Bismillah, tanpa bermaksud mendahului ketetapanNya, saya ingin menuliskan ini. Tentang dia yang terpilih, dia yang berhati besar, dia yang tulus menerima semua cacat diri, dia yang berani mengambil resiko akan masa depan yang sangat mungkin penuh ujian luar biasa.

Sekitar dua tahun lalu, saya sempat ngobrol dengan salah satu teman yang didiagnosa penyakit lupus, penyakit genetik yang berkaitan dengan auto immune. So to say it is dangerous as cancer, cmiiw. Awalnya sih ngobrolin brownies atau malah waktu itu ngobrolin chocolate cookies haha ☺️ Lalu tetiba berlanjut girl talk, curhat tentang penyakit masing-masing. As you know, i am an endosisters, living with only one ovary.

So, endometriosis and lupus, i have no idea which one is worst compare to other. Yet, i do understand how these illnesses affect our future, our relationship with men, our future goals: marriage & becoming a mother.

Waktu itu teman saya itu bercerita tentang rencana pernikahannya, tentang harapan-harapannya, dan tentu saja kebahagiaannya karena akhirnya Tuhan mengirim laki-laki yang berhati dan berjiwa besar menjadi (calon) suaminya, yang menerima kondisinya sebagai odapus dengan segala resikonya.
Inget waktu itu saya bilang “i envy you”. Karena sebagai endosister, jujur berita-berita bahagia seperti itu bikin iri, bikin berandai-andai dan bertanya-tanya “apa ada lelaki yang mau menikahi perempuan yang cuma punya satu ovarium, yang theoretically punya resiko infertility”.

Bukankah salah satu tujuan menikah itu adalah untuk meneruskan garis keturunan? Bukankah dalam memilih jodoh juga ada kriteria memilih mereka yang baik keturunannya, tidakkah ini bisa diartikan yang baik rahimnya, yang subur dan bisa memberikan keturunan? Jadi ketika saya bilang saya iri, sebenarnya saya benar-benar iri kepada mereka yang sempurna dan bertemu jodoh serta menikah dengan begitu mudahnya.

Sementara saya… ah sudahlah… sudah tidak terhitung berapa kali saya ke kantor dengan eye shadow super medok ala ala smokey eyes karena berusaha menutupi bengkak mata karena menangis sampai lelah dan ketiduran.. menangis karena takut dengan penyakit saya, menangis karena kalut berpacu waktu antara ketidaktahuan saya tentang jodoh saya, masa-masa child bearing age yang mungkin sebentar lagi hilang, serta penyakit yang menetap di tubuh saya.

Btw, Saya malah parno pada orang-orang yang bilang “lu mendahului Tuhan, apa sih yang ga mungkin kalau Tuhan berkehendak? Yang ga punya rahim aja tetap bisa punya anak kok”. Sungguh saya tidak bermaksud meragukan Tuhan. Hanya saja mendengar kalimat-kalimat seperti itu dari mereka yang tidak punya gambaran sama sekali betapa kalutnya hati dan pikiran yang menjalani takdir “cacat”, sama sekali tidak menolong, malah berasa dihakimi karena dianggap tidak percaya kekuatan Allah dan betapa kasih sayang Allah begituuu luasnya… percayalah, hanya yang menjalaninya saja yang paham betul bagaimana beda antara “being realistic” dan apatis, beda antara memupuk harapan dan membohongi diri sendiri. So, please stop that stupid lip service. You will die if you walk in our shoes (sempit soalnya, nomer 36-37 hahaha πŸ€£πŸ”¨)

So, kembali lagi kepada cerita teman saya itu yang begitu bahagia nya dilamar dan bersiap melaksanakan pernikahannya waktu itu. She said “you will also find the one who will choose you no matter what”. Saya selalu mengaamiini doa-doa seperti ini, apalagi ketika yang mendoakan adalah mereka yang pernah melalui masa masa sulit, kalut dan galau seperti yang saya alami ☺️

Dan kemudian selang beberapa tahun berlalu, saya benar-benar (insya allah) dipilih oleh laki-laki yang juga berhati besar, berjiwa besar.

