Tags

, , , , , ,

Hai, hallo! Assalamualaikum…

Nyaris setahun vakum tidak bercerita dan menulis di sini. Kali ini meminjamkan “mata dan rasa” kepada kalian tentang perjalanan ke Istanbul, napak tilas jejak kejayaan Islam di Eropa.

****

Sejak diberitahu bahwa saya berhasil mendapatkan beasiswa dari NFP untuk program short course di Centre for Development Innovation, Wageningen University, saya mulai mereka-reka, kira-kira kemana perjalanan saya menjelajah bumi Allah dengan biaya yang amat tipis ini: masuk Eropa dengan mengandalkan biaya dari sponsor (yang kali ini tanpa living allowance alias tidak ada uang saku, hanya tiket pesawat indonesia-belanda, hotel dan makan 3 kali sehari, serta insurance), lalu menyisihkan uang tabungan saya yang tidak kunjung bertambah untuk menjelajah di sela-sela jadwal belajar, dan kartu kredit sebagai dana cadangan di saat sudah sangat kepepet hihi ๐Ÿ˜€ Sebut saja ini traveling bergenre kere kere hore (#kerekerehore).

Sebagai bocoran budget perjalanan saya 3 minggu kemarin saya hanya berbekal 280 euro (untuk transportasi dan jajan), yang memang super ngepassss sekali untuk biaya 3 minggu hihi ๐Ÿ˜€ Sebagai gambaran: tiket kereta dari amsterdam ke Ede-wageningen sekitar 16 euro (pp 32 e), rotterdam-ede-wageningen sekitar 19 euro (pp 38 e), lalu bis dari ede-wageningen ke desa wageningen sekitar 1,5 euro. Untuk biaya laundry saya berhasil ngirit karena nyuci di wastafel dengan detergen yang dibawa dari indonesia (dan baju saya selama 3 minggu itu benar-benar tidak kenal setrikaan. record tiga minggu pake baju kusyut wkwkwkwk ๐Ÿ˜€ ). Nah untuk jajan big meal seperti menu lunch bisa habis 4,6 euro (ini harga kleine/kecil kapsalon, yang 6 tahun lalu waktu saya masih jadi warga rotterdam harganya cuma 3,5 euro), untuk minum kalau lagi kaya raya silahkan beli air mineral botolan di supermarket, saya sih kalau air minum mending ambil dari kran toilet hihi. Nah toilet di belanda as you know masih belum gratis alias bayar kecuali di bandara schipol (di centraal station Rotterdam, toiletnya juga harus bayar). Ini seharusnya saya tulis di tulisan lain tentang kehidupan saya di Wageningen kemaren yaa? Owkay, mari lanjut ke cerita tentang Istanbul Escape ini ๐Ÿ™‚

Sebelum berangkat ke Belanda, saya sempat menguhubungi beberapa teman yang akan menjadi teman seperjalanan nantinya. Salah satunya mba Nana. Mba nana ini yang memberi ide untuk mengunjungi Istanbul-Turki. Saya langsung iya! Karenaย selama setahun dulu tinggal di Belanda (2010-2011) saya sempat mengunjungi beberapa kota di beberapa negara Eropa seperti France, Austria, Czech, Hungary, German, dan Belgium. Plus, Istanbul yang terletak di dua benua (bagian barat kota Istanbul terletak di benua Eropa sementara bagian timur kota ini ada di benua Asia) merupakan bukti bahwa Islam pernah berjaya di benua Eropa. Selain tanah suci, patut rasanya Istanbul ada dalam traveling list kita yang beragama Islam. So, Istanbul ? Sure!

Ticket sudah kami beli online dengan kartu kredit sebelum berangkat ke Belanda. Pertimbagannya agar limit kartu kredit bisa full selama kami berada jauh dari tanah air hehe. Kami menggunakan maskapai KLM. Mahal ? Tidak juga ๐Ÿ˜‰ Salah satu tips berhemat agar bisa traveling walau pun #kerekerehore adalah: membeli tiket, booking hotel dan menyusun itinerary dari jauh-jauh hari. Kebetulan sekali saat kami memesan tiket online untuk istanbul escape, KLM sedang ada program promo ticket. Jadinya dengan uang sekitar 2,2 juta IDR kami sudah punya ticket pp amsterdam-istanbul (plus insurance). Sebenarnya bisa lebih irit, karena di hari berikut nya untuk flight jam 5 subuh, harga ticket pesawat KLM dari istanbul ke amsterdamnya malah 0 (nol rupiah!!). Saya bolak-balik mengklik tanggal dan harga tiket penerbangan tersebut dan sampai saya yakin harganya betul-betul nol rupiah hahaha ๐Ÿ˜€

