Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

I decided to share all of my disappointment, sadness and lost into a positivity, a writing which i wholeheartedly hope could give support to women in needs, since i also find support in so many beautiful writing and sharing from women whom also experience(d) this thing, a life changing experience.

So, here i share you my days post laparatomy surgery…

Dari banyak artikel yang saya baca selama tiga minggu terakhir ini, kehadiran kista di dalam tubuh memang seringkali tanpa gejala, atau setidaknya tidak pernah disadari kehadirannya sampai akhirnya kista tersebut sudah dalam ukuran yang memerlukan tindakan pembedahan, dan kadang sudah dalam fase yang bisa dibilang hampir terlambat: harus kehilangan organ tubuh. Dan seperti kasus saya, harus kehilangan salah satu ovarium…

I have to share my experience as some women out there are unaware of the symptoms of illnesses that threaten their chance to be a healthy woman and most of all, the best wish a woman could ever wish (well, at least it’s my wish) : the chance to deliver a healthy baby. Anyone who feel this posting is somewhat too private or bla bla bla, just back off! I am sharing these to my beloved fellas with only one intention: saving that beautiful dream of becoming a mommy someday 🙂

*** Medical record, a flashback to get to know the symptoms***

Two week before the surgery

Minggu itu saya memang sedang menstruasi. Seperti biasa, sedikit nyeri di hari pertama tetapi ya biasa saja, rasa nyeri yang saya anggap biasa setiap kali in period. Kenapa biasa? Karena memang begitu setiap hari pertama-kedua, lalu berkurang dan hilang di hari-hari selanjutnya, dan tidak pernah sampai membuat saya harus mengkonsumsi obat anti nyeri, bolos kerja atau pun pingsan. Memang nyeri, tapi biasa saja, udah begitu setiap bulannya kan.

Aktifitas saya pun berjalan seperti biasa ala pekerja lapangan yang mobilitas nya lumayan juga keliling-keliling proyek konstruksi dari satu site ke site lain. Apa karena lingkungan kerja saya memang mayoritas cowok ya? Jadi cenderung lebih “kuat” & “terpaksa” mengabaikan rasa nyeri karena niy cowok-cowok saya kasih tau pun klo saya lagi nyeri haid juga ga bakal ngerti haha 😀

Di hari ketiga menstruasi, saya harus berangkat ke Jakarta subuh-subuh untuk mengejar jadwal penyetaraan ijazah di Dikti. Pulangnya saya terpaksa naik bis yang memang ruang untuk kakinya sempit sekali, karena jadwal travel yang ga pas dengan jadwal deadline kerjaan saya. Alhasil sampai di rumah seluruh badan pegel semua. Nah dari sanalah, dua minggu sejak saya ke Jakarta itu, saya merasakan pegel di pinggul sebelah kanan. Saya sempat cerita ke mama, mama bilang mungkin itu karena saya kecapekan. Saya juga sempat ribut di kantor soal rasa pegel itu, dan cowok-cowok team saya bilang “cari paraji aja, uni. minta dipijet”. Akhirnya sampai detik saya harus menjalani laparatomy ga jadi deh tuwh dipijet buat ngilangin pegel-pegelnya hehe… Alhamdulillah juga siy, coba klo waktu itu sempet dipijet dan kista nya pecah pada saat itu, bisa-bisa paraji nya ketuduhan malpraktek ga siy ? hehe…

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa, rasa pegel di pinggul kanan datang pergi datang pergi dengan konsisten selama dua minggu sebelum surgery itu dan saya tidak punya kecurigaan apa pun dengan apa yang sedang terjadi di dalam tubuh saya…

One week before surgery

Minggu, 2 maret 2014. Hari itu saya nengokin bayinya teman. Bayi perempuan yang begitu diharap-harap kedatangannya karena dua kakaknya laki-laki semua. Saya dan teman saya lainnya lumayan kalap ngadoin baju-baju lucu yang mungkin baru akan dipakai si bayi 3-6 bulan kemudian hehe… Can’t help deh klo udah masuk toko perlengkapan bayi, maunyaaaa belanjaaaa seruuuu, even bukan buat anak sendiri pun hehehe 😀

