Tags

, , ,

“I am sorry i cant be with you in SemarangΒ  this time. I have to prepare some material for a business trip to Makassar. I never been to Makassar!” kalimat itu saya kirimkan ke chat group line saya-Kittima-Mbak vivi, ketika kami membahas rencana mini reunion kami di Semarang sekaligus bertepatan dengan business trip Kitti (my sister from Thailand) di kota itu dan house warming rumah baru nya mbak Vivi. Tetapi saya terpaksa tidak bisa ikut karena harus bertugas ke Makassar.

Indonesia itu luas, kepulauan yang dipisah lautan maha luas, ngga seperti Belanda yang super petite, kemana-mana super gampang dan cepat. Maka dari itu saya sebagai orang Indonesia asli tulen (mama minang papa melayu jambi) ini agak susah untuk mengeksplor semua wilayah negara tercinta ini: butuh biaya dan waktu πŸ™‚

Dibandingkan mama saya yang anak pensiunan tentara, mama lebih banyak ikut keliling wilayah Indonesia (at least pulau sumatra hihihi). Saya sendiri Sumatra Barat aja ngga khatam (ke Pasaman aja baru sekalinya kemaren pas adik saya nikah sama orang minang Pasaman, ke Bayang Pesisir Selatan tempat asal nenek buyut saya saja saya belum pernah :-p ), apalagi ke provinsi Jambi tempat asalnya papa.

Pulau Jawa pun saya cuma pernah ke kota-kabupaten yang tetanggaan sama Sukabumi saja, tetanggaan sama Yogyakarta karena saya kuliah di Yogya, owh sekali pernah ke surabaya itu pun transit doang di bandara πŸ˜€ Apalagi saya cuma PNSD yang bisa dibilang minim sekali kesempatan untuk perjalanan dinas lintas provinsi apalagi lintas pulau, berbeda dengan teman-teman yang jadi PNS di kementerian, pekerjaan kami cukuplah mengurusi masyarakat di sekitar kami langsung πŸ™‚ Untuk Keluar negeri, saya lebih memilih cari beasiswa: belajar sambil jalan-jalan πŸ˜€

Nahh, jadi paham kan kenapa saya sangat sangat excited waktu menerima disposisi dari bapak Walikota langsung untuk ikut hadir mendampingi beliau di acara… jreng jrengggg… ASEAN MAYORS FORUM ! dan di MAKASSAR pula !! Owh mine ! Engga tau mimpi apa kok bisa dapat kesempatan menghadiri event internasional dan sekaligus bisa berkunjung ke Pulau Sulawesi !

Semangat 45 saya mempersiapkan bahan-bahan untuk diskusi panel yang termasuk dalam run down acara ASEAN MAYOR FORUM, termasuk semangat 45 ngeributin penjahit saya untuk bisa menyelesaikan beberapa baju kurang dari seminggu sebelum saya berangkat ke Makassar haha πŸ˜€

Singkat kata, akhirnya saya benar-benar berkunjung ke pulau Sulawesi, ke Makassar (dan saya baru ngeh Makassar dulu bernama Ujung Pandang *zonkkkk*, dulu saya pikir Makassar dan Ujung Pandang adalah dua kota yang berbeda *zonkkkk lagi* baru ngeh setelah lihat tag koper saya di bandara yang dikasih label UPG hhihihi). Selama penerbangan saya ngga bisa tidur karena pingin lihat bentuk garis pantai pulau jawa yang saya tinggalkan sekaligus bentuk garis pantai saat tiba di pulau Sulawesi.

Mata saya mulai menangkap keberadaan pulau-pulau kecil setelah hampir dua jam penerbangan itu. Saya penasaran dengan bentuk pulau sulawesi aslinya seperti apa. Beruntungnya saya dapat window seat jadi saya bisa melihat perubahan kontur alam dari lautan kemudian pantai lalu perbukitan (bukit kapur dan cadas) yang ternyata merupakan sumber bahan galian pasir, jurang-jurang terjal, tebing-tebing kecil yang super indah, kemudian pemandangan pun berganti dengan dataran landai penuh dengan petak-petak sawah yang sedang dipanen, Voilaaa ! itu daerah Maros, sang penghasil beras terbesar di Sulawesi. Kemudian akhirnya landing di bandara Sultan Hasanudin, Makassar πŸ™‚ Finally !

