Tags

Ehh tulisan sambungan yang trip nyasar di Turki kemaren belon dilanjutin yaa? Been busy doing this and that, here and there, jadinya jarang nulis banget sekarang kecuali apdetan thought di path yang kadang suka astagfirullah panjangnya nutupin timeline orang lain haha 😀 Maaph yakkk, silahkan unfollow aja path saya hihi, of which some of you already did wkwkwkw 😀

And there is this necessity to record my another chapter of life di tahun 2016 ini. Maklumin ya pemirsah, it’s hard to deal with my brainfog :-p So, this is just in case i cant remember this day in the future. 2016, Tahun yang aneh ajaib nano nano perjalanannya. Well, in one sentence : how come I am getting into PhD candidate’s life?

img_2400

bareng temen-temen baru peserta 300doktor jabar

Throwback ke beberapa tahun lalu dimana saya dan mantan (ga pacaran siy, apa yak namanya penjajakan kali yak?) harus menyudahi masa-masa penjajakan karena orangtuanya pingin menantu dokter sementara saya kan bukan yakkk J Ehh please, dont judge anyone ya, not even his parents though i know some of you reading this would love to hehe. First thing first, i think i would also be that selective if it is regarding my future children’s future. Well, in some sense i would, surely! Jadi waktu itu saya sempet bilang begini “if your mama want a doctor daughter in law, i am a way too late to becoming a doctor (dalam artian dokter yaa) but there is probability i will get doctoral degree someday”. Hihi itu ngomong gitu lempeng spontan aja coz ga tau gimana mesti merespon berita besar itu hehe 😀

Then dont judge me either for telling that story here. Niatnya bukan buat yang jelek-jelek kok, wlo pasti ada yang bakalan ga suka dengan tulisan ini (lah gimana dong ? we shared a chapter :-p ). I have made peace with that history of me, no hard feeling as he is still my friend,  end of the story  🙂

What i am going to convey is that things like that  do happen, things we said unintentionally somehow depict our life journey in the near future. And people were sent to your life not without purpose. Meskipun  kemasannya ga melulu happy, yes? but they were intended to get into your life for your redirection to achieve more in life. I would say they are my catalysts. “Anggap saja semacam katalisator yang mempercepat pencapaianmu”.

Oke cukup intro nya ya hehe…

img_2459

menu selama EAP Camp 😀

Before i continue, I dare you not to judge anyone related to this story yaa, me counts! which also means not accusing me to be in this PhD program because of the story i told you, NO! :-p

Jadi dulu saya memang sempat tergiur untuk lanjut s3, sempat nanya-nanya ke temen yang udah duluan kecemplung ke kehidupan candidate PhD. Tapi itu duluuuuuu banget, di kala galau dengan kesendirian yang tak kunjung berakhir *ihihihihihi* Apalagi saya orangnya termasuk kaum well-organized dan well planned, jadi suka merasa ada yang salah aja ketika dalam satu time range tidak punya rencana kongkrit. Nahh, akhirnya sekolah or shortcourse selalu ada dalam agenda tahunan saya, karena kemaren-kemaren sepertinya sekolah dan shortcourse lebih feasible untuk direalisasikan daripada pernikahan haha 😀

Oiya, by telling this, one myth busted ! Bahwa kalimat-kalimat yang sering beberapa orang lontarkan ke temen-temennya yang belum nikah “sekolah mulu, kapan nikahnya” atau “ketinggian siy sekolahnya, yang ada ntar makin susah dapetin jodoh” those stupid sentences sort of things adalah salah ya temans.

Justru yaaa, karena setiap hal sudah ada suratan waktunya dan bagaimana kejadiannya, maka beberapa dari kami yang jomblo ini *ahahaha sayah deh maksudnya wlo ga jomblo2 amat siy, ehhh* berusaha mengisi penantian itu dengan cara yang lebih intelektual *ahem* yaitu terus belajar, terus sekolah. Ya daripada bengong dan membenarkan pendapat konyol kalian yang tendensi nya malah mendahului pengetahuan Tuhan yang maha segalanya tentang masa depan dan takdir umatnya, yang ada kan jadi bodoh n sia-sia waktunya?

Second one “ketinggian siy sekolahnya, yang ada ntar makin susah dapetin jodoh” is also wrong. Bukankah Rasulullah SAW dan bunda Khadijah harusnya menjadi teladan dalam hal ini? Serupa tapi tak sama, but there is this red line if you have heart to see. Jika dipertemukan dengan yang sekufu dan memang takdirnya untuk berjodoh, setinggi atau serendah apa pun pendidikan tidak akan menghalangi, tidak akan menyulitkan untuk bertemu jodoh. Lahh klo rasa-rasanya ada yang pedekate atau penjajakan terus tetiba mundur gegara pendidikanmu ketinggian (wlo pun sesungguhnya ngga ada pendidikan yang ketinggian karena kita disuruh terus belajar sampai akhir hayat dengan alam semesta terkembang menjadi guru, iyaaa saya orang minang!), then it simply means he/she is not having adequate self confidence. Lah dia nya ga pede sama diri sendiri, how do you think he can cope with your achievement in the future?