Oiya, sedikit info untuk kalian yang belum berkesempatan bertualang ke negara-negara lain dengan tiket murah meriah… Tiket-tiket penerbagan tersebut murah salah satunya karena tidak ada fasilitas free bagasi selain bagasi cabin yang hanya maksimum 8kg dan hanya boleh two pieces (satu tas asesories isi kamera atau lapie, dan satu ransel or koper kecil ukuran kabin). Jadi kalau teman atau saudara kalian pulang traveling tapi tidak bawa oleh-oleh, harap maklum saja hihi ๐Ÿ˜€ Apa sih yang bisa muat dalam satu backpack yang dibatasi beratnya hanya 8kg saja? Baju buat dua hari, kamera SLR (canonku aja udah nyaris 2kg sendiri), gadget n charger, toiletries, botol minum dan payung saja sudah berapa kilo sendiri tuwh ? Plus waktu yang sangat terbatas sayang sekali rasanya kalau hanya habis untuk urusan cari oleh-oleh *maaf tega* ๐Ÿ˜‰

Untuk hotel kami menggunakan jaringan AirBnB (aplikasi airbnb bisa didownload di appstore). Ada beberapa pilihan, bisa pakai jaringan hostelworld (waktu spring break 2011 ke czech-hungary-austria, saya menggunakan jaringan hostelworld untuk nyari hostel murah ala backpackeran). Sempat ingin menggunakan pilihan couchsurfing karena saya juga gabung di couch surfing tapi belum pernah jadi host tamu mana pun walau pun sudah ada beberapa yang mengontak saya tapi jadi ragu sendiri untuk mengiyakan haha ๐Ÿ˜€ Eh seriusan, saya batal ngulik couch surfing karena dengar dari teman bahwa beberapa waktu lalu sempat ada kejadian tamu yang menginap di ย salah satu courch surfer malah diperk*sa sama host nya sendiri. Ihhh naudzubillah, serem! Langsung coret deh couch surfing dari opsi cari budget hotel.

Mirip dengan hostelworld, di AirBnB kita juga bisa baca review, facilities dan rating penginapan yang ditawarkan (termasuk rating keamanannya juga). Akhirnya pilihan jatuh pada Otantik Guest house. Harga yang ditawarkan muraaaah banget ! Btw, saya mau greeting dulu Yusuf, si pemilik Otantik Guesthouse *switch bahasa into english*: Hi, Yusuf! if you read this, please use google transtlate because i wrote this both in bahasa & english ๐Ÿ™‚

I was not so sure when choosing this Otantik Guesthouse. But then, looking at the price (nice and warm private room for two with bathroom, tv, heater, and breakfast, only costs for ย around 200k IDR per person) , facilities, photos, and fast response from Yusuf-the owner when i texted him through airBnB, we finally booked it ! FYI, unless you are brave enough to stay in mix room/dormitory or owkay to not have a private bathroom inside your bedroom, it is considerably important for girls travelers to choose private room with bathroom though it may cost you more or sometimes over pricey for a backpacker’s budget. And since we were traveling only two of us, me and mbak nana, we choose to book private bedroom with bathroom. And we did made a good choice ๐Ÿ™‚ Yusuf was very helpful. He replied to my messages fast (if you use AirBnb application on your smartphone, it is possible to talk to the host and ask questions before you pay for your hotel reservation). He also allowed us for early check in, like very early at 01.00 am ! He charged us 15 USD (per room) instead of charged us full price as technically we stayed at his hotel for 2 nites 2 days ย and breakfast for 2 days. He also provided us information for taxy fare from ataturk airport to his hotel. The room & and bathroom were clean as it is shown on the AirBnB. The hotel was quite new, Yusuf told us that he opened the hotel two months ago or so. Hmm.. that explains why there was only one review available from the visitor ๐Ÿ™‚ Will continue about the Otantik Guest house later..

FYI, pesawat yang kami tumpangi ke belanda dan pulang ke Indonesia adalah pesawat milik maskapai Tuskish Airline, jadi dalam 3 minggu kemarin saya 3 kali berada di Istanbul-Turki karena transitnya di Istanbul hehee ๐Ÿ˜€ Which was good karena bisa menjadi semacam persiapan untuk Istanbul escape kami waktu itu.

Minggu pertama shortcourse dilewati dengan jadwal belajar yang sangat padat, ditambah lagi dengan adaptasi dan struggling dengan suhu yang feels nya masih minus sekian celcius, jetlag, bahasa Inggris yang berantakan, dan belanda yang lagi epidemik flu jadinya nyaris satu kelas tertular flu, batuk pilek. Termasuk saya niy, minggu pertama saya bahkan ngga ada suara karena radang tenggorokan yang lumayan parah. Padahal saya sudah menaruh handuk basah (plus menjejali railing gorden dengan cucian hihi) di atas heater agar udara kamar tidak terlalu kering, tetapi tetap saja bangun tidur tenggorokan dan hidung berasa diiris-iris sampai mimisan. Padahal ini kali kedua saya di belanda, dulu waktu pertama datang ke belanda pas musim gugur tahun 2010, dan seingat saya, tidak sulit beradaptasi waktu itu. Mungkin karena suhu di musim gugur relatif lebih hangat ketimbang suhu di penghujung musim dingin. plus, dulu itu waktu datang kami masih punya 2-3 hari untuk beristirahat dan pulih dari jetlag 6jam beda zona waktu sebelum berkutat dengan jadwal kuliah.