Baru pertama ini ngerasain dijemput sama LO acara-acara resmi kenegaraan :D

Baru pertama ini ngerasain dijemput sama LO acara-acara resmi kenegaraan πŸ˜€

Udara panas Makassar segera menyapa kami begitu turun dari pesawat (35 celcius, compare to sukabumi which averagely is only 22-26 celcius hihi, jadi iyahhh.. panas boo!). Nahh dari bandara standar protokoler acara-acara internasional pun dimulai. And i was quite new for this! Belum pernah kan ikut event-event resmi internasional begini πŸ™‚ Rombongan kami dijemput oleh LO dari Pemerintah Kota Makassar, destinasi pertama ke Novotel karena Bapak Walikota disediakan penginapan di Novotel oleh panitia sementara delegasi lainnya menginap di hotel Four Points by Sheraton di tempat dilaksanakannya acara ASEAN Mayor Forum.

Ehh, btw, hotelnya baru jadi, jadinya mata si kuli bangunan ini langsung menangkap pekerjaan finishing yang belum selesai di sana sini hihihi πŸ˜€ Noda cat yang masih belepotan di pilar-pilar bangunan, sealant di tempered glass kamar mandi yang ngga rapi, saluran air buangan kamar mandi yang alirannya membalik sampai mendorong floor drain kamar mandi, exhaust fan di restoran yang masih berplastik, termasuk lift yang tetiba bocor jadi terpaksa pindah pake lift west wing yang agak jauh dari kamar πŸ˜€

Malamnya late dinner di resto Lae-lae (ngga sempet mandi n ganti baju hihi), sepertinya resto ini asalnya warung di teras rumah deh.. tapi rame banget yang makan di sini. kesan pertama sih seafood di sini enak, tapi lebih enak lagi di resto lainnya ternyata hehe πŸ˜€ Kelaperan, jadi aja menghabiskan banyak makanan πŸ˜€ Nahh balik ke hotel ngelurusin kaki, istirahat dan bersiap untuk acara besoknya.

C360_2015-09-07-20-20-39-257Nahhh akhirnya hari pertama bertugas sebagai delegasi pun dimulai πŸ™‚ Dari pagi bareng Yenni udah kasak kusuk bersiap, termasuk kompakan pake lipstick warna super red yang lagi ngehits itu hahaha πŸ˜€ Excited sekali pagi itu πŸ™‚

Inside the ballroom

Inside the ballroom

Acara pembukaan berlangsung seru, sedianya event ini akan dibuka oleh RI1 tetapi ternyata beliau batal hadir. Panggung ditata dengan dominasi warna merah, uniknya kursi di panggung diganti dengan beberapa buah becak sebagai usaha pemerintah Makassar memasukkan unsur lokal ke dalam acara internasional. Ohiyaaa, unik lagi dari acara pembukaan, ternyata ketua RW (Rukun Warga) se kota Makassar juga turut diundang loh!! Bentuk penghargaan terhadap lini paling depan dan paling riweuh ketika ada permasalahan dalam masyarakat ini patut diapresiasi yaaa. Dan ada rasa haru sekaligus bangga ketika seluruh peserta (kecuali warga negara asing yaaa hehee) bersama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Btw, lagu kebangsaan kita super keren yakkkk! *proud*

20150908_090956

Bareng Yeni, sebelum pembukaan acara ASEAN Mayor Forum

Nah, sesi kedua setelah acara pembukaan yang membuat kebat kebit ngga bisa nafas hihi πŸ˜€

Jadi sesi kedua ini berisikan diskusi panel dengan moderator ibu Erna Witoelar (sesi 1) dan bapak Dino Pati Djalal (sesi 2). Saya yang bertugas mendampingi bapak Walikota ikut duduk di jajaran kursi untuk para walikota, barisan ketiga (di barisan pertama ada bapak Bima Arya walikota Bogor, pingin minta foto bareng tapi ga berani hahaha). Di sebelah kanan saya kursinya bertuliskan Walikota Padang, ketika kursi tersebut ditempati oleh bapak-bapak paruh baya, saya ingin sekali menyapa tetapi takut salah orang hihi πŸ˜€ Akhirnya saya keluarkan hp, membuka opera mini dan mulai googling “walikota Padang”. Maapkeuunn, tetapi saya bener-bener ngga tau siapa walikota dan wakil walikota Padang, kota kelahiran saya :-p Ehh hasil googling image di hp saya kok beda yaa dengan wajah si bapak yang duduk di kursi walikota Padang di sebelah saya? Akhirnya saya bertanya langsung kepada Bapak Walikota saya, Bapak bilang itu Wakil Walikota Padang yang mewakili Walikotanya. Owhh oke πŸ™‚