Malahan ada lohhh laki-laki yang justru rela ikhlas ridho perempuan yang deket dengannya *insya allah* mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dari pendidikannya. I have him J Malahan supportnya bikin bingung dong sampai ada dialog “say something about this PhD plan!?” “lah terus gimana? Mau dilarang-larang?” “ya engga gitu juga!” padahal mah emang pingin dilarang hahaha 😀 nah lohh :))) sampai terharu ketika justru beliau memikirkan kemajuan karir saya di masa depan dengan bilang “katanya mau beralih jadi fungsional? Ya harus sekolah lagi. Keren lagi perempuan punya pendidikan tinggi sampai doktoral”… *bless you*

Jadiiii… kalau tahun-tahun sebelumnya saya selalu mencantumkan sekolah (at least diklat lah yaa) dalam rencana tahunan saya, akhirnya saya sampai pada tahun dimana saya engga ingin kemana-mana… i want to settle down. Tapi sekali lagi, saya ini kaum well-planned garis keras yang tidak bisa tidak punya rencana kongkrit tahunan, whilst merencanakan pernikahan juga masih gimana gitu soalnya belon dilamar hehe…

Akhirnya selama bulan Ramadhan kemaren istikharah saya justru malah menguatkan niat saya untuk bertamu ke Baitullah. Beberapa hari sebelum lebaran kemarin saya nekat menghabiskan tabungan saya untuk mendaftar umroh insya allah berangkat di bulan ulang tahun saya nanti. Itu tabungan beneran cuma sisa buat tiket pesawat pp ke padang pada masa high season doang dong, padahal umrohnya nya nanti udah pake paket super duper hemat buat yang umat yang ngga mampu secara finansial tapi kepengen bangeeeet mengadu langsung di  Baitullah hihi… saking saya mikirnya niy nikah kayaknya belum feasible juga *huhuuu* sementara saya udah ga mau pergi-pergi lagi tapi kudu aja ada rencana apalah gitu untuk tahun depan biar hidup saya ngga ngebosenin banget Cuma regular routine kerjaan kuli bangunan :-p

Nah sebelumnya, saya membatalkan registrasi saya di Program 300 Doktor Jawa Barat karena istikharah saya membuat saya yakin saya ngga mau lanjut sekolah lagi.. Inget banget saya nulis di path saya hari itu bahwa saya ngga sempet submit segala persyaratan administrasi untuk bahan seleksi 300doktor, dan mengakhirinya dengan kalimat “belon rejeki”. Melenggang lah saya mengejar penerbangan pulang ke padang, lalu sebelum lebaran mendadak mendaftar umroh. Udah pasrahhh se-pasrah-pasrahnya karena bingung se-bingung-bingungnya hehe…

But then again, Allah is the best planner. Tetiba saya terima kabar dari salah satu temen klo nama saya masuk list yang lulus seleksi administrasi program 300Doktor Jabar. But then it was just false alarm as the announcement titled daftar nama peserta seleksi program 300 doktor haha 😀 etapii surprise surprise!! Nama saya kemudian beneran masuk di daftar peserta yang lulus seleksi administrasi ! tau nya juga dari salah satu temen yang lain lagi haha 😀 yaa wajar lah yaa saya cuek-cuek aja karena memang bener-bener ngga menyelesaikan proses registasi online dengan tidak mengaplod dokumen apa pun untuk seleksi administrasi nya (cv, transkrip, ijazah, sk terakhir).

Terbengong-bengong lah saya pada akhirnya. Bengong menular ke mama saya yang memang lebih milih saya segera menikah daripada sekolah lg dengan waktu yang relatif lebih lama haha 😀 tapi mama saya pun akhirnya pasrah saja begitu saya bilang “kan mama tau sendiri de ga jadi daftar program doktornya?” memang saya ga jadi daftar kok :-p

Di sinilah saya merasa bener-bener Allah super luar biasa membuat yang ngga mungkin menjadi mungkin, kun fayakun. Bahwa jika Allah sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin. Bahwa sekuat apa pun saya menghindar, Allah sudah punya rencana lain buat saya. Kan saya ngga daftar?? Bagaimana mungkin saya lulus seleksi administrasi?? Ada penjelasan yang lebih logic selain ini memang campur tangan Allah ?? FYI, saya sampai lapor Bkd kota dan bilang saya ngga daftar tapi kenapa bisa lulus saking bingungnya wkwkwkwk 😀 Dijawab pak taufik dengan setengah becanda “BKD provinsi punya dukun kali, jadi tau data kamu” haha 😀