Saya pulang ke rumah menjelang magrib, selepas shalat magrib saya mulai punya firasat tidak enak. I didnt know what, but something bad was surely gonna happen.. Lucunya waktu itu saya malah mencemaskan orang lain di seberang pulau yang memang pada beberapa waktu lalu kami punya masalah. Saya sempat cerita ke teman soal firasat dan feeling ga enak itu. Senja itu beberapa kali saya ngebathin semoga beliau baik-baik saja karena masalah kami tempo hari, we’re having a hard time. Doa saya sepertinya terkabul, lah wong firasatnya ternyata untuk diri sendiri kok hehe…

Senin, pukul 3 dini hari saya bangun seperti biasa, shalat malam paket lengkap (istikharah, hajat dan tahajud, ahhh suasana bathin emang lagi kacau belakangan), lalu saya lanjutkan sahur seadanya. Insya allah saya memang rutinkan puasa sunnah senin & kamis. Lalu aktifitas saya beralih ke kantor, dan sisa hari itu berjalan seperti biasa.

Selasa, hari itu saya ada jadwal aerobics. Selebihnya ya seperti biasa. Tetapi saya inget, sesi aerobics sore itu saya engga mengikuti semuanya karena hari itu aerobicsnya beneran high impact, dan di 1/3 sesi terakhir saya mendadak pusing dan lemes sekali. Hanya saja waktu itu saya cuma menganggap pernafasan saya salah saat melompat-lompat mengikuti ritme musik dan gerakan instruktur aero saya. Akhirnya saya mundur tidak melanjutkan sesi aerobic sore itu, saya memilih duduk di dekat alat-alat fitness dan berusaha mengatur nafas serta menekan rasa mual yang ada.

Rabu, hari itu saya, team dan boss besar ke lapangan, ngecek beberapa site sekaligus. Team saya memang sedang mengerjakan beberapa proyek  bawaan dari tahun sebelumnya plus beberapa proyek kejar tayang terkait persiapan peringatan hari jadi 100 tahun kota kami. Dari site pertama, mengawasi pemasangan tiang pancang, kami kembali ke kantor. Setelah semua anggota “gank tambun” (begitu saya menamai teman-teman cowok saya yang semuanya emang jago makan 😀 ) komplit, kami lalu makan siang di sebuah warung ramen yang baru saja launching. Seru sekali makan siang hari itu karena tantangan makan ramen yang pedasnya berlevel-level 😀 Dan besoknya engga kalah seru, semua laporan ke saya kalo malamnya pada sakit perut dan diare hahahaha 😀

Kembali ke kantor, saya dan team harus kembali mengecek satu site lagi. Tadinya dari site terakhir hari itu saya berniat langsung ke health club dimana saya rutin ikut aerobics class 3x seminggu. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba saya batalkan dan minta didrop ke rumah saja oleh Rilda, teman satu team yang kebetulan memang satu komplek perumahan dengan saya. Padahal “perlengkapan perang” saya berjubel-jubel di dalam ransel dan satu tas tenteng berisikan sepasang sneaker, handuk, & sport suit. Tapi rasanya memang sore itu saya agak lemes dan males, inginnya segera sampai di rumah dan tiduran.

Kamis, 6 Maret 2014. Hari itu saya memulai hari dengan shalat malam paket lengkap lagi hehe… lalu lanjut sahur dan beraktifitas seperti biasa. Seperti biasa pula, cowok-cowok di team saya itu memang punya kebiasaan menawarkan traktiran makan siang setiap kali saya puasa :-p dan siang itu, mantan team saya di ruang sebelah ternyata lagi “nangka party”. Saya ditawari, tapi karena saya puasa saya ga jadi ikutan menikmati nangka segar hasil panen kebun salah seorang teman.