Saya beranikan diri menyapa si bapak wakil walikota Padang, switch ke bahasa Minang tentunya hihi πŸ˜€ oke, ngobrol-ngobrol. Saya ditanya alamat rumah ortu di Padang, sudah berapa lama kerja di Sukabumi, kenapa bisa bekerja di Sukabumi bukannya di Padang. Saya juga bertanya balik ke bapak Wako (beliau basic nya juga kerja di PU), dan menyampaikan pesan sponsor keluhan mama saya dan warga masyarakat di sekitar rumah mama saya tentunya: kenapa sepertinya belum ada normalisasi lingkungan di sepanjang sungai batang kuranji, terutama rumah-rumah yang terkena banjir bandang 3 tahun lalu. Saya cerita sekarang sungainya pindah persis berada di belakang dapur mama saya, dan setiap kali hujan mama saya langsung trauma dengan kejadian banjir bandang waktu Ramadhan 2012 lalu. Kesempatan banget kaan sayah hihi πŸ˜€ Mama sayang, keluhanmu selama 3 tahun ini sudah tersampaikan langsung kepada bapak wakil walikota Padang πŸ˜‰

Ikutan pake red lipen yg lg ngehieitzzz :-p

Ikutan pake red lipen yg lg ngehieitzzz :-p

Seperti sudah saya ceritakan di atas bahwa sebelum berangkat ke Makassar saya sudah memerpsiapkan beberapa bahan paparan dan sekaligus mempersiapkan beberapa pertanyaan untuk sesi diskusi panel untuk Bapak Walikota. Nah ketika ibu Erna Witoelar membuka sesi tanya jawab, Bapak mengizinkan saya untuk ikut bertanya pada panelis yang terdiri dari directr general for ASEAN cooperation, deputy infrastructure kemen PU, ibu walikota Seberang Perai Malaysia.

Duwhh, tangan mulai dingin n gemetaran ketika ibu Erna mempersilahkan saya mengajukan pertanyaan, apalagi begitu nyadar muka saya ada di dua big screen yang dipasang di kiri dan kanan panggung. My heart skipped a beat, i got trembling, my english was suddenly being so pre basic student when the cameras were on me hahaha πŸ˜€ *demam panggung* Pertanyaan saya waktu itu adalah bagaimana regulasi dari pemerintah pusat untuk memproteksi tenaga kerja kita terutama tenaga kerja konstruksi (maksud saya adalah level kuli bangunan/ tukang, mewakili level bawah dunia konstruksi niy saya, sesama kuli bangunan kan harus saling mendengarkan dan saling mendukung yakkk) jika kemudian ASEAN Cooperation ini kemudian benar-benar diberlakukan karena bidang arsitektur dan konstruksi termasuk ke dalam 8 bidang kerja sama itu nanti. Ehh ternyata jawaban narasumbernya agak-agak bikin kecewa karena nantinya yang mendapat privileges dari kerja sama ini baru pada level top manager/top engineers nya saja, jadi mereka nanti yang bisa kerja bebas di negara-negara ASEAN mana pun.

Well, tetapi ada benarnya juga sih, mengingat tenaga kerja buruh/kuli bangunan di negara kita mayoritas tidak bisa berbahasa asing. Padahal pekerjaan konstruksi adalah pekerjaan yang penuh resiko keselamatan baik itu pada saat pelaksanaan maupun pasca bangunan selesai dibangun. Maka dari itu bener banget kalau tenaga kerja konstruksi yang bekerja di luar negeri mau tidak mau harus bisa berbahasa asing minimal bahasa inggris atau bahasa ibu negara yang dituju karena pekerja konstruksi harus paham dengan istilah-istilah konstruksi, mereka harus bisa membaca gambar kerja. Nah salah satu kriteria untuk bisa ikut dalam joint cooperation in ASEAN Community adalah : able to communicate in foreign language.