Maka sudah bisa dibayangkan saya sangat menantikan weekend dan istanbul escape itu ๐Ÿ™‚

Finally, Jumat 11 Maret 2016 seperti yang tertera di tiket pesawat KLM ! Alih-alih jadwal hari Jumat itu bisa lebih santai ternyata tidak! Kelas baru selesai jam 5 sore, dan masih harus diskusi untuk evaluasi program selama seminggu itu, padahal penerbangan kami dijadwalkan jam 8.30 malam dari amsterdam. Akhirnya kami nekat meminta izin kepada ketua kelas untuk tidak ikut diskusi evaluasi program which is a big NO untuk program belajar yang sifatnya participatory. Sedikit muka tembok aja saat bilang “we’re really sorry, we cant join the discussion. we have to catch our flight”.

Meluncurlah kami dengan setengah berlari mengejar bus 84 (atau 88) dari stasiun bus wageningen (lima menit jalan kaki kalau tungkai kakinya panjang kayak orang belanda hehee). Nah, wageningen ini semacam desa begitulah, tidak punya jalur kereta sendiri. Jadi untuk keluar kota, kami harus naik bus dulu ke Ede-wageningen, semacam kota kecil (atau malah kecamatan yak hihihi) karena stasiun terdekat ada di Ede-wageningen (wageningen ini dibacanya agak-agak lebay gitu: hhvvaaakkhheeningen hihi).

Okie dokie! Dan petualanganpun dimulaaaai ย ! B-)

Bus dari wageningen ke Ede-wageningen dipenuhi para mahasiswa Wageningen Universiteit yang ingin pulang kota, semua masih berjacket tebal ala musim dingin, koper-koper mungil dan backpack nampak berjejer dalam tentengan dan punggung mereka. Sepertinya tidak ada yang tinggal selama weekend di desa wageningen. Sesampai di stasiun bus ede-wageningen yang terintegrasi dengan stasiun kereta ede-wageningen, kami segera berlari ke peron dan mendapati ternyata tidak ada direct train ke bandara schipol – amsterdam!

Satu-satunya kereta yang lewat sore itu adalah kereta biru ValleiLijn, kereta lambat yang cuma punya dua-tiga rangkaian gerbong. Kereta lucu yang kecepatannya tidak lucu ketika kamu harus berlomba dengan waktu mengejar penerbangan. Terpaksalah kami ikut naik bersama mahasiswa lainnya ke kereta jalur pedesaan itu. Kereta ini diooperasikan oleh perusahaan yang berbeda dengan perusahaan kereta cepat intercity (valleilijn satu perusahaan dengan bus connexion) jadi untuk tap in & tap out ov chipkaart juga jangan sampai salah mesin scan yang berakibat didenda petugas seperti kejadian waktu pertama kali kami datang di wageningen hehe ๐Ÿ˜€

Suasana di dalam gerbong kereta terasa ala-ala piknik ๐Ÿ™‚ kursi di gerbong disetting melingkar oval dengan dua meja di tengah-tengah gerbong. Mahasiswa-mahasiswa tampak santai mengobrol dengan teman-temannya dan pacar tentu saja. View sendu dari jendela gerbong memperlihatkan suasana pedesaan di sore hari yang dingin dan kelabu, plot-plot lahan pertanian dan rumah-rumah pedesaan yang kotak-kotak. Kereta berhenti di beberapa stasiun, terlihat beberapa mahasiswa yang dijemput orangtuanya di stasiun lalu serentak melambaikan tangan kepada pacarnya yang masih melanjutkan perjalanan ke stasiun berikutnya.

Akhirnya kereta valleilijn sampai di stasiun akhir di kota amersfort. Kami bergegas turun dari kereta, berlarian ke peron berikutnya dimana kereta cepat intercity sudah menunggu untuk membawa kami dari amersfort langsung ke bandara schipol amsterdam. Finally kereta cepat hehehe ๐Ÿ˜€

Sampai di bandara Schipol belum bisa berleha-leha, kami langsung berlarian menuju security check in di lantai 2. Selesai diperiksa semua barang bawaan dan passport control yang lama antrinya (ada dua line passport control: untuk passport negara-negara European Union dan Non european Union), kembali berlari ke lantai 1 karena gate untuk penerbangan kami berada di lantai 1. Apesnya gatenya terletak di ujung duniaaaaa, ehhh di gate tiga puluhan sekian sekian ! alhasil kami kembali berlari, bahkan saat di conveyor belt (eh cb yg untuk barang yak ? hihi) pun masih tetap berlari hahaha ๐Ÿ˜€ Kebayang kan bagaimana rusuhnya berlarian dengan ransel berisi perlengkapan traveling selama dua hari, badan yang masih demam dan flu dan belum beristirahat sejak di kelas tadi pagi, bahkan mandi sore, ganti baju dan makan malam pun tidak haha ๐Ÿ˜€