Lalu Dani, tiba-tiba datang ke ruangan saya membawakan sekotak nangka yang wanginya sumpah bikin ngiler hehe. “Bu, bikinin kue lagi dong?” begitu rikues Dani sambil memberikan sekotak nangka itu. Saya memang punya kebiasaan mencoba resep-resep baru setiap weekend, lalu hasilnya dibawa ke kantor untuk dikritisi rame-rame oleh team saya. Selama 2 tahun saya di kantor ini, 2 team saya dan orang-orang di kantor sudah hafal dengan kebiasaan ini. Akibatnya saya sering ketiban rejeki hasil panen kebun siapa diiringi rikues “bikinin kue dong?” yang berbahan dasar hasil panen itu hehe…

Jadilah sore itu, setelah mandi dan rapi-rapi, sambil nunggu waktu magrib dan berbuka puasa, saya sibuk di dapur mengolah nangka segar menjadi fla nangka. Itu pun saya lakukan sambil berbicara di telpon dengan salah seorang sahabat yang merasa kehilangan coz tidak mendapat apdet apa pun dari saya selama beberapa waktu belakangan (haha repot yaaa klo sudah terlanjur exist di beberapa socmed & aplikasi chating, lalu menarik diri). Selesai shalat magrib dan berbuka puasa, saya mulai membuat adonan untuk kulit pie. Malam itu saya berhasil membuat pancake nangka, persis seperti pancake isi vla duren yang lagi ngetrend itu. saya pun sempat mengupload fotonya di akun path saya.

Kecapekan, pinggul kanan mulai berasa pegel lagi, akhirnya saya berangkat tidur sambil senyum-senyum membayangkan reaksi teman-teman saya di kantor besok dengan pesenan kue nya 🙂 Sungguh tidak ada bayangan bahwa keesokan harinya akan menjadi hari yang sangat panjang, melelahkan dan menguras air mata buat saya…

Jumat, 7 maret 2014…

Hari itu seperti biasa saya memulai hari dengan paket shalat malam lengkap. Setelah shalat subuh, saya kembali berbaring dan menarik selimut, bukannya merendam cucian seperti biasanya. Pukul 6 pagi dengan malas saya mulai mempersiapkan tas berisi perlengkapan aerobics saya. Pagi itu saking malasnya saya memutuskan sarapan dengan sebungkus ind*mie dan telur ceplok. Pagi itu saya juga masih sempat upload foto lucu keponakan saya di Path, mengambil box berisi pancake nangka dari kulkas dan menaruhnya di atas lipatan quilt blanket agar tidak lupa dibawa ke kantor.

Saat hendak memakai jilbablah rasa sakit di perut bagian bawah menyerang saya…

Selanjutnya semua terjadi seperti yang saya ceritakan dalam note facebook saya beberapa hari setelah surgery (klik tulisan merah)

 Tahun-tahun sebelumnya

Operasi pengangkatan kista, ovarium dan appendix 7 maret lalu itu adalah kali pertama saya harus diopname di rumah sakit. Semua serba mendadak, hampir tidak ada gejala yang membuat saya harus berkonsultasi dengan dokter, atau pun memiliki kesempatan mengusahakan cara pengobatan lain untuk menghilangkan kistanya dan menyelamatkan ovarium kanan saya… Dalam kurang dari 24 jam saya diberitahu kalau ada kista, appendicitis dan cairan di dalam perut, selanjutnya saya didorong ke ruang bedah…

Sekitar pukul 9 pagi saya dilarikan ke UGD rumah sakit Hermina, rumah sakit terdekat dari rumah yang jalan rayanya memang paling macet se-Sukabumi. Sekitar pukul 11an saya lalu menjalani USG abdomen lengkap setelah sebelumnya hasil cek darah & urin saya menunjukkan jumlah leukosit yang tinggi, mengindikasi adanya infeksi serius di dalam tubuh saya.

Total ada 16 foto dalam 8 lembar cetak hasil USG itu. Hepar, gallblader, ginjal kanan & kiri, lien, pancreas, urine bladder, prostat, uterus, mc burney, sistem pelvic calyx, bla bla bla… banyak sekali istilah medis tertulis di selembar kertas yang menyertai hasil foto-foto USG itu yang berakhir dengan kesimpulan : ovarian cyst, koleksi cairan, appendicitis akut.

Lalu dengan ukuran kista yang sudah sebesar itu (dalam kondisi ruptured/pecah/terpelintir), hingga terjadi perlengketan di ovarium yang menyebabkan pengangkatan ovarium lewat tindakan laparotomy tidak terelakkan lagi, apa iya tidak pernah ada “warning” dari dalam tubuh?

Saya pun mencoba merunut ke beberapa tahun silam.