Ohiya saya mau cerita kalau para moderator ini pun kadang-kadang juga lupa kosakata bahasa inggris πŸ™‚ Misalnya pak Dino Pati Djalal, sebagai moderator kadang beliau juga spontan bertanya balik kepada panelis yang lain tentang istilah-istilah teknis tertentu “ini bahasa inggrisnya apa ya?” hahaha πŸ˜€ Di forum hari kedua pun juga sama. Ibu walikota Banda Aceh memberikan paparan dalam bahasa Inggris tetapi untuk sesi tanya jawab beliau meminta dalam bahasa Indonesia saja πŸ™‚ Pun Kepala Bappeda kota Banjarmasin yang juga jadi narasumber untuk diskusi hari kedua tentang Adaptive and resilient city, lucu banget dehh karena beliau bolak balik nanya bahasa inggrisnya apa ke moderator Mr. Bruno dari European Union yang juga jadi translator dadakan “eh Bro Bru (bruno), ini apa ya in english nya?” hihi πŸ˜€

Selesai acara mayors forum, seluruh peserta (Walikota dan para delegasi) diajakin site visit ke Losari Waterfront city project. Ohiyaa saya belum bilang yahh kalau pelabuhan di makassar ini mengingatkan saya kepada aktivitas pelabuhan di Rotterdam saat saya masih jadi warganya dulu πŸ™‚

Acaranya dimulai dengan shalat magrib berjamaah di Mesjid terapung Amirul Mukminin *akhirnyaaaaa kesampaian shalat di sini hehe* yang ditutup dengan khutbah dari Walikota Bengkulu. Mesjidnya cantik lohhh, dibikin floating *lagi-lagi inget Rotterdam* Eh tapi saya agak bingung dengan shalatΒ  berjamaah di Makassar ini hehe.. Jadi ceritanya saya masbuq 1 rakaat, nah ternyata di tahyat awal rakaat kedua tetap diakhiri dengan sekali salam, lalu takbir dan lanjut rakaat ketiga. Nah di tahyat akhir rakaat ketiga, ngga langsung baca salam, melainkan takbir lagi untuk sujud (klo ga salah inget dua apa tiga kali gitu) lalu baru dilanjutkan dengan salam. Saya yang masbuq otomatis jadi bingung dan sempet melirik ke lantai bawah ke shaf para bapak hihi πŸ˜€

Foto dulu sebelum shalat di mesjid Amirul Mukminin

Foto dulu sebelum shalat di mesjid Amirul Mukminin

 

magrib di mesjid Amirul Mukminin

magrib di mesjid Amirul Mukminin

Foto bareng Bapak Walikota dan Ibu, Yenni, dan Kabag Umum & Protokol *saya dan Yenni ngga sempet ganti baju dari pagi wkwwkwkw*

Foto bareng Bapak Walikota dan Ibu, Yenni, dan Kabag Umum & Protokol *saya dan Yenni ngga sempet ganti baju dari pagi wkwwkwkw*

Selesai shalat magrib, acara dilanjutkan dengan light dinner di pinggir pantai. Table manner booo hihi :-p Sempet gemes berdua Yenni pas lihat iga bakar (konro nya makassar), pingin diambil pake tangan dan digigitin, ehhh tapi lihat kiri kanan depan belakang satu pun ngga ada yg “brutal” ama iga bakarnya, jadi aja cuma dicuil-cuilin pake sendok dan garpu hahahaha πŸ˜€

Selama Acara makan malam itu kami disuguhi pertunjukan seni tari dan musik makassar. indahhhh.. ehh, musiknya mengingatkan saya kepada musik randai nya ranah minang πŸ™‚ somehow it has that thin red line πŸ™‚

Dinner dan prtunjukan seni di pinggir pantai Losari

Dinner dan prtunjukan seni di pinggir pantai Losari

foto bareng para daeng yang mengisi acara pertunjukan seni *daeng yang cantik itu pake stiletto 10cm, jadi aja saya kebanting tingginya hihihi*

foto bareng para daeng yang mengisi acara pertunjukan seni *daeng yang cantik itu pake stiletto 10cm, jadi aja saya kebanting tingginya hihihi*