08.15 ย malam kami berhasil sampai di gate padahal jadwal take off nya 08.30, pfyuuuhhh! Semua penumpang lain sudah duduk rapi di pesawat, saya langsung menempati tempat dudukku, memasang seat belt dan langsung terkulai, panas badan semakin tinggi, demam karena flu dan kecapekan. Alih-alih terbang on time, penerbangan kami terpaksa delay karena masalah bagasi. Penerbangan jarak dekat dengan waktu tempuh 3 jam 50 menit (kira-kira segitu kalau tidak salah ingat) ini nyaris seperti suasana penerbangan di saat musim mudik lebaran hihi ๐Ÿ˜€ hampir semua penumpang membawa koper kecil dan ditaruh di kabin karena tidak ada yang mau berlama-lama menunggu bagasi keluar dari perut pesawat, sampai-sampai sebagian penumpang lagi tidak kebagian ruang kabin dan beberapa bagasi pun kemudian harus diturunkan dari pesawat digabung dengan bagasi lainnya. Penumpang di depanku sempat agak nyolot karena penumpang di sebelahnya menyimpan jacket dan tas kecil di ruang cabin pesawat. She said something like “this is only for cabin bagage, dont store your jacket and handbags here”, si mas turki yang diomelin lalu bergegas mengambil jacket dan tas tangannya.

Selebihnya setelah makan sandwich ayam yang dibagikan oleh pramugari, aku kembali tertidur pulas, terbangun ketika bapak-bapak di sampingku mau ke toilet, lalu tertidur lagi walaupun tetanggaku berisik ngobrol entah pakai bahasa apa. sampai-sampai aku melewatkan snack yang dibagikan berikutnya hehehe ๐Ÿ˜€ Tepar, nyaris kalah oleh demam…

Pesawat kami landing di istanbul dini hari, karena sudah pernah transit di Istanbul, sedikit banyak kami sudah kenal dengan bandaranya. Seperti misalnya: dimana mescit (mesjid dalam bahasa turki), dimana almayeri (tempat wudhu) dan bahwa air kran di turki tidak drinkable seperti tap water di belanda (btw, saya pernah ke jepang jadi pernah mencicipi juga minum air kran di jepang (kyoto) selama sebulan. dan benar air kran di belanda is the best! tidak berbau dan tidak berasa!). Urusan pertama begitu kami landing di Istanbul adallah mencari mesin ATM !

Oiya, karena hotel dan tiket pesawat pp sudah kami bayar saat masih berada di Indonesia, jadi saat datang keย Istanbul kami sama sekali tidak membawa local currency alias turkish lira. Sempat baca di beberapa artikel kalau nilai tukar di money changer bandara ataturk agak bikin bangkrut, kami memutuskan untuk mengambil uang tunai dalam bentuk lira di mesin atm yang ada di bandara saja. Kartu ATM nya berlogo mastercard di mesin ATM yangberlogo mastercard juga. Waktu itu saya mengambil 400 lira (dan masih sisa 100 lira hehe).

FYI, begini perhitungan transaksi ambil uang tunai di ATM mastercard di Turki dengan menggunakan kartu ATM bank lokal Indonesia (kartu ATM saya CIMB Niaga).

ambil tunai 400 lira, 1 TL = 4.626,0587 IDR. (empat ribu enam ratus dua puluh enam koma sekian rupiah)

transaction fee : 5,5 % dari jumlah uang yang diambil

jadi nilai 400 TL = 1.850.423,48 IDR

transaksi fee = 101.773,291 IDR

jadi ngambil 400 lira kena charge 101.773 rupiah dehhh :-p sehingga ย total yang didebit dari uang tabungan sebesar 1.962.196,77 IDR

Perhitungan sepertinya berlaku sama kalau kalian narik uang tunai Euro di mesin ATM eropa pake kartu ATM Indonesia: transaction fee 5,5 %!

Selesai dengan uang lira, kami bergegas keluar dari bandara mencari taksi. Seperti petunjuk Yusuf dalam chattingan di airBnB, ongkos taksi dari ataturk havalimani (havalimani=airport) maksimum 50 lira. Berbekal petunjuk itu kami mulai mengeluarkan jurus tawar menawar ala emak-emak deh ๐Ÿ˜€ Petama kami menuju barisan taksi persis di pintu kedatangan bandara, dan tidak ada yang mau mengantar kami dengan harga 50 lira hihi ๐Ÿ˜€ akhirnya kami memutuskan menyebrang sedikit ke median jalan di depan terminal kedatangan dan berhasil deal dengan salah satu supir taksi yang setuju dibayar 50 lira. Si supir taksi tidak bisa bahasa inggris jadilah ngomongnya campur-campur. Indikatornya begitu dia ngomong “hamdallah, hamdallah, syukron!” berarti dia setuju dibayar dengan harga 50 lira ๐Ÿ˜€ Oiyaa, taksi-taksi di istanbul warnanya kuning semua.

Meluncurlah kami di dini hari itu menuju daerah fatih, ke Otantik Guest house. Satu lagi yang saya ingat tentang prosedur supir taksi di istanbul adalah: mereka akan menelpon pihak hotel, memberi tahu kalau akan mengantar tamu ke hotel yang dituju (kami sempat dua kali memakai jasa taksi di istanbul). Jadi jangan lupa simpan nomor telpon hotel dan alamat yang kalian tuju di istanbul nanti yaaaa !