2006

Bulan apa saya lupa, yang jelas waktu itu saya deman tinggi setelah mengkonsumsi obat dari dokter untuk meredakan mual, muntah dan diare. Tengah malam akhirnya saya dilarikan ke UGD RSUD R. Syamsudin SH. Itu adalah kali pertama saya jadi pasien UGD. Darah dan urin saya dicek, diagnosa nya infeksi saluran cerna. Sebenarnya waktu itu saya disarankan untuk opname, namun saya bersikeras menolak dan meminta pulang. Akhirnya jam 2 pagi, suhu tubuh saya mulai turun dan kondisi pun mulai stabil, saya diperbolehkan pulang dengan bekal beberapa macam obat-obatan. Beberapa hari setelahnya saya masih mual hingga asupan yang bisa masuk ke perut hanya bubur oatmeal, tapi saya berangsur sembuh dan sehat seperti sedia kala.

2007-2008

Sepertinya dalam kurun waktu ini saya sempat beberapa kali ke dokter karena keluhan perut kembung, mual dan muntah. Diberi obat yang menekan asam lambung saya langsung merasa baikan dan sembuh. Atau paling-paling minum obat anti masuk angin, baluran minyak kayu putih atau minum obat maag sudah cukup untuk mengusir penyakit kambuhan saya itu.

Waktu itu saya masih auditor, bidang audit saya menuntut saya untuk hampir selau ke lapangan, bukan audit akuntansi saja. Sebagai orang lapangan, kerjaannya memang physically bikin lebih capek ketimbang mereka yang gaweannya behind the desk. Apalagi kalau sudah “terjebak” di lokasi audit, kadang makan siang jadi ga jelas jadwalnya, mana susah pula cari tempat makan. Dan yang namanya pekerja lapangan, sudah pasti lah hari-hari kepanasan dan kehujanan. Apalagi dari awal saya selalu “berjodoh” dengan team-team yang anggotanya cowok semua, jadi mau ga mau ritme kerja jadi ikutan ritme kerja cowok yang fisiknya lebih kuat daripada cewek. Jadi saya memaklumi saja jika diagnosa yang sering mampir ke tubuh ini adalah maag, masuk angin dan kecapekan.

Apalagi soal period/mesntruasi, siklus saya cukup teratur, nyeri dan PMS nya cukup bisa diatasi dengan tiduran & minum teh hangat. Jadi bisa dibilang organ reproduksi saya sepertinya tidak memilik masalah.

2009-2010

Tahun-tahun itu saya sudah berstatus mahasiswa lagi di Yogyakarta. Seingat saya, saya sempat dua atau tiga kali berhubungan dengan dokter, rumah sakit dan melakukan laboratorium check.

Saat semester dua, saya sempat bolos dari kegiatan perkuliahan (studio, observasi di kota tertentu untuk membuat perencanaan kota) karena sakit. Waktu itu gejalanya seperti yang sudah-sudah: kembung, mual, muntah, pusing. Saya memeriksakan diri di bagian interne RSU Sardjito, check up di Paramitha. Hasilnya seperti yang sudah-sudah, pencernaan lagi…

Akhirnya kesimpulan saya pun fix: saya tidak bisa kelaparan haha 😀 Maksudnya saya harus punya pola makan (waktu & nutrisi) yang teratur, ga ada deh diet2an karena saya punya gastritis, maag.

Lalu Ramadhan 2010, saat itu saya sedang disibukkan dengan persiapan keberangkatan saya ke Belanda dan riset untuk master thesis saya. Tiba-tiba jadwal mens saya bulan itu kacau sehingga Ramadhan kali itu saya hanya puasa sekitar semingguan. Saya kebingungan dengan fleks yang terus-terusan muncul. Akhirnya saya memeriksakan diri ke dokter spesialis Obgyn (saya lupa namanya, beliau praktek di daerah hampir deket daerah Tugu kok). Itulah pertama kali saya mendapat pemeriksaan USG.

