by the door! she sounds like me haha). I told him to tell how exactly he feels to his fiancee, so they both could work it out. Girls dont read mind, boys will be boys 😀 Pernah lagi beberapa tahun yang lalu, sahabat lain menyentil gw dengan pertanyaannya “terus kalau lo nikah nanti, tiap kali ada masalah, lo mutusin dia? minta cerai?”. Owh he hit the nail on its head! His question is owh so simple yet bikin mikir hehehe 😀

Suatu saat nanti, relationship yang diniatkan untuk menjadi pernikahan, sebuah keluarga, pasti akan menemui banyak ujian yang sangat mungkin menyelipkan luka, rasa sakit hati, sedih ataupun kecewa… Seperti cerita pisau tadi, tinggal bagaimana saling belajar memahami dan mengatasi penyebab “luka” hingga kelak di kemudian hari bisa dihindari, dan kalau pun khilaf membuat semuanya tidak bisa dihindari, at least both will stay instead of walk away… Sounds easy, no? Of course not 🙂 Akan banyak ujian-ujian yang di luar prediksi kelak, so do communicate anything And it takes two to tango! If two hit the rock bottom, both will compromise instead of standing by their own. And that’s required utmost in a marriage, in a family, no? 🙂

Ah sekian saja, renungan dari dapur gara-gara si jari tengah tangan kanan tidak sengaja tergores justru pada saat buah-buahan untuk bahan salad nya sudah selesai dipotong-potong 🙂

Advertisements