Usai bertugas di hari pertama kami kembali ke hotel, sebelumnya sempet makan lagi di salah satu resto seafood rekomendasi supir. Saya yang merasa kekenyangan menolak untuk pesan makanan, cuma pesen es kelapa muda jeruk mandarin. Daaann… yang terjadi adalah saya malah menghijacked porsi makannya ajudan bapak, dan berhasil menghabiskan setengah dari sepiring ikan bakar porsi gede, beberapa potong otak-otak dan icip-icip ikan bakar lainnya wkwkwkwkwk πŸ˜€ *setelah itu tiap makan saya diledekin para ajudan: icip-icip doang yahhh uniii* πŸ˜€

Sampai di hotel udah malem banet, mulai deh berasa gempornya, dan kompakan kram kaki sana sini ama Yenni hihi πŸ˜€

Hari kedua ada perubahan jadwal, Bapak menugaskan saya berdua Yenni untuk mengikuti diskusi panel mayor forum. Ahhh kelabakan hahaha πŸ˜€ forum dibagi ke dalam 4 ruangan dengan 4 topik berbeda. Saya dan Yenni berdiskusi sebentar sebelum memutuskan untuk memilih topik diskusi apa: dipilih berdasarkan tingkat pengetahuan dan kepedean kami dong wkwkwkwkw πŸ˜€

bertugas di hari kedua

bertugas di hari kedua

topik 1, adaptive & resilient city-multi sectoral & stakeholders partnership in supporting adaptive & resilient cities; topik 2, intelligent & smart cities – build governance & improve public services using smart city concept; topic 3, Prosperous cities – enabling local economic competitiveness; topik 4, knowledge sharing – replication of indonesia best smart practices.

Sadar kami ngga menguasai bidang ekonomi, akhirnya kami memilih masuk ke forum 1 tentang adaptive & resilient city, which was quite a good choice because we discussed with 2 beautiful first ladies! Panelisnya terdiri dari ibu Elida, walikota Banda Aceh, Stephany walikota Catbalogan-Phillipines, bapak Fajar Kepala Bappeda Banjarmasin, dan bapak Edimon Ginting, deputy country director dari ADB.

Di diskusi panel ini saya kembali berpartisipasi berdiskusi mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibu walikota banda aceh dan walikota catbalogan. Udah ga demam panggung nih haha πŸ˜€ Paparan dari para panelis ini terkait mitigasi bencana, contoh-contoh best practices dan program masing-masing kota (banda aceh-catbalogan-banjarmasin) dalam membangun resilience dan adaptive strategy bagi kota-kota mereka yang -sama halnya dengan hampir seluruh kota di Indonesia- prone to natural disaster.

Bertanya kepada first lady nya banda aceh & catbalogan-phillipines

Bertanya kepada first lady nya banda aceh & catbalogan-phillipines

Menarik pula paparan Stephany tentang mega project kotanya: sky city, yang berusaha memindahkan pusat-pusat aktivitas dan pelayanan publik kotanya menjauh dari garis pantai, pada terrain of hill side of the city, makanya namanya sky city hehe πŸ˜€ Ehhh, Stephany ini terpilih sebagai walikota pada umur 29 thn (sekarang umurnya 32 tahun). Young, brilliant and dangerous lady πŸ™‚ Saya dan Yenni juga berkesempatan berfoto dengan mereka, para panelis ini. Yang lucu itu pas antri berfoto dengan Stephany, ajudannya stephany bete aja qta todong buat motoin wkwkwkwk πŸ˜€ Sementara miss Mayornya malah seneng aja disuruh-suruh foto gaya fun peace gitu πŸ˜€ Eh buat yang pingin tau lebih lanjut tentang Sky city mega project nya mayor stephany uy tan inih, monggo klik link berikut ini, oiyaa.. sama kayak sukabumi, catbalogan juga gabung di ICLEI πŸ™‚ Kalau kerja sama kota kami dengan ICLEI adalah dalam pemetaan vulnerable urban system untuk kemudian menjadi bahan penyusunan strategi city resilience terhadap climate change, kebetulan saya juga ikut diajak ikut serta dalam kelompok kerja mengenai perubahan iklim ini.