Dan voilaaaa…. dokternya bilang saya lagi stress aja! rahim & organ reproduksi lainnya clear! Tidak ada masalah 🙂

Jadi di tahun 2010 itu, saya tidak memiliki kista…

2010-2011

I was absolutely a happy & healthy body & soul, enjoying my days in Rotterdam as a weekday student and weekend traveler 🙂 Tidak sekali pun saya  sakit seperti yang sudah-sudah, kecuali kulit yang sering baret-baret dan gatal, atau kesetrum di sana sini karena dinginnya winter 😀

2011-2013

Sepulangnya saya dari Belanda, saya sempat dua kali ke UGD dua rumah sakit yang berbeda karena keluhan yang sama: sakit di perut bagian bawah, kayak ditusuk-tusuk, dan waktu nya memang berdekatan dengan jadwal period saya. Tapi lagi-lagi saya sembuh dengan obat-obatan standar. Waktu itu saya sempat bilang dokternya apa sakit perutnya karena saya mau mens ya dok? Dokternya bilang bisa jadi, ada dua kemunngkinan: usus buntu atau sakit karena mens. Dokter bilang “kita observasi dulu”. Tetapi observasinya tidak pernah dilanjutkan lagi karena obat-obatan yang diberikan waktu itu berhasil meredakan nyerinya. Kalau saya tidak salah ingat, interval waktu antara kunjungan saya pertama dengan kunjungan ke UGD berikutnya sekitar satu tahunan. dan obat-obatan selalu berhasil meredam rasa sakitnya tapi ternyata tidak melenyapkan penyebab dari rasa sakit itu.

Akhir september 2013, kerjaan saya waktu itu sedang banyak-banyaknya, overload malah. Padahal saya juga harus mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatan saya ke Kyoto, Jepang. Seminggu jelang keberangkatan, saya drop. Saya minta MT menjemput saya karena nausea, bloating dan pusing hebat yang saya rasakan. Saya sempat beberapa kali muntah sebelum masuk mobil dan diantar ke dokter. Perjalanan ke dokter pun bikin saya tersiksa sekali, setiap guncangan memmbuat saya semakin mual dan bagian belakang kepala sakitnya ampun-ampunan.

Dokter bilang saya kecapekan, tekanan darah saya rendah sekali. Soal tekanan darah, normalnya tekanan darah saya memang lebih rendah daripada manusia normal lainnya haha. Bahkan pernah satu kali saya harus membuat surat keterangan berbadan sehat untuk aplikasi apa saya lupa, dokternya berkomentar “tekanan darahnya rendah, pusing ngga?” saya jawab “ngga, biasa aja kok, dok. emang dari dulu segitu aja tensi nya” dokternya jawab lagi “saya tinggiin dikit ya?” sembari menambahkan angka di formulirnya 😀

Nah, jelang keberangkatan saya ke Jepang itu dokter mengultimatum saya untuk menambah porsi istirahat, dan engga boleh stress. Obat-obatan yang diberikan ke saya terdiri dari obat anti mual, vitamin-vitamin, dan tadaaaa… obat tidur! ahaha.. i was really overloaded with workload at that time. Akhirnya saya berangkat ke Jepang dengan dopping obat-obatan tersebut. Dan hebatnya lagi, selama sebulan di Jepang saya tidak pernah sakit sama sekali! padahal saya makan seadanya di sana karena susahnya cari menu yang halal apalagi saya tidka bisa membaca huruf kanji :-p Sekalinya sakit ya cuma memar-memar biru di kaki (yang dulu pernah cedera berat gara-gara terjatuh dan terkilir) karena saya kecapekan jalan kaki nyasar di kota Kobe yang konturnya berbukit-bukit itu.

*****

See? mengapa banyak artikel bilang kista itu hampir tidak ada gejalanya? karena memang rasa nyerinya menyaru dan jadi bias di antara diagnosa-diagnosa lain, misalkan usus buntu (kasusku, appendicitis & ruptured cyst berbarengan)

Pada mereka yang sudah menikah, keluhan kista biasanya timbul karena adanya kehamilan ectopic atau kehamilan di luar rahim. Bisa juga diindikasi kista karena setelah beberapa waktu menikah, masih belum bisa hamil, atau malah rasa sakit saat berhubungan… So, menurut saya, kista pada perempuan yang sudah menikah lebih bisa cepat terdeteksi.