Sampai di hotel, si supir taksi cakep mulai membuat ulah :-p Tadinya sudah deal dengan harga 50 lira, ehh sampai di depan hotel dia minta dibayar 60 lira!! “no, mommy ! 60 lira!, dijawab mba nana dengan “no, 50 lira! we have agreed on 50 lira!” eh si supir nyebelin kekeuh minta 60 lira, dijawab lagi sama mba nana “you are not a good muslim ! haram ! it was 50 lira!” akhirnya 50 lira diberikan kepada supir yg tadinya cakep tapi jadinya nyebelin itu hihihi ๐Ÿ˜€

Di depan hotel kami sudah ditunggu oleh seorang bapak tua yang kemudian ternyata adalah ayahnya yusuf. laki-laki tua yang baik dan ramah, sayangnya beliau tidak bisa berbahasa inggris. Segera setelah kunci kamar diberikan, kami tumbang kecapekan dan bangun kesiangan hahaha ๐Ÿ˜€

*****

Pagi pertama di kota Istanbul ditandai dengan bangun kesiangan. Sebenarnya sudah pada bangun dari jam 6 pagi, tetapi karena badan remek diajakin belajar dari pagi jumat dan lanjut lari-larian non stop commuting wageningen-edewageningen-amersfort-amsterdam-istanbul dalam 24 jam, berbi lelah juga tepar tak berdaya ๐Ÿ˜€

IMG_1911.JPG

Karena guesthousenya ada di lingkungan pemukiman penduduk lokal, maka dari jendela kamar viewnya ya ala-ala sinetron turki ๐Ÿ˜‰

Akhirnya baru sekitar jam 9an kami turun ke lantai bawah minta sarapan. Oiya, cafe di hotelnya Yusuf ini sebenarnya lebih mirip “lapau” alias warung tempat nongki-nongki penduduk setempat, jadi tidak seperti cafe-cafe di Bandung atau Rotterdam misalnya. Di cafe sudah ada ayahnya Yusuf dan satu pegawai lainnya yang masih muda menghidangkan sarapan. Kaget juga melihat porsi sarapan ala turki: senampan irisan roti turki yang krispi kulitnya tapi lembut dan empuk bagian dalamnya, irisan tomat merah segar, irisan timun, buah zaitun, telur rebus, beberapa irisan keju, selai coklat dan selai buah, satu bungkus kecil madu untuk olesan roti/campuran teh dan tentu saja teh turki.

Cafe kecil itu dihias dengan warna-warni terang khas turki dipadu warna hangat kayu ramin, ada kilim (woven rug nya turki) yang ditempatkan di beberapa sisi cafe dan hotel (termasuk di kamar kami), kursi dan meja makannya dengan kaki yang lebih pendek daripada kursi dan meja makan kita di Indonesia.

12783662_10208818177273201_5521702057196541296_o

breakfast ala turki di Otantik guesthouse

Di saat kami sedang menikmati sarapan, pegawai guest house menyampaikan permintaan maaf dari yusuf karena dia baru bisa ke guest house agak siangan dan meminta kami untuk menyampaikan langsung kepada pegawainya jika membutuhkan sesuatu. Spontan saya jawab “we need istanbul map. do you have it ?”.

Traveling tanpa map alias peta memang agak menyulitkan, apalagi jika kota yang dikunjungi miskin street signage dalam bentuk peta atau pun petunjuk arah. Sayangnya karena hotel yang mereka kelola relatif baru, mereka belum menyediakan peta spot-spot touristic di hotel. Sebenarnya saya sempet memprint dari google map tapi resolusnya alakadar sekali hehe..

Lagi-lagi saya salut dengan hospitality ย staff dan pemilik Otantik guest house ini. Selesai sarapan, saya butuh ke toilet. Di dekat pintu masuk cafe saya melihat ada toilet, langsunglah saya mengarah ke sana. Ternyata ayahnya yusuf melihat dan langsung melarang saya menggunakan toilet cafe (saya sempat melihat ke dalam toilet, ternyata closet nya closet jongkok mirip closet jongkok di jepang yang panjang-panjang itu). Beliau lalu meminta saya untuk menggunakan toilet di kantornya saja. Mungkin menurut beliau, anak perempuan jangan menggunakan toilet cafe yang notabene pengunjungnya adalah bapak-bapak jhihihi ๐Ÿ˜€ Daann.. toilet di kantornya lebih modern, sama dengan toilet di kamar mandi kamar kami hehe… lalu saya menghampiri staff nya yusuf yang berkutat dengan komputer dan google translate ย karena bahasa inggris nya tidak fasih ๐Ÿ™‚ ternyata dia sedang menandai tempat-tempat touristic dari google map yang baru saja dia print untuk kami. Dan guess what ? Yusuf si pemilik hotel cepat tanggap juga lohh.. malamnya sewaktu kami kembali ke hotel dan meminta bantuannya untuk cek in penerbangan kami ke belanda, saya melihat di meja kerjanya sudah ada beberapa bundel peta baru yang masih dalam bungkusan plastik ๐Ÿ™‚