1@

Dengan ibu walikoya Banda Aceh, ibu Elida

saya, Yenni, dan walikota Catbalogan-Phillipine, Miss Stephany

saya, Yenni, dan walikota Catbalogan-Phillipine, Miss Stephany *hanya ama kami dia mau poto gaya ngga resmi gitu haha*

20150909_121855Selesai diskusi dan antri foto-foto bareng para peserta diskusi, kami berlari ke restoran, daaaannnn… sukses kehabisan makanan ! wkwkwkwkwkwkw πŸ˜€ epic banget dehhh.. kelaperan akut hahaha πŸ˜€ Akhirnya kami pesen taksi dan menyerahkan pilihan tempat makan kepada supir taksi yang lalu membawa kami makan di Pallubasa Onta. Saya pikir pake daging onta hihi πŸ˜€ ternyata itu nama jalan tempat warung makan yang menjual menu andalan palubasa: bentukkan kuahnya mirip rawon, tapi klo rawon kan jadi item kecoklatan gitu karena pake kluwek, nah si pallu basa ini coklat kehitaman karena kuahnya pake kelapa yang disangrai sampai coklat gitu, enaaaakk :-9

Warung Pallubasa Onta

Warung Pallubasa Onta

ini loh pallubasa onta :)

ini loh pallubasa onta πŸ™‚

Selesai kabur sebentar demi mengisi perut yang kelaperan, kami kembali ke hotel. Oh iyaa, menraik soal taksi di Makassar, supirnya mau aja nungguin kami makan siang, argo nya dimatikan, dan walau pun pesan taksi nya by phone, engga ada charge minimum payment seperti biasanya, argo nya pun murah dimulai dari 6ribu rupiah. Dari hotel ke pallubasa onta, kami kena ongkos 12ribu saja hihi πŸ˜€

Sampai di hotel, participants lainnya sedang berdiskusi tentang draft deklarasi Makassar, salah satu hasilnya adalah, akan didirikan university of ASEAN di Indonesia! tepatnya di kota Banjarmasin, sementara Makassar ditetapkan sebagai headquarter untuk ASEAN community *thumbs up for our country, ayokkk jaga keamanan nya untuk semua!* Selesai gladi resik untuk penandatanganan deklarasi Makassar, seluruh peserta pun diajak keliling kota Makassar dengan menggunakan beberapa bus yang sudah disediakan panitia.

Bus yang saya dan Yenni tumpangi mendapat guide salah seorang kabid di Bappeda Makassar. Beliau menjelaskan beberapa program andalan kota Makassar seperti smart city yang digunakan untuk fasilitas kesehatan telemedicine, lalu lorong garden dan manajemen persampahan kota makassar termasuk bahwa Makassar merupakan kota yang berkonsep MICE (Meeting, incentives, conference, exhibition). Oiyaa, lorong garden ini mirip dengan program kelurahan hijau di kota kami Sukabumi. Ide dasarnya adalah urban farming: memanfaatkan lahan sempit perkotaan (lorong/gang permukiman) untuk ditanami berbagai tanaman seperti sayuran, bumbu dapur dan buah-buahan. Hanya saja sebagian dari tanaman di program lorong garden ini sudah menggunakan media hidrponik. Eh tapi di Sukabumi juga sudah mulai digerakkan kok berkebun dengan menggunakan media hydroponik sama komunitas Sukabumi Berkebun πŸ™‚

Nah menariknya soal manajemen persampahan di Kota Makassar adalah bahwa warga Makassar justru takut sampahnya dicuri hehehe πŸ˜€ kenapa? karena sampah yang sudah dipilah oleh warga tersebut bisa ditukar dengan beras! Well, mirip kok konsepnya dengan konsep bank sammi (bank sampah sukabumi). Truk angkutan sampah di Makassar menggunakan truk box yang dinamakan tangkasaki: truk angkutan sampah kita. Ide menggunakan box untuk truk sampah kayaknya bisa mereduksi bau sampah yang kemana-mana selama proses pengangkutan dan juga mereduksi sampah yang tumpah berceceran kali yaaa πŸ™‚