Nah pada perempuan yang belum menikah seperti saya, dan tidak pula mengalami gangguan berarti pada siklus menstruasi, semakin bias lah gejala adanya kista itu.. tidak terdeteksi sejak awal…tidak ada kecurigaan sedikit pun. Medical record yang saya catat sendiri pun tidak lantas memmbuat saya aware dan meminta dilakukan pemeriksaan USG karena toh pada akhir tahun 2010 rahim, ovarium saya semuanya bersih dari masalah…

Jadi sangat saya sarankan kepada kalian (para perempuan) untuk rutin melakukan pemeriksaan USG begitu kalian memasuki usia matang secara reproduksi… Kenapa? karena dari kasus saya sendiri, bolak balik ke dokter, check lab untuk darah dan urin, obat-obatan, ternyata tidak mampu mendeteksi kehadiran kista dalam ovarium saya. But USG did! sayangnya pada saat yang bisa dibilang cukup telat…

7 Maret 2014

Kiamat kecil buat saya…

Dari tulisan di foto USG, kista itu berukuran 5,95cmx5,31cm. sementara di foto satunya lagi tertulis 3,83cm. Dan ternyata itu ukuran kista saya yang sudah dalam kondisi ruptured. Jika utuh, ukurannya lebih besar dari itu. Sssttt… sampai hari ini 1 April 2014, saya masih belum berani melihat foto kista yang sempat didokumentasikan om Eddy (dokter bedah saya) untuk keluarga saya. nanti kalau sudah kuat bathinnya, mungkin saya apdet fotonya di sini…

Ruptured cyst/ kista yang terpelintir itu sangat membahayakan jiwa. Kenapa? karena menyebabkan pendarahan (bleeding) di dalam perut dan perlengketan dengan organ lainnya hingga mengharuskan tindakan operasi darurat.

Bleeding itu yang membuat luka sayatan operasi saya lebih panjang (dokter mengambil tindakan laparotomy exploratory, jadi luka operasi saya vertikal dengan panjang kurang lebih 20cm). Operasi saya layaknya sinetron yang bersambung dua episode…

Jam 11 malam saya dengan pasrah dipersiapkan untuk tindakan operasi. Benar-benar pasrah, sudah tidak kepikiran apa-apa lagi, tidak juga kepikiran opsi-opsi lain. Saya benar-benar di titik nol, di ruangan itu saat saya dipakaikan selembar kain hijau pakaian operasi, semuanya buyar dari pikiran, saya bener-bener kosong…

Menurut tante & MT (paman) yang menunggui saya selama dioperasi, di tengah prosedur operasi itu dokter bedah kembali memberikan surat pernyataan persetujuan keluarga, karena masalah saya yang paling membahayakan jiwa ternyata bukan pada appendix nya melainkan ruptured cyst yang mengalami perlengketan di ovarium sebelah kanan dan perut saya sudah dipenuhi cairan bleeding dari ruptured cyst itu. Sampai hari kedua pasca operasi, selang kateter saya masih berisi cairan yang sangat keruh…

Episode kedua malam itu, operasi saya akhirnya dilanjutkan oleh dua dokter: dokter spesialis bedah dan dokter spesialis kandungan (performing the oophorectomy).

Dan innalillahi wa inna illaihi raji’un. Semuanya dari Allah, akan kembali kepadaNya.

Finally, i had to loose my right ovary.

Sampai hari ini, malam ini, saya masih berduka atas kehilangan itu. Kehilangan sekian persen kesempatan untuk hamil & melahirkan bocah-bocah yang, walau pun saya belum menikah, amat sangat saya nantikan… Luka fisik akibat tindakan surgery darurat malam itu sekarang sudah jauh membaik, sedangkan luka bathin saya belum… Lambat sekali rasanya progres penyembuhan bathin ini.

Pfyuhh, tulisan saya ini, semoga memberikan gambaran tentang gejala-gejala penyakit endometriosis. Jangan abaikan sekecil apa pun teriakan dari tubuh kalian…

Next time saya akan coba tulis bagaimana recovery fisik dan bathin saya pasca laparotomy surgery dan kehilangan satu ovarium saya. Juga tentang cyst saya yang menurut hasil patologi anatomi adalah chocolate cyst, which is a functional cyst, a non cancerous cyst (alhamdulillah), akan saya tulis kapan-kapan.

Sending you all who experience(d) this nightmare my hugs and wishes. What doesnt kill you makes you stronger! Yes, to be strong is the option we have

Cherio, ladies!

 

*laparotomy surgery: major surgery which give surgeon a larger view and more access to the abdomen

**oophorectomy  surgery: ovarian removal surgery

Advertisements