Berbekal petunjuk arah dan peta yang diprint oleh staff hotel, kami siap melanjutkan perjalanan menjelajah tempat-tempat berserjarah di istanbul. Oiya, karena semenjak dari Indonesia saya sudah googling tentang kilim dan ingin sekali membeli untuk dekorasi rumah mungil saya, lalu pas di guest house melihat banyak sekali kilim warna warni, iseng saya bertanya kepada ayahnya yusuf berapa harga dan dimana membeli kilim-kilim itu. “where should i buy it? at grand bazaar?” beliau langsung menjawab jangan membeli kilim di grand bazar karena harganya jauuuuuh lebih mahal ! “belinya di daerah dekat sini saja. harganya sekitar 20 lira” lanjut beliau. “seriously ? 20 lira for that big kilim ?” tanya saya sambil menunjuk kilim yang seukuran karpet ruang baca saya di rumah. Beliau pun mengangguk sambil kemudian mengantar kami menyebrang jalan utama agar kami dapat melanjutkan perjalanan kami hari itu.

Kontur istanbul ternyata seperti kota Bukittinggi yang berbukit-bukit dengan bonus laut (selat bosphorus, laut marmara dan laut hitam) di salah satu sisi nya. Jalanan dari hotel ke pusat tourist attraction harus melewati semacam winkelen centrum aliast pusat perdagangan, dan ย ternyata menanjak haha ๐Ÿ˜€ Ampun deh, ternyata lari-larian mengejar bis, lanjut mengejar pesawat semalam baru pemanasan saja ! Beberapa kali saya meminta mbak nana untuk berhenti sejenak karena nafas sudah tersengal-sengal diajak menanjaki jalanan kota istanbul. Di saat membalik badan itulah saya melihat lautan ! Jadi kalau saya jatuh menggelinding, nyampe nya kecebur langsung masuk laut kali yaaa hehehe ๐Ÿ˜€

Tujuan kami hari pertama itu adalah Hagia Sophia, Mesjid Biru, dan grand bazzar tentunya. Berbekal peta yang diprintkan oleh staff nya Yusuf, kami mencari dimana lokasi yang ingin kami tuju tersebut. Jalannya mulai datar, kamiย mulai menikmati perjalanan hari itu. Saya mulai mengamati jalur tram, riuhnya jalanan di kota Istanbul, toko-toko di sepanjang jalan, wajah-wajah bangsa ย Turki yang rupawan, sampai bangunan seperti bekas cerobong asap yang terletak di tengahtengah jalanan, entah dulunya bekas bangunan apa. Kami pun berhenti di beberapa tempat untuk mengambil foto sebelum akhirnya kami sampai di daerah yang kami cari.

IMG_1955.JPG

tulip di fatih square yang mulai bermekaran

Kami sampai di sebuah square yang di kelilingi beberapa bangunan megah berarsitektur turki, bunga-bunga tulip terlihat mulai bermekaran, suhu di Turki memang menghangat lebih dulu daripada di Belanda, walau pun hampir semua orang masih bercoat tebal. Saya memandang ke sekitar, tourist yang ramai, warung-warung gerobak kecil milik street vendor menjajakan aneka penganan khas turki: chestnut panggang, roti turki, es krim dan juga jagung rebus! Oiya, di sini saya melihat banyak anjing liar besar-besar sebesar beruang ! Saya pikir di Istanbul dan turki hanya banyak kucing liar yang gendut-gendut, ternyata anjing liar nya juga banyak dan bongsor-bongsor hihihi ๐Ÿ˜€

IMG_1944.JPG

di salah satu pojokan fatih belediyesi

Kami berusaha mencari mobil van yang menjual museum card tetapi tidak berhasil menemukannya. Sebenarnya museum card ini bisa dibeli online, tetapi waktu itu beberapa kali ngecek web nya sama mbak nana yang ada berbi jadi pusing karena bolak-balik masuk ke halaman berbahasa turki :-p Akhirnya kami putuskan untuk membeli museum card on the spot saja.

Alih-alih menemukan mobil van yang menjual museum card seperti petunjuk dari beberapa laporan traveler yang kami baca sebelum berangkat ke turki, kami malah dicegat oleh dua anak perempuan cantik yang berjilbab santun. Namanya Rumaisha dan Zaida. Mereka meminta kesediaan kami untuk diwawancara untuk bahan tugas sekolahnya. Haha baiklaaah, artis dari Indonesia yaaa ๐Ÿ˜€ wawancara berlangsung beberapa menit, topiknya tentang penggunaan teknologi dalam pan sehari-hari dan diakhiri dengan foto selfie karena katanya mereka harus punya bukti interviewee nya ๐Ÿ˜€

IMG_1983.JPG

coba tebak di belakang saya itu bangunan apa ? ๐Ÿ˜‰

Kami kemudian berjalan ke salah satu sudut square itu, menemukan antrian panjang untuk masuk ke Hagia Sophia. Salah satu guide local meghampiri kami dan menawarkan tiket masuk ke hagia sophia berikut tour darinya. Tapi harga yang ditawarkan mahal sekaliiii untuk traveler #kerekerehore seperti kami ๐Ÿ˜€ Akhirnya kami nekat mengikuti antrian panjang tersebut. Dan ternyata tidak teralu lama juga, paling 7menit. Nah di dalam area halaman Hagia Sophia barisan antrian dipecah menjadi beberapa, satu untuk antrian mesin museum card, satu (atau dua yak?) untuk antrian pembelian tiket manual (iniiii yang ngatrinya panjang beudh!). Di sinilah kesaktian kartu kredit mulai dibuktikan ๐Ÿ˜‰