buanglah sampah pada tempatnya, jagalah sampah mu dari maling :D

buanglah sampah pada tempatnya, jagalah sampah mu dari maling πŸ˜€

nyicipin sari markisa hasil panen dari program lorong garden di kampung kassi-kassi

nyicipin sari markisa hasil panen dari program lorong garden di kampung kassi-kassi

anak-anak kampung kassi-kassi yang ikut antusias menyambut delegasi asean mayor forum

anak-anak kampung kassi-kassi yang ikut antusias menyambut delegasi asean mayor forum

lorong garden, semacam kampanye urban farming dengan media recycle good di lahan-lahan super terbatas di gang-gang permukiman warga

lorong garden, semacam kampanye urban farming dengan media recycle good di lahan-lahan super terbatas di gang-gang permukiman warga

Selesai kunjungan ke kampung Kassi-kassi, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Losari, tempat diadakannya acara penandatanganan deklarasi makassar, lumayan yaa bisa city tour sama panitia hehehe πŸ˜€

Sesampainya di pantai losari, kami disambut oleh alunan musik dan teriakan ceria 2000 anak-anak Makassar yang ikut berpartisipasi dalam acara ASEAN Mayor Forum ini πŸ™‚ Seru sekali melihat semangat anak-anak mungil kesayangan bangsa ini πŸ™‚

2000 anak - anak makassar ikut memeriahkan penandatanganan deklarasi makassar

2000 anak – anak makassar ikut memeriahkan penandatanganan deklarasi makassar

salah satu walikota dari salah satu negara asean menunjukkan kado lukisan dari anak Indonesia *lupa nanya beliau darimana hehe*

salah satu walikota dari salah satu negara asean menunjukkan kado lukisan dari anak Indonesia *lupa nanya beliau darimana hehe*

Ada kejadian lucu pas acara penandatanganan deklarasi Makassar ini πŸ˜‰ Jadi ceritanya tidak ada petunjuk dari panitia dimana letak panggung utama tempat penandatanganan, pun petunjuk dimana tempat buat delegasi dan dimana tempat untuk para walikota. Kalau pun ada sudah ngga ketauan aja saking ramenya yang hadir. Jadilah saya dan Yenni dan ajudan bapak ikut kedorong massa hingga ke panggung utama hihihi πŸ˜€ Baru ngeh karena ada drone camera yang terus-terusan berada di atas kepala kami. Yahh, sudah terlanjur di sana dan ga mungkin balik badan karena saking ramenya, jadi ya udahhh.. ngeksis ikut-ikutan melambaikan tangan ke drone camera hahaha πŸ˜€

Lagu I have a dream pun menjadi penutup acara penandatanganan deklarasi Makassar πŸ™‚ Semoga yaahhh, ASEAN Community bisa memberi manfaat besar buat bangsa ini, bukan sebaliknya jadi bangsa yang dimanfaatkan :-p eh tapi kita nya sebagai bagian bangsa juga harus bisa meningkatkan kapasitas kita yaaa. Jangan cuma menuntut ini itu sama pemerintah dan protes brutal ketika merasa “tertinggal”. Kasarnya siy di era global seperti sekarang ngga bisaΒ  lagi berpikiran “ke-aku-an”, what happens now is “world citizen”, when you have better quality than any other people in this world, you get hired, you get better payment! terlepas dari negara mana kamu berasal dan di negara mana kamu bekerja. Siapkan diri untuk persaingan global, jangan mengkeret duluan tanpa berusaha hehe.. kalau istilah mama saya “belon perang tapi udah pulang aja”, nah jangan seperti itu. Terutama sekali kuasailah minimal satu bahasa asing yang biasa dipakai di dunia bisnis : inggris, mandarin, dll πŸ™‚