Pun bahwa Allah maha hebat dengan segala skenario nya. Pasti ada yang mikir gini “klo memang ga mau ikut doktor, knapa ga mundur aja? Knapa malah diterusin sampai tes toefl interview dll nya?”. Saya bilang tadi Allah maha hebat dengan skenario nya: karena kalo saya mundur setelah dinyatakan lulus seleksi administrasi, maka kemungkinan kota saya bakalan di-ban dari program ini untuk tahun depannya. Kan merugikan untuk teman-teman lain yang bener-bener niat untuk ikutan tahun depan? Soalnya dulu  pernah kejadian dengan salah satu teman dengan beasiswa bappenas hehe… dengan kata lain, saya harus tetap melanjutkan prosesnya sampai pada satu titik akhir yang Allah kehendaki: bener-bener sampai ke jenjang doktoral atau tersisih di tengah perjalanan nantinya.

img_2486

ada tampang buat bergelar doktor?jadi istri n ibu ?

Wlo saya pasrah aja gini, tak ayal saya juga mengupayakan dialog-dialog negosiasi kepada Tuhan saya, Allah SWT hehe… deep down inside my deepest heart, saya memohon banyak hal. Saya bilang kepada Tuhan saya, kalau Ia menghendaki saya sekolah lagi, dan jika memang pengetahuan saya nanti bermanfaat bagi umat, maka berikan saya kemudahan untuk menyelesaikannya dengan sebaik-baiknya. Dan saya juga terus membujuk Allah bahwa saya manut skenarionya, tapi saya meminta agar Allah menyegerakan juga pernikahan untuk saya, agar nanti saya ada yang mensupport dan menemani ketika harus belajar  dan menjalani kehidupan di negeri yang asing, terra incognita yang baru…

Ini yaa, cita-cita jadi anggota dharma wanita PPI negara mana gitu malah yang terjadi kebalikannya hehehe 😀 padahal tadinya saya yang ngomporin beliau untuk lanjut sekolah lagi tapi kok malah kebalik gini kejadiannya ?! pingin menemani belajar malah jadi yang ditemani…  Anyway, you are the support, thank youuu !*Allah knows whats best for us*

Wohoooo ! sekalinya menulis lagi bisa sampai panjang lebar begini hehe 😀 ini udah pukul setengah dua pagi by the way :-p

One last thing i gotta say about this PhD plan. Jadi beberapa hari lalu ada temen yang berkomentar sukses buat program PhD nya terus becanda bilang biar nanti bisa jadi walikota. Saya spontan jawab ngga mau jadi walikota, mau jadi ibu rumah tangga aja. And he answered back by saying “klo cita-cita jadi ibu RT udah kodrat kali. Bla bla bla.. klo gitu gw mau masukin juga ah cita-cita jadi PRT”. I know he was joking. But it doesnt feel right, not at all !

Memang kenapa klo punya pendidikan tinggi tapi cita-citanya jadi ibu rumah tangga? I ve been working for eleven years. I know how it feels to come back home at 01.00 am after a meeting. I see the happy faces of my female peers who gave up their prospectous carreers for family. I see friends’ wives posted articles tagging their husbands indicate they have their internal problems. I am aware of the differences between working mom and staying at home mom, familiar with the way people raise their children overseas and here in the homeland where they put an overwhelming trust to strangers to take care of their children for hours in daily basis. I know very well some of this married men look for another women just for a talk because their wives are not able to follow their talks, a matter of incompatible knowledge. These somehow have changed my point of view.

A mother is her children’s first school, their encyclopedia, their dictionary. Ibu adalah madrasah pertama anak-anaknya. A wife is her husband’s partner for life, the adviser where he seeks advise, the teacher for his children, teman berdiskusi dan tempatnya meminta pendapat, manajer keluarga,  and his beloved lady to whom he trusts the care and the well being of himself and his children. Sebanyak itu pengharapan dan tugas ibu rumah tangga, wajar saja bukan kalo ibu harus berpendidikan? Engga ada yang lucu dan aneh kan dengan doktor yang menjadi ibu rumah tangga? Jadi, cita-citaku tetap jadi ibu rumah tangga, mau nanti berhasil menggapai gelar doktor atau pun tidak…

Pukul dua sudah ketika tulisan ini sampai pada epilog nya. Besok harus kembali ke Bandung melanjutkan EAP camp. Btw, masih dini banget untuk bisa ngaku-ngaku sebagai PhD candidate hihihi 😀 karena belon dapet profesor dan sponsor haha 😀 so, i am just a candidate of candidate of PhD candidate 😀

Advertisements