FYI, dulu waktu saya tinggal setahun di Rotterdam, saya punya ATM bank lokal (ING), yang bener-bener membantu sekali untuk transaksi online urusan ticketing dan hotel setiap kali traveling, termasuk untuk tarik tunai di luar negara belanda hihi (inget banget dulu sempat beberapa kali membobol atm waktu di Budapest gara-gara laper mata lihat kalocsa :-p ). Waktu sebulan di jepang, karena tidak traveling ke negara lain, hanya beberapa kota di jepang saja, kartu kreedit dan atm bank lokal tidak terlalu dibutuhkan, apalagi allowance nya 2 kali lipat allowance saya waktu di rotterdam dulu (itu pun udah ga bayar housing, listrik, gas dan internet lagi..) jadi uang tunai dari sponsor sudah jauh lebih dari cukup. Tapi allowance di jepang besar karena sumbernya pinjaman negara *cmiiw* (ayo lohh bayar utang negara dengan mengabdi sebaik-baiknya pada masyarakat dengan penuh dedikasi!), beda dengan allowance sponsor belanda yang bisa dibilang uang sedekah pemerintah sana hehehe, makanya agak ngirit, sponsor yang sekarang malah lebih ngirit lagi ga kira-kira hahaha ๐Ÿ˜€ yah tidak ada uang saku sama sekali gitu deh ๐Ÿ˜‰ Makanya kartu kredit di perjalanan kali ini sangat amat membantu, ethh tetapi di desa wageningen, tidak ada toko yang bersedia menerima transaksi dengan kartu kredit wkwkwkwkwk ๐Ÿ˜€ saking ndesanyaaaa ๐Ÿ˜‰

IMG_1985.JPG

antri buat beli ticket masuk hagia sophia dan bule di depan saya tinggi-tinggi semua, tenggelem deh

Owkay balik lagi ke cerita antrian tiket museum. Di kiri antrian yang panjang itu ada mesin atm yang menjual museum card: kartu electronic yang bisa digunakan untuk masuk beberapa museum di Turki dan berlaku beberapa hari (3 atau lima hari deh kalau tidak salah). Nah kartu ini cuma bisa dibeli dengan menggunakan kartu kredit! tetapi tidak semua transaksi berhasil juga hehehe.. Kartu kredit mbak nana direject, akhirnya pakai kartu kredit ku untuk membeli dua museum card. Nah kalau sudah pegang museum card, bisa langsung masuk deh ke hagia sophia!

Eng ing eng.. ternyata pengamanan untuk masuk ke Hagia Sophia lumayan ketat juga. Semua barang dan orangnya harus discan dulu. Yah wajar siy, bangunan Hagia Sophia adalah bangunan penuh nilai sejarah dan kaya akan desain, jadi perlu dilindungi dari tangan-tangan orang yang tidak bertanggungjawab seperti para penebar terror misalnya.

 

IMG_1989.JPG

Nah tepat setelah kami melewati mesin scan dan masuk ke halaman dalam Hagia Sophia, adzan zuhur pun berkumandang. Masya Allah… luar biasa sekali rasanya mendengarkan adzan yang dikumandangkan dengan pengeras suara di daratan benua Eropa !! sama harunya ketika 5 tahun lalu berkesempatan shalat di Paris Le grand Mosque padahal subuhnya shalat dalam diam bahkan tanpa gerakan di dalam metro karena takut bakal kenapa-kenapa karena ketahuan shalat di dalam public transportnya kota paris!

Kami memutuskan untuk berkeliling di dalam Hagia Sophia sebelum ke mesjid biru untuk shalat. Luar biasa bangunan ini. Dulu Hagia Sophia adalah gereja sebelum kemudian menjadi mesjid.

IMG_2106.JPG

 

Hagia Sophia, artinya the holy wisdom, merupakan gereja termegah dan terbesar yang dibangun pada masaย East Roman Empire. Pada saat itu namanya masih Megale Ekklesia atau big church, baru setelah abad kelima namanya berganti menjadi hagia sophia. Pembangunan bangunan semegah Hagia Sophia memakan waktu yang lumayan lama, saya langsung membandingkan dengan proyek-proyek kami yang dalam satu tahun anggaran saja sudah bikin pusing kepala berbi dengan masa pembangunan hagia sophia yang terbagi dalam beberapa periode dan dalam beberapa kepemimpinan pula. Gereja pertama didirikan oleh Konstantinos pada tahun 360M dan kemudian gereja kedua dibangun pada masa kepemimpinan Theodosis II pada tahun 415 M. Saya langsung membayangkan rumitnya kontrak multi years, dilatasi bangunannya dan manajemen konstruksinya seperti apa rumitnya hahah ๐Ÿ˜€