Selesai sudah tugas saya di Makassar, lepas magrib saya minta izin kepada bapak Walikota dan ibu untuk berpisah dari rombongan karena kebetulan adik bungsu saya juga lagi dinas di Makassar. Jarang-jarang bisa ketemu sama mahkluk satu itu hihi πŸ˜€ padahal dia bekerja di Pertamina kantor pusat Jakarta, saya di Sukabumi, it’s not that far tapi ya gitu deh… jarang ketemu :-p Mini reunion juga dengan Mbak Arik, disempet-sempetin deh walau saya jadi menyusup di acara kementerian Pekerjaan Umum urusan pengairan di Hotel Aryaduta.Β  Ga apa-apa yaaa? kan saya juga dari PU dan dulu juga mantan tukang pengairan di sukabumi nya hihi πŸ˜€ Terakhir ketemu mbak Arik pas kami sama-sama sedang di Kyoto, Jepang tahun 2013 lalu πŸ™‚

mini reunion dengan adikku & dengan mba arik

mini reunion dengan adikku & dengan mba arik

Selesai mini reunion yang isinya cuma ngobrol bentar dan foto bareng, saya minta dipesankan taksi. Nekat jalan-jalan sendirian di kota Makassar πŸ™‚ Dari hari pertama sampai hari terakhir bisa dibilang saya ngga bisa kemana-mana selalu stand by dalam forum hihihi πŸ˜€ Akhirnya malam itu saya minta dianter taksi untuk beli oleh-oleh di jalan Somba Oppu, takut bener-bener udah ngga keburu lagi beli oleh-oleh khas makassar. Akhirnya dapet deh songket makassar, kopi toraja dan kacang makassar. Cuma segitu-gitunya saking udah malem banget dan saya udah kelelahan belon sempet mandi, ganti baju apalagi istirahat dari pagi, kaki saya udah minta ampun diajakin jalan pake boot dari pagi :-p Oleh-oleh buat si bapak satu aja mepet beli di bandara dunkk wlo pun orangnya cuma bilang ngga usah dibeliin apa-apa πŸ™‚ Eh sekali lagi anggapan saya selama ini tentang orang makassar yang selalu rusuh di tipi-tipi buyar dengan kemananan dan keramahan yang ditunjukkan oleh supir taksi yang mengantar dan menunggui saya berbelanja sendirian malam itu πŸ™‚

Selesai belanaj oleh-oleh saya bergabung lagi dengan rombongan, tapi terus misah lagi berdua doang dengan Yenni: ladies nite out ! Secara dari hari pertama kami bertugas terus yaaa hihi πŸ˜€

Kami menuju pusat wisata kuliner malamnya makassar, daerah popsa apa yah kalau ga salah namanya (dekat kantor kepolisian pengairan apa gitu istilahnya saya lupa, yang jelas nyebrang dikit dari depan fort rotterdam). Kami menuju warung makan paling ujung karena melihat tempatnya lumayan kece: makan di deck yang menjorok ke laut dengan view aktivitas pelabuhan Makassar dan sebuah bangkai kapal tua berwarna biru. Hampir dini hari baru kami kembali ke hotel πŸ˜€ Lelahhhhh capek banget tetapi menyenangkan!

a very late dinner next to the port with Yenni *abaikan maskara yg bikin mata panda semakin gelapsss hehe*

a very late dinner next to the port with Yenni *abaikan maskara yg bikin mata panda semakin gelapsss hehe*

dinner dengan view kapal tua ini

dinner dengan view kapal tua ini

Selamat malam, Makassar. See you another time soon!

Selamat malam, Makassar. See you another time soon!

Dalam perjalanan menuju hotel, saya dan Yenni sempat ngobrol dengan supir taksi nya (yang lagi-lagi baik yaaa). Daeng itu bercerita bahwa Makassar di bawah kepemimpinan Walikotanya yang sekarang jadi sering sekali menjadi tuan rumah berbagai event. Iya lah yaa, kalau kotanya jelas berkonsep MICE, maka indikator keberhasilannya adalah event-event yang diadakan di kota tersebut πŸ™‚ Ehh seharian itu saya tiga kali menggunakan tiga armada taksi yang berbeda, ngobrol dengan mereka mengingatkan saya pada aksen berbicara teman-teman kuliah saya dulu yang berasal dari makassar seperti pak Ancu dan Ulil hehehe πŸ˜€ Mulai familiar dengan akhiran-akhiran dan intonasi berbicara nya orang Makassar tetapi kami harus bergegas pulang πŸ™‚

Next time semoga ada kesempatan bertugas lagi di event-event internasional seperti ini πŸ™‚

Terima kasih sekali kepada bapak Walikota yang sudah mempercayai saya untuk ikut serta di ASEAN Mayor Forum! Saya benar-benar belajar banyak dari pengalaman saya kali ini πŸ™‚

Advertisements