(as posted on FB note, march 11th, 5th days post my major surgery)

Langit dan Bumi jauhnya milyaran kilometer
Tapi seolah dekat saja dengan perumpamaan
Baru kemarin sore hari lalu kita bahagia terbang hingga ke langit
Untuk kemudian, dibanting begitu dalamnya ke bumi
Jaraknya ternyata hanya hari saja
(tere liye)

Cuma butuh sekian menit bagi Sang Penguasa takdir untuk membolak balik garis nasibku.

Jumat, 7 Maret 2014, pagi itu aq masih upload2 di path, sudah bersiap berangkat kerja, sebelumnya juga masih sempet menyiapkan satu box pancake isi vla nangka rikues temen2 kantor. Saat hendak memakai jilbab, tiba-tiba perut bagian bawah terasa nyeri. aku lantas duduk di pinggir tempat tidur. bukannya mereda, nyeri itu semakin hebat, sampai-sampai untuk meraih obat mag di dalam backpack yang jaraknya hanya sejangkauan tangan ga bisa aku lakukan. aq terbaring meringkuk, menangis menahan sakit yg teramat sangat. untungnya handphone masih berada di tempat tidur, kutelpon mak etek (paman) mengabari klo perutku sakit sekali. setelah itu menelpon si botak “ipin”, temen se kantor, tetangga & juga sahabat, memberitahu klo aq ga bakal ngantor hr itu. ipin sempet menanyakan bbrp hal soal kerjaan, tapi nyerinya bikin ga kuat utk menjawab apa pun.

rasanya lama sekali mak etek datang, bajuku sudah basah keringetan, rambut udah acak2an, pipiku basah oleh air mata dan keringat. aq berusaha bangkit membuka kunci pintu depan, biar klo aq pingsan, paman ato tetangga bs masuk rmh dgn mudah. lalu aq kembali meringkuk di tempat tidur. menangis dan berusaha berteriak minta tolong, tapi suaraku yg biasanya nyaring, pagi itu lemah sekali ditelan rasa nyeri n juga tangis sendiri. beberapa kali sebelumnya aq pernah juga dilarikan ke bbrp igd rs, tetapi rasa nyeri nya tidak separah kemaren.

mak etek akhirnya dtg, beliau berusaha menolongku untuk duduk. begitu duduk, aq langsung reflek memuntahkan semua isi perut. akhirnya diputuskan utk membawaku k igd hermina, rs terdekat dr rmh yg jalan rayanya memang relatif macet.

setiap guncangan di mobil membuatku mengerang kesakitan. sampai di hermina, cairan infus lgsg dipasangkan, sample darah diambil, semua gejalaku diobservasi, oxygen mask lgsg dipasang dihidungku.

beberapa jam berlalu, aq mulai tenang. hasil test darah menunjukkan leukositku tinggi. dokter jaga igd menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan usg oleh spesialis penyakit dalam, dr rony, untungnya masih kenalan keluarga. didorong dengan kursi roda, aq lalu melakukan pemeriksaan usg menyeluruh. kaget banget waktu dr rony bolak balik mengecek bagian rahim, beliau bilang ada indikasi kista berukuran sekitar 5cm ! periodku bisa dibilang tidak pernah bermasalah, siklus ku bisa dibilang selalu tepat 28hr. lalu beliau jg bilang appendixku bermasalah, lalu beliau juga mendeteksi rongga perutku ada cairan. aq mulai shock…

dokter jaga n dokter roni menyarankan kepada mt (mak etek) utk segera mengambil keputusan krn kondisiku bs dibilang darurat. akhirnya aq dirujuk k Rsud r syamsudin sh. tante yang menyusul ke hermina lalu menemaniku di dlm ambulance. aq sempat protes meminta petugas mematikan sirene ambulance tapi dicuekin mengingat traffic yg macet, aq sendiri lalu menyerah diam karena setiap goncangan di ambulance membuatku semakin kesakitan.

sampai di igd rsud, dokter jaga kembali mengobservasiku, memencet2 perutku bertanya sakit apa tidak, aq marah, andai masih pny tenaga sudah kutendang dokter tadi… igd wkt itu penuh, ruang perawatan sampai hrs pakai nomer antrian.

brangkarku ditempatkan persis di sisi meja dokter jaga, di sisi kananku tempat sampah besar bertuliskan sampah medis ! ya tuhan, minggu lalu aq ke tempat ini untuk mengukur detail ruangan untuk dihitung nilai penghapusannya… sungguh sedetik kemudian siapa yang bisa memprediksi apa yg bakal terjadi?

menjelang magrib akhirnya brankarku didorong ke pav seruni. tante n mt memilih om eddy sbg dokter bedahku. beliau mengecek kondisiku pd jam 9mlm. beliau blg sdh mempelajari rekam medikku dari hermina, n hrs segera diambil tindakan. beliau bilang jam 11mlm aq hrs segera dioperasi. tidak perlu puasa lg krn sejak dipindah dr igd hermina perutku tidak bisa menerima asupan apa pun.

aq bingung, ketakutan setengah mati, seumur-umur aq tdk prnh diopname aplg surgery…

saat ditinggal sendirian coz tante, mt & adek hrs plg dl mempersiapkan sgl sesuatu. si adek saja malam itu msh pake seragam sekolah, aq menangis berdoa smoga allah mengambil penyakitku saja tapi menyelamatkan semua bagian tubuhku. kupaksakan utk menahan tangis saat menelpon mama papa memohon doa. kusempatkan meminta doa n memohon maaf kepada bbrp tmn terdekat. tp saat menelpon mba pippo akhirnya tangis itu tak tertahankan lg.

pasrah, brankarku didorong ke ruang operasi, pakaianku diganti pakaian hijau utk operasi, rambutku dan kepalaku dibungkus “shower cap” ruang operasi. tanganku ditelentangkan ke kiri dan kanan. jariku dijepit entah alat apa. dadaku ditempeli semacam plester elektroda entah apa. di kiri seorang petugas bolak balik mengecek grafik brsimbol heart. sebelah kanan atas kepalaku entah mesin dan monitor apa. di langit2 beberapa lampu bundar besar. seingatku seseorang menyuntikkan cairan entah apa ke saluran infus d tanganku sambil bilang “berdoa ya”. aq masih sempat menghitung ada lima laki2 berpakaian hijau, berpenutup kepala dan mengenakan masker steril. salah satunya pasti om eddy, dokter bedah yg memimpin operasi.

lalu semua jadi gelap…

ps: nanti lanjut lg. udah mule lemes lg. msh nyeri bgt. lelah sekali hr ini. blajar duduk, blajar trn dr bed, bljr jln. capek

Advertisements