IMG_2018.JPG

di dalam hagia sophia

Oiya, strukturnya yang tampak seperti sekarang didesain oleh dua arsitek kenamaan pada masa itu (pada masa kepemimpinan Justiniano, 527-565M), yaitu Isidoros (Milet) dan Anthemios (Tralles). Nih om-om dua lulusan sekolah arsitektur mana yaaa? By the way, material yangdigunakan untuk membangun hagia sophia didatangkan dari banyak negara. Untuk Kolom dan pualamnya didatangkan dari beberapa kota kuno di sekitar wilayah Anatolia, syiria. Pualam putih didatangkan dari Pulau Marmara, batu porphyry hijau didatangkan dari pulau Egriboz (porphyry sejenis batuan dari magma yang sangat panas,ย biasa digunakan untuk pavement jaman dulu *cmiiw), lalu pualam pink dari Afyon dan pualam Kuning dari Afrika Utara.

Baru kemudian di masa kepemimpinan Fatih Sultan Mehmed’s (1451-1481) Hagia Sophia direnovasi menjadi mesjid sampai sekarang dengan tambahan minarets yang didesain oleh Mimar Sinan. Kendatipun bangunan utama dihias dengan beberapa kaligrafi besar, dekorasi ala gereja nya masih tampak jelas di beberapa bagian mesjid seperti lukisan yesus kristus di langit-langit di antara dua kaligrafi besar bertuliskan Allah dan Muhammad. Pun di lantai dua, terdapat beberapa lukisan dan kaligrafi romawi kuno yang (mungkin) menceritakan tokok-tokoh kristen pada jaman dulu (hihi maaph saya kan ga bisa baca tulisan romawi kuno)

IMG_2022.JPG

lihat ada lukisan tokoh-tokoh kristen di antara tulisan Allah dan Muhammad

ย IMG_2026.JPG

Desain dan ukuran bangunan yang megah benar-benar membuat saya terkagum-kagum dengan kemampuan para ahli sipil dan arsitek jaman dulu itu. Penasaran dengan alat bantu yang mereka gunakan dalam pembangunan, alat bantu yang mereka gunakan untuk mengangkut lempengan-lempengan masif pualam yang berat dan kubahnya yang setinggi 56 meter itu ? Zaman dimana belum ada alat berat seperti Tower Crane, seperti apa coba scafolding (perancah) yang mereka gunakan untuk bisa melukis di langit-langit kubah yang super tinggi itu.

IMG_2066Oiya, satu lagi yang unik tentang struktur bangunan Hagia Sophia, di beberapa portal struktur yang bahian finishingnya rusak karena gempa, saya bisa melihat sepertinya tidak ada besi ย yang digunakan padaย sambungan balok dan kolom, yang saya lihat adalah tumpukan bata yang disusun sedemikian rupa agar saling mengunci. lalu tangga untuk ke lantai 2: tidak ada tangga ! memang ada beberapa undakan yang membedakan level lantai, tetapi bukan sebagai akses untuk ke lantai 2. nah, uniknya desain Hagia Sophia, lantai 1 dan lantai 2 dihubungkan oleh sebuah lorong dengan lantai lempengan batu (semacam batu porphyry tadi itu loh) yang menanjak hingga sampai ke lantai 2.

Di lantai dua terdapat beberapa jendela yang dibiarkan terbuka. Sssttt, view dari masing-masing jendela ini bagussss dan berbeda-beda lohh ! Sayangnya niy jendela-jendela sangat tinggi buat saya yang tingginya se-dian sastro doang ini :-p Jadi saya harus memanjat di relief dinding dan lalu berjinjit untuk melihat keluar jendela, itu pun badan saya cuma bisa nongol sedagu saja di jendela besar itu haha ๐Ÿ˜€ Di salah satu jendela saya melihat kubah-kubah dari mesjid biru ditimpa kemilau cahaya matahari, Dari jendela yang lain saya melihat laut biru! Indah sekali, anggap saja itu laut bosphorus, karena saya buta arah entah jendela itu menghadap ke utara, selatan, barat atau bahkan tenggara ๐Ÿ™‚

IMG_2090.JPG

besok-besok kalau ke sini lagi bawa jojodok yaaa *jojodok:bangku kecil hihihi*

(belum) Puas berkeliling hagia sophia dan mengagumi karya arstitektur berabad lalu itu, kami harus segera pindah itinerary ke mesjid biru atau mesjid Sultan Ahmet karena mbak nana harus segera shalat zuhur. Saya sendiri agak-agak apes :-p Dari Indonesia sudah diniatkan untuk bisa shalat di sini, ehh beberapa hari sebelum ke sini sayanya malah dapet :-p Insha allah nanti kesampaian shalat di mesjid biru yaaa..

Nah, nantikan lanjutan cerita ini dimana saya dan mbak nana nyasar menjelang magrib, panik, lalu bingung cari arah ke hotel, ada cerita juga tentang perjalanan ke topkapi palace dan dibantu perempuan turki ke stasiun metro…

 

To be continued ๐Ÿ˜‰

 

Advertisements