Jangan tanya perasaan saya bagaimana… campur-campur!  Do you remember on my previous writing i wrote about do not stereotyping your relationship with others’? Dont do bcoz yours is  not the same with others. Saya ingat setahun lalu pernah “diinterogasi” oleh sahabat-sahabat saya tentang our relationship. I understand that they are worry and care about me that they stress me with lotssss of questions just to make sure this man i am having relationship with is no jerk haha 🀣 mereka meminta saya untuk segera bertanya sejelas jelasnya kepada beliau tentang rencana menikah sort of things.
Well, if you were me, you cant rush a man to marry you. No, not with the condition and the risk i live with for the rest of my child bearing age. Karena ketika kamu sayang seseorang, maka kamu akan berpikir berjuta kali untuk melibatkannya dalam kesusahanmu. Kamu akan berusaha melindunginya agar tidak terseret ke dalam lingkaran takdirmu yang mungkin akan mengecewakannya suatu saat nanti. Therefore, you let him take his time… 


Because it takes time for him to learn who you are now. It takes time for him to get to know what he is probably going through if he take you. It takes time to have him see what it is all about. And it takes time for him to build strength and courage to start his new beginning and grow older with you.

If he is not the chosen one, you two will never gonna make it, he will never make any effort.

If he doesnt have such a big heart, he wont have guts to deal with your perfect imperfections.

If he is not sincere, he wont take you as you are with all of your flaws.




Dari awal saya jujur menyampaikan semua kepada beliau. Pun kemudian beliau berinisiatif mencari tau tentang penyakit saya dan segala resiko nya. Pernah suatu ketika beliau bertanya “katanya kalau endometriosis itu beresiko susah punya anak ya?”, duhhh… ingin mblesek masuk bumi saja rasanya ketika laki-laki yang kamu harapkan menjadi ayah anak-anakmu bertanya seperti itu… saya jelaskan segala sesuatu nya kepada beliau. Tenang… saya berusaha tenang waktu itu. Namun ketika kami selesai bertelepon, saya kembali tergugu dalam tangis saya, badan saya berguncang karena pertanyaan pertanyaan yang saya sampaikan kepada Pencipta saya lewat tangisan saya.. ngga, yang saya ceritakan ini ngga dilebih-lebihin kok.. memang sedihnya ngga ketulungan.. sakitnya di batin saya itu teramat hebat dibandingkan dengan sakit yang saya rasakan ketika pengaruh morphin ilang dari luka operasi saya yg 20cm dulu itu 😰😰😰

Pernah juga saya membuat beliau bingung dengan tangisan live saya di telepon karena ke-desperado-an saya dengan kondisi saya ☺️ i dont think i should hide my tears from the man i wish i’d be married to..  kirain beliau bakal ilfil gitu yaa, ini apaan sih anak perempuan cengeng bener gitu… but he stays, he shoothes me, he dries my tears πŸ’•

So i choose to let him having the time he needs to decide. Walo ke sini-sininya saya mulai bawel n nyinyir nanya rencana pernikahan kami haha πŸ˜‚βœŒπŸ»

Tapi itu setelah saya yakin that he is the chosen one, that he is aware of the risk of endo and having one ovary only, that he has a strong shoulders to hold me at my weakest time, that he has a such big loving heart to be my lifetime friend and husband, that he doesnt mind my insanity and my illnesses, that he sees his future children in me… (we have their silly names already hahaha ☺️✌🏻✌🏻aaamiin ya Allah, ijinkan kelak sang ovarium tunggal ini berhasil menelurkan anak-anak yg sehat sempurna lahir batinnya, yang menjadi penolong dan kebanggaan umat, yang qurrota a’yun, yang menjadi penyejuk hati dan mata yang melihat, yang cerdas dan juga tangguh imannya, yang penuh kasih dan santun kepada kami kelak, aamiiin Allahuma aamiinπŸ™πŸ»)

And i thank God for this man. May Your ease and help and bless be with us and our marriage (soon insya allah) πŸ™πŸ»

To my girls who still struggling finding the one with big loving heart, you will be together too insya allah 😊

